Thursday, 18 July 2019

Tentang Kebahagiaan (3)

Sejak hari itu, semuanya berangsur-angsur membaik.
Perlahan-lahan aku mulai menemukan secercah keberanian untuk sembuh.
Aku melihat kepada Mamak, Ranti, juga mengingat janjiku kepada seseorang yang berharga.
"Aku harus sembuh."

Suasana di rumah pengobatan memang jauh lebih mendukung proses pemulihanku.
Bibik yang mengobatiku sangat manusiawi dan punya kepribadian menyenangkan.
Dia cukup maklum dan mengerti bahwa aku tidak hanya sedang sakit secara fisik, tapi juga secara mental, karena itu dia sering mengajakku berbicara dan membagikan kisah-kisah hidupnya.
Entahlah, mungkin dia bisa merasakan aku punya naluri mendengarkan.
Bonusnya, dia Kristen.

Walaupun aku menjalani pengobatan di luar kota, aku mendapat kunjungan atau menerima panggilan telepon hampir setiap hari.
Adik kelompokku datang beramai-ramai dengan teman-teman mereka yang juga mengenalku sambil membawa uno dan mengajakku bermain bersama sambil minum minuman bersoda, atau juga Louis yang datang sambil membawa dimsum sekotak penuh.
Seorang adik kelas di kampus yang stambuknya 4 tahun di bawahku datang setiap minggu (padahal kupikir kami tidak seakrab itu) sambil membawakan makanan-makanan enak.

Aku mulai menikmati kunjungan-kunjungan itu.
Setiap dukungan "Maya yang kukenal itu.."  tidak lagi terasa seperti beban, melainkan mulai memberiku keberanian untuk bangkit.
"Kalau orang lain saja menaruh percaya padaku, mengapa aku tidak mempercayai diriku sendiri?"
Pemikiran positif semacam ini mulai muncul di kepalaku.

Tentu aku masih tidak bisa tidur karena mimpi buruk yang terus mengganggu, tapi setidaknya aku bisa berdoa saat aku tidak bisa tidur.
Prank call aneh yang kuterima dan beberapa hal-hal lain yang cukup mengganggu juga sukses memberi kesedihan yang mendalam untukku, tapi itu semua justru memberiku kesempatan untuk lebih banyak mengadu kepada Tuhan.
Kalau aku sedang sedih karena belum bisa move on, Adikku akan mematikan lampu kamar supaya aku bisa menangis sesenggukan dengan leluasa.
Dalam kegelapan, dia akan mengelus kepalaku dengan lembut dan turut serta menangis untukku.
"Aku yang lebih dulu kenal samamu. Aku yang lebih sayang samamu daripada dia, kak."
Aku tidak akan melupakan kalimat ini.

Pengobatan juga tidak pernah berjalan mudah.
Aku sepertinya memiliki alergi pada jenis rempah tertentu, sehingga pengobatan itu terasa sangat panas, gatal, perih, dan menyakitkan.
Punggungku terluka cukup parah karena terlalu lama berbaring dan seluruh tubuhku rasanya gerah karena tidak mandi puluhan hari.

Tapi perlahan-lahan, aku mulai bisa merasakan bahwa selalu ada hal yang patut disyukuri dalam setiap kejadian yang kualami.
Di hari pertama aku belajar untuk duduk, aku hampir pingsan.
Pandanganku gelap seketika, dan aku hanya bisa bertahan kurang dari lima detik.
Tapi waktu itu Bibik bilang, "Nggak apa-apa. Banyak orang malah sampe pingsan lagi."
Di hari pertama aku bisa mencuci wajah dengan tanganku sendiri karena sudah bisa duduk di tempat tidur, aku juga menangis haru.
Tak pernah kubayangkan terpaan air yang menyentuh wajahku bisa menjadi sesuatu yang benar-benar menyegarkan.
Hari pertama aku belajar berjalan dengan alat bantu juga adalah hari pertama aku menstruasi di bulan itu.
Sebagai perempuan yang bersahabat karib dengan dysmenorrhea, hari itu rasa sakitnya berkali-kali lipat.
Sarung yang kugunakan berlumuran darah karena sebelumnya aku berbaring sepanjang waktu, kakiku rasanya lepas dari pinggangku dan aku menangis berulang kali.
Tapi dalam keadaan seperti itupun Bibik justru mengatakan, "Eh, bagus looh masih bisa haid. Biasanya orang kalau patah tulang di daerah situ jadi nggak bisa haid lagi selama beberapa waktu."
Sekali lagi, bersama Tuhan, selalu ada hal yang bisa disyukuri.

