Thursday, 18 July 2019

Tentang Kebahagiaan (1)

Selama beberapa tahun terakhir di setiap peringatan hari ulang tahunku, aku memiliki kebiasaan untuk mengajukan satu permintaan kepada Tuhan. Pemikiran bahwa jika menyampaikan permohonan di hari itu maka peluang untuk dikabulkan menjadi lebih besar, membuatku lebih berhati-hati dan sungguh-sungguh memikirkan "tahun ini aku akan minta apa ya" di hari-hari sebelumnya.

Biasanya, permintaanku cenderung abstrak. Abstrak yang kumaksud adalah tidak terukurnya tingkat keberhasilannya.
Apa yang kuminta bukan sesuatu seperti lulus dengan predikat cumlaude, bekerja di perusahaan A, dinikahi Abang itu, atau hal-hal sejenisnya.
Di tahun 2016, saat usiaku menginjak 20 tahun aku minta kepada Tuhan, "Tuhan aku mau punya hati seorang perempuan yang tekun berdoa untuk orang lain, untuk bangsa, untuk dunia."
Di tahun 2017, saat usiaku menginjak 21 tahun aku bilang kepada Tuhan, "Tuhan, ternyata aku jarang sekali berdoa untuk diriku. Aku mau punya hati seorang perempuan yang tekun berdoa untuk diriku sendiri. Aku mau jadi pendoa paling taat untuk diriku."

Apakah tingkat keberhasilan kedua permohonan itu terukur?
Aku rasa sulit, kecuali jika kamu diberi kesempatan berbagi hidup denganku di dalam Kelompok Tumbuh Bersama yang sama. Sebab, pertumbuhanku pada bagian-bagian se-sensitif itu hanya kubagikan dan bisa dilihat oleh orang-orang yang masuk dalam lingkar terdalam di kehidupanku, KTB misalnya.
Tentu doa-doa itu bukan sesuatu yang akan kubocorkan kepada siapapun sebelum ulang tahunku selanjutnya. Jadi kalau kamu bertanya apa isi doaku Mei kemarin saat usiaku menginjak 23 tahun, aku lebih memilih menyimpannya setidaknya sampai tahun depan.

Tahun lalu saat usiaku menginjak 22 tahun, doaku kepada Tuhan sangat sederhana.
Tebak apa?

"Tuhan, aku ingin bahagia."

Bukankah itu permohonan yang terlalu abstrak?
Apa yang kusebut sebagai kebahagiaan belum tentu dianggap sebagai sebuah kebahagiaan oleh orang lain, begitupun sebaliknya.
Tapi, ya, itulah isi doaku tahun lalu.

Kehidupanku setelah itu berjalan dengan normal. Normal bukan berarti nihil masalah, normal berarti tidak ada sebuah peristiwa berdampak masif yang terjadi.
Seminggu.
Dua minggu.
Tiga minggu.
Semuanya berlalu dengan kondisi emosi yang fluktuatif untukku.
Sampai akhirnya, beberapa hari setelah lebaran tahun lalu (tepatnya 18 Juni 2018), sebuah ketragisan menghantamku hingga aku hampir mati.
Sebuah ketragisan yang menghantarku kepada pengertian akan kebahagiaan yang sesungguhnya.

18 Juni 2018 jatuh di hari Senin.
Hari itu, aku mengambil cuti di kantor dengan tujuan pergi ke luar kota untuk, eum, aku bingung harus menyematkan kata apa di belakangnya.
Bertamasya?
Rekreasi?
Jalan-jalan?
Apapun itu.
Hari itu, hujan turun dengan derasnya dalam durasi yang juga tidak bisa dikatakan sebentar.
Arus sungai menjadi keruh, jalanan menjadi licin, dan dalam perjalanan pulang menuju Medan, aku mengalami sebuah kecelakaan mobil.

