Wednesday, 17 April 2019

Resolusi #5, Tercapai!

Hello!
It's been a while since the last time I wave you a hand.

Well, I'm not going to post anything about the election cause I had did it on another platform and I thought it was enough.
Aku mau cerita hal lain.

Dua minggu yang lalu, aku pergi liburan ke tempat yang baru.
Akhirnya, resolusi #5 tercapai :)
Terima kasih, Tuhan!

Liburan semester ini aku pergi berdua bareng Yuni.
Enaknya gitu punya teman yang kerja di kantor yang sama. Pas bonus tahunan kita keluar, bisa langsung buat perencanaan untuk liburan. Ini juga karena Tuhan berkenan memberkati perusahaan tempat kami bekerja, memberi pertumbuhan setiap tahunnya, akhirnya pegawainya bisa dapat bonus yang jumlahnya cukup untuk dana liburan.
Terima kasih lagi, Tuhan ❤︎ 

Bangkok jadi pilihanku untuk destinasi liburan kali ini.
Alasannya cukup sederhana; ongkos kesana murah dan nggak perlu pakai visa.
Berhubung ada salah satu kakak yang mau liburan kesana juga minggu ini, aku pikir bagian ini cukup penting untuk menjadi konten di websiteku, mengingat Bangkok juga adalah salah satu kota yang paling sering menjadi destinasi liburan wisatawan asal Indonesia, tentunya selain Singapura, KL, Penang atau Hongkong.
Nah, selama di Bangkok, kami mengunjungi beberapa tempat yang katanya, wajib dikunjungi kalau kita liburan kesana, yang mungkin juga bisa jadi referensi kamu kalau Tuhan beri kesempatan liburan ke sana juga.
Check them out!

1. Pe Aor Tom Yum Kung Noodle

Kalau kamu juga penikmat Tom Yum sepertiku, ini adalah tempat yang harus banget dikunjungi ketika kamu main ke Bangkok. Sepertinya ini tempat makan Tom Yum paling terkenal yang ada di Bangkok. Jangan heran kalau dari luar tempat ini kelihatan nggak ada mewah-mewahnya sama sekali.


Di logo itu sebenarnya ada tulisan, maaf kalau nggak kelihatan karena masalah pencahayaan. Itu sebenarnya gambar perempuan dan di bawahnya ada tulisan "The original the only one 'n the best Tom Yum Kung noodle in Bangkok". Lokasinya ada di gang kecil gitu (alamat lengkapnya ada disini), tempatnya kecil dan cukup panas.


Walaupun tempatnya kecil dan cukup panas, nggak usah kuatir soal rasa makanannya.
Autentik adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkannya.
Rasa asam Tom Yum disana memberi efek candu, kecuali bagian daun sop (atau daun bawang ya?) yang entah kenapa rasanya mirip laron dan nggak enak banget kalau terkunyah.
Ngomong-ngomong, aku tau rasanya laron karena laron pernah masuk ke mulutku hahaha
Sayangnya, daun berwarna hijau yang mirip daun sop ini ada di hampir semua makanan lokal Thailand, terutama yang berkuah. Jadi selama aku disana, aku punya ekstra job untuk menyingkirkan daun-daunan yang rasanya nggak enak ini. Perhatikan aja potongan-potongan daun berwarna hijau di gambar ini, itu daun yang rasanya nggak enak itu.


Kalau makan disini, nggak usah takut mau pesan apa, karena di daftar menunya tersedia gambar. Tinggal tunjuk, pesanan datang. Kita juga bisa nanya sama pelayannya menu apa yang paling sering dipesan disana. Pelayannya cukup ramah sekalipun mungkin terjadi miskomunikasi karena masalah bahasa (misalnya waktu kita minta bill, dia malah kasih menu). Somehow aku merasa suasana tempat ini mirip banget sama Tabona di Medan. Mungkin karena tempatnya yang nggak mewah, cukup panas, tapi rasa masakannya aduhai. Harga makanan disini juga nggak terlalu mahal, dimulai dari 120 baht atau sekitar lima puluh lima ribu rupiah per porsinya.