Entah kenapa semuanya jadi terasa lebih mengharukan saat berhasil dilakukan untuk pertama kalinya, sekali lagi.
Maka "Nangis dulu lagi.." adalah kalimat favorit Bibik untuk mengejekku tiap kali aku menangis haru akan sesuatu.

Singkat cerita, setelah berminggu-minggu dirawat disana, aku pulang.
Tetapi semuanya belum berakhir hanya dengan berakhirnya masa pengobatanku disana.
Secara fisik aku telah membaik, tetapi jiwaku masih terkerangkeng dalam penderitaan dan trauma psikis setelah kecelakaan itu.

Aku hampir pingsan di hari kedua aku kembali ke kantor entah karena apa.
Aku menangis terisak-isak setiap kali melihat anak kecil dimanapun, termasuk di gereja atau bahkan di dalam angkot.
Setiap kali Jayden, anak seorang karyawan lain di tempatku bekerja datang ke kantor, aku akan menyempatkan diri mengganggunya barang lima menit, mengantarkannya ke depan lift, lalu kemudian pergi ke toilet untuk menangis sesenggukan disana.
Tidak jarang aku menghabiskan belasan menit untuk menangis di tangga darurat dan kemudian mengirim pesan kepada Yuni, "Yun, aku lagi di tangga darurat. Tolong aku."

Aku juga masih mengalami mimpi buruk setiap kali aku berusaha untuk tidur, kalau tidak salah sampai akhir September tahun lalu.
Aku akhirnya pindah kamar, sampai dengan sekarang.
Kamarku yang sebenarnya sudah tidak ditempati hampir setahun terakhir.
Aku juga masih trauma untuk duduk di sisi kanan mobil atau ketika menaiki lift sendirian.
Ada jenis getaran yang sampai sekarang masih selalu membuatku merasa takut dan teringat akan kecelakaan itu.
Singkatnya, aku masih mengalami depresi sampai November tahun lalu karena kecelakaan itu dan semua efek sampingnya.

Adalah sebuah perjalanan yang panjang, melelahkan, dan mengerikan yang harus kualami untuk pada akhirnya bisa berdamai dengan semuanya; patah tulang, patah hati, juga kejadian-kejadian yang menyusul setelahnya.
Hampir setiap minggu aku menjalani sesi konseling bersama kak San.
Pada masa-masa naik dan turun itu, Tuhan masih mengijinkanku berkarya.
Aku mempublikasikan beberapa tulisan yang berdampak, aku melayani sebagai MC dan trainer, aku juga mengalami perkembangan di pekerjaanku.
Seringkali saat kondisiku sudah membaik, ada saja kejadian atau pesan-pesan masuk yang membuatku hancur lagi, merasa terpuruk lagi, depresi lagi.
Bagaikan membangun sesuatu yang belum selesai tapi sudah diruntuhkan lagi, mungkin itu yang dirasakan kak San waktu itu.
Sesi konselingnya yang harus diulang lagi, begitu saja terus-menerus selama berbulan-bulan.
Pada waktu itu, orang-orang yang mengasihiku pasti selalu berdoa demikian:
"May God give you eyes to see He's still greater."

And finally, the battle is over.
I am healed, physically, mentally, and spiritually.

Bagaimana bisa menjadi demikian?
Sulit menemukan rangkaian kata yang sanggup menjelaskannya.
Sederhananya, waktu itu aku tiba pada sebuah pemahaman bahwa:

Di dunia ini, tidak ada yang menyita pikiran, perhatian dan perasaan Bapa sepanjang waktu selain satu hal ini; kebahagiaanku. Kebahagiaanku ada mengenal Bapa dan memiliki hubungan yang manis dengan-Nya. Dan kalau Tuhan saja sedemikian gigihnya memperjuangkan kebahagiaanku, mengapa aku tidak menghormati-Nya dengan melakukan hal yang sama?

