Friday, 31 January 2020

Seni Menerima Penolakan

Salam untukmu yang kukasihi. Belakangan cuaca sedikit lembap, jangan lupa air hangatnya ya.

Apa kabar?
Semoga salamku ini menemui damai sejahtera saat tiba di sisimu. Malam ini aku ingin berbagi cerita tentang sebuah penolakan yang pernah kuterima beberapa tahun yang lalu. Semoga ceritaku bisa memberi dampak yang baik untuk kamu ya.

Suatu ketika, saat usiaku masih 20 tahun dan aku baru saja lulus dari bangku universitas, aku pernah melamar pekerjaan di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang pelayanan kepada anak-anak. Saat headcount untuk posisi itu belum terisi, aku bekerja untuk posisi yang kulamar itu sebagai pekerja paruh waktu. Ya, anggap sajalah seperti magang. Aku beruntung sekali, bukan? Bisa mencicipi lebih dahulu jenis pekerjaan yang sedang kulamar sebelum aku benar-benar diterima untuk bekerja disana.

Pekerjaanku tidak begitu rumit. Aku hanya perlu menerjemahkan setiap surat dari anak-anak itu ke dalam bahasa Inggris agar bisa dimengerti oleh orangtua asuh mereka di luar negeri. Sebaliknya, aku juga harus menerjemahkan surat dari orangtua asuh ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh anak-anak yang mereka sponsori melalui LSM tersebut. Setelahnya, aku akan memisahkan surat-surat tersebut berdasarkan kategori tertentu, memasukkannya ke dalam amplop, menempelkan identitas penerima, lalu seseorang akan membantuku untuk mengirimkannya melalui pos. Sesekali, jika sedang tidak ada surat yang masuk, aku akan membantu supervisor untuk mengelola beberapa hal kecil terkait administrasi atau manajemen data.

Aku menyukai pekerjaan itu dan sangat menginginkannya. Pekerjaan itu tidak rumit, tidak menimbulkan kelelahan baik fisik maupun mental, tidak berisiko tinggi, dan aku menyukai lingkungannya. Setiap Senin dan Jumat pagi, kami akan melakukan devotion bersama di ruang belakang sebelum memulai pekerjaan di hari itu. Kami menaikkan lagu pujian bersama, berdoa bersama, dan sharing Firman secara bergantian. Di siang hari, kami akan berkumpul di tempat yang sama untuk makan siang dan berbagi cerita. Aku bahkan bisa bertemu dengan seseorang yang memiliki aroma tubuh memikat dan selalu tertinggal di setiap ruangan yang baru saja disinggahinya. Ditambah, dia seorang lawan bicara yang menyenangkan. Sederhananya, ini pekerjaan yang benar-benar kuinginkan, dan aku rela melepaskan posisi MT di sebuah perusahaan yang cukup dikenal demi pekerjaan ini.

Selang beberapa bulan semenjak aku bekerja paruh waktu disana, proses rekrutmen untuk posisi itu pun dimulai. Tiga orang dipanggil untuk mengikuti tahap wawancara, dan tentu saja, aku salah satu di antaranya. Selama wawancara berlangsung, aku tahu hasilnya akan seperti apa. Aku pasti gagal. Benar saja, tidak lama setelah itu, hasil rekrutmen diumumkan. Aku ditolak.

Waktu itu rasanya tidak hanya mengecewakan, tapi juga menyakitkan. Di satu sisi, aku merasa dikhianati. Menjaga posisi itu selama berbulan-bulan untuk kemudian diisi oleh orang lain. Perihnya, aku ditolak oleh orang-orang yang selama ini bercengkerama atau bahkan berbagi ruangan denganku. Mungkin begitu ya perasaan orang-orang yang menjalin cinta selama bertahun-tahun tetapi kemudian tidak berjodoh. Meminjam istilah yang tidak lagi asing di telinga kita, jagain jodoh orang.

