Wednesday, 8 May 2019

a Letter to the one I Love the Most



Apa kabar?
Apa kau baik-baik saja?
Apa kau bahagia?
Pertanyaanku yang terakhir mungkin terdengar kasar di telingamu.
Aku, orang yang paling banyak menyakitimu, menanyakan hal demikian?
Mungkin terdengar seperti sesuatu yang sungguh tidak tahu diri.
Tapi sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa.
Pertanyaan itu memiliki maksud yang senada dengan untaian kata yang menyusunnya.
Apa kau bahagia?
Aku tahu aku adalah orang yang paling tidak tepat bertanya tentang itu, mengingat kenyataan bahwa jika jawabmu untuk pertanyaan itu ternyata adalah 'tidak', aku mungkin adalah alasan utamanya.
Bukan sebulan dua bulan kita saling mengenal, bukan setahun dua tahun kau mengiring langkahku menapaki hari-hari yang tidak jarang kelabu ini.
Pahitnya, walau kita telah lama saling tahu, aku ternyata tidak cukup dalam mengenalmu.
Maafkan aku.

Waktu aku berduka, kau yang selalu ada disana berjuang sekuat tenaga membalut luka.
Kau bilang, kita pasti bisa melewati semua ini asalkan kita bersama.
Kita akan jadikan kisah ini mahal dan mewah, sebuah kisah yang akan membuat orang-orang terkesima dan ingin tahu lebih jauh siapa Sutradaranya.

Tidak jarang aku meragukan ucapanmu.
Kataku, kau sok tahu.
Kau hanya asal bicara, tanpa benar-benar mengimaninya.
Kau kemudian menangis, meratapi kekasaran dan keraguan yang kutujukan untukmu.
Aku kejam.

Tapi kau selalu memilih untuk ada disana, kau menungguku dengan setia.
Kau tertawa saat aku tertawa, kau berduka saat aku berduka.
Aku tahu, sebenarnya kau selalu bisa kupercaya.
Aku hanya memilih untuk tidak percaya.
Aku telah terlalu banyak terluka, terlalu banyak menelan kecewa.
Kau acap kali jadi sasaran kekecewaanku, sementara aku, aku terlalu sering merugikanmu.

Orang-orang bilang, aku punya kepekaan yang tajam perihal menyelami perasaan orang lain dibanding kebanyakan insan yang pernah singgah di hidup mereka.
Mereka bilang, aku mengerti hati mereka.
Karena itulah, pada masa-masa sulit dalam hidup mereka, tidak jarang aku jadi orang pertama yang mereka tuju, entah sekedar meminjam telinga, atau juga menitipkan sebaris doa.
Hah.
Mereka tidak pernah tahu jati diriku, mereka buta arah perihal sekejam apa aku memperlakukanmu.
Mereka tidak pernah tahu, atau mungkin memang tidak perlu tahu?

Aku mungkin salah satu yang terbaik perihal menyelami hati orang lain, tapi tidak dengan hatimu.
Aku mungkin salah satu yang paling teratur mempertimbangkan perasaan orang lain, tapi tidak dengan perasaanmu.
Tidak jarang aku mengabaikan hatimu, sudah pasti sering aku menelantarkan perasaanmu.
Perihal mengecilkan perasaanmu, aku yang terbaik.
Tapi kali ini, beriring rintik hujan yang tak kunjung berhenti ini, ijinkan aku meluruskan beberapa hal yang telah terjadi.
Ini penting untuk kita.

Pertama sekali, aku ingin meminta maaf.
Maaf untuk semua pilihan-pilihan tidak bijaksana yang pernah kuambil, yang pada akhirnya berimbas pada harga dan kepercayaan dirimu.
Maafkan aku yang berhasil membuatmu terlihat bodoh berulang kali, terlihat tidak berharga berulang kali, diperlakukan tidak baik berulang kali, hanya karena keputusan-keputusan yang dengan sengaja kuambilkan untukmu.
Maafkan aku karena aku menyakiti hatimu banyak sekali, menelantarkan perasaanmu berulang kali.