Bagaimana pada akhirnya aku bisa move on dari orang yang kucintai, sederhana juga.
Dalam salah satu sesi konselingku dengan kak San tahun lalu, aku datang dengan sebuah pernyataan: "Kak, aku mau melupakannya."
"Yakin de? Memangnya udah siap?"
Aku merenungkan pertanyaan kak San selama beberapa waktu, kemudian sambil menangis aku memberi jawab.
"Kak.. Selama aku sakit dan selama beberapa bulan terakhir, aku selalu tersiksa dengan perasaanku sendiri. Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya Dia membuang semua rasa cintaku untuknya, tapi Tuhan seakan-akan nggak melakukan apapun. Cintaku justru bertumbuh lebih besar setiap harinya, kakak mungkin satu-satunya orang yang mengerti kenapa aku berkata begitu. Aku bahagia kak waktu aku sama dia, bahagiaaaaa kali. Tapi hari ini aku menyadari satu hal. Aku jauh lebih bahagia ketika hpdT-ku baik. Kebahagiaan yang kurasakan ketika dia ada di sisiku nggak sebanding dengan kebahagiaan yang kurasakan ketika hpdT-ku lagi baik. Kalaupun dia nggak ada di sisiku, tapi hpdT-ku lagi baik, aku bisa tetap bahagia. Tapi kalau hpdT-ku lagi nggak baik, walaupun dia ada di sisiku, hatiku nggak sebahagia itu. Cintaku untuknya yang tak kunjung selesai sudah menyakiti hati Allah, kak. Dan aku nggak boleh menyakiti hati Allah seperti ini terus-menerus, sementara Dia jelas-jelas sepanjang waktu berusaha membahagiakanku. Aku cuma ingin bahagia, kak."

Aku masih ingat ekspresi wajah dan respon kak San hari itu.
"Dan kau sangat pantas untuk itu, de."
Kami berdoa dengan hati yang terbuka, dan hari itu, dengan terbata-bata kukatakan kepada Tuhan,

"Terima kasih untuk kehadiran _____ di hidupku serta segala pertumbuhan dan kebahagiaan yang kuterima ketika aku mendoakannya. Aku percaya bahwa setiap cinta yang kurasakan untuk seseorang berasal dari pada-Mu, maka hari ini kukembalikan semuanya kepada-Mu juga. Aku mengasihi dan mencintainya dengan sungguh, tetapi aku lebih ingin untuk hidup taat dan takluk di bawah kehendak-Mu. Mulai hari ini, segala sesuatu yang berhubungan dengannya, kuserahkan seutuhnya kepada-Mu."

Aku dan kak San berpelukan.

Tentang kebahagiaan.

Kalau kamu bertanya padaku apa itu kebahagiaan, akan kuberi padamu jawab-jawab paling sederhana yang mungkin pernah kamu dengarkan.
Bagiku, kebahagiaan mungkin hanyalah sesederhana bisa tidur dengan posisi tubuh meringkuk miring.
Bagiku, kebahagiaan mungkin hanyalah sesederhana bisa tidur pulas dengan air liur bertebaran tanpa mimpi buruk yang kerap kali menjadikan tidurku tempat persinggahan.
Bagiku, kebahagiaan mungkin hanyalah sesederhana bisa melangkah di atas kaki sendiri saat akan menuju kamar mandi, entah itu sekedar buang air atau juga membersihkan diri.
Tentu semua itu sangat pantas disebut kebahagiaan, karena nyatanya, aku harus remuk terlebih dahulu untuk bisa mengecap semuanya, lagi.
Some beautiful paths can only be found after being lost.
Pada akhirnya, kebahagiaan itu bukan berbicara tentang apa yang terjadi, melainkan, apakah kamu bisa merasakan hadirat Tuhan saat itu terjadi?
Hal-hal yang kita anggap kecil dan biasa pun sebenarnya pasti bisa membawa rasa bahagia, selama kita menyadari bahwa Allah sendiri yang menjadi penyedianya.
Sebab sekalipun kita berhasil menaklukkan semesta, jika Tuhan tidak ada disana, apakah bagian yang membahagiakan dari itu semua?
Hadirat Allah adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kecelakaan itu memberiku banyak sekali pelajaran.
Aku lebih berhati-hati ketika mengucapkan doa, aku belajar seni menerima dan memberi pertolongan kepada orang lain, bahkan seni berurusan dengan orang depresi yang membutuhkan pertolongan. Aku juga jauh lebih mengasihi keluargaku dan mengerti hati mereka.
Banyak-lah, sulit untuk menuliskan semuanya.