2. Khao San Road

To be honest kami nggak punya plan sama sekali untuk pergi ke tempat ini. Alasannya sederhana; tempatnya ramai. Untuk orang yang nggak suka suasana yang riuh seperti aku, I don't suggest you to go to this place. Tapi karena setelah makan Tom Yum jam ternyata masih menunjukkan pukul delapan atau sembilan malam, akhirnya kami pergi juga kesini. Khao San Road itu mirip Jl. Alor yang ada di KL. Bukan karena banyak makanan, tapi karena banyak bule-nya. Disana juga banyak penginapan, dan biasanya yang nginap disana ya turis yang memang mencintai kehidupan malam dan riuh, karena tempat ini memang buka sampai jam dua dini hari.
Kalau Jl. Alor penuh dengan restoran, Khao San Road penuh dengan bar, mulai dari bar yang biasa aja, yang remang romantis dan memberi kesan mewah, sampai bar gelap yang memberi kesan seram. So if you are an alcoholic, this place is your paradise!

Di sepanjang jalan ini kamu akan bertemu dengan banyak ladyboy yang bekerja sebagai pelayan di bar-bar tersebut. Nggak usah heran kalau body mereka seksi dan aduhai tapi struktur wajahnya tetap struktur wajah laki-laki. Sengaja nggak ambil foto mereka karena takut digampar. Hahahaha.
Di sepanjang jalan ini kamu juga akan lihat banyak tukang kepang rambut yang kerjaannya ngepangin rambut supaya jadi gimbal, juga toko-toko yang menyediakan jasa Thai Massage. Nah, Thai Massage-nya itu sebagian besar outdoor. Jadi nanti pelanggannya sambil dipijitin, bisa sambil lihatin orang-orang yang lewat di jalan itu.

Kalau kamu main kesini, jangan lupa cobain mango sticky rice yang terkenal itu. Sebenarnya penjual mango sticky rice ada dimana-mana sih, tapi selama aku ada di Bangkok, yang paling murah ada disini. Harganya 50 baht (sekitar dua puluh tiga ribu rupiah). Untuk makanan seenak itu, buah sesegar itu, ini benar-benar murah. Jangan lupa belinya sama Mbak yang ini, soalnya dia ramah sama turis sekalipun dia nggak bisa bahasa Inggris.


Di ujung jalan nanti kamu akan lihat penjual smoothie beragam buah. Wajib dicoba karena rasanya benar-benar enak dan harganya murah. Kalau nggak salah, kisaran harga smoothie-nya sekitar 25-35 baht (setara dengan dua belas sampai enam belas ribu rupiah)


Di sepanjang jalan ini nanti kamu juga akan lihat banyak orang yang menjajakan makanan aneh seperti kalajengking. Aku pribadi nggak merekomendasikan hal ini untuk dicoba sih. Bukan karena menjijikkan atau aneh, bukan. Tapi aku merasa kalajengkingnya hanya digunakan untuk kepentingan komersil, nggak higienis sama sekali. Kebanyakan orang hanya bayar untuk mengambil fotonya kemudian dikembalikan. Kalau mau coba makanan aneh, jangan disini deh.

Oh ya, jangan heran juga kalau kamu melihat banyak penjual grilled crocodile.
Iya, buaya.
Di Bangkok itu hal yang biasa.
Aku nggak cobain makanan ini sih, karena selain harganya mahal (sekitar 300 baht per porsi), pikiranku juga nggak tenang memikirkan peluang punahnya satwa ini.

Oh ya, di dekat Khao San Road juga ada Democracy Monument.
Monumen ini cakep kalau malam, apalagi karena jalanannya cukup sepi dan benar-benar bersih. Bisa jadi pilihan untuk kamu yang suka foto.



3. Sea Life Bangkok Ocean World

Untuk kamu penyuka satwa laut seperti aku, ini tempat yang benar-benar wajib kamu kunjungi. Suasana disana benar-benar tenang dan cocok untuk tempat relaksasi. Harusnya demikian, kecuali jika kamu kurang beruntung karena harus bertemu dengan rombongan anak SD yang sedang study tour dan menguasai semua tempat. Sea Life Bangkok Ocean World ini berlokasi di lantai dasar Siam Paragon Mall. Tempatnya cukup luas untuk menampung beragam jenis satwa laut (bahkan satwa darat seperti ular juga ada), mirip akuarium raksasa gitu. Kebanyakan pengunjungnya adalah turis dari Eropa dan Asia Timur, atau orang Thailand dari kota yang berbeda. Orang Indonesia jarang main kesini, jadi kalau kamu tipikal turis yang nggak suka ketemu orang se-negara-nya di negara lain seperti aku, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat.