Sebenarnya, aku juga benci mengingat kenyataan bahwa aku terlalu sering mengabaikanmu demi memikirkan sesuatu yang mengabaikanku.
Terkadang itu memang sesuatu yang tak bisa terelakkan, tapi aku bersedia untuk terus belajar mengambil tindakan dengan kesadaran.

Pada hari-hari dimana kau memilih  untuk diam saat kau terluka, aku bertanya-tanya apakah kau sebenarnya menikmatinya?
Kalau tidak, mengapa tidak bersuara saja?
Mengapa diam, seperti seorang tuna wicara?
Kau harus tahu, aku sangat berduka saat kau terluka, melebihi duka manusia manapun yang memberimu cinta.
Aku marah, aku kecewa, aku menderita.
Aku ingin kau juga bereaksi sama hebatnya.
Tapi kau selalu bersikap tenang, terkesan dingin dan tidak peduli, kau seolah-olah mati rasa akan semuanya.
Benarkah demikian?
Ah, mana mungkin.
Itu bukan dirimu.
Belakangan aku berpikir, bahkan jika kau memilih untuk tidak diam sekalipun, adakah itu membawa guna?
Aku ingat, kau paling tidak suka saat kau melakukan sesuatu yang tuna guna, karena itulah kau memilih untuk tidak bicara.
Ya kan?
Hei, aku sudah makin mengenalmu sekarang.
Lagipula aku teringat, kau sudah cukup matang untuk tahu kemana kita harus berlari jika pesakitan mengejar kita sampai ke ujung bumi.
Juga, kuhaturkan padamu terima kasih.
Untuk segalanya, terutama pada kesediaanmu untuk tidak menyerah saat keterpurukan menghimpit sedemikian rupa, saat bumi rasanya terlalu kejam untuk menjadi tempat menuai bahagia.
Aku memujimu untuk itu.

Ketenanganmu adalah sesuatu yang lebih dari sekedar sulit untuk ditandingi, aku mengaguminya bersama dengan orang-orang lain yang juga pernah menyaksikannya sendiri.
Itu teruji, sebab kami telah melihatnya tetap ada bahkan ketika kau menghadapi petaka.

Dulu, kuakui bahwa aku selalu merasa kau terlalu lemah untuk memutuskan sesuatu.
Aku selalu merasa lebih bijaksana, lebih kuat, dan lebih masuk akal.
Aku terlalu takut kita terjatuh kepada lubang-lubang dalam dan hitam yang menakutkan karena pilihan-pilihanmu, yang jujur saja, menurutku tidak ditopang oleh kuatnya logika.

Kusadari aku salah.
Harusnya aku lebih sering mendengarkanmu, sebab kita harus punya porsi yang sama dalam berbagi hidup dan pemikiran.
Aku membutuhkan kehangatanmu untuk bisa berpikir lebih bijaksana tentang segala hal.
Kehangatanmu selalu berhasil mendinginkanku.
Semoga kau selalu bahagia, agar kehangatan itu kian bertambah.

Aku sangat mengasihimu, percayalah.
Aku hanya kurang percaya bahwa kau cukup kuat untuk menanggung segalanya, karena itu aku selalu berusaha untuk meletakkanmu di balik punggungku, berniat melindungi kerapuhanmu.
Hanya itu.
Tapi tak kusadari, bukannya melindungi, aku justru mendominasi.
Aku tidak lagi memberimu ruang untuk berekspresi, dan selama bertahun-tahun itu menyiksamu tanpa henti.
Maafkan aku :'(

Sekarang semuanya sudah berubah.
Aku mempercayaimu, sangat.
Kau tahu kenapa?
Karena saat aku rusak, kehangatanmu yang memperbaikinya.
Kebijaksanaanmu, ucapanmu, kejujuranmu, nuranimu, kesediaanmu untuk hadir dan menolongku, terlebih doa-doamu.
Kau sudah melakukan yang terbaik, dan aku sangat berterima kasih atas itu.