Ngomong-ngomong, kamu pernah melihat gambar Tuhan Yesus menggendong anak domba tidak?
Seperti foto yang kuambil dari Google ini.



Tahu filosofinya apa?
Kak San bilang, anak domba yang digendong itu adalah anak domba yang kakinya patah karena dipukul oleh gembalanya, makanya dia tidak bisa berjalan lagi dan tidak punya pilihan selain digendong.

Akulah anak domba itu.

Aku mencintai kenyataan bahwa Sang Gembala Agung memilih menggunakan tongkatnya dan memukul kakiku, si domba bebal ini, sampai patah sehingga aku tidak lagi punya daya untuk melakukan apapun selain menyerah dan membiarkan-Nya menggendongku untuk kemudian membawaku pulang, bergabung dalam kawananku yang sebenarnya.
Aku mencintai kenyataan bahwa Allah sama sekali tidak merasa takut kalau-kalau hatiku akan meninggalkan-Nya karena Ia memilih mematahkan kakiku.
Tidak, tidak.
Ia sangat percaya diri bahwa justru oleh karena kaki yang dipukul sampai patah itulah, Dia akhirnya bisa memiliki hatiku dengan utuh.
Dan aku mencintai kepercayaan diri-Nya itu.

Tuhan menyuruh pergi orang yang paling kucinta pada hari-hari dimana aku paling terpuruk dan membutuhkannya, supaya aku sadar bahwa keberadaan, perhatian dan pertolongan dari siapapun tidak layak dibandingkan dan disandingkan dengan keberadaan, perhatian, dan pertolongan yang datang dari pada-Nya.

Di hari depan, kehidupanku pasti tidak mungkin bebas hambatan.
Mungkin akan ada pergumulan yang sekali lagi membuatku bertanya-tanya, "Akankah aku sanggup melewatinya?" atau, "Tuhan, Kau nggak merasa aku terlalu kecil untuk menghadapi ini?"
Tapi itu tidak masalah, sebab selama Tuhan ada disana, tentu aku akan bisa melewati semuanya.

Apakah aku menjadi lebih kuat?
Tidak.
Aku justru ratusan kali lebih lemah, lebih rapuh, lebih cengeng daripada sebelumnya.
Tapi aku mengerti dan menerimanya, sebab Tuhan telah berkata,
Kepadamu tidak akan Ku-anugerahkan hati yang kuat, melainkan hati yang taat. Sebab tidak ada kebahagiaan tanpa kesediaan untuk berjalan dalam garis ketaatan akan rencana-Ku. Dan kebahagiaan tanpa ketaatan, adalah sebuah kehidupan yang gempita tetapi kering makna.
Kalau sudah begitu,
Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān
Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kudustakan?

18 Juni kemarin, tepat setahun setelah kecelakaan itu terjadi, untuk kesekian kalinya aku bisa dengan hati terbuka berkata kepada Bapa, "Tuhan, terima kasih karena telah mengijinkanku untuk celaka. Melalui itu, Engkau berhasil memenangkan hatiku."

Hari itu aku juga berdoa untuk semua orang yang menolongku melewati masa sulit itu, mulai dari Bapak yang memberi tumpangan ke klinik, supir ambulans, teman yang menemaniku dan mengurus segala keperluan administrasi, setiap orang yang pernah bermalam dan menjagaku, membersihkan tubuhku, petugas kesehatan di rumah sakit, Bibik di rumah pengobatan, keluargaku, orang-orang yang menjengukku, dan terutama kepada mereka yang selalu menopangku di dalam doa.
Mereka semua turut ambil bagian dalam kebahagiaanku sekarang.

Kepada kamu yang dipilih Allah untuk membaca tulisan ini, dengarkan aku.
Melalui tulisan panjang yang mungkin melelahkan untuk dibaca ini aku hanya ingin menyampaikan, Tuhan itu baik.
Kasih Tuhan untukmu tidak mengenal musim.
Tidak peduli jika engkau dirusak, tidak peduli jika engkau dirisak.
Tidak peduli jika engkau perusak, tidak peduli juga jika engkau perisak.
Selama engkau berkenan mengulurkan tanganmu kepada-Nya dan mengatakan, "Tuhan, aku nggak punya apa-apa lagi selain hatiku yang hancur ini.."
Percayalah, kamu sudah memberikan yang terbaik dari semua hal yang bisa kamu berikan.
Tuhan akan menyembuhkan hatimu.