Waktu itu, semuanya rasanya terjadi begitu cepat.
"Tuhan Yesus, tolong aku. Tuhan Yesus, tolong kami.."
"Kamu nggak apa-apa?"
Adalah kalimat-kalimat yang berulang kali keluar dari bibirku malam itu.
Aku ketakutan.
Sisi kiri bajuku berdarah tapi aku tidak merasa sakit sama sekali.
Aku mencari-cari sumber darah itu, yang ternyata berasal dari dahi dan pelipis orang yang duduk di sebelah kiriku.

Seperti semua adegan yang biasa kita temukan di film, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengevakuasi diri sesegera mungkin.
Selalu ada peluang bagi mobil itu untuk meledak sewaktu-waktu (atau mungkin aku yang berpikir terlalu jauh), maka dari itu semua orang di dalamnya harus segera keluar dan menjauh dari lokasi kejadian.
Satu per satu orang keluar dari sisi kiri mobil, sampai ketika tiba giliranku, tidak ada yang terjadi.
Aku berusaha keluar, tapi hasilnya nihil.
Tubuhku rasanya terlalu berat untuk digerakkan, tubuhku rasanya beku seketika.
Aku mulai menangis.
"Aku nggak bisa angkat badanku. Aku nggak bisa bergerak..", kataku ketakutan setengah mati.
"Ya Tuhan..", kata orang yang tadinya duduk di sebelah kiriku.
"Aku beneran nggak bisa bergerak, aku gabisa rasain kakiku sendiri. Tuhan Yesus.." kataku yang mulai menangis waktu itu.
Oh Tuhan, aku tidak bisa menahan air mataku ketika menuliskan ini.
Sebentar, aku perlu waktu untuk menenangkan diri.

Oke, kita lanjutkan.
Karena aku tidak bisa keluar sendiri, aku akhirnya ditarik keluar untuk kemudian didudukkan di pinggir jalan.
Perut sebelah kananku sakit luar biasa, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum di waktu yang bersamaan.
Rasa sakit di bahu sebelah kananku juga tidak kalah hebatnya.
Tapi kedua hal itu bukan bagian terburuknya.
Seluruh anggota tubuh di bawah perutku mati rasa.
Kakiku tidak bergerak barang satu sentimeter ketika aku mencoba mengangkatnya.
Aku mencoba menggerakkan jari-jemari kakiku seperti apa yang pernah kubaca dari beberapa artikel medis, dan puji Tuhan aku berhasil.
Jari jemari kakiku bergerak.

Singkat cerita, warga setempat berkenan memberiku dan temanku tumpangan menuju klinik terdekat, untuk kemudian menuju rumah sakit kecil (atau mungkin itu klinik juga, aku kurang tahu), sampai akhirnya mereka menyediakan ambulans supaya aku bisa dibawa ke rumah sakit yang ada di Medan.

Di sepanjang perjalanan menuju Medan, di dalam ambulans, perasaanku kacau bukan main.
Rasa  takut, sedih dan sakit bercampur menjadi satu.
Banyak hal yang kudengarkan malam itu, sayangnya sesuatu yang hanya baik untuk kusimpan sebagai kenangan indah bagi diriku sendiri.

Kami banyak berdoa selama di perjalanan.
Banyak berdoa, banyak pula menangis.
"Tuhan aku berharap tubuhku cuma syok. Aku berharap nggak ada apa-apa dengan tubuhku."
Itulah garis besar harapan yang kutujukan kepada Allah waktu itu.
Dan sambil menyebutkannya, sebagai seorang medthusiast, aku sebenarnya tahu, sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Ini bukan syok semata.

Benar.
Beberapa jam setelahnya, kami tiba di rumah sakit.
Kupilih rumah sakit ini karena aku berpikir pelayanan disana akan cukup baik, terutama mengingat aku bekerja di perusahaan yang menjalin hubungan baik dengan rumah sakit tersebut.
Belakangan aku baru menyadari, aku keliru besar tentang hal itu.