"Apa kau bahagia?"
Kalimat ini akan kutujukan kepadamu sepanjang waktu, selama kita duduk atau berjalan bahkan menjadi renta bersama.
Mulai saat ini, kebahagiaanmu akan jadi pertimbangan terbesarku.
Aku berjanji untuk tidak lagi mengabaikanmu atas sesuatu yang mengabaikanku.
Aku akan melindungimu seperti kau melindungiku selama bertahun-tahun dari segala jenis kerusakan yang mungkin terjadi atasku.
Aku akan menghormatimu lebih dari apapun, kecuali Allah tentunya.

Kepadamu yang terkasih, selamat ulang tahun.
Semoga kasihmu kepada Allah tumbuh lebih besar daripada kasihmu terhadap apapun atau siapapun.
Semoga engkau menaruh percaya kepada-Nya melebihi rasa percayamu terhadap semua entitas di luar Dia, termasuk aku.

Kuharap semua orang yang melihatmu dari jauh ataupun dekat, mengamatimu dalam tawa maupun duka, berhasil menemukan keteduhan yang semakin menjadi-jadi dalam tatapanmu, berhasil terbius dalam tanya melihat sorot penuh kebahagiaan yang terpancar dari matamu.

Selamat ulang tahun ke-23, gadis paling beruntung di muka bumi.
Kalau kau bertanya sepenting apa kau bagi Tuhan, lihatlah, hari ini Dia menganugerahi Liverpool satu tiket menuju final liga Champions sebagai hadiah ulang tahunmu.
Seisi kota bahkan seluruh penggemarnya di penjuru dunia bersukacita karena itu.

Jika di hari depan kehidupan menjadi terlalu menyesakkan bagimu, ingatlah bagian ini.
Serapuh apapun engkau, kau sangat dikasihi.
Dan itu cukup.
Jangan menjadi kuat, jadilah taat.
Kuat itu bagianku, taat itu bagianmu.
Kau sudah melakukan yang terbaik dari segala yang baik selama ini untukku.
Tetaplah demikian.
Aku mengasihimu dengan kasih Tuhan.

Selamat ulang tahun, hatiku.
Dari pikiranmu.


Hi, salah satu pembaca teladan.
Tulisan panjang di atas adalah ucapan selamat dari pikiranku untuk hatiku.
How do you find it?
Do you get the message?
Kau ingat tidak kapan pertama kali kita berkenalan?
Aku ingat.
27 Januari 2019, kurang dari empat bulan yang lalu.
Kau mengirimkan pesan langsung di akun Facebook milikku, mengatakan bahwa kau mengenalku dan telah mengamatiku selama bertahun-tahun.
"Pokoknya aku kenal kakak."
Kurang lebih itu isi pesanmu waktu itu.

Hal pertama yang kupikirkan waktu itu, "Pede banget dia ngomong begini. Mengenalku itu jauh lebih rumit daripada belajar trigonometri. Menarik."
Itu membuatku ingin tahu sudah sejauh apa kau mengenalku dan bagian apa dalam diriku yang membuatmu berminat untuk terus bertahan mengamati hidupku.
Katamu kau sudah mengamatiku sejak 2015?
Atau 2016?
Aku lupa.
Berarti sudah sekitar 3 atau 4 tahun ya?
Wah, aku tak pernah berpikir bahwa hidupku diamati dalam diam selama itu oleh seseorang.
Terima kasih untuk kesediaanmu melakukannya :)

Kau kemudian bercerita beberapa hal tentang hidupmu, dan itu menarik minatku.
Hal-hal yang berkaitan dengan luka hati memang selalu sulit kuhindari.
Aku mengajak bertemu, tapi kemudian kau menolak karena menurutmu kau belum membutuhkanku sejauh itu.
Katamu, "Nanti kalau aku merasa udah butuh untuk ketemuan sama kakak, aku bakalan ajak kakak ketemu."

Dan hari itu akhirnya tiba, kita bertemu untuk pertama kalinya.
Di meja pemulihan.
Waktu itu, jujur aku bingung aku harus berbuat apa.
Kita tidak saling mengenal, dan aku bertanya-tanya, apa yang harus kulakukan dengan orang baru ini?
Itu pertemuan pertama kita, dan kau sangat terbuka atas segalanya.
Kau mempercayakan cerita-cerita paling pribadi dalam dirimu kepadaku, dan aku berpikir apa bagian yang harus kulakukan untuk menolongmu?