Aku berdoa agar kiranya masing-masing dari kamu diberi Allah kehormatan untuk merasakan kebahagiaan pada kasta tertinggi yang telah kurasakan itu; kebahagiaan seorang perempuan remuk pengidap depresi akut yang tidak hanya diinginkan, tapi juga dicintai dan diperjuangkan segigih-gigihnya oleh satu-satunya Laki-Laki sempurna yang pernah berdiam di semesta.
Tidak ada keindahan manapun yang mampu menandinginya.
Tidak ada.
Sama sekali.
Kesedihan dan dukacita akan selalu mengejarmu selama kamu hidup di dunia ini, karena dunia ini bukan rumahmu, karena dunia ini telah jatuh. Jadi jika kamu berani menaruh harap untuk merasa bahagia di dalamnya, taruhlah pengharapan itu hanya di dalam Dia yang sanggup menopangnya - dunia yang telah jatuh itu.
Lalu, kesedihan jenis apapun yang sedang kamu rasakan, kebahagiaan jenis apapun yang sedang kamu dambakan, silahkan dengan leluasa meninggalkan pesanmu sebagai anonim di kolom komentar, aku pasti berdoa untukmu.

Ibrani 12:5-8, 11-13 (TB) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Hari ini, tepat setahun yang lalu, 18 Juli 2018, aku sedang terisak-isak berdoa kepada Tuhan karena sebuah hal, dan Dia mendengarkan doaku.
Hari ini, tepat setahun yang lalu, kak San mengatakan sebuah kalimat magic yang telah memberiku pengertian akan kebahagiaan yang sebenarnya.



All you need is prayer.
Tuhan memberkatimu.


Kepada kamu yang tahu bahwa tulisan ini ditujukan kepadamu, suatu ketika hatimu mungkin juga akan remuk dan pecah. Pada waktu itu kamu pasti akan mengingatku dan mengingat tulisan ini.
Kamu akan menimbang-nimbang berulang kali untuk mencariku, bisa jadi memintaku untuk datang.
Kukatakan kepadamu, jika hari itu tiba, beranikan dirimu.
Datanglah, akan kuajari kamu seni merawat hati dengan cara yang Ilahi.
Salam dariku yang mengasihimu.


41 comments:

  1. Replies
    1. Hi de, terima kasih sudah membaca :)
      Semoga nangisnya nangis haru karena kebaikan Tuhan ya ;)
      See you on Dec :*

      Delete
  2. Selamat buat level perjalanan imanmu yang semakin tinggi May. Terpujilah Tuhan yang meguatkanmu melewati semua yang akhirnya menjadi kesaksian yang hidup yang menolong semua orang yang membutuhkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi bang, terima kasih sudah membaca :)
      Semoga Abang sebagai pembaca juga selalu dianugerahi kesempatan untuk naik level dalam perjalanan iman Abang sendiri ya :)

      Delete
  3. Semangat dibentuk,diproses,dan digembleng lebih lagi oleh Bapa kita ya :')

    ReplyDelete
  4. Kak may :) God is good :) :).
    Kak makasih udh mengingatkan ku lagi tentang hpdT yg lebih baik dan lebih intim lagi bersama Nya melalui tulisan kakak ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih sudah membaca :)
      Iyanih, Bapaku emang baik banget ya 😂
      Bapa kita deng hihi