Di dalam, suasananya cenderung gelap, makanya ada bule yang bisa berciuman di sembarang tempat semau mereka. Ada tema yang berbeda di setiap lorongnya dan masing-masing lorong diisi dengan satwa yang sesuai dengan tema tersebut. Di lorong kuda laut, kamu akan lihat berbagai jenis kuda laut dari berbagai belahan dunia. Di lorong kutub, kamu akan lihat penguin dan salju buatan. Ada area dimana pengunjung juga bisa menyentuh langsung ikan-ikan kecil, tentunya dengan pengawasan orang dewasa. Di jam-jam tertentu, ada pertunjukan yang juga bisa kamu saksikan, misalnya shark feeding, jackass penguin feeding, atau diver's communication.
Kalau kamu punya cukup nyali, kamu juga bisa menyelam dan berenang bersama ikan hiu, ikan pari yang ekornya sangat panjang, dan ikan-ikan raksasa lainnya.
Di masing-masing atraksi tersebut akan ada satu orang pemandu yang menjelaskan tentang hewan tersebut di dalam bahasa Thailand dan bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya cukup mudah dipahami sekalipun logatnya sedikit asing di telinga.

Kalau mau ambil foto hewan-hewannya, nggak boleh pakai flash ya.
It hurts their eyes!

Salah satu tips kalau mau main kesini, beli vouchernya di Klook terlebih dahulu. Nanti pas udah sampai disana, vouchernya tinggal ditukar. Kalau kamu beli voucher di Klook, kamu diberi keistimewaan untuk menggunakan jalur khusus. Jadi nggak perlu ngantri panjang-panjang deh. Harganya juga jauh lebih murah, dari sekitar 430 ribu rupiah bisa turun menjadi 300 ribu rupiah.
Kamu juga bebas membawa makanan dari luar, jadi pastikan sebelum menghabiskan waktu berjam-jam disana, kamu udah punya persediaan makanan yang cukup, karena tiket kamu hanya berlaku untuk satu kali masuk saja. Bisa sih beli makanan di dalam, but as expected, harganya pasti kurang bersahabat.


Will I re-visit this place?
Yes, kalau lain kali pergi kesananya bareng dia.
Hanya butuh waktu lima menit untukku kemudian sadar bahwa tempat semacam ini adalah tempat yang menurutku sempurna untuk berkencan.
Mungkin kalimatku yang paling memekakkan telinga Yuni selama disana adalah,
"Yun, harusnya aku kesini bareng pacarku."
Ya nggak harus disini sih, di Ancol atau Singapura kan juga ada.
Yang penting aku mau kencan di tempat semacam ini bareng dia.
Bareng kamu.
Ah, itu juga kalau dikasih lampu hijau sama Mamak dan kak San untuk main jauh bareng kamu sih.
Hehe :*

4. Madame Tussauds

Aduh, siapa sih yang nggak tau Madame Tussauds? Ini adalah tempat yang tepat untuk ketemu orang-orang terkenal dari seluruh dunia tanpa harus bayar mahal atau berdesak-desakan. Lokasinya ada di Siam Discovery Mall, dua mall setelah Siam Paragon (tempat Sea Life Ocean World berada). Jadi kira-kira urutannya begini; Siam Paragon - Siam Center - Siam Discovery.

Di halaman Siam Paragon menuju Siam Center, ada yang indah dan sebaiknya nggak dilewatkan.
Ini dia.

Bisa main air sebentar, baru deh ke Madame Tussauds.
Hahaha.
Kalau lagi panas terik, kamu pasti akan bisa melihat pelangi.

Kalau kamu berkunjung ke Madame Tussauds, orang pertama yang akan menyambut kamu adalah seseorang yang nggak asing sama sekali; Bapak Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Ada banyak sekali tokoh dunia yang bakalan kamu temui disana, mulai dari legenda di bidang olahraga, seni musik, seni lukis, seni peran, teknologi, sejarawan, semuanya ada. Jadi buat kamu yang suka foto-foto, pastikan baterai handphone atau kamera kamu cukup banyak. Di masing-masing replika juga disediakan keterangan tentang siapa tokoh tersebut. Di beberapa bagian dinding kamu bisa bermain teka-teki yang berisi pertanyaan seputar tokoh tersebut atau juga bermain puzzle.

Tempat ini sepertinya adalah tempat favorit turis asal Indonesia.
Beneran!
Selama disana, aku nggak merasa sedang ada di luar negeri. Semua pengunjungnya orang Indonesia, kecuali beberapa orang pengunjung yang berasal dari India. Kalau kamu tipikal turis yang nggak suka ketemu orang yang berasal dari negara yang sama dengan kamu, this place is not for you.
Kami juga nggak begitu lama menghabiskan waktu disini, membosankan.