Tentu aku berdoa untukmu sejak pertama sekali kita berkenalan lewat Facebook dan WhatsApp, tapi aku tahu itu tidak cukup.
Aku tidak mungkin berdoa hanya sekali atau dua kali untuk masalah sekompleks itu.
Aku harus melakukannya dengan taat. Tapi aku tahu, aku juga tidak mungkin berdoa dengan taat untuk sesuatu yang tidak belum kukasihi.
Maka kalau kau bertanya apa isi doaku kepada Tuhan untukmu, aku bilang ke Tuhan, "Tuhan, aku ingin mengasihinya."
Demikianlah kasihku untukmu juga bertumbuh.

Terima kasih untuk kesediaanmu mempercayakan cerita-ceritamu untukku.
Aku tahu bahwa tidak sedikit waktu yang kau butuhkan untuk mengumpulkan keberanian menghubungiku.
Aku tahu kejadian-kejadian kita tak serupa, tapi aku pernah merasakan hal yang sama. Perasaan yang kau rasakan selama ini, ada dalam basis data perasaanku. Demikianlah aku berusaha untuk menyelaminya, menyelami perasaanmu sedapat yang aku bisa.

Setiap kali kita akan bertemu, aku selalu takut, terutama jika kondisi fisikku sedang sangat lelah.
Aku takut pertemuan kita tidak akan memberimu apa-apa, atau lebih parahnya, aku takut aku menolongmu mengambil keputusan-keputusan yang salah. Aku takut saran-saranku justru semakin mendorongmu kepada penderitaan.
Tak jarang aku berbicara kepada Yuni saat sedang mencuci piring di kantor,
"Yun, aku mau ketemu dia hari ini. Aku harus gimana ya?"
Tapi itu menarik, sebab aku jadi punya kesempatan untuk berbicara lebih sering lagi kepada Bapa, supaya aku tahu bagaimana harus memberimu jawab dengan bijaksana.
Pada akhirnya, aku juga bertumbuh melalui kehadiranmu.

Ketaatanmu adalah sesuatu yang kukagumi, sesuatu yang suatu kali pernah gagal kujalani.
Karena itulah aku tidak akan pernah bosan mengatakan hal ini kepadamu;
Kau sudah ada pada track yang benar. Kau melakukan apa yang benar, dan tidak ada yang perlu disesali dari semua itu. Tegakkan kepalamu, jangan sedikitpun merasa malu.

Kalau kau merasa bahwa kehadiranku berhasil meyakinkanmu bahwa kau sangat berharga, percayalah, itu sebenarnya juga berjalan dua arah.
Ucapan selamat ulang tahun yang kau kirimkan ke email-ku hari ini sangat berhasil membuat mataku berkaca-kaca.

Tidak sekali atau dua kali aku membacanya ulang, dan setiap kali aku membacanya, sesering itu pula ia berhasil mengharu hatiku.
Akan kusimpan disini supaya jika di hari depan ada sebuah keadaan yang mungkin membuatku merasa terpuruk lagi, tidak berdaya lagi, tidak berguna lagi, aku akan membacanya ulang dan meyakinkan diriku sekali lagi; seseorang pernah menganggap bahwa kehadiranku di hidupnya ibarat oase di padang gurun.
Oase yang membawa kelegaan pada mereka yang butuh pengharapan, oase yang membawa kesegaran pada mereka yang kehausan.
Aku akan mengingat perasaanmu untukku sepanjang waktu.

Kau spesial, karena perihal kesembuhan hati, kau tak pernah mendebatku sama sekali. Kau mengikuti semua saranku, kau mengerjakan semua hal tepat seperti apa yang kusampaikan. Dan karena itu aku sering merasa takut, takut kalau-kalau aku telah menyarankan sesuatu yang salah.
Semoga tidak.
Kalau suatu ketika aku berkata jangan lakukan A, kemudian di lain waktu berkata lakukan A, percayalah itu bukan karena aku tidak konsisten. Aku yakin kau mengerti maksudku.

