Thursday, 18 July 2019

Tentang Kebahagiaan (2)

Di rumah sakit, aku berbagi ruangan dengan seorang pasien lain.
Dia menceritakan banyak hal tentang dirinya dan apa yang dia kerjakan selama ini.
Singkatnya, dia seorang penderita kanker stadium akhir yang sudah ditolak di semua rumah sakit (termasuk rumah sakit tempat kami dirawat itu) dan malamnya dia akan dipindahkan ke RSUP.
Jujur, aku tidak bisa meresponi ceritanya dengan baik, aku terlalu terpuruk untuk bisa melakukan itu.
Aku juga tidak menceritakan apapun, dia terlalu asing untuk mendengar ceritaku.
Paling-paling, aku menangis sedikit, itupun karena aku tidak bisa menahannya sama sekali.

Entah mengapa, sebelum dia pergi, dia berdoa untukku.
Doanya penuh pujian dan penyembahan, sangat sedikit diisi dengan permintaan dan harapan.
Aku menangis lagi.
Bukan karena doanya yang benar-benar berkesan dan menusuk ke relung jiwa, tapi karena setelah mendengar doa seperti itupun hatiku rasanya hambar, tidak merasakan apa-apa sama sekali.
Aku tetap terpuruk, dan doa semacam itu tidak membantu untuk menaikkan semangatku untuk sembuh sedikitpun.
Sederhananya, secara emosional, harapan hidupku jauh lebih rendah daripada seorang pasien penderita kanker stadium akhir.
Miris?
Ya, sangat.
Bapak benar, aku bertingkah seperti aku bukan seseorang yang pernah berhubungan intim dengan Tuhan.

Tidak butuh waktu lebih dari satu hari untukku akhirnya mendapat kunjungan dari banyak orang tanpa ijin yang mendapat kabar entah darimana.
Ngomong-ngomong, selagi kita sedang membicarakan ini, ijinkan aku menyarankanmu satu hal.
Minta ijinlah terlebih dahulu kepada orang sakit untuk mengunjunginya sebelum benar-benar datang.
Itu langkah yang bijaksana.
Sebab seringkali seorang sakit menolak kunjungan bukan karena dia sombong, tapi karena dia sendiri tidak mampu menerima keadaannya saat itu.
Ya, seperti apa yang kualami waktu itu.
Baik, kita lanjutkan.

Orang-orang datang silih berganti.
Aku ditegur tidak sekali atau dua kali karena pengunjungku yang puji Tuhan banyak, ribut, dan durasi berkunjung yang tidak sebentar.
Aku tertawa bersama mereka, bercerita kepada mereka, meminta mereka membantuku berkeramas, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada diriku, seakan-akan tidak ada monster yang sepanjang waktu menggerogoti pikiranku, membuatku merasa hampir mati, atau setidak-tidaknya memukuli kakiku sendiri sejauh apa tanganku bisa menjangkau saat semua orang sudah terlelap dalam nyenyak tidurnya masing-masing.
Tidak ada yang tahu, dan mungkin memang tidak perlu.

Begitupun, ada dua hal yang paling berkesan dalam kunjungan-kunjungan itu.
Pertama, saat kak Putri datang sekaligus menemaniku di rumah sakit malam itu.
"Makanya, May, kalau berdoa itu hati-hati, dipikirin dulu. Udah tau Tuhan suka kabulin doa Maya. 'kan gini jadinya."
Kamu tahu kenapa kak Putri berkata begitu?
Oke, biar kuceritakan.
Beberapa minggu sebelum kecelakaan itu, tepatnya 1 Juni 2018, aku pergi bersama kak Putri seharian penuh. Di sepanjang hari itu aku kerap kali mengatakan kalimat ini: "Kak, aku capek kali laa. Badanku capek. Pikiranku juga capek. Aku kaya'nya pengen opname laa kak."
Jadi, ya, kak Putri benar.
Aku celaka, dirawat di rumah sakit, itu juga sebenarnya salah satu doaku yang dikabulkan oleh Tuhan.

Kedua, saat Dimas CS datang berkunjung.
Sebagai tetua di kumpulannya, Dimas dipilih sebagai orang yang menyampaikan kata-kata penghiburan.
Aku ingat jelas perkataannya waktu itu, bahkan nada bicaranya masih terngiang sampai sekarang.
Dimas memulainya dengan banyak candaan, sampai kemudian dia mengajukan sebuah pertanyaan yang serius.