Temanku membantu mengurus keperluan administrasi, aku melewati beberapa pemeriksaan dasar, diinfus, dan setelah menunggu beberapa saat, aku akhirnya dibawa ke ruang radiologi agar bisa menjalani prosedur rontgen. Berdasarkan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dokter umum, aku disarankan menjalani prosedur itu di dua area tubuh yang berbeda, yaitu bagian tengah tubuh dan bagian dada.
Tidak perlu kecerdasan ekstra untukku tahu bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi pada tubuhku.
Aku tahu, dan aku menyiapkan hatiku untuk itu.

Dokter memanggil temanku untuk menjelaskan kondisiku saat itu, dan temanku yang sedapat mungkin berusaha bersikap tenang mencoba menjelaskannya kepadaku.
Begini hasil pemeriksaannya.

Foto
Jantung bentuk dan ukuran normal.
Sinus costofrenicus kanan dan kiri lancip.
Corakan brokovaskular paru baik, tidak tampak infiltrat paru kanan dan kiri.
Tulang-tulang dalam batas normal.
Tampak fraktur komplit ramus pubis superior dan inferior kanan.
Sela sendi symphisis terlihat melebar.
Sendi coxae kanan dan kiri intak.

Kesan
Cor dan pulmo dalam batas normal radiologi.
Tidak tampak fraktur tulang-tulang dinding dada.
Fraktur komplit ramus pubis superior et inferior kanan.
Symphiolysis pubis.

Tenang, aku tidak menghapal semuanya.
Aku membuka ulang hasil pemeriksaanku setahun yang lalu ketika mengetikkan ini, sekaligus bernostalgia mengingat semua kenangan indah itu.
Oke, sederhananya, tulangku patah.
Silahkan cari tahu sendiri pada bagian mana.

Waktu itu, tubuhku sangat sensitif terhadap getaran.
Satu senggolan tidak sengaja saja bisa membuatku berteriak histeris dalam kejujuran.
Aku masih ingat betul perawat di ruang radiologi yang seenaknya saja memindahkan tubuhku dari tempat tidur biasa ke tempat berbaring untuk prosedur rontgen itu tanpa kehati-hatian sedikitpun.
Duh, ingin sekali rasanya aku menuliskan nama rumah sakit itu disini dan melarang sebanyak mungkin orang untuk menjalani perawatan disana.
Selain sangat sensitif terhadap getaran, tubuhku juga akan mengalami sakit luar biasa jika harus berbaring dalam posisi tanpa sudut (terlentang penuh).
Tentu aku tidak bisa duduk.
Jadi posisi terbaik, oke, lebih tepatnya, posisi tubuh yang paling tidak menyakitkan dibanding posisi lainnya adalah posisi yang membentuk sudut tumpul.
Silahkan mengambil waktu sejenak untuk mengingat kembali pelajaran SD tentang jenis-jenis sudut dan membayangkannya.

Waktu itu, aku juga sedang batuk.
Batuk kecil sih rasanya.
Rasanya.
Waktu itu aku baru sadar, batuk kecil sekalipun tapi kalau dialami saat sedang patah tulang, oh man, itu bukan masalah yang kecil sama sekali.
Itu masalah yang sangat besar.
Dan tentu saja, menyakitkan.

Let me tell you a funny story.
Sekarang saja bisa mengatakan itu cerita yang lucu, waktu menjalaninya, uh, bercucuran air mata.
Malam itu, aku ingin buang air kecil.
Sehari penuh aku hanya buang air kecil dua kali, waktu pertama sekali kami tiba di tempat wisata itu tadi dan di sore hari.
Wajar dong kalau di malam hari aku sangat ingin buang air kecil.
Itu sesuatu yang sederhana bukan?
Harusnya.

But that time, for me, it's a very big deal and surely an extremely serious problem.
Tidak percaya?
Silahkan dicoba.
Jangan buang air kecil selama berjam-jam, tahan sampai rasanya sangat sesak, kemudian berbaringlah.
Sembari berbaring, cobalah mengeluarkannya.
Jika berhasil melakukannya dengan mudah, kamu hebat.
Kamu memiliki kontrol yang luar biasa terhadap pikiranmu.

