Tuesday, 31 December 2019

Melepaskan Pengakuan

Hey, belated happy birthday! πŸ€—

Apa kabar?
Semoga kamu ada dalam keadaan yang baik dan hati yang penuh dengan ucapan syukur. Hampir setengah tahun sejak terakhir kali aku bercerita kepadamu melalui tulisan sebagai media-nya. Kuartal ketiga dan keempat memang selalu menjadi hari-hari paling menyibukkan di kantor, ditambah lagi kesibukan untuk beberapa pelayanan yang dipercayakan Tuhan untuk kukerjakan beberapa bulan terakhir, tubuh rasanya terlalu lelah untuk berbagi cerita. Tiba-tiba, kita sudah ada di penghujung tahun saja. Terima kasih untuk kamu yang dengan setia berkunjung dan bertanya, "Tulisan baru kapan rilisnya?"

Tahun ini adalah tahun paling produktif sekaligus tahun paling sibuk yang kulalui di kantor. Berkutat dengan banyak R&D yang membosankan di tahun lalu ternyata tidak seburuk itu, sebab hal itu ternyata mengambil banyak peran dalam memperkuat kemampuanku untuk ngoding. Mengerjakan project berlapis sejak awal tahun hingga kuartal keempat, merilis delapan project baru untuk beberapa negara, membuatku merasa gembira. Sederhananya, tahun ini adalah tahunku.

"Maya's case is special, everybody wants her," kata salah satu petinggi paling dihormati di timku pada sesi resource planning beberapa waktu yang lalu. Rasanya? Bangga dong. Dari anak yang merasa dirinya paling tidak kompeten di tahun pertama bekerja, menjadi seorang anak yang diinginkan dan boleh memilih ingin terlibat di project yang mana. Munafik jika kukatakan aku tidak gembira, setelah semua air mata yang tertumpah dan kerja keras yang harus kulakukan untuk bisa mencapainya.

Pernah satu kali, pada hari-hari paling sibuk dalam pekerjaanku beberapa bulan yang lalu, aku bersikap sangat arogan di hadapan Tuhan. Waktu itu aku merasakan kesakitan yang tidak biasa di kepalaku akibat kelelahan bekerja. Aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa sakit kepala bisa menjadi demikian menyakitkan. Tubuhku demam, dan aku sadar betul bahwa aku benar-benar harus pulang dan beristirahat. Di sisi lain, aku tahu bahwa sekalipun aku pulang, seluruh pikiran dan hatiku akan tertuju pada pekerjaanku. Maka alih-alih meminta ijin untuk pulang, kamu tahu apa yang kulakukan? Aku pergi ke toilet, duduk, menunduk, kemudian berdoa disana. Mengutarakan doa paling sombong nan arogan yang pernah keluar dari mulut seorang anak manusia. Mau tahu isi doaku waktu itu?

"Tuhan, aku sibuk. Aku nggak punya waktu untuk sakit. Tolong sembuhkan aku."

See? Take a deep breath and curse me if you want to. Aku layak menerimanya.
Beruntungnya aku, Tuhan memilih untuk tidak menindaklanjuti kesombonganku itu di hari yang sama. Alih-alih marah dan membuatku lebih sakit lagi, Tuhan malah mengabulkan doaku. Aku sembuh, bermodalkan doa dan air hangat. Sejenak Tuhan membiarkanku melanjutkan obsesiku akan pekerjaan.

Di lain waktu, aku lagi-lagi diperhadapkan pada sebuah keadaan yang tidak kusukai dan berujung dengan tangisan. Pasalnya sederhana. Aku sedang berkutat dengan dua buah project baru yang akan go-live dalam waktu dekat saat client mengajukan penambahan fitur untuk salah satu project Europe yang sudah terlebih dahulu go-live beberapa bulan sebelumnya. Karena aku sedang sibuk dengan project baru, atasan mengajukan agar penambahan fitur untuk project EU milikku itu dialihkan kepada orang lain, tapi aku kekeuh untuk tidak mengalihkannya.

"Itu milikku, dan aku hanya akan membiarkan orang lain menyentuhnya ketika aku tidak lagi ada disini," batinku waktu itu. Kesannya tidak masuk akal, bukan? Tapi akupun memiliki alasan pribadi untuk itu.