Di lain sisi, aku cukup berusaha untuk mengerti dan menerima kenyataan walau selalu saja gagal.
"Ya Tuhan, aku salah apa? Kurangnya dimana? Aku muda, lulus dengan IPK yang cukup baik, menerima predikat cum laude, dan aku nggak diterima untuk pekerjaan ini? Pekerjaan yang sudah kulakukan selama beberapa waktu belakangan ini? Masa' sih mereka lebih menerima orang baru yang harus belajar dari nol lagi dibandingkan aku yang sudah tau betul jobdesk untuk pekerjaan ini apa?"

Baik, aku tidak akan mengklaim bahwa bahasa Inggrisku benar-benar bagus. Tapi, apa susahnya sih menerjemahkan surat anak kecil yang isinya hanya berputar-putar di kegiatannya sehari-hari baik di sekolah, rumah, ataupun sawah? Aku pikir kemampuan bahasa Inggrisku setidaknya sedikit lebih baik daripada itu. Setidak-tidaknya, aku tidak akan mati kelaparan karena tidak bisa memesan makanan jika berkunjung ke negara yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Inggris.

Aku sedih, marah, atau lebih tepatnya, kecewa. Kekecewaan yang mendalam dan membuatku berduka. Ditambah lagi, setelah kupikirkan lebih lanjut, aku memang tidak pernah menerima panggilan interview untuk posisi sejenis admin yang pernah kulamar. Apa gunanya cepat wisuda, IPK di atas tiga koma lima, kalau mendapat pekerjaan saja sangat susah, batinku waktu itu.

Di hari-hari terakhirku bekerja disana, aku bercerita dengan HR yang juga merupakan salah satu interviewer-ku kala itu. Aku bilang saja betapa kecewanya aku karena tidak diterima oleh mereka. Aku ingat betul jawaban beliau sampai sekarang, dan mungkin akan selamanya. Jawaban itu singkat dan jelas.

"May, kalau kau ditolak itu, bukan berarti karena kau nggak mampu melakukannya, tapi karena kapasitasmu lebih dari apa yang kami butuhkan. Kami butuhnya segini (memberi jarak 3 cm antara ibu jari dan jari telunjuk), kau bisanya segini (memberi jarak 10 cm antara ibu jari dan jari telunjuk)."

Dalam hati aku menggerutu, Ah, kaya'nya ini lip service aja. Mana mungkin ada yang begitu. Justru makin banyak yang kita bisa harusnya makin menguntungkan perusahaan dong.

Singkat cerita, aku diterima di kantor tempatku bekerja saat ini. Aku lulus interview dari seorang bos berbahasa asing, dan posisi yang kutempati menuntutku untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bagian dari keseharian. Aku harus mengakui bahwa kemampuan bahasa Inggrisku masih jauh dari kata bagus, tetapi aku juga tidak boleh menyangkali diri dari rasa syukur bahwa penolakan yang kuterima sebagai seorang penerjemah surat anak kecil mengantarku kepada sebuah pekerjaan yang akan memberiku kesempatan untuk meningkatkan kemampuanku lebih jauh lagi.

Tapi, bukan itu bagian terbaiknya. Setelah bekerja sebagai seorang konsultan IT selama lebih dari setahun, aku mulai mengerti mengapa Tuhan mengijinkan hatiku patah waktu itu. Lewat kak Tari, kakak yang bekerja sebagai admin di kantor tempatku bekerja saat ini, aku akhirnya bisa melihat bahwa admin adalah salah salah satu pekerjaan paling rumit dan layak diberi penghargaan. Aku harus mengatakan bahwa kak Tari adalah garda terdepan untuk segala hal di kantor kami. Mulai dari pegawai yang baru masuk, mereka pasti akan berurusan dengan kak Tari perihal fasilitas A dan B di kantor. Kalau laptop kami ada masalah (sulit connect ke Wi-Fi, kabel LAN, atau port USB tidak berfungsi dengan baik), kak Tari adalah orang pertama yang kami cari, bukannya teknisi. Kalau finger print di kantor kami bermasalah (sudah scan out tapi tidak terakumulasi di sistem), kami juga bisa berbondong-bondong menemui kak Tari untuk menanyakan hal tersebut.