Oh ya, salah satu pegawainya yang bekerja di dekat pintu keluar kurang ramah.
Mungkin beliau sedang PMS.

5. Wat Arun

One of the most unique place in the world!
Sekalipun Tante bilang masih kalah unik sama Borobudur, ya karena aku belum pernah ke Borobudur, menurutku Wat Arun itu udah sangat unik sih.
Pas pertama kali nyampe disana, lihat detailnya, refleks berdoa dalam hati.
"Tuhan, Wat Arun-Mu keren sekali!"

Wat Arun ini punya julukan Temple of Dawn, tapi justru sunset terbaik di Bangkok katanya ada disana.
Panasnya luar biasa, jadi untuk pengidap penyakit solar urticaria sepertiku, harus ekstra hati-hati.
Jangan lupa pakai sun block dan topi ya!


Tempat ini ramai banget, harus sering ngelus dada kalau mau foto. Baru mau jepret, eh ada yang lewat. Kebanyakan pengunjungnya datang dari Asia Timur, mungkin karena ini tempat Buddha gitu juga kali ya. Ini juga salah satu destinasi wisata favorit turis asal Indonesia. Kalau mau cari oleh-oleh berupa souvenir khas Thailand, aku sarankan beli disini aja. Harganya nggak jauh beda dibanding tempat lain, tapi kualitasnya yang terbaik.
Jangan menggosip ketika sedang belanja, misalnya ngomong, "Ikh mahal banget ya!" karena hampir semua penjual disana bisa berbahasa Indonesia.
Malah katanya kalau kamu kehabisan baht, kamu bisa juga membayar belanjaanmu dengan rupiah.
Keren!

Salah satu hal yang harus kamu ingat kalau berkunjung ke Wat Arun (juga Wat lainnya), gunakanlah pakaian yang sopan. Semulus apapun paha atau ketiakmu, jangan sekali-kali menggunakan celana pendek atau baju tanpa lengan. Memang, disana akan ada pedagang yang menjual kain untuk menutupi tubuh mulusmu, tapi alangkah baiknya datang kesana sudah dengan pakaian yang sopan.
Biaya masuk kesini 50 baht (sekitar 23 ribu rupiah)

6. Wat Pho

Dari Wat Arun, kami menyeberangi sungai Chao Praya menggunakan kapal menuju Wat Pho. Tiket kapalnya super murah, cuma 4 baht (kurang dari dua ribu rupiah)
Tapi jangan berekspektasi apapun, karena kondisinya benar-benar mengkhawatirkan.
Eum, sebenarnya kapal itu nggak cukup layak disebut kapal :(
Cuma ada pembatas besi di samping, dan kalau ada kapal lain yang lewat, kapal akan mengalami guncangan yang hebat dan air sangat mudah masuk ke dalamnya.
Banyak-banyak berdoa aja selama di atas kapal ya.

Wat Pho (Temple of Reclining Buddha) adalah tempat dimana Buddha raksasa sedang tidur. Itu simpelnya. Biaya tiket masuk ke Wat Pho 200 baht (sekitar 91 ribu rupiah), dan sama seperti di Wat Arun, kamu juga dilarang menggunakan celana pendek atau baju tanpa lengan jika ingin memasuki tempat ini. Sedikit lebih baik, mereka menyediakan kain berwarna pink untuk dipinjam selama kamu berkunjung.

7. Grand Palace

Seperti namanya, Grand Palace adalah tempat dimana pangeran berada.
Eh, maaf, aku sok tau :')
Tapi istana ini memang masih aktif digunakan sampai sekarang. Biaya masuknya 500 baht (sekitar 227 ribu rupiah)
Kami nggak masuk kesana karena mahal dan udah tutup. Jaraknya sangat dekat dari Wat Pho, sebelahan gitu. Kalau sore, ada apel pegawai-pegawai istana membawa sesuatu mirip seserahan. Penjaganya juga masih berpakaian persis seperti pengawal istana di lakorn Thailand. Di sekitar Grand Palace, ada beberapa penjual bunga yang biasanya digunakan untuk sembahyang. Jalanan disini sangat bersih dan sepi, di depannya ada taman bermain untuk anak-anak.