πŸ‘¦: "Don't you trust him? You need to trust your colleague."
πŸ‘§: "You cannot feel me. It's not about trust or mistrust. It's my very first project that I built from sketch and went smoothly, and I'm not going to pass it to someone else. Not him, not others."
πŸ‘¦: "You have no idea how many demands that come to our team. We need you more in new projects instead of doing that extra feature thingy."

Sebenarnya, di tahun kedua aku memang difokuskan untuk mengerjakan R&D, dimana aku harus melakukan research untuk memastikan apakah project ini bisa dikerjakan atau tidak dengan platform yang kami gunakan, sesuatu semacam itu. Jika kukatakan bisa, maka aku akan membuat prototype (sketch) dan jika proposalnya disetujui oleh client, orang lain akan menjadi developer-nya. Harusnya aku sudah terbiasa dong mengerjakan sesuatu yang pada akhirnya harus dilepaskan untuk orang lain? Tapi entah mengapa, yang satu ini berbeda. Aku memiliki rasa kepemilikan yang lebih atas project ini dan itu membuatku tidak bisa dengan mudah merelakannya. Aku berdoa kepada Tuhan agar Ia membuka jalan supaya aku tidak perlu melakukan handover project tersebut kepada orang lain, dan lagi-lagi Ia mengabulkan doaku.

Kesibukanku terus berlanjut. Tidak peduli aku makan sebanyak apa, berat badanku stabil bahkan cenderung menurun. Menyenangkan bukan?
Ya iyalah, wong makanan yang masuk ke mulutku tidak sebanding dengan beban emosional dan mental yang harus kuhadapi ketika berusaha menyelesaikan semua project itu. Tidak jarang aku menggunakan jam makan siang untuk bekerja. Di lain waktu aku bahkan tidak ingat untuk minum air putih sama sekali. Aku juga cukup sering menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor dan menguncinya, maka tidak jarang aku harus mengeluarkan uang lebih untuk bisa menggunakan taksi online jika pulang terlalu larut.

Suatu ketika aku pulang hampir jam sepuluh malam dan menaiki Grab Car menuju rumah. Di luar hujan tengah turun dan driver memutar lagu Orang Ketiga. Aku duduk di bangku belakang supir, memasang headset tanpa memutar lagu apapun. Kualihkan pandanganku ke luar jendela, menatap rintik hujan di sepanjang jalan Putri Hijau yang gelap saat malam. Samar-samar kudengar Tuhan berbicara, lembut sekali.

"Apa sih yang kau cari, May?"

Aku memang pernah mengatakan kepada Tuhan bahwa aku akan sangat sibuk tahun ini, jadi aku berharap jika Dia berencana menghardikku, tolong jangan berikan hardikan keras yang menguras banyak tenaga dan air mata. Dan sepertinya, Tuhan mengabulkannya. Suara itu lembut setengah berbisik, namun menggetarkan jiwa. Pelan-pelan aku menangis dalam diam, merenungkan pertanyaan yang sederhana namun sarat akan makna; Apa sih yang kau cari, May?

Beberapa hari setelahnya, bosku datang dari Singapura untuk melakukan sesi annual perfomance appraisal dengan bertatap muka. Annual performance appraisal adalah momen dimana seorang pegawai akan menerima masukan dan pujian terkait performa kerjanya di tahun tersebut dan tahun ini, aku menerima banyak sekali pujian.

"You are the best option that we have now."
"Everyone wants to work with you so I ask them to take turns."
"You are very strong at technical skills."
"You are good at management, you can jump from one to another project at the same time, meet the deadline and oftenly beyond expectation."

Aku tidak bisa mengingat semuanya tapi aku ingat betul bahwa sesaat setelah aku keluar dari ruangan itu, tangisku pecah. Aku pergi ke toilet dan menangis lama sekali disana. Tangis kebahagiaan karena menerima banyak pujian? Sayangnya, bukan. Tangisku yang pecah adalah tangis kesedihan. Gila, bukan? Gila. I was totally insane.

Alasanku menangis itu sederhana sekali; bosku memberi masukan perihal ownership. Intinya, memiliki rasa kepemilikan atas sebuah project itu baik, tapi ada kalanya kita dituntut untuk menyerahkannya kepada orang lain karena kemampuan kita lebih dibutuhkan untuk sesuatu yang lebih penting atau lebih mendesak. Satu masukan yang sebenarnya masuk akal, namun entah kenapa waktu itu berhasil membuat mataku kabur dan gagal melihat semua pujian yang bosku sampaikan. Seluruh kerja kerasku selama setahun penuh rasanya cacat karena satu kebodohan, ketidaksediaanku untuk melepaskan pengakuan sebagai 'pemilik' dari sebuah project yang memang kukerjakan dengan sepenuh hati. Aku pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa.