"Apa kalimat yang pertama kali kakak ucapkan pas kecelakaan?"
"Tuhan Yesus, tolong aku.."
"Itu salah kak. Harusnya pas itu kakak bilang 'Tuhan Yesus terima kasih'."

Jleb.
Aku bangga sekaligus heran punya adik kelompok kecil sepertinya.
Oke, di satu sisi itu benar.
Aku harus berterima kasih kepada Tuhan.
Tapi di sisi lain?
De, aku lagi sekarat dan panik loohh!!
Masih memanggil nama Tuhan Yesus di saat genting seperti itu saja dan bukannya teriak sambil menangis, "Mak eee..." seperti orang kebanyakan, rasanya sudah seperti sebuah pencapaian, konon aku harus mengucapkan terima kasih?
Tapi justru itu yang membuat ucapannya masih membekas sampai sekarang.

Mungkin banyak yang sulit mengerti dan memahami, apa yang membuatku begitu terpuruk dan linglung, kehilangan arah dan tidak tahu harus berbuat apa.
Sakit?
Tentu ini bukan kali pertama aku dirawat di rumah sakit.
Patah hati?
Ini juga bukan kali pertama hatiku pecah karena berpisah dengan seorang laki-laki.
Setelah merenungkannya berbulan-bulan setelah kejadian itu, aku akhirnya mengerti kerusakan macam apa yang terjadi dengan diriku waktu itu.

Aku merasa ditinggalkan Tuhan.
Aku tersungkur tak berdaya di tumpukan pasir yang kotor, mengulurkan tanganku ke arah Tuhan mengemis pertolongan, tetapi menepis tanganku saja pun Ia tidak sudi.
Ia memalingkan wajah-Nya, kemudian pergi.

Itu yang kurasakan waktu itu.
Sebuah perasaan diabaikan dan ditolak oleh Dia yang selama ini mengaku mengasihi dan mencintaiku.
Kalau ada satu kata yang bisa menggambarkan kondisiku waktu itu, akan kugunakan kata ini; remuk.


Pikirmu pesan-pesan bernada serupa dengan pesan di atas akan membangkitkan gairah hidupku?
Huh. Salah besar.
Setiap kali aku menerima pesan demikian, aku justru jatuh ke dalam keterpurukan yang lebih dalam.
Ada emosi negatif yang menyelubungi hatiku tiap kali orang-orang mengirimi pesan yang pikirnya bisa membuatku sadar akan diriku yang sebenarnya.
Aku marah dan kecewa pada diriku sendiri.
Aku bersedih tiap kali mendengar dukungan-dukungan bernada demikian.
"Maya yang kukenal itu.."
Aku merasa orang-orang menuntut terlalu banyak, aku merasa beban yang diletakkan di pundakku terlalu berat.
Aku merasa orang berlebih-lebihan mengenalku.
Ingin rasanya kuteriakkan, "Aku nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku nggak sehebat itu. Aku nggak setangguh itu. Aku hampir mati. Oh, Tuhan. Sadarilah teman-teman. Aku perempuan biasa yang lemah dan rapuh, kalian menuntut ketangguhan yang sedari awal memang tidak pernah ada dalam diriku."
Apalagi kalau ada orang yang begitu mendengar kabar bahwa aku sakit dengan gampangnya berkata, "Kutunggu tulisan tentang ini di blogmu ya, May."
Aku rasanya ingin mengumpat dan berkata, "Edan! Sini tukaran!"

Aku bukan seorang pendoa, aku jauh dari kata itu.
Tapi, aku juga tidak akan mengecilkan relasi kami, aku memang sering bercakap-cakap dengan Tuhan melalui doa.
Intinya, aku cukup tahu-lah level kepuasan batiniah yang hanya bisa diberikan oleh Sang Ilahi kepada makhluk mortal ciptaan-Nya melalui relasi yang terjalin di antara keduanya.
Sejak malam kecelakaan itu sampai hari-hari berikutnya, setiap orang yang menjagaku pasti membacakan bahan renungan pagi untukku.
Teman-temanku yang lainnya mengirimkan perenungan yang didapatnya dari saat teduhnya sendiri atau khotbah yang baru saja didengarkannya di ibadah tertentu.
Rasanya?
Harus kuakui, hambar.
Tahu 'kan betapa menyakitkannya bersaat teduh dan berdoa tanpa merasakan apapun?
Simple-nya, waktu itu aku dalam kondisi tuli.
Dan karena itulah, aku depresi.

