Monday, 8 June 2020

Selamat Ulang Tahun


Long story short, tepat sebulan yang lalu aku berulang tahun ke-24. Wahahaha. I was very happy and the birthday was as romantic as expected (thanks dear! xoxo) but I'm not writing this to tell you about the details, don't worry. Aku cuma mau menuliskan beberapa pemikiran dan perenunganku di ulang tahun kali ini.

Kalau ditanya apa hal yang paling unik di ulang tahun kali ini, mungkin perasaan menjadi tua ya. Sejujurnya aku juga cukup bingung dengan perasaan ini, dan mungkin satu-satunya usaha yang bisa kulakukan untuk menepisnya adalah dengan mengabaikannya. Ini aneh dan asing, sebab untuk pertama kalinya aku merasa "Oke, aku sudah dewasa tua." Aku baik-baik saja sampai usiaku 23 tahun, dan karena itu aku cukup terkejut ketika menyadari ada gap yang sangat besar antara angka 23 dan 24. Haaaah. Mungkinkah ini bagian dari quarter life crisis, entahlah. Aku belum membaca literatur terkait hal tersebut.

Di usia yang baru ini juga aku akhirnya menyadari kebodohan yang sudah bersarang di kepalaku selama bertahun-tahun terakhir. Ini lucu, serius. Setidaknya untukku ini sangat lucu, sebab aku masih tertawa ketika menuliskannya malam ini. Oke, aku ceritakan sedikit pasalnya ya.

Sedari dulu, aku suka dengan konsep perempuan pekerja, mungkin karena aku dibesarkan oleh Mamak dan Oppung yang juga bekerja. Menurut pendapatku, perempuan harus bekerja dan mengerti caranya bertahan hidup. Bahkan kalau kita baca Amsal 31, disana jelas dituliskan bahwa seorang istri yang cakap itu adalah istri yang bekerja. Aku tidak sedang mendiskreditkan seorang ibu rumah tangga tentunya, sebab bagiku ibu rumah tangga juga adalah seorang pekerja (dan mungkin yang terberat serta paling membosankan).

Karena hal tersebut, sejak beberapa tahun yang lalu (mungkin sejak kuliah?), aku menyimpan satu cita-cita ini di dalam hatiku:

"Aku ingin menjadi sangat sibuk di dalam pekerjaanku sampai aku bisa melupakan hari ulang tahunku sendiri."

Selama bertahun-tahun, menurutku cita-cita ini adalah sesuatu yang keren. Cita-cita ini tentu tidak pernah terwujud, dan terpujilah Tuhan karena itu tidak pernah terwujud. Aku baru menyadari betapa konyolnya cita-cita semacam itu di ulang tahunku tahun ini. Jadi begini ceritanya. Beberapa hari sebelum berulang tahun, disiplin rohani Bible Reading-ku tiba di kitab Ayub. Semua pasti tahu dong kisah Ayub? Terakhir kali aku membaca kitab Ayub secara runtut adalah sekitar 23 bulan yang lalu, dan tahun ini aku kembali membacanya.

Ketika membaca kitab Ayub, aku merenung pada bagian dimana Ayub mengutuki sendiri hari lahirnya. Ayub bilang, "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku.."
Aku mencoba menyelami perasaan Ayub pada waktu itu. Di dalam ketaatan dan kesalehannya, Ayub kehilangan semua yang berharga di hidupnya dalam tempo yang sangat singkat. Sekiranya Ayub adalah seorang pendosa besar, tentu menurut hukum alam kedukaannya adalah sebuah peristiwa yang wajar dan sudah sepantasnya terjadi. Tapi masalahnya, aku cukup yakin bahwa setiap orang yang membaca kitab Ayub akan mengetahui betapa saleh dan jujurnya dia, betapa ia memiliki hati yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Waktu itu Ayub pasti sedih, bisa jadi juga bingung. Penderitaan agaknya telah menghadirkan selaput pada matanya dan mengaburkan pandangannya akan rencana Allah bagi hidupnya. Relasinya dengan Tuhan tetap ada, tetapi sepertinya sangat pahit, itulah sebabnya dia sampai mengutuki hari kelahirannya. Dan itu normal. It's totally normal. Aku bersedih setiap kali membaca kitab Ayub. Pasti pahit sekali rasanya hidup Ayub saat itu.