Kamu pernah secara tidak sadar menyanyikan sebuah lagu? Aku pernah, sering malah. Malam itu, di perjalanan singkat dari jalan utama menuju rumah, mulutku tanpa sadar menyenandungkan sebuah lagu.

"🎢 Selain Kau tiada yang lain yang kuingini di bumi.."

"Tunggu, sebentar. Barusan aku bernyanyi apa?" batinku.

"🎢 Selain Kau tiada yang lain yang kuingini di bumi.."

Di rumah, setelah selesai berberes, aku membuka Alkitab dan melanjutkan bible reading-ku yang pada waktu itu sedang ada pada masa transisi Musa menuju Yosua. Kamu mungkin sudah cukup akrab dengan cerita tentang tokoh Musa. Tumbuh besar dengan kepercayaan diri sebagai seorang pangeran, melakukan sebuah tindakan gegabah yang berujung dengan pelarian, hidup sebagai seorang gembala domba selama empat puluh tahun, lalu di saat seluruh kepercayaan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin runtuh, Tuhan memanggilnya untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Luar biasa.

Oh, belum selesai. Setelah dengan susah payah memimpin bangsa se-tegar tengkuk Israel selama puluhan tahun di padang gurun, hanya karena satu kemarahannya yang juga sebenarnya dipicu oleh keluh kesah bangsa Israel, Tuhan mengatakan apa kepada Musa?

"Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka. - Bilangan 20:12"

Mungkin jika aku yang menjadi Musa waktu itu, aku akan membangkang dan tidak melakukan yang terbaik sampai akhir masa kepemimpinanku. Toh bukan aku yang ujung-ujungnya akan dikenang sebagai orang yang memimpin mereka masuk ke tanah perjanjian.

"Lho lho, tunggu sebentar. Apa-apaan ini, Tuhan? Jadi apa gunanya selama ini aku makan hati menghadapi orang-orang bebal ini jikalau pada akhirnya aku tidak bisa memasuki tanah perjanjian itu? Tiga kali empat puluh tahun, Tuhan. Tiga kali empat puluh tahun aku berproses hanya untuk ini? Segala jenis gejolak batin kuhadapi, belum lagi penghinaan karena aku mengambil seorang Kush menjadi istriku, hanya untuk ini? Ayolah Tuhan, segala sesuatu yang sudah kulakukan untuk-Mu agaknya tidak sebanding dengan satu kesalahanku itu."

Aku mencari-cari kalimat serupa yang mungkin dilontarkan Musa kepada Tuhan sebagai bentuk protes perihal keputusan Tuhan atasnya, tapi aku gagal menemukannya. Tidak ada satu kalimat pun di Alkitab yang menyatakan hal serupa. Sampai akhir hidupnya, Musa masih memberi teladan tentang sebuah pengabdian hidup dan kesetiaan kepada Tuhan. Alkitab bahkan mencatat bahwa di akhir kepemimpinannya, dia masih dengan setia menuliskan taurat Tuhan untuk bangsa Israel, memberi pesan kepada tiga suku yang telah mendapat tanah kediaman untuk tetap ikut berperang bersama suku lainnya.

Entah apa yang Musa rasakan waktu itu. Aku cukup yakin bahwa Musa pasti merasa sangat sedih. Empat puluh tahun di padang gurun tentulah bukan waktu yang singkat. Aku percaya bahwa Musa mengerahkan segala usaha terbaiknya dan merasakan banyak sekali gejolak emosi selama rentang waktu yang tidak sebentar itu. Namun lihat apa yang dia terima? Rasanya tidak ada. Bahkan mengijinkannya menapakkan kaki barang sejenak saja di tanah perjanjian itupun Tuhan tidak sudi.

Hanya satu saja yang kuimani; pengenalan Musa akan Tuhan selama puluhan tahun pastilah membuatnya tiba pada sebuah pemahaman bahwa rencana Tuhan untuk bangsa Israel tidak akan pernah berubah, sekalipun pemimpin mereka berganti. Jika bukan Musa, maka ada Yosua. Dan jika bukan Yosua sekalipun, akan ada orang lain lagi yang akan memimpin mereka. Musa atau Yosua hanyalah oknum, dan ketidakhadiran mereka tidak akan mengubah rancangan Allah yang semula. Kupikir, pemahaman inilah yang pada akhirnya memberi Musa keluasan hati untuk menerima keputusan Allah atas dirinya, melepaskan pengakuan yang seharusnya bisa diterimanya sebagai pemimpin yang tidak hanya membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, namun dengan sukses membawa mereka masuk ke tanah perjanjian.