      Delete
  5. Yang mksih sudah mnguatkan banyak org dari tulisanmu kak. Klo aja mngkin Alkitab bisa ditambahkan Pasalnya. Kyknya bisa ditambahakan critamu ttng Keagungan Tuhan dan btapa luar biasanya Tuhan dalam hdupmu kak. Dan Tuhan tidak prnah slah pilih org utk mnyatakan kmuliaanya. Krna klo aku di posisi kakak yg bacanya aku nangis dan mrinding konon lagi aku yg mngalaminya. Yg ku blang ada "ambil aja nyawaku Tuhan, gak sanggup aku Tuhan". Tapi kkak yg msih manusia bkan malaikat mnurutku di dlam kesengsaraaan kakkak nagis brsedih trhisak2 bahkan trauma. Ku pastikan kkaka msih manusia di stu kak. Mksih kak may, lagi2 mngkngatkan untuk kmbali mnjanga hubunganku dngan Tuhan itu prioritas hdup. Dan kak smpaikan smalamku pada org yg smpat blang ke kakak wktu di masa trpuruk "ku tunggu tulisanmu ttang yg kkak alami". Org udh trpuruk di blang lagi gtu. Hdup aja syukur. Tapi ya mngkin itu cara dia mnghibur kakka sih. Tapi btw waktu kakka tulis ada org yg ngomong gtu. Org yg trpikirku siapa yg blang gtu sih kak winda kyknya. Wkwkwk 😂. Btw aku smpat salfok waktu lhat chat bg ardi. Siapa wanita yg dp bg arti ya?? TH yg anak farmasi itu kali ya. LDRan dong bg ardi Hauhahah 😂. Dan mksih kak may udh ksih pandangan ke aku ttang gambar Tuhan Yesus yg gendong domba itu ya. Aku lhat gambar itu mikirnya itu domba Allah yg trsesat dan pulang kembali trus dikasih Allah domba itu. Tapi ada juga crita lain dri gambar itu trnyata. Thanku u kak may. Buat tulisan kakka yg buatku mnangis mrinding dan trtawa pada porsinya. Ku tunggu tulisan slanjut. Oh iya aku hmpir lupa aku smpat brpikir kok namaku gak prnah ada di tulisan kak maya. Apa aku kurang brkesan dlam hdupnya. Tapi akhirnya dri skian bnyak tulisan itu akhirnya kaka maya mnulis namaku dlam tulisannya aku adlah "org2 yg mdoakan kakak". Bkan pamer tapi aku klak takkan mnuntut kakak mmnbuat namaku di tulisan kakak krna sudah ada . Skian salam imud junior yg dlu kakka sakit smpe nangis terhisak2 tpis skrg mngasihimu dengan tulus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih sudah membaca :)
      Waaah gabisa ditambah lagi Alkitabnya, nanti kakak jadi saingan sama Daud dong, ga terimbangin dia tuh 😂
      Palingan nanti di surga tinggalnya satu kompleks sama dia wkwk

      Ya aku manusia laa, makanya bisa sayang samamu kan?
      Kalau aku malaikat aku nggak bisa sayang samamu, kecuali aku Kim Dan 😂

      orangnya bukan kak Winda btw, kemarin dia rada kesel karena dituduh begitu hahaha

      Iya, orang yg di DP bang Ardi itu pacarnya, anak Farmasi itu hihi
      Iya LDR-an mereka, kaya'kita nih! 😂

      Uuuu. maybe next time ya de :*
      Namamu nggak ada di tulisanku tapi ada di doa-doaku kepada Bapa kok ;)
      Aku mengasihimu banyak sekali!
      :*

      Delete
  6. Aku sedang merasakan kehampaan yang sama kak, merasakan Tuhan marah dan meninggalkan ku, aku akan coba saran dari bang Ardi, makasi ya kak tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih juga karena sudah membaca.
      Bapaku menolongmu untuk bangkit ya :)

      Delete
  7. Hal sesederhana ini memang sering dilupakan. Luka emosi bikin standard untuk bahagia dan sedih makin tinggi. Tolong berdoa untuk luka emosiku ya kak :')

    ReplyDelete
  8. Makasi ya kak buat tulisan nya, hatiku sangat tersayat, aku juga menyadari kebodohan dan kesimpulan yang ku buat sendiri tentang hubunganku sama Tuhan, aku jatuh sudah lama sekali kak, dan merindukan hubungan yang baik dengan Tuhan, aku merasa Tuhan gak mau lagi memandang aku, krn aku selalu menyakiti hatinya, sudah ku coba untuk memulai hubungan dengan dia cmn aku selalu jatuh lagi, aku gak pernah lagi merasakan kedekatan yang dulu sering ku bagikan sama ktbku, selalu ada perasaan gagal kak dihidupku, aku pernah bercakap" dengan Tuhan, aku dulu sering mendengar suaranya tapi saat ini aku gak bs lagi kak, adikku pernah berkata kek gini disaat aku marah samanya "percuma pernah sharing firman di gereja" kata kata itu buat aku merasa aku ini fake, aku gak bs menjaga sikapku disaat aku jatuh, aku jadi gampang emosi, dan aku gak mau ada org lain yang berkata seperti itu lg samaku, aku takut untuk membangun imanku lg, aku lebih memilih untuk menjadi biasa aja agar tidak terjadi perkataan itu. Makasi ya kak sekali lg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih juga sudah membaca.
      Bapaku menolongmu untuk bangkit ya :)