Kutuk Ayub akan hari kelahirannya itulah yang membuatku sadar bahwa cita-citaku bodoh dan konyol. Sederhana sih, waktu itu aku berpikir seperti ini:

"May, kalau kau bisa sampai lupa sama hari ulang tahunmu sendiri (padahal selama ini kau selalu ingat), bisa kupastikan pada saat itu relasimu dengan Tuhan pasti hancur-hancuran. Cobalah bayangkan. Memangnya kau bisa bahagia, sesibuk apa pun pekerjaanmu, kalau relasimu dengan Dia babak belur?"

Ok, case closed. Aku berdoa kepada Tuhan sambil menertawai diriku sendiri.
"Tuhan, aku bodoh kali ya. Hahaha. Tuhan kiranya berbelas kasih dan tolong aku, jangan sampai aku lupa mengucap syukur kepada-Mu untuk kelahiranku ke dunia ini ya."

Cita-cita konyol itu hal kedua yang kurenungkan. Selanjutnya, masih seputar relasiku dengan Tuhan. Belakangan aku tidak menangis sesering dulu, sampai-sampai aku terkadang ragu sendiri dengan relasiku bersama Dia. "Are we fine?" Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak secengeng dulu, padahal dulu mah asal relasiku dengan Tuhan baik, aku pasti kelewat baper. Lihat langit menangis, lihat telur dadar menangis, lihat video di Instagram menangis, pokoknya aku mudah tersentuh dan terharu laa. Apakah aku sekarang bukan lagi anak perempuan kesayangan-Nya? Apakah Dia sudah enggan berbagi rasa denganku?

Setelah pergumulan selama beberapa waktu di dalam doa, aku akhirnya menyadari satu hal ini; bahwa aku tidak hanya mendewasa di mata dunia tetapi juga di mata Allah. Suatu waktu di masa lalu aku adalah anak kecil yang sering sekali berurai air mata, perlahan-lahan Allah mendidik dan mengajarku untuk duduk berhadapan dengan-Nya dan berbincang layaknya orang dewasa. Tentu aku tidak pernah dilarang untuk menangis, tetapi orang dewasa pasti tahu bahwa tangisan tidak selalu bisa menawarkan solusi. Sebagaimana aku mendewasa di dalam usia, akupun perlu mendewasa di dalam iman dan relasi kepada Allah. Sampai kapan aku harus menitikberatkan penikmatanku akan Allah pada perasaanku sendiri? Itu terlalu egois. Allah harus mendidikku supaya aku bisa menjadi rekan sekerja-Nya, dan Dia sedang melakukannya.

Jadi, kalau boleh kutuliskan doa dan harapanku kepada Allah di usia yang baru ini, aku hanya minta agar Dia memberiku hikmat untuk menjadi anak-Nya yang patuh. Sebab aku yakin, di dalam kepatuhan kepada Tuhan, ada kebahagiaan.

Aku sudah sangat mengantuk sekarang, kupikir aku akan mengakhirinya disini.

Ketika aku merenungkan kembali hidupku ke belakang, aku menyadari bahwa tak pernah satu kali pun aku kekurangan kasih sayang dari Tuhan. Walau beberapa hal tentu tidak bisa luput dari kekecewaan, namun tetap saja Allah menyediakan.

Beberapa orang pernah bertanya mengapa blog ini diberi nama ladyceberg. Ladyceberg adalah gabungan antara lady (perempuan) dan iceberg (gunung es).

Telah lama aku menyadari bahwa aku adalah seorang perempuan yang mirip dengan gunung es di lautan. Sebagian kecil muncul ke permukaan, namun menyimpan sesuatu yang sangat besar di bawah permukaan air. Entah itu potensi atau emosi. Entah kepahitan atau juga kegembiraan. Banyak yang tersimpan rapi di bawah genangan. Lalu Tuhan berkarya, dan seiring dengan menghangatnya hatiku, mencair pulalah sebagian bongkahan es itu, muncul pulalah ia sedikit demi sedikit ke permukaan. Semakin ia muncul, semakin pula keberadaannya disadari orang lain. Dan Tuhan yang selalu berkarya, akan selalu memakainya untuk memberkati orang lain.