Tapi Tuhan memang menarik lagi unik.
Sekalipun aku depresi berat, tak pernah barang sedetikpun dibiarkan-Nya sebuah pemikiran untuk mengakhiri nyawaku sendiri terbersit di pikiranku.
Dengan kondisi rohani sekering itu, kesehatan mental separah itu, aku rasa benar-benar terbebas dari pemikiran untuk bunuh diri adalah sebuah hal yang hampir mustahil.
Aku pernah melakukan survei, umumnya orang-orang yang tidak berani melakukan percobaan bunuh diri pada tahap ini akan meminta Tuhan mencabut nyawanya.
Ngomong-ngomong, aku serius.
Aku memang pernah melakukan survei itu sekitar dua bulan yang lalu.

Gilanya, waktu itu, aku tidak memikirkan kedua hal itu sama sekali.
Pada titik terendah dalam hidupku itu aku justru mengingat cerita ko Eric pada retreat mahasiswa se-Sumatera yang kuikuti dua tahun sebelumnya, tepatnya 2016.
Waktu itu ko Eric cerita, salah seorang jemaat perempuan di gerejanya baru saja meninggal dunia.
Jemaat perempuan itu lumpuh, ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya dengan berbaring di tempat tidur.
Tapi menariknya, indah sekali cara ko Eric mengenang Ibu itu.
"Dia adalah salah satu tiang doa terkuat untuk gereja kami."
Bayangkan jika setelah kematianmu ada seorang pendeta yang akan mengenangmu demikian!

Maka entah kenapa, pemikiran yang sama bisa terlintas di hatiku.
Aku depresi? Benar.
Berat? Sangat berat.
Kekeringan rohani? Oh jelas.
Tapi waktu itu aku ingat betul aku pernah iseng-iseng berdoa demikian:
"Tuhan, kalau seandainya aku nggak bisa jalan lagi dan lumpuh selamanya, jadikan aku tiang doa seperti ibu-ibu di gereja ko Eric itu aja ya. Tapi 'kan Tuhan, aku nggak aktif melayani di gereja. Aku jadi tiang doa pelayanan mahasiswa aja ya?"
Sepertinya itu doa iseng paling kudus yang pernah kusampaikan kepada Tuhan.
Entah angin surgawi darimana yang menuntunku berucap demikian.

Setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit tanpa progress apapun, pelayanan yang benar-benar buruk, aku akhirnya menjalani pengobatan tradisional di Binjai.
Keputusan untuk menjalani pengobatan ini juga tidak mudah.
Konotasi pengobatan tradisional itu hampir tidak pernah positif.
It's like, you're asking for a help from demons?
Jadi ketika Mamak menyarankan hal ini, aku menegaskan prasyaratku setegas-tegasnya.
Tolong pastikan itu tempat pengobatan yang benar-benar tempat pengobatan.
Tidak ada unsur perdukunan atau okultisme sama sekali.
Tempatnya harus terang benderang dan tidak ada atribut aneh-aneh di dalamnya.
Plus, aku meminta tolong salah satu seniorku di kampus untuk menemani Mamak mencari tahu lokasi pengobatan itu untuk lebih memastikan bahwa aku tidak akan diobati oleh seorang dukun.
"Pokoknya Mak, aku lebih bagus nggak bisa jalan seumur hidup daripada minta tolong sama iblis. Itu dosanya turun temurun Mak."
Mungkin Mamakku juga kesal waktu itu karena aku sering sekali mengucapkan kalimat di atas.

Di rumah pengobatan, hari-hariku juga tidak langsung berubah drastis.
Aku masih depresi akut, tidak jarang meraung-raung layaknya orang depresi pada umumnya (bahkan kadang di malam hari saat hujan turun dengan derasnya), tidak tidur selama berhari-hari karena selalu bermimpi buruk, dan beberapa masalah-masalah lainnya yang tidak bisa kuceritakan di ruang publik.
Kurang dari seminggu di rumah pengobatan, sahabat karibku, panggil saja dia masalah, datang lagi.
Dua masalah besar yang mengguncang imanku datang di hari yang sama.
Jadi setelah minggu sebelumnya patah tulang, disusul patah hati, kemudian muncul dua masalah lainnya yang tidak bisa kuceritakan disini.
Empat masalah besar dalam kurun waktu kurang dari dua minggu menerpa seorang perempuan yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-22 beberapa minggu sebelumnya berhasil menghantarkannya pada sebuah pertanyaan klasik: "Tuhan itu ada nggak sih?"