Kisah Musa tidak serta merta membuat segala kesedihanku menguap, tetapi hari itu aku sadar, betapa besarnya pengakuan dari seorang manusia mengambil porsi dalam menentukan sukacitaku. Malam itu, sekali lagi Tuhan menantangku untuk menjawab pertanyaan ini:

Apakah kau mengasihi-Ku lebih dari segalanya?

Lalu aku teringat pada sebuah pujian yang kira-kira berisi demikian:

"🎢 'ku rela melepaskan segalanya karena Kau lebih dulu rela melepaskan segalanya untukku.."

Pada akhirnya, bekerja keras dan diakui sebagai orang yang kompeten memang menyenangkan, tapi ternyata sangat tidak sebanding dengan perasaan damai sejahtera yang melingkupi hati karena menikmati hadirat Tuhan. Kututup hari itu dengan ucapan syukur kepada Tuhan karena sekali lagi, Ia berbelas kasihan dan menyelamatkanku dari sebuah pengejaran akan kesia-siaan.

Apakah keinginan untuk diakui benar-benar sebuah hal yang tidak pantas untuk dirasakan? Aku pikir tidak. Allah sendiri ingin diakui sebagai satu-satunya Allah yang benar, Pemilik kedaulatan penuh atas semesta. Dia ingin agar segala ciptaan sujud menyembah kepada-Nya. Lantas, dimana letak perbedaannya? Allah tidak membiarkan identitas-Nya bergantung pada sedikit banyaknya pengakuan yang Ia terima dari manusia.

Benarlah merupakan sebuah kemalangan bagi kita untuk tumbuh di tengah-tengah dunia yang mengakui keberadaan kita hanya ketika kita melakukan sesuatu untuknya. Dunia menuntut kita untuk menjadi outstanding, dan wajar jika kita punya hasrat untuk selalu ada di puncak piramida. Setiap kali kita membuka social media, kita terpapar dengan pencapaian demi pencapaian yang orang lain dapatkan, entah itu pekerjaan, keuangan, percintaan, lalu kita pun bertanya kepada diri sendiri, "Aku kapan?"
Dalam versi yang lebih sederhana misalnya, "Mengapa foto miliknya selalu disukai oleh banyak orang di Instagram? Mengapa aku tidak?"

Beruntunglah kita karena cara kerja Tuhan tidak demikian. Bahkan sebelum kita pernah melakukan sesuatu untuk-Nya sekalipun, Ia tidak pernah menyangkali keberadaan kita. Dengan kesadaran sempurna Ia tahu kita ini debu, dengan kesadaran sempurna pula Ia mengasihi kita. Ia tidak pernah dan tidak akan mungkin menyangkali diri-Nya. Karena itu, kasih Tuhan itu tiada duanya. Allah yang baik itu mengenal kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Maka jika saat ini kita sedang ada di puncak, tengah, atau bagian paling bawah piramida sekalipun, selama itu kehendak Tuhan, itu pasti yang terbaik. Jadi, jangan sampai hal tersebut mencuri sukacita kita ya?

Kamu yang harus merantau demi menopang perekonomian keluarga, bekerja keras siang dan malam demi pendidikan adik yang ternyata malah tidak menghargainya dengan malas bersekolah, Tuhan melihat usahamu kok.

Kamu yang kerap kali bekerja di balik layar, memastikan orang lain bisa tampil prima dan baik di depan umum tanpa pernah mendapat sinar lampu sorot, Tuhan menyinarimu dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.

Kamu yang telah berpacaran dengan seorang pria selama bertahun-tahun, menemaninya keluar dari 'tanah perbudakan' tetapi tidak diizinkan Tuhan sampai ke 'tanah perjanjian', jangan sungkan melepaskannya ya! Tuhan yang mengasihi-Mu itu mengerti apa yang terbaik untukmu.

Kamu yang seringkali direndahkan karena belum juga menemukan pekerjaan menetap, jangan putus asa ya!

Kamu yang merasa diri kurang pintar, selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam segala hal, jangan malas belajar ya!