Aku ngeden berulang kali dan sesering aku berusaha, sesering itu pula aku menuai kegagalan.
"Kita pasang kateter aja ya, kak..", kata salah seorang perawat waktu itu.
"Nggak kak, aku mau pakai pampers aja..", jawabku kepadanya karena tidak ingin seorang asing harus berurusan dengan organ vitalku hanya untuk sesuatu sesederhana buang air kecil.
Kutahankan hasrat ingin buang air kecil itu semalam suntuk.

Oh ya, soal doa.
Selepas pemeriksaan itu, doaku berganti.
"Semoga kondisi tubuhku cukup fit untuk menjalani operasi besok pagi. Semoga tekanan darahku baik, suhu tubuhku baik, hasil pemeriksaan darahku baik, semuanya baiklah."
Itulah kira-kira garis besar isi doaku sejak malam itu.
Selepas itu, kukirimkan email kepada rekan kerjaku baik di kantor Medan atau kantor Singapura bahwa aku mengalami kecelakaan dan tidak akan bekerja selama waktu yang belum bisa ditentukan, sekaligus menentukan PIC atas project-projectku yang sedang berjalan.

Keesokan paginya, dokter visit.
Dokter menjelaskan kalau aku tidak bisa dioperasi, sebab posisi tulang yang patah sangat sensitif dan jika dilakukan operasi, resikonya justru lebih tinggi.
Jadi, solusinya apa dong?
Bed rest selama tiga bulan penuh.
Nanti tulangnya akan menyatu dengan sendirinya.
Katanya.

Di satu sisi, aku senang sebab pisau bedah tak perlu bersentuhan dengan tubuhku.
Aku bahkan menangis terharu waktu itu, Tuhan menjawab doaku lebih besar daripada apa yang berani kuharapkan.
Di sisi lain, Dok, ini serius?
Aku masih terbaring tak berdaya seperti itu kurang dari delapan jam saja rasanya sudah hampir mati, konon harus melakukannya selama tiga bulan penuh?
Oh, tentu kita tidak lupa pada bagian aku yang masih menahan hasrat untuk buang air kecil, ditambah punggungku yang rasanya terbakar karena berbaring menatap ke atap selama berjam-jam tanpa bisa digerakkan sedikitpun.

Siang menjelang sore, aku menyerah.
Ini bukan lagi sekedar hasrat untuk buang air kecil.
Ini sudah sangat menyakitkan.
Rasanya perih, dan jika kutahan lebih lama lagi, ini akan jadi penyakit.
Perawat akhirnya datang dengan tujuan memasang kateter urin.
Pada waktu itu, kukatakan selamat datang pada masalah baruku.

Bisa bayangkan selama kurang lebih lima belas menit sejumlah perawat berkutat di organ vitalmu secara bergantian karena gagal memasang kateter?
Jangan pernah bayangkan.
Oke, silahkan bayangkan.
Tapi jangan pernah alami.
Kuharap kamu tak perlu mengalaminya.

Coba diangkat kakinya.
Coba dimiringkan badannya.
Aku ingat betul, aku menangis waktu itu.
Selain itu hal yang memalukan, itu juga menyakitkan.
Bagaimana mungkin aku bisa mengangkat kaki atau memiringkan badan sementara tempat tidur yang tersenggol saja bisa membuatku menjerit kesakitan?

Setelah lima belas menit paling memerihkan itu berlalu, kepala ruangan akhirnya datang.
Aku lupa wajah dan namanya, tapi aku ingat beliau boru apa.
Kurang dari dua menit, dia berhasil memasang kateter urin di tubuhku.
Dih!
Bu, mengapa bukan Ibu saja yang melakukannya sejak awal?
:(
Itu karena kamu masih gadis, jadi susah masang kateternya.
Ouh, tapi 'ku yakin ini hanya masalah skill semata.