Kupikir hidup adalah sebuah proses yang panjang. Kita tidak pernah benar-benar mahir menjalaninya, sebab bagi kita semua, ini adalah hidup pertama kita. Karena itu di usia yang baru ini, aku ingin terus belajar menjadi orang dewasa. Merengkuh setiap potensi dan kesempatan yang datang, sepaket dengan tantangan dan penderitaan yang tak jarang beriringan. Masih banyak hal yang ingin kuketahui. Aku ingin lebih tekun lagi belajar filsafat, membaca lebih banyak buku, mendengarkan lebih banyak orang. Aku ingin terus belajar dan memenuhi benakku dengan pengetahuan, sebab hanya kekuasaan semacam itu yang tak bisa direnggut siapapun dariku.

Aku ingin terus belajar dan bertumbuh, karena sejatinya untuk itulah manusia diciptakan. Kita telah berhenti hidup tepat di saat kita memutuskan untuk berhenti belajar. Aku yakin, tidak pernah ada orang yang cukup pintar dan kompeten untuk menjadi manusia. Ini hanyalah tentang ketekunan yang dibungkus dalam sebuah komitmen akan sebuah pembelajaran berkelanjutan.

Di usia yang baru ini aku juga belajar satu hal baru, bahwa karya-karya terbaik memiliki satu kesamaan dasar; mereka membawa harapan.

Kuharap aku, kita semua, terus belajar menjadi orang-orang yang keberadaannya membawa harapan bagi banyak orang. Jika tidak semua, setidaknya beberapa. Entah itu melalui tulisan kita, cara kita bertutur kata, perbuatan kita, kerendahan hati kita, dan terutama iman kita. Sebab kita juga dulu adalah orang-orang tanpa harapan. Aku adalah orang tanpa harapan. Aku berdosa besar, dan tidak ada satu kebaikan pun yang tersisa dalam diriku. Sampai kemudian aku bertemu dengan Dia, Pencipta dan Penebusku, yang terus berkarya mengembalikan citra ilahi itu, sampai saat ini.

Untuk semua orang yang pernah, sedang, dan akan berulang tahun, mari tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan untuk kelahiran kita semua, untuk Ibu yang menaruhkan nyawa, dan untuk kebaikan dan kekejaman dunia yang dengan setia bergantian merawat kita.

Kita akan terus bertumbuh.
Di dalam kelihaian tangan Allah, kita akan terus bertumbuh.

Selamat ulang tahun, kamu perempuan yang sangat dikasihi.


15 comments:

  1. Mengucapkan Daebak dengan mata berlove2 dan senyum.
    Thank you sudah berbagi bundaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Just like this?
      ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š

      Bunda bah ๐Ÿคญ๐Ÿคญ

      Delete
    2. Hahaha. Sambil meluk dan berkata senang melihat pertumbuhanmu ini (anggaplah perkataan sodari kepada sodarinya ๐Ÿ˜‚).

      Delete
    3. Lihatlah emojiku di comment pertama mewakili comment pertamamu kak ๐Ÿ˜Š

      Delete
  2. Sesayang itu Tuhan menjadikan kakak saluran berkat di sekeliling kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu dua tiga sayang semuanya! ๐Ÿ˜Š

      Delete
  3. Manis as always.

    Selamat ulangtahun anak perempuan berhikmat๐Ÿ’Œ๐Ÿ’Œ

    ReplyDelete
  4. "Aku sudah sangat mengantuk sekarang, kupikir aku akan mengakhirinya disini."

    Momen ketika mengantukmu pun masih banyak hal yang bisa kau tuliskan setelah dan sebelum itu ๐Ÿ˜‚

    Sekali lagi
    Selamat ulangtahun may, kiranya Tuhan terus memakaimu jadi saluran berkat

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Selamat ulang tahun may"

      "Terimakasih agustus"

      ๐Ÿ˜

      Delete
  5. Setiap kali baca tulisan kaka ada aja hal baru yang kudapat dan pasti memberkati..

    Btw aku juga dulu sering nangis ka setiap hal kecil yg kurasakan ttg kasih Allah tapi Makin kesini kok gak ya.. aku juga pernah berpikir apakah aku gak memiliki hubungan yg baik lagi dengan Tuhan dan ternyata tulisan ini menjawab.

    Maaksh ka may..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama dekku ;)
      Kita sama-sama semangat untuk bertumbuh ya :)

      Delete
  6. Dan sudah 3 bulan rupanya berlalu baru baca tulisan kaka ini kwwkwkw

    ReplyDelete