      Delete
  9. Kak makasih utk semua cerita di blog kakak,
    Kak makasih untuk sharing firman kakak sewaktu inagurasi kami yg maba ilkom2017 lalu,makasih sudah meyakin kan ku waktu itu untuk lebih mencintai Nya ,untuk jatuh cinta terlebih dahulu bersama Nya,makasih kak udah menjadi orang yg bekerja saat aku pertama kali mengalami Lahir baru.
    Tau ga kak ,saat proses cpkk ,bahkan dalam pengisian angket tentang proses lahir baru ,aku menulis kan kakak sebagai orang yg menjadi peneguhan ku saat aku pertama kali benar2 yakin untuk menerima Nya.

    Kak aku ga kenal kakak begitu dekat,tapi ga tau kenapa aku begitu mengagumi mu kak.

    Makasih untuk tulisan ini kak, tulisan ini menegur ku ,untuk tetap berhubungan Intim dengan Nya, karena akhir2 ini aku merasa flat, tapi dari tulisan kakak aku di tegur lagi untuk tetap tekun berhubungan dengan Nya sampai aku benar2 menikmati bersama Nya.

    Kak tetap menjadi perempuan yg tangguh ,pendoa yang setia ,kak semangat menjadi berkat dalam sekeliling kakak.
    Beruntung nya lelaki yg mendapat kan kak maya :). Hehe

    ❤ you kak mayyy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih juga sudah membaca.
      Waaah jarang-jarang nih ada maba yang dengerin sharing firman pas inagurasi 😂
      Aku juga berterima kasih karena kamu sudah berani memilih Yang Terbaik dari segala yang baik de :)

      Delete
  10. Mayy byk kali bawangnyaaaaaa😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaah nang aku konsultan IT bukan tengkulak bawang :(

      Delete
  11. Tersentuh kali tulisan Kaka ini dan pas baca ,rasanya setiap kesakitan2 itu kurasakan juga 😥 bahkan endingnya aku juga ikut merasakan kebahagian itu.

    Setiap tulisan Kaka selalu mengajariku banyak hal
    Selamat berkarya lagi dan lagi ya ka.
    Gbu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi de, terima kasih sudah membaca.
      Sampai jumpa di kisah cintaku berikutnya bersama Bapa ya 😂

      Delete
  12. Hey, Kali ketiga aku berkunjung ke sini, salah satu tulisan yang menurutku harus penuh kesabaran membacanyaa,
    Kembali diingatkan tetap membangun keintiman dengan Tuhan apapun kondisi yang akan kuhadapi

    Terus lah menulis, dan menjadi berkat 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hey!
      Whoaaa, aku sedikit syok sih ada komentar dari keyboardist kece begini.
      Nggak pernah nyangka kalau Yosua juga salah satu pembaca blogku hihi

      Terima kasih sudah membaca ya 😂

      Delete
  13. Cinta nya Allah itu memang terlalu membabi buta ya kak
    Bahkan waktu kita merasa hambar sehambar hambar nya, Dia ngga pernah bilang
    "Oke cukup, aku nyerah, bandal kali pun kau dibilangi"
    Ngga pernah gitu
    Kita selalu di banjiri kebaikan-Nya sampe kita ada di titik "hati kita ngga bisa lagi mendustai setiap kebaikan nya" dan akhirnya menyerahkan diri dan kembali bergantung sama Dia
    Merendahkan hati dan datang sama Nya
    Makasi kak May
    Tulisan kakak salah satu bukti bahwa Allah itu begitu mengasihi kami yang membaca tulisan ini
    Gbu more sist❤❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, kakak nggak akan bilang cinta Allah itu membabi buta sih de :)
      Justru cinta Allah itu penuh hikmat, kebijaksanaan, pertimbangan, dan konsistensi.
      Dan karena itulah nggak ada yang bisa mengimbanginya kan?