8. Chatuchak Weekend Market

Please take a note kalau Chatuchak Weekend Market hanya buka pada Jumat malam. Lautan manusia ada disana, termasuk anak sekolah yang bahkan belum ganti seragam (makanya aku bisa tau kalau dia anak sekolah hahaha)
Chatuchak tetap buka di hari lain selain Jumat, tapi hanya siang hari. Lokasinya dekat banget sama stasiun BTS (sesuatu yang lebih akrab disebut MRT), cukup jalan kaki sekitar 200 meter.
Disana, aku akhirnya nyobain minuman favoritku, Thai Milk Tea. Porsinya memuaskan, harganya kalau nggak salah 40 baht (sekitar 18 ribu rupiah)
Disini, aku juga nyobain makanan aneh yang selama ini memang pengen kucobain.
Seperti yang kusampaikan di atas, aku bukan nggak berani, pertimbanganku hanya masalah higienis atau nggaknya aja. Bukan berarti yang di Chatuchak higienis ya, tapi setidaknya lebih higienis dibanding di Khao San Road.

Rasanya?
Nggak enak, tapi juga nggak buat muntah.
Edible lah.
Si Yuni nggak mau nyobain, dia jijik.

Satu makanan yang juga harus kamu cobain kalau kamu ke Thailand adalah rujak. Sebagai penikmat buah, aku sangat bahagia selama makan buah disini. Kalau kamu beli rujak mangga dan tanya, "Is this sweet or sour?", mereka akan jawab, "Sour."
Kenapa?
Karena standar buah yang bisa dikategorikan sweet untuk mereka itu sangat tinggi.
Tapi percayalah, mangganya itu nggak sour sama sekali.
Mengkal, aduh, enak banget. Bumbunya apa lagi.
Aduhai.
Ini foto pas udah mau habis karena nggak bisa menahan diri untuk melahapnya.
Hahaha
Harganya 20 baht (nggak nyampe 10 ribu rupiah)
Disini aku juga nyobain Pad Thai, mie gepeng khas Thailand yang cukup terkenal.
Rasanya nggak enak.
Coba aja kalau nggak percaya.
Entah memang nggak enak, atau memang Pad Thai disitu yang nggak enak.
Pokoknya aku nyesal belinya, karena yang kumakan cuma udangnya.
Kalau kamu perhatikan dengan seksama, ada sejenis kacang yang ditaburkan di atas Pad Thai itu.
Kacang itulah perusak utama dari rasa Pad Thai yang kumakan. Rasanya nggak nyambung aja gitu, nggak klop sama sekali. Sebenarnya lidahku itu bukan lidah yang mentel, makanya aku oke-oke aja nyobain makan serangga atau ulat. Tapi kacang ini memang benar-benar aneh, rasanya nggak cocok digabungkan dengan apapun, kecuali rujak. Dan sialnya, kacang itu ada di hampir semua makanan khas Thailand.
Perih.

Yuni nyobain satu makanan yang menurutku aneh dan nggak mau kucoba, tapi katanya enak.
Kenapa kukatakan aneh?
Simpelnya gini.
Bayangkan kamu harus memakan martabak telur yang dibalut dengan kulit martabak manis.
Nggak nyambung aja gitu rasanya.
Sebagai penikmat martabak telur aku merasa ini pasti aneh banget rasanya, jadi aku nggak mau nyobain.
Tapi Yuni bilang enak, dan memang banyak orang yang membeli.
Lokasinya tepat di bawah tangga menuju BTS station.



Oh ya, kalau makan di trotoar jalan di depan Chatuchak Market, jangan berharap makananmu akan cepat datang kalau kamu bukan bule. Kalau kamu bule, makananmu akan datang dengan segera. Kalau bukan, silahkan menyelamatkan dunia terlebih dahulu sembari menunggu makananmu datang. Masih sempat.

9. Platinum Fashion Mall

Surganya orang Indonesia yang datang ke Bangkok untuk belanja!
Sebelum main kesini, pastikan semua oleh-olehmu sudah terbeli karena takutnya, kamu khilaf belanja dan saat selesai belanja, kamu kehabisan uang untuk membeli oleh-oleh.
So ya, better to be wise.
Kalau ada tetanggamu yang bilang belanja di Platinum itu murah, jangan percaya.
Murah yang dimaksud bukan berarti kamu bisa menemukan pakaian seharga 25 ribu disana, bukan.
Murah yang dimaksud adalah kamu bisa menemukan pakaian dengan harga yang sama seperti di online shop Medan, dengan kualitas yang jauh lebih baik.
Misalnya nih, barang dengan kualitas sebaik itu dibanderol sekitaran 250 ribu di Indonesia, mungkin disana harganya sekitar 100 sampai 150 ribu rupiah.
Gitu.
Jadi bukan harganya yang rendah ya, tapi kualitasnya yang lebih baik.