Kak Tari juga adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur setiap perjalanan dinas. Pengurusan visa, membuat laporan perbandingan harga, membeli tiket pesawat, tiket hotel, sampai berurusan dengan pihak maskapai penerbangan jika ada delay. Bahkan, urusan kaki kursi yang patah pun akan kami laporkan ke beliau. Belum lagi kalau higher ups di kantor berulang tahun, segala tetek bengek perayaan ulang tahun biasanya akan diserahkan kepada kak Tari walau kami semua tahu bahwa itu adalah sesuatu di luar jobdesk-nya. Beberapa bulan yang lalu kami akhirnya sadar, kak Tari selama ini mengerjakan pekerjaan yang layak dilakukan tujuh sampai sepuluh orang. Dear kak Tari, kalau suatu saat kakak membaca tulisan ini, aku mau bilang terima kasih banyak atas setiap pertolongan kakak untuk kami ya! Semoga kakak selalu sehat dan bahagia!

Kak Tari memberiku gambaran tentang sebuah pekerjaan yang mungkin bisa kukerjakan, tetapi akan menimbulkan tingkat stres yang cukup tinggi bagiku. Aku akhirnya bisa bersyukur atas penolakan yang kuterima saat itu. Sepertinya Tuhan memang benar-benar mengenal karakterku. Aku memang sangat tidak cocok melakukan pekerjaan administratif yang terkesan sederhana tetapi sifatnya berulang. Aku pasti akan sangat bosan dan tidak bergairah melakukannya. Bagiku, rasanya pasti jauh lebih baik stres karena memikirkan logic untuk membuat sebuah fitur sesuai permintaan client daripada harus berurusan dengan ratusan pegawai dengan segala permasalahan mereka. Untuk teman-teman pembaca yang saat ini pekerjaannya bersifat administratif, salam kasih dariku untuk kalian. Percayalah, pekerjaanmu mulia.

Teman-teman, aku tidak tahu penolakan seperti apa yang saat ini sedang kamu hadapi. Kamu mungkin telah menjadi terlalu lelah mencari pekerjaan, tetapi belum juga menemui titik terang. Kamu mungkin mulai membandingkan kehidupanmu dengan orang lain dan segala pencapaian yang melekat dalam diri mereka. Di saat semua orang seakan-akan telah mengetahui segala hal, mengepakkan sayap mereka ke tempat-tempat yang sepertinya nyaris mustahil untuk kamu tuju, kamu masih ada disini berusaha menancapkan akar agar tidak serta-merta hanyut tersapu ombak.
Tetapi ingat, tidak semua penolakan yang kita terima menunjukkan ketidakmampuan kita. Jika disiplin dan integritas adalah nilai hidupmu, kemungkinan besar tempat itu tidak akan menerimamu sebab keberadaanmu mungkin akan membuat mereka terganggu.

Kamu mungkin telah ada di ujung jalan dalam pengejaran untuk mendapatkan hati seorang wanita, tetapi dia tak juga menunjukkan tanda-tanda memiliki ketertarikan yang sama. Hey, kadangkala kita ditolak bukan karena kapasitas kita kurang memadai, tetapi karena kapasitas kita terlalu memadai dan mereka hanya butuh sesuatu yang bersifat cukup. Jadi jangan terlalu patah hati lagi ya jika seorang wanita menolakmu dengan jurus kamu-terlalu-baik-buat-aku. Bisa jadi baginya kapasitasmu memang terlalu besar untuk bersanding dengannya, dan dia tidak punya kepercayaan diri untuk menghadapi itu.

Kamu yang tumbuh besar dengan perasaan ditolak di tengah-tengah keluarga sekalipun, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi untuk kebaikanmu. Terima kasih karena telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat daripada siapapun. Aku percaya bahwa seseorang sepertimu akan bisa bertahan hidup di ujung bumi, dan bukan hanya itu saja, kamu bahkan sangat mungkin menjadi seorang penolong yang baik bagi seseorang di luar sana. Aku tidak bisa menjamin banyak hal, tetapi satu hal yang kutahu pasti, Bapa di surga sangat mengasihimu dan menginginkanmu.
Kiranya apa yang Daud katakan berikut ini memberi penghiburan di hatimu.