      Iya benar, pada akhirnya kita akan ada di titik gabisa nolak lagi.
      Sometimes we realize that He is all we need until He becomes all we have.

      Terima kasih juga sudah membaca de.
      Semoga Tuhan semakin sering menunjukkan kasihnya untukmu melalui tulisanku ya😂

      Delete
  14. Menghadirkan komentar ditulisan kakak ini pun butuh keberanian besar, dorongan "beranikan dirimu.." dari kakak sangat kuat.
    Entah bagaimana aku bisa sampai ditulisan ini, dan aku membacanya. and btw, kenal kk sebagai sesama pelayan acara di KMRSU ke X, entah karena itu pula bisa sampai ditulisan ini. Entah, apapun itu. namun aku yakin, ini caranya Tuhan, ditengah kondisi "aku sedang tuli" didalam HPDTku. and feel "God is silent"...
    Tapi melihat cara Tuhan memulihkan kakak, aku yakin Tuhan punya cara tersendiri juga untuk memulihkan ku...

    Untuk tulisan ini, to God be the Glory. God leads kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whoaaa..
      baru ketemu kemarin berarti nih?
      Duh yang mana ya orangnya? Hihi

      Selamat datang di websiteku de, selamat menjelajah dan menemukan cara Tuhan mengasihiku selama ini 😂
      Semoga meninggalkan sesuatu yg berkesan di hatimu dan menolongmu pada porsinya masing-masing ya.
      Gbu de :)

      Delete
    2. TIM B kak HAHA. Okay kak..

      Delete
  15. Leave comment juga ah biar dibalas sama penulisnya hahha
    Gamau ngetik panjang2, karena sebuah senyumku udah menunjukkan betapa aku bersyukur atas tulisan ini dan Pencetus semua kebaikan yg terjadi padamu :)
    God bless^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gamau balas panjang2 juga hihi
      God bless :*

      Delete
  16. tanganku dingin may, badanku seolah bisa merasakan yg kau ceritakan dlm ketiga part kisahmu ini. aku terharu akan perjalanan cintamu bersama Tuhan. dasar kamu gadis yang beruntung. aku merinding, trimakasih may untuk kisah yg begitu dalam ini. teruslah menulis dan menginspirasi wahai wanita cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih juga sudah selalu meluangkan waktumu yg berharga utk membaca tulisan-tulisanku nang :)

      Delete
  17. Dek :")
    Thank you for reminding me another "God is good ALL THE TIME."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for spending your precious time to visit this post, kak! 😊

      Delete
  18. Kak, setiap kata yang kau tuliskan sangat berarti, terimakasih ya:")
    Makasih ya kak baca blog kakak bikin saya sadar kalo semuanya itu dr Tuhan gaada 1 pun dr kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga karena sudah membaca de :)

      Delete
  19. Hai Maya, dek tq ya buat tulisan mu. Aku dapat krna d bagiakan seseorang d w a.
    Sangat memberkati dek.

    Menolongku untuk melihat dari cara pandang yg berbeda akan masalah keluarga kami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga karena sudah membaca kak :)

      Delete
  20. Selamattt!! sudah berhasil melewati saat2 susah itu... itu sesuatu yg wah menurutku kak. Pas aku dtg ke rmh sakit waktu itu, "aih bisanya kk ini melewati ini?". Aku aja ngilu mikirin yg kk alami.
    kyknya kk harus dapat gelar lagi ini, S. Kep (sarjana kepatahan) wkkk.

    Terima kasih atas pengalamannya yg boleh dibagikan, semakin disadarkan lagi tentang awan awan dukacita yaitu penderitaan. Yg sering datang ke dlm kehidupan. ketika mengalaminya, melihat seperti tampak berkontradiksi dgn kedaulatan Allah (yg berkuasa, yg mengasihi,dll). Tapi melalui awan2 itu, Allah mengajarkan dalam iman. Dan yg paling penting, tetap melihat Yesus dalam awan2 tersebut.

    btw aku yg kakinya dan tangannya sering digambar2 dgn tulisan 'maya'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkkw
      S.Kep cuma untuk orang-orang yang pernah patang tulang atau patah hati aja de, kalau keduanya sekaligus M.Kep dong 😂

      Maafkan aku yg suka jahil nyoretin kaki/tanganmu ya hihi
      Soalnya aku suka gitu kalo bosan 🤭

      Delete