Terima kasih untuk kepercayaan yang kau berikan. Aneh jika kukatakan begini, kita baru saling mengenal kurang dari empat bulan, tapi kita berbagi hal-hal paling pribadi yang pernah kita rasakan.
Aku memberimu akses kepada perasaan-perasaan pribadiku, kepada sesuatu yang belum pernah kutunjukkan kepada siapapun.
Itu karena aku mempercayaimu.

Di usiaku yang ke-23 tahun, aku akhirnya menyadari mengapa Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri. Ia mengatakan demikian karena Ia tahu, manusia hanya mempunyai kapasitas untuk mengasihi orang lain sebesar kasih yang dia tujukan untuk dirinya sendiri.
Lebih dari itu, itu bukan kasih.
Itu perbudakan.
Itulah sebabnya, orang-orang yang mengaku mengasihi seseorang tapi terus-menerus membiarkan dirinya terluka dan kecewa, adalah orang-orang paling malang di dunia. Kuharap kita tidak (lagi) mengambil bagian dalam barisan orang-orang bernasib malang itu. Jika kita mengasihi diri kita dengan dusta, maka dengan dusta pula lah kita akan mengasihi orang lain.
Kuharap kita akan mampu mengasihi diri kita dengan benar, supaya kita juga bisa mengasihi orang lain dengan benar.

Ada jurang yang menganga lebar antara kasih dan obsesi. Ada jarak yang sangat jauh antara kesetiaan dan kebodohan. Sialnya, titik bifurkasi yang memisahkan keduanya sangat tipis, terlalu tipis sampai-sampai tidak terlihat. Untuk itulah kita perlu hikmat dari Allah. Hikmat yang akan mencelikkan mata kita, supaya kita mampu melihat titik bifurkasi itu dengan jelas dan dengan was-was, tidak perlu mencapainya.

Enam bulan dari sekarang, kau akan berulang tahun. Waktu pertama kali aku tahu bahwa kita lahir di tanggal yang sama, aku merasa gembira. Aku selalu merasa bahwa orang-orang yang lahir di tanggal 8 itu dianugerahi kualitas-kualitas paling langka.
Dalam budaya China, 8 dianggap sebagai angka yang paling membawa keberuntungan.
Angka 8 dipercaya bisa membawa kemakmuran, kesuksesan, dan status sosial yang tinggi. Tentu kita telah berhasil mencapai semua itu, bukan?
Kemakmuran dan kesuksesan karena menjadi orang yang dekat dengan Allah, status sosial yang tinggi karena menjadi warga kerajaan sorga. Apa lagi keberuntungan yang bisa menandingi semua itu?

Jika hari itu tiba, kuharap kau telah mampu menuliskan surat kasih paling indah untuk dirimu sendiri.
Jika hari itu tiba, kuharap kau sudah benar-benar menyadari bahwa Frozen tidak layak menjadi lagu kebangsaanmu sama sekali.
Pada saat itu kau mungkin akan menggunakan meja pemulihan kita untuk mendengarkan orang lain dan bercerita tentang kisah cintamu bersama Dia.
Kita akan jadikan ini mata rantai yang tidak pernah putus, de!
Ah, membayangkannya saja sudah berhasil membuatku gembira.

Tiap kali kau mengirimkan pesan tentang perenunganmu di suatu hari, aku selalu tersenyum.
"Oh, dia sedang ada di tahap ini. Berarti selanjutnya akan seperti ini."
Kak San benar, pertumbuhanmu akan jadi sesuatu yang sangat mengharukanku.
Mungkin itu juga yang dia rasakan dulu tiap kali aku mengiriminya laporan perenunganku.
Harus kuakui kalau pertumbuhanmu jauh lebih pesat daripada pertumbuhanku.
Terang saja, kau juga jauh lebih taat.