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.

- Maz. 27 : 10

Atau, kamu mungkin adalah seorang kakak rohani yang sedang berjuang mendapatkan balas kasih dari adik-adik rohaninya? Duh de, bukan kau aja yang perlu kupikirkan. Adekku di rumah aja nggak kuperjuangkan sebesar perjuangan yang kulakukan untuk mendapatkan hatimu. Aku capek de, hatiku lelah. Terserahmu lah. Aku pengen menyerah.
Anyone can relate?  Hahaha. Aku pernah ada di posisimu, teman :)

Apapun penolakan yang sedang kamu hadapi, aku harus mengatakan bahwa itu normal dan kamu tidak sendirian. Setiap orang dewasa yang bernyawa rentan mengalami penolakan. Kita bukan lagi anak kecil yang cenderung disukai oleh semua orang. Tiap-tiap hari kita berpotensi untuk mengalami penolakan, entah oleh sebuah instansi, organisasi, bahkan mungkin oleh orang-orang terdekat di dalam kehidupan kita yang mungkin kita pikir tidak akan mengecewakan.

Kita selalu berpeluang untuk terluka. Omong kosong untuk orang yang mengatakan aku udah biasa disakiti/ ditolak. Penolakan, sekecil apapun, frekuentif atau tidak, cepat atau lambat akan menghasilkan efek traumatis jika tidak ditangani dengan cara yang tepat. Rendah diri, merasa tidak kompeten, merasa tidak berharga, merasa ada yang salah dengan dirinya, atau perasaan-perasaan negatif lainnya kerap kali berseliweran di pikiran. Tetapi sebagai orang dewasa, mari belajar bahwa penolakan itu ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi, sebab terkadang ia bagaikan cinta pertama yang datang tanpa aba-aba, dan satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menerima dan menghadapinya untuk bisa menyaksikan akhirnya.

Mari kuceritakan kepadamu salah satu seni menerima penolakan paling agung yang pernah kubaca.

Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

- Mat. 15:21-28

Teman-teman perhatikan, Tuhan Yesus bukan hanya menolak (reject) perempuan Kanaan tersebut, Dia mengabaikannya (ignore). Apakah Ibu tersebut patah hati? Aku yakin, iya. Tetapi apakah hal tersebut menyurutkan langkahnya? Tidak. Alih-alih melangkah pergi dan menyimpan dendam kesumat di dalam hatinya, dengan berbesar hati dan bijaksana Ibu tersebut memberi jawab. Lihat apa yang terjadi! Silahkan baca dan renungkan perikop itu sekali lagi.

Tulisan ini bukan sebuah deklarasi bahwa aku adalah seorang gadis yang kebal akan penolakan. Bukan, bukan. Sama seperti kebanyakan manusia pada umumnya, aku masih sangat takut tiap kali hal-hal yang kuinginkan harus dikaitkan dengan keputusan orang lain. Aku masih menangis dan cenderung menarik diri ketika pesan-pesan yang kukirimkan panjang lebar kepada seseorang yang sangat kupercaya hanya dibalas dengan satu dua kalimat diplomatis yang menandakan ketidaktertarikan orang tersebut atas kegundahanku kala itu. Pernah aku juga menangis di meja kerja hanya karena Yuni terlalu sibuk untuk menemaniku membuat kopi di pantry atau menonton bioskop. Beberapa kali aku juga menarik kembali pesan di WhatsApp yang kukirimkan kepada seseorang untuk memintanya menemaniku ke pusat perbelanjaan, karena aku takut pesan itu akan dibalas, "Aku udah ada janji."