Platinum itu kalau nggak salah terdiri dari zone 1, 2, dan 3, masing-masing tujuh lantai. Zone 3 ada di gedung yang berbeda. Nanti di setiap lantai, kamu akan menemukan petunjuk yang akan mempermudah kamu mencari arah dan tujuan. Aduh, bahasanya.
Misalnya, kalau mau belanja tas, ada di zone 3 lantai 3.

Kalau kamu beli wholesale, selisih harganya bisa cukup jauh, mencapai 60 baht per potongnya.
Maksudnya gini.
Misalnya kamu naksir sebuah baju. Kalau kamu beli satu, harganya 200 baht, tapi kalau kamu beli tiga, harganya bisa berubah jadi 140 baht per potongnya.
Lumayan jauh kan selisih harganya?
Disini juga banyak penjual yang bisa berbahasa Indonesia, jadi kamu bisa lebih mudah kalau mau menawar harga.



Di dekat Platinum ada penjual sandwich yang super enak. Kamu harus cobain kalau kesana!
Lokasinya ada di depan Top Chroen Optical, tinggal nyebrang aja dari Platinum terus jalan ke kiri kira-kira 50 meter. Harganya 20 baht untuk dua potong sandwich menggunakan roti tawar gandum, 18 baht untuk dua potong sandwich menggunakan roti tawar biasa. Please take a note kalau Mbak-nya hanya jualan sampai jam sembilan pagi aja.



Oh ya, pas main di Platinum kita ketemu sama Gisel yang lagi jalan sama Wijin. Sayangnya nggak ada Gempi hahaha

10. Tao Kae Noi Land

My paradise!
Aku nggak perlu jelasin lagi alasannya apa.
Lokasinya ada di beberapa tempat, salah satunya ada di Platinum Fashion Mall lantai 6.


11. MBK Center

MBK Center ini salah satu mall paling terkenal juga di Bangkok, sekaligus salah satu destinasi belanja favorit turis. Orang-orang bilang belanja disini murah, tapi aku pribadi nggak merasa gitu. Menurutku MBK justru mematok harga yang lebih tinggi dibanding Platinum. Bagian luarnya cantik kalau sore, dan dari atas biasanya turis memandang-mandang ke jalan raya yang ada di bawahnya. Oh ya, lokasinya dekat banget sama Siam Discovery.


12. Asiatique

Tempat ini sangat cantik dan memberi kesan mewah. Orang-orang biasa menyebutnya mall terbuka. Banyak toko yang menjual barang-barang yang bagus, tapi menurutku belanja disini bukan pilihan. Harganya bisa dua kali lipat harga barang-barang di Platinum. Harga makanan disini juga jauh lebih mahal dibanding tempat-tempat wisata lainnya. Kalau ingin kencan romantis sambil menikmati beer dengan sungai sebagai pemandangannya, ini tempat yang baik untuk kamu kunjungi di malam hari. Di bagian ujung sebelah kanan ada live band yang sering menyanyikan lagu bahasa Inggris, mengingat ini juga salah satu tempat yang sering dikunjungi bule selain Khao San Road. Tempat ini cukup jauh dari pusat kota, jadi pastikan kamu nggak pulang terlalu malam dari sana.


Other things you should know before you visit Bangkok

1. McD disana menjual bacon, jadi kalau kamu bukan seorang penikmat daging babi, jangan makan di McD. Sekalipun kamu nggak memesan menu dengan bacon, tetap aja mereka memasaknya di wajan yang sama.

2. Pork is everywhere! Jangan heran kalau kamu menemukan penjual babi berkeliaran dimana-mana. Aku sendiri sampai muak gitu sama aroma babi selama disana. Semudah-mudahnya menemukan penjual bakso bakar di kota Medan, lebih mudah lagi menemukan penjual babi bakar di Bangkok. Bahkan ada satu malam dimana aku cuma ngemil babi sebagai makan malamku. Hahaha

3. KFC bukan pilihan. KFC disana harganya sangat mahal dan nggak memuaskan. Kalau harus memilih, aku bakalan milih McD daripada KFC. Oh ya, baik McD maupun KFC disana sepertinya nggak mengenal ukuran small untuk pepsi yang mereka jual. Semuanya berukuran large, setidaknya sejauh yang kuperhatikan.

4. Sabun berbentuk penis dijual di banyak tempat. Aku nggak tau ini memang ada yang beli atau gimana, dan kalaupun ada yang beli, buat apa? Masturbasi gitu?