Kamu yang tulisannya sering dicomot dan ditiru tanpa disertai credit, I can feel you!

Kamu yang sering membantu orang lain tanpa menerima ucapan terima kasih, Tuhan mengarahkan pandangan-Nya kepadamu lho.

Kamu yang merasa sudah memberikan yang terbaik, lelah dalam penantian namun tak kunjung menemui titik terang, sini aku peluk πŸ€—

Kamu yang membaca tulisan ini, yang sedang bergumul dengan kebutuhan akan sebuah pengakuan, jika dunia masih terlalu angkuh untuk memberimu apresiasi yang sepadan, ingatlah bahwa Tuhan kita yang baik melihat segala usahamu dan tidak akan tinggal diam atasnya. Semangat ya! :)

Biar kuberi satu mantra ajaib. Setiap kali engkau tersiksa dan terluka karena kebutuhan akan sebuah pengakuan, katakan ini:

Siapakah aku?
Aku adalah orang yang namanya tidak dikenal dunia tetapi dikenal oleh Pemilik dunia.


Keberadaanmu tidak ditentukan oleh latar belakang keluargamu, pendidikan terakhirmu, pekerjaanmu, penghasilan bulananmu, IPK-mu, pelayanan apa yang sedang kau kerjakan, berapa tempat yang pernah kau kunjungi, berapa bahasa asing yang kau kuasai, berapa buku yang pernah kau baca, ataupun berapa jurnal ilmiah yang pernah kau publikasikan.
Tidak, tidak.
Keberadaanmu nyata karena Aku, Pemilik dunia ini, mengakuimu sebagai milik-Ku, dan tidak ada satu iota pun yang sanggup memisahkanmu dari kasih-Ku.

Hanya, apakah kau mengasihi-Ku lebih dari segalanya?

Sebagai penutup, kuucapkan terima kasih karena sudah bertahan menjalani hari-hari di bumi di sepanjang tahun ini. Aku tahu itu tidak mudah. Kamu hebat!
Tahun yang baru akan segera datang. Selamat menggumulkan dengan sungguh-sungguh tentang apa yang akan menjadi resolusimu di tahun 2020. Doakan, minta perkenanan daripada Tuhan. Kiranya pertanyaan ini bisa menolongmu merenungkannya.

"Apakah yang Engkau kehendaki untuk kuperbuat bagi-Mu, ya Tuhan?"

Siapa lagi yang kumiliki di surga kalau bukan Engkau? Dan di bumi ini tidak ada yang lebih kurindukan daripada Engkau.
Kesehatanku mundur; semangatku patah, namun Allah tetap sama. Dialah kekuatan hatiku. Dialah milikku untuk selama-lamanya.
Tetapi orang-orang yang tidak mau menyembah Allah akan binasa karena Ia membinasakan orang-orang yang menyembah allah-allah yang lain.
Sedangkan aku akan berusaha sedapat-dapatnya untuk hidup dekat dengan Dia. Aku telah memilih Dia dan aku akan bercerita kepada semua orang tentang bagaimana Ia menyelamatkan aku dengan cara-cara yang mengagumkan.
- Mazmur 73:25-28 (FAYH)

23 comments:

  1. Trimakasih buat kesedianmu menulis sesuatu yg punya nyawa seperti ini may.
    Akhir tahun ku sedit agak kacau, tp tulisan mu sedikit menetralisirnya.
    Jangan berhenti menulis may.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama sen :)
      Peluk dan doa dari jauh πŸ€—

      Delete
  2. Almost 13 hours writing. ������
    Pembaca mungkin hanya butuh 10 menit untuk membacanya, tapi penulis butuh spend waktu hampir 13 jam untuk menulis cerita ini, belum lagi waktu merenungkan dan memikirkan alur cerita,mendoakannya sehingga mudah dinikmati dan dicerna pembaca. Terimakasih dear maya,tulisanmu selalu saja membuat kakak terharu. Bocorannya, aku selalu membuka blog mu seminggu belakangan, setiap hari, menantikan tulisan baru menjelang tahun baru. And again you nailed it. Terpujilah Tuhan yang memberi talenta menulis luar biasa kepada Maya, sehingga banyak orang terberkati.