Jangan berkecil hati jika seseorang berkata kau mencoba meniru-niru tulisanku.
Aku tahu kau tidak sedang melakukannya.
Bagaimanapun, kau membaca tulisanku bertahun-tahun, dan aneh sekali jika itu tidak mempengaruhimu sama sekali.
Kau tahu kekuatanmu, aku juga tahu kekuatanku. Kita tidak akan saling meniru, karena kita juga memang tidak akan bisa ditiru. Jika di hari depan seseorang mencoba menirumu, tertawa saja. Jangan gusar.
Dia sebenarnya sedang menghadapi kemalangannya.
Dia mungkin lupa, tiruan mana yang mungkin bisa lebih baik daripada versi aslinya?
Tiruan tetaplah tiruan, tidak orisinil, tidak autentik.
Kau menang satu poin lagi atasnya.

Oh ya, aku juga menyadari satu hal baru tentang diriku semenjak mengenalmu.
Aku ternyata sangat suka keintiman yang tersembunyi.
Aku senang dengan hubungan yang terselubung, kedekatan yang hanya kita rasakan berdua tanpa perlu diketahui semesta.
Kupikir hal-hal semacam ini hanya berlaku untuk lawan jenis, tapi ternyata tidak.
Aku suka menyembunyikanmu.
I like to see when everyone else has no idea how close we are, how much we spend time together just to talk about our past or our dream.
Aku senang dengan perasaan, "Hah, kalian tidak tahu kami sedekat apa."
Dan karena itu aku menyensor namamu disini, sedapat mungkin aku ingin selalu menyembunyikanmu.

Tentang garis waktu, kita benar-benar mirip.
Kita adalah pengamat ulung, senang mempolakan segala sesuatu.
Kita senang melihat segala sesuatu berjalan pada pola yang teratur, tepat seperti apa yang kita bayangkan atau prediksi.
Tapi seringkali kehidupan tidak sekaku itu.
Terkadang, kehidupan bergerak bebas dan jauh lebih liar daripada apa yang sanggup kita bayangkan atau polakan.
Doa juga demikian dinamis.
Karena itu kita punya hati.
Suara hati.
Kata hati.
Sesekali, tidak, seringkali, kata hati yang kita dengar pada hari-hari paling sepi dan sunyi adalah keputusan-keputusan terbaik yang bisa kita pilih, walau pergerakannya tidak sesuai dengan pola yang kita amati.
Sebab sunyi pun tak jarang bersuara, kita hanya perlu menikmati diam untuk bisa mendengarnya.

Kau tahu senyenyak apa tidurku sekarang?
Orang-orang yang pernah ke rumahku atau mengantarku pulang pasti tahu bahwa rumahku sangat dekat dengan masjid, dan telingaku sangat sensitif terhadap suara.
Tapi, selama beberapa hari puasa berlangsung, aku bahkan tidak mendengar sama sekali suara "sahur sahur" yang biasa didengungkan lewat toa masjid untuk membangunkan orang-orang.
Baru setelah aku terbangun untuk berdoa di jam tiga pagi, aku bisa mendengarnya.
Keren kan?
Tentu butuh proses yang sangat panjang untuk itu.
Maka kalau kau ingin tahu apa hal yang paling sering kudoakan untukmu, itu jawabnya.
"Kuharap dia tidur nyenyak malam ini, Tuhan."

Di hari ulang tahunmu tahun ini, kuharap kau menerima ucapan selamat ulang tahun sangat mengharukan seperti yang kuterima darimu hari ini. Sesuatu yang bisa kau kenang sepanjang waktu, sesuatu yang bisa mengharu hatimu.
Semoga juga, kau bisa mendapatkan sesuatu seindah ini pada hari itu.


Hanya laki-laki yang mengasihimu utuh beserta dengan luka-lukamu yang akan mampu mengatakan hal serupa.
Semoga kau juga menemukannya.

Terima kasih terutama untuk peranmu dalam pertumbuhanku.
Jangan pernah lupa memberi apresiasi untuk dirimu sendiri, sebab kau sangat pantas mendapatkannya.
Aku mengasihimu, de.


2 comments:

  1. aku kok baru baca ini..
    Aku suka ini, terkhusus beberapa part di dalamnya
    May :') :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya yg ini memang nggak pernah di-share hihi
      Hanya mereka yg setia mengecek apakah ada tulisan baru yg akan menyadarinya.
      Anw feel free to share your favorite parts and thanks for reading :)

      Delete