Aku telah mengenal Tuhan selama bertahun-tahun, terlibat dalam berbagai pelayanan Kristen selama bertahun-tahun, seorang PKK, cenderung stabil dalam kecerdasan emosional, dan kalau aku bisa secara serius mengajukan pertanyaan klasik tersebut, kuharap kamu bisa punya sedikit gambaran betapa remuknya aku waktu itu.

Tapi, Tuhan itu memang baik.
Aku tidak bercerita banyak hal kepada banyak orang, tetapi aku bercerita banyak sekali hal kepada orang-orang tertentu.
Aku mengungkapkan semua pikiran-pikiran kotor, pertanyaan-pertanyaan klasik, dan keraguan-keraguan hebatku kepada orang-orang tertentu.
Dengan sedikit rasa malu aku mengaku, "Imanku bukan sekedar goyang. Imanku rasanya runtuh."

Baiknya, aku tidak merasakan penghakiman sama sekali. Mereka yang jumlahnya tidak banyak itu memberi respon tepat seperti porsinya masing-masing.
Orang yang mengenalkanku kepada Tuhan mengaku bahwa dia bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri saat tangannya patah, dan jujur, itu mengejutkan sekaligus memberi perasaan lega di hatiku.
Aku bukan orang percaya pertama yang mengalami ini.
Jika dia saja berhasil untuk bertahan, mengapa aku tidak?

Aku bercerita kepada Ardi, dan Ardi bilang, "Paksa aja pal. Kalaupun hambar, paksa aja. Kalau merasa doamu nggak didengar, ya paksa aja."
Ardi mengingatkanku akan hal-hal yang selama ini kami bahas di KTB.
Oh ya, aku masih menyimpan dengan rapi pesan Ardi waktu itu.
Semoga juga bisa menyentuh hatimu.


"Siap-siap ya :)"
Kalimat Ardi yang waktu itu terkesan lucu, tapi benar adanya.

Saran Ardi kukerjakan dengan patuh.
Aku membaca Alkitab setiap hari.
Aku mendengarkan setidaknya dua khotbah setiap pagi.
Aku mendengarkan lagu-lagu rohani, sebab lagu cinta waktu itu rasanya terlalu menyakitkan untuk dibiarkan menerpa hati.
Tentu semuanya terasa hambar di awal.
Tapi seperti apa yang Ardi katakan, "Paksa aja!"
Bahkan jika kamu tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan, jangan berhenti.
Paksa sampai kamu bisa merasakannya kembali.

Dan sekali lagi, Tuhan itu baik.
Perlahan-lahan, secara ajaib, aku mulai merasakan sesuatu.
Aku mulai merasakan hadirat Tuhan kembali.
Aku mulai bisa merasakan kembali bahwa Tuhan berbicara melalui Alkitab, khotbah maupun lagu rohani yang kudengarkan.
Rasanya?
Astaga.
Seperti menemukan denyut nadimu kembali.

Dari semua khotbah yang kudengarkan selama aku sakit, ada satu kutipan khotbah yang tidak bisa kulupakan sampai sekarang.

You know how I know you're important? I know you're important because when you ask God to change the situation, He keeps changing you.

Hari itu adalah titik balik dimana aku bisa berdoa kepada Tuhan dalam sebuah tangisan yang penuh keheningan, berkata:

"Tuhan, aku nggak punya apa-apa lagi untuk kupersembahkan sama-Mu. Hatiku hancur, Tuhan. Hatiku remuk."
Dan pada waktu itu pula-lah, Tuhan dengan lembut membelai kepalaku yang tertunduk, mengangkat daguku, menatap mataku dan dengan lembut sekali berkata,

"Dan hatimu yang remuk itu adalah persembahan terbaik yang bisa kau berikan untuk-Ku."

Tangisku pecah.
Bahkan sampai hari ini, setiap kali aku mengingatnya kembali.
Itu salah satu dialog paling indah yang pernah kulakukan dengan Bapa.

Selanjutnya..

0 komentar:

Post a comment