Maka sekali lagi kusampaikan, tulisan ini bukan sebuah deklarasi bahwa aku telah kebal dengan penolakan. Sebaliknya, tulisan ini dibuat sebagai ajakan bagi kita semua untuk memiliki sikap yang benar ketika harus diperhadapkan pada sebuah penolakan. Bagaimana belajar untuk berbesar hati, bagaimana memandang semua penolakan yang kita terima sebagai bagian dari perjalanan hidup dan pertumbuhan kita sebagai seorang anak manusia, dan bagaimana mencari tahu hal baik apa yang Tuhan tengah rancangkan di tengah-tengah penolakan yang kita alami. Mengutip apa yang dikatakan Shang Su Yi, nenek dari si tampan Nick Young dalam trilogi Crazy Rich Asian:
"..kadang-kadang, sesuatu yang awalnya kelihatan buruk bisa menjadi hal paling sempurna di dunia bagi kita."
Sebagai penutup, aku ingin mengajak kita semua untuk mengatakan kepada diri kita sendiri, jangan pernah takut mengalami penolakan. If it worth goes to you, it will be yours in the end. But even if it's not, God loves you wholeheartedly and know what's best for you.

Dan ingatlah hal ini:

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

-Matius 24:13

Dimanapun kamu berada, penolakan seperti apapun yang sedang kamu hadapi, doaku memelukmu.

15 comments:

  1. Thankyou for sharing kak mayy,dari tulisan kaka ini aku belajar utk menerima penolakan dan bersyukur saat aku di tolak oleh berbagai PTN hahah,dan belajar utk bersyukur nanti nya akan penolakan yg datang :) , ya sebelum nya aku di tolak di berbagai universitas bahkan harus sampai menganggur setahun untuk bisa berkuliah di PTN . Dan Tuhan menempatkan aku di Universitas yg sekarang dan Aku bersyukur ketika boleh mengenal Nya di bangku perkuliahan ini :) .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaa..
      Tos dulu yg senasib hihi
      Iya de, kali aja kalo kita nggak masuk di Ilkomp kita gabisa kenal Kristus yaaak ;)
      Memang benar laa everything happens for a reason :)

      Delete
  2. "Namun kutau yang kupercaya dan aku yakin kan kuasaNya, Dia menjaga yang kutaruhkan hingga harinya kelak..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntar kalo kk tambahin lg soal perenungan lagu ini, jadi panjang kali ya de 😂😂

      Delete
    2. Btw aku komen ini sebelum baca status kk berikutnya. Langsung klik link gitu. Tau2 status berikutnya cuplikan lagu ini hahaha

      Delete
  3. misss you soooooooo. bbrp hari kepikiran pengen baca tulisannmu, dan pagi ini link nya muncul, aku lgsg klik ditengah kesibukan senin pagi. terimakasih yaa- dariku yg cemen bgt akan penolakan, ini memberkati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. miss you too, babe!! semangat ya ujiannya besok 😘

      Delete
  4. Kak mayyy! Thankyou buat tulisannya hahahaha, selama ini aku jadi pengagum rahasia tulisan kakak���� ditunggu tulisan selanjutnya ya kakkkk��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh gimana ya mbak Tamel, mohon maaf nih, mbak Tamel nggak lg dianggap pengagum rahasia, wong aku tau mbak Tamel sering screenshot kok 😋😋😋

      Thanks for reading mbak! 😊

      Delete
  5. Bersyukur bisa baca tulisan kakak. Tuhan ijinkan aku untuk membaca ini agar aku tau makna dari setiap penolakan yang telah ku lalu. Makasih kak mau.. 💞

    ReplyDelete
  6. Penolakan sederhana pun bisa bikin nangis yakan kak �� gacuma aku ternyata!
    Terenyuh juga.. Bisa jadi kegagalanku dulu setiap ngelamar kerja, itu karena Tuhan yang memang gamau aku disitu :')
    thankyou for sharing and Miss you kak mayaaaa ��������

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, de :)

      ini gimana mau blg miss you too tp gatau siapa 😢

      Delete
  7. "Kita selalu berpeluang untuk terluka."
    Dan beruntungnya punya Tuhan Yesus ya kak, tempat terbaik utk mengadu, tempat terbaik utk memulihkan luka. Ku terharuuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar de 😊
      Semua laki-laki di dunia ini berpotensi melukai kita, cuma Tuhan Yesus yang nggak 😂

      Delete