5. Jangan heran kalau pas kamu sedang ada di toilet perempuan, tiba-tiba ada laki-laki yang masuk. Sepertinya itu bukan pemandangan yang asing disana.

6. Antrean untuk masuk ke toilet di mall-mall di Bangkok sangat baik dan sesuai aturan. Ini salah satu hal yang paling kusuka selama ada disana. Semua orang mengantre di dekat pintu utama, bukan di depan pintu masing-masing bilik. Alhasil, kamu tidak akan pernah didahului oleh orang yang datang belakangan darimu.

7. Crystal adalah merk air mineral paling laris disana. Sebagai penikmat air putih, lidahku cenderung rewel dalam memilih air mineral mana yang menurutku paling baik. Selama disana aku mencoba tiga jenis air mineral, dan air mineral merk Crystal adalah yang paling tidak berasa diantara ketiganya. Menurutku, ini yang terbaik.

Jangan beli yang kanan. Itu yang harganya paling murah, dan rasanya paling tidak enak di lidah. Selain Crystal, ada satu lagi yang cukup masuk akal, warnanya hijau. Tapi aku nggak ada foto, maaf ya. Tapi saranku, beli Crystal aja deh.

8. Grab is not a choice. Sebagai pengguna setia Grab di Indonesia, tentu disana aku juga mencoba menggunakan aplikasi ini dong. Apalagi mengingat selama beberapa kali ke Malaysia atau Singapura, Grab sangat bisa diandalkan. Tapi kenyataannya, di Bangkok hal itu nggak berlaku. Bersoraklah gembira jika kamu disuruh menunggu selama 18 menit sebelum driver datang menjemputmu. Oh, jangan senang dulu. Aku diminta menunggu 7 menit dan kenyataannya, aku harus menunggu hampir 50 menit sampai ia tiba di lokasi penjemputan. Harga Grab disana juga mahal. Satu hal lagi, driver disana cenderung malas. Di malam hari sekalipun (yang sebenarnya nggak macet), mereka akan melewati high way agar bisa tiba lebih cepat. Kalau kita menolak menggunakan jalur high way, mereka akan terus memaksa dan memperlakukan kita seperti orang bodoh, sampai akhirnya kita mengalah sendiri dan mengiyakan permintaan mereka. Biasanya kita membayar 50-70 baht tiap kali melewati jalur high way.

9. Tuktuk pun bukan pilihan yang baik untuk menjadi alat transportasi utama. Harganya mahal, untuk jarak sependek simpang kampus USU ke Pasar Baru saja, mereka bisa memberi penawaran 200 baht (sekitar 91 ribu rupiah) Hampir semua supirnya adalah joki tobat, terutama di malam hari, apalagi penduduk disana juga bukan orang-orang yang sangat menaati peraturan lalu lintas seperti di Singapura. Di Bangkok kita bisa menyeberang dimanapun kita mau, bahkan banyak pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Mirip-mirip Medan laah. Kalau mau nyobain Tuktuk, coba aja, mereka juga paham kalau Tuktuk itu memang lebih difungsikan sebagai daya tarik pariwisata daripada alat transportasi.

10. Bus disana dibedakan atas beberapa warna. Yang kuingat itu cuma merah, kuning, dan biru. Bus berwarna biru adalah bus yang paling mahal sekaligus paling nyaman di antara ketiganya. Pastikan orang yang bertugas mengutip ongkos tau tujuanmu, kalau nggak dia akan meminta uang seharga satu rute penuh. Sebagai kesimpulan, kalau ada satu alasan utama kenapa aku nggak ingin mengunjungi Bangkok kembali, hal itu adalah masalah transportasi umum. Singapura masih yang terbaik.

11. DTAC adalah provider internet yang paling sering digunakan disana, apalagi mereka menyediakan 8 days tourist card, mirip dengan Singtel di Singapura. Untuk pengguna baru, ada potongan 100 baht untuk lima kali pemakaian di aplikasi Grab. Promo ini hanya bisa digunakan di pagi hari, karena kalau sudah agak siang, akan ada error message yang mengatakan bahwa penggunaan promo sudah mencapai batas harian.

12. Buah-buahan disana sangat segar dan menggiurkan. Penjaja jus segar dalam botol ada di segala tempat, dan buah yang paling sering dijadikan jus oleh mereka adalah jeruk, mangga, dan delima.