    ReplyDelete
  3. Tulisan kaka ini baru2 ini aku alami ,aku terlalu mengharapkan pengakuan dari sekelilingku,sampai aku lupa Tuhan yg lebih mengakui ku ,baik,buruk nya aku ,Tuhan tetap menyayangi ku .

    thankyou kak maya untuk tulisan yg sudah lama di nanti2 ini :),tulisan yg menegurku untuk "melepaskan pengakuan" .Tetap menjadi berkat di manapun kak may.
    Selamat menyambut tahun baru kak may, sehat2 selalu dan selalu bahagia :), kalo bsa di medan terus ya kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak udh membaca de 😊

      Perihal di Medan atau nggak, tergantung pimpinan Tuhan ya 🀭
      Tapi walau jauh pun kan tetap bisa menulis toh 😊

      Delete
  4. Mayooooo terimakasiihhhh. Benar2 nyata dan kurasakannnn. Sering bgt terjebak hal iniii. Mau dong dipelukkkkkk

    ReplyDelete
  5. Aku sampai baca dua kali loo wkwk.
    Aku selalu terjebak di "nggak mau melepaskan"ketika Tuhan bilang "lepaskan".
    Kalau aku jadi Musa, aku juga bakalan keberatan dong.
    Tapi, Musa kenal Tuhan jadi dia nggak berontak. Aku kaya'nya harus belajar lagi dari Musa soal membiarkan orang lain meneruskan pekerjaanku.
    Eh iya.
    Aku juga sering berdoa, "Tuhan kalau mau hajar aku jangan keras2 ya soalnya aku lagi nggak bisa patah hati Kali ini. Aku lagi nggak siap down sekarang!" Wkwkw.
    Sekali lagi, terima kasih Tuhan untuk otak penulis yang diciptakan sedemikian indah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doa kita aja mirip ya Des yaampun 🀭🀭

      Delete
  6. Thank you buat kisah berharga nya kak May...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bah, ai ho do i Rosma? 🀭
      Sama-sama Rosmaaaaa 😊

      Delete
  7. Thank you for your story kak πŸ˜‡
    Lewat tulisan kk ini mengajarkan bahawa kita harus tetap bersyukur buat segala hal yg telah kita terima maupun yg kita alami, semoga tulisan kakak jadi inspirasi buat semua orang. GBU πŸ˜‡πŸ˜‡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, salam kenal Marta 😊
      Selamat berselancar di tulisan-tulisan lainnya ya 😊

      Delete
  8. Setiap kali aku baca tulisan kaka kok selalu sesuai dengan apa yang kurasakan ya ka. Dan ini pun bukan suatu kebetulan, lewat tulisan kaka Tuhan menegur setiap pribadi yang membacanya termasuk diriku. Terimakasih untuk tulisan kaka ya dan terus berkarya untuk menjadi berkat untuk tulisan kaka.

    ReplyDelete
  9. Ya gak bisa di edit wkwkwk, maksudku lewat tulisan Kaka

    Selamat tahun baru ka may 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah membaca de 😊
      Selamat tahun baru! πŸ₯³

      Delete
  10. Ada namaku di sebut sebut,ahaha

    As usual, you always amaze me with your writing
    Keep it may,
    Pertanyaannya adalah "Apakah aku benar benar bisa melepaskan pengakuan?"
    Semua butuh waktu dan aku masih berproses dari ke hari.

    Semoga semakin lebih baik dan belajar tetap setia!

    Happy New Year may!2020!
    Dinantikan tulisan selanjutnya di tahun yang baru ini ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, bedaaa 😌

      Well, seperti yang kusampaikan di atas Pak, menginginkan pengakuan itu nggak masalah sih sebenarnya, yg salah itu adalah ketika kita menitikberatkan sukacita kita di pengakuan itu sendiri.
      So as long as you can keep yourself to not crossing the line, I think it's fair enough.

      Selamat tahun baru juga! πŸ₯³
      Iya semoga tahun ini aku lebih produktif ya hahaha

      Delete
  11. May, dari kmrn aku menunggu waktu yang pas untuk membaca tulisanmu ini. Dan aku sudah membacanya pada waktu yang tepat, dengan suasana hati dan jiwa yang sesuai.

    Terimakasih banyak telah berbagi ya lady.
    Sekalipun aku hanya pembaca musimanmu, aku pastikan bahwa aku selalu diberkati pas lagi baca tulisanmu, bukankah itu yg terpenting? Hahaha Keep writing lady.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembaca musiman hahaha
      Thanks for reading,bang! :)

      Delete
  12. Nice, God bless

    ReplyDelete