Setelah kateter terpasang, rasanya lega.
Lega sekali, seperti menahan tangis selama berminggu-minggu lalu seketika bisa menumpahruahkannya di hadapan Allah.

Satu masalah selesai.
Namun sebagai sahabat karib, ia tak mungkin datang hanya sekali.
Kali kedua dia datang dalam kondisi yang berbeda.
Air seniku tiba-tiba bercampur darah.
Ya Tuhan, masalah apa lagi ini.

Setelah itu Yuni datang.
Aku lupa sih hari apa tepatnya Yuni datang dan bagaimana dia bisa tahu dimana aku dirawat, sebab waktu itu aku tidak menerima kunjungan siapapun kecuali keluargaku.
Mungkin aku sendiri yang memberitahunya, entahlah.
Percayalah, Yuni adalah perawat terbaik kedua yang pernah kutemukan (setelah Ranti dong pastinya hehehe)
Waktu Yuni datang, dia benar-benar tahu harus membawa apa.
Oke, ijinkan aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu.
Saat mengunjungi orang sakit, apa yang biasanya kamu bawa?
Buah?
Roti?
Pada umumnya, makanan.
Tahu apa yang dibawa Yuni?
Tissue basah, tissue kering, microlax, masker mulut.
Tanpa aba-aba.
Tak perlu kujelaskan apa gunanya.

Waktu aku bercerita bahwa air seniku bercampur darah, Yuni dengan santainya menjawab, "Oh itu karena kakak pakai kateter, kan kateternya jalan terus. Jadi kalau nggak ada air yang dihisapnya, ya darah laa yang keluar. Makanya kakak harus banyak minum ya."
Aku hanya bisa terpelongo sekaligus bangga dengan kehadiran anak ini.

Yuni itu anaknya super penjijik.
Super penjijik sampai ada di level dimana aku cukup sering menertawainya.
Tapi di hari itu, dia menawarkan diri untuk melakukan sebuah hal yang sangat menjijikkan, untukku.
Aku menimbang selama beberapa waktu untuk menerima pertolongannya.
Di sisi lain aku membutuhkannya, di sisi lainnya lagi ini sangat memalukan dan tidak pantas.
Aku menangis, dilema, dan kesal pada diriku sendiri.
"Yakin Yun?"
"Yakin kak. Nggak papa loh kak, namanya juga sakit."
Oh God, ini Yuni looh.
Juniorku yang dulu sering kubuat menangis sewaktu ospek dan inagurasi padahal aku hanya senior muda waktu itu.
Dan sekarang, untuk urusan semenjijikkan dan sememalukan ini, justru aku yang menangis karena menerima pertolongannya?
Dunia memang terkadang selucu itu.

Hari-hari di rumah sakit berlalu dengan sangat lambat, membosankan, dan bagian yang paling menyakitkan, aku bahkan tidak bisa berdoa waktu itu.
Iya, separah itu.
Mereka bilang doa itu nafas hidup orang percaya bukan?
Bisa bayangkan saat seorang percaya tidak bisa berdoa, maksudku berdoa yang benar-benar berdoa?
Ditambah lagi, kenyataan bahwa aku belum memberitahu orang lain bahwa aku sedang sakit, bahkan Ardi, Nanda, Winda, dan kak San sekalipun?

Aku stres berat.
Makan pun aku tak sanggup berdoa.
Temanku yang selalu berdoa untukku.
Perihal kisah patah hatiku yang juga terjadi saat aku dirawat di rumah sakit, agaknya tak perlu kusinggung lagi.
Bapak yang mengenalku sebagai anak perempuannya yang suka berdoa saja waktu itu sempat melontarkan kalimat pelan namun sangat menyakitkan.
"Bapak kenal kau sering berdoa, ikut PA, baca Alkitab. Sekarang kau udah seperti orang yang nggak kenal Tuhan, nak. Kenapa nak? Berdoalah nak, ya."

Hari itu, kuucapkan selamat datang pada identitas baruku.
Seorang perempuan depresi.

Selanjutnya..

0 komentar:

Post a comment