13. Chang adalah merk beer lokal yang (sepertinya) paling terkenal. Mungkin kalau di Indonesia, Chang itu seperti beer Bintang. Kalau kamu main ke Asiatique, kamu akan melihat sebuah big wheel disana dan di poros big wheel itu ada tulisan "Chang" yang gede banget. Rasanya nggak seenak beer Bintang. Kadar alkoholnya 5%.


14. Satu foto ini akan kamu temui di segala penjuru Bangkok, termasuk di tempat-tempat terpencil dan kurang masuk akal (bahkan mungkin di segala penjuru Thailand) Dia adalah raja Thailand, yang setelah kucari tahu lebih lanjut, telah menikah tiga kali. Hm, apa di kerajaan Thailand pernikahan memang tidak sesakral itu ya? Well, mengingat salah satu putri Thailand adalah seorang atlet, kupikir kerajaan Thailand memang tidak memiliki peraturan seketat kerajaan Inggris atapun kerajaan-kerajaan lainnya.


Akhirnya selesai juga.
Mungkin ini ceritaku yang paling tidak terstruktur dan paling tidak tertata sepanjang masa, tapi aku senang berbagi cerita tentang Bangkok.
Maaf juga kalau bahasanya masih dicampur-campur, karena sebenarnya menuliskan sesuatu semacam ini bukan zona nyamanku sama sekali.
Apapun itu, aku sadar memang sejak awal aku bukan sedang menulis tutorial jalan-jalan ke Bangkok (kelihatan kan dari judulnya?), jadi kalau hasilnya cenderung kacau dan ada beberapa bagian yang tidak disertai gambar pendukung, harap maklum.
Terima kasih secara khusus untuk Yuni yang dengan sabar menunggu aku yang cenderung lambat dalam segala hal; mandi, poop, beres-beres, bahkan saat teduh dan berdoa pun aku lambat.
Terima kasih juga untuk semua fotonya hehe :)
Jangan jera main jauh sama aku ya!

Masih ada beberapa hal yang bisa kuceritakan dari Bangkok, misalnya tentang penginapanku yang menurutku adalah salah satu tempat terbaik sekaligus termurah yang pernah kutinggali, ataupun kenyataan kalau selama disana aku sering dikira orang Filipina.
Mungkin akan kuceritakan di lain waktu.

Sampai jumpa, kamu yang dikasihi-Nya!
:)

4 comments:

  1. Prok prok prokk.
    Terlepas dari perasaan penulis bHwa tulisannya tdk tedlalu trstruktur dibandingkan bila dia mnulis dia disuruh mnulis novel, aku salut sm penulis ini. HhHa

    Seperti seseorang yg udh beberapa x ke Thailand. Salut sama penjelajahannya yg terlihat matang sekalipun tdk sekali dua kali kecewa dgn hal2 disana. Hahah. Kayaknya Maya ga ada pngalaman tersesat disana ya haha.
    Aku mikir juga "kok bisa Maya jg dapat tempat penginapan yg cukup baik pdhl ith tempat asing��"
    Terus, ternyata ga terlalu mahal disana ya. Maksudku, nilai tukar Bath/Rupiahnya ga mahal2 amat wkwkw.

    Ini pertanyaan sensitif. Siapa tahu ada abang2 yg mau mendonasikan bonusnya utkku jalan2 nanti.
    Kena berapa duit disana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Winda!
      Iya selama disana nggak ada nyasar sama sekali, soalnya aku udah riset sejak Februari. Udah buat draft di Excel tempat apa yang mau dituju, dan gimana menuju kesana.
      Intinya kalau mau jalan-jalan ke tempat yang baru, harus rajin riset aja sih.
      Masalah penginapan yang murah dan bagus, hahahaha, iya, itu benar-benar puji Tuhan banget ♥️

      Iya nilai tukarnya lumayan rendah, waktu aku pergi kursnya 1 baht = 454 rupiah gitu.
      Tapi aku juga ada tukar sedikit uang disana, harganya hampir 800 rupiah -.-
      So kalau jalan-jalan pastikan bawa uang cukup ya, jangan tukar disana.
      Mungkin karena aku tukarnya juga di airport makanya semahal itu ya.

      Masalah habis berapa, PC aja deh. Nggak enak ngomong di ruang publik hehehe

      Delete
  2. Kereeeenn. Aku bs mengerti kok, walaupun aku blg ga trstruktur nang. I got so many usefull information from this.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lebih mirip jurnal nggaksih? Hahaha
      Nggak bakat banget aku memang jadi travel blogger haha
      Thank God if you find it useful nang, semoga ada kesempatan ngebaca ulang kalau next time kesana ya hehehe

      Delete