Tuesday, 23 April 2019

Kebohongan - Kebohongan Galib dan Intimidasi yang Mengiringnya

Berapa orang di antara kita yang turut merasakan gairah April Mop?
Mungkin tidak banyak, mengingat itu bukan budaya kita.
Perayaan April Mop di banyak negara di dunia merupakan suatu bentuk perizinan tidak resmi untuk berbohong ataupun mengolok-olok seseorang tanpa perlu merasa bersalah. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempermalukan orang yang berhasil masuk ke dalam perangkap kebohongan ataupun olok-olokan itu.

Tiga bulan terakhir, aku banyak berinteraksi dengan orang lain. Aku bertemu dengan banyak orang, berbincang dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, dan berdoa bersama mereka. Pada banyak kesempatan, tidak jarang itu adalah satu-satunya bantuan yang bisa kuberikan. Tiga bulan terakhir, aku menemukan sebuah fakta pahit namun valid; kehidupan kita ternyata begitu erat dengan kebohongan.

Hari ini, aku sedang tidak ingin mengajakmu untuk merenungkan bagian ini dari sudut pandang seorang pembohong. Sebaliknya, aku ingin mengajakmu berbincang dari sudut pandang orang yang dibohongi. Kamu mungkin salah satunya. Aku juga.

Kamu yang sedang membaca ini mungkin sedang mengalami keterpurukan akibat penolakan bertubi-tubi dari setiap kantor atau instansi yang kepadanya kamu menjatuhkan lamaran pekerjaan. Kamu mengikuti berbagai seleksi, dan sebanyak apa kamu mengikuti seleksi, sebanyak itu pula kamu menelan kekecewaan atas penolakan, sementara orang-orang di sekitarmu sudah kerap kali bertanya, "Baru pulang kerja?", tiap kali kamu pulang lebih malam dari biasanya.

Kamu yang sedang membaca ini mungkin sedang diliputi rasa gundah dan duka karena pesan panjang penuh kerinduan yang kamu kirimkan tak kunjung mendapat balasan dari orang yang menerimanya. Pesannya sudah dibaca, hanya saja tidak ada tanda-tanda kamu akan menerima balas sapa.

Kamu yang sedang membaca ini mungkin sedang menangis tersedu di sudut kamarmu sehabis bertengkar dengan ibumu, meratapi kemalanganmu sendiri yang selama ini menjalani kehidupanmu sebagai seorang anak yang ditolak.

Kamu yang sedang membaca ini mungkin sedang mengingat sindiran-sindiran kecut ataupun komentar-komentar pedas yang secara sengaja ditujukan kepadamu.
"Eh gendutan ya sekarang."
"Kurus banget sih, kaya' penyakitan gitu."
"Eh warna bajunya norak gitu, kampungan banget ya hahaha"
"Rambut keriting gitu pasti susah ya diurusnya? Terus kan kesannya nggak sehat gitu, nggak terawat."
"Kok makin hitam kau kutengok? Dekil, kaya' nggak terurus gitu."
"Hai, jelita. Jerawat lima juta. Hahaha"
"Eh belum tamat juga? Sepupuku yang kuliah di Ilkom juga bisa kok tamat cepat. Cumlaude lagi."
"Udah tamat berapa lama kok belum kerja juga ya? Ketinggian kali standarnya."
"Eh kau belum kerja tapi kok sering kali kutengok update story di Instagram? Sebenarnya kau ada cari kerja nggak sih? Kaya'nya kau memang nggak usaha laa cari kerjaan."
"Ish sayang kali jurusan Ilkom kerjanya disitu, nggak terpakai laa ilmunya."
"Eh kau udah lama kerja kok nggak nikah-nikah? Nggak laku ya?"
"Udah berapa lama kalian nikah? Kok belum 'isi' juga? Coba cek laa ke dokter, entahnya kau atau suamimu nggak sehat."
Etc.

Kamu yang sedang membaca ini mungkin telah memutuskan untuk tidak menikahi siapapun, apalagi menjadi seorang ibu, karena kamu punya ketakutan tidak akan mampu menjadi ibu yang baik, mengingat kamu juga tidak pernah dididik oleh sosok ibu yang baik.

Kamu yang sedang membaca ini juga mungkin sedang sangat giatnya menata kehidupanmu sedemikian rupa agar selalu terlihat bahagia, sempurna dan tanpa masalah pada kacamata orang-orang yang melihatnya.

Sudikah kamu berkata "setuju" jika kukatakan bahwa beberapa hal yang kusampaikan di atas tidak jauh dari kebohongan semata?

Penolakan, pengabaian, sindiran, ejekan, cercaan, kritik, kepahitan dari masa lalu, tuntutan untuk selalu menunjukkan sisi terbaik dari dirimu akan cenderung membuatmu kelelahan, kehabisan energi, kehilangan kepercayaan diri, tertekan, merasa tidak berharga, bodoh, bahkan mungkin ada pada kasta yang sama dengan seonggok sampah.
Kita sering sekali merasa bahwa tidak ada satu tempat atau satu orang pun di muka bumi ini yang menginginkan kita.
Kita mungkin bergabung dalam barisan orang-orang yang akan terlebih dahulu dimusnahkan jika Thanos benar-benar ada.
Mengapa?
Karena kita tidak berharga.
Karena kita bodoh.
Kita sampah.
Kita tidak bernilai.
Kita minim kemampuan.
Bukannya menguntungkan, keberadaan kita justru membawa kerugian di tengah-tengah dunia ini.
Karena itulah kita pantas dimusnahkan.
Karena itulah kita pantas menghilang.
Atau setidak-tidaknya, mati dalam usia yang sangat muda tanpa melekat dalam ingatan siapa-siapa.

Bohong besar!
Dan kamu tahu kemana semua kebohongan galib ini berujung?
Kepada sebuah kata yang akrab disebut dengan intimidasi.

Iblis itu ahlinya membuatmu merasa rendah diri dan valueless.
Dia yang paling tahu caranya meyakinkanmu untuk meletakkan identitasmu pada sesuatu yang fana.

Kamu yang terlalu takut terlihat jelek tanpa make up, kamu mungkin sedang dalam perjalanan meletakkan identitasmu pada penampilan fisikmu saja.
Kamu yang workaholic, kamu mungkin sedang dalam perjalanan meletakkan identitasmu pada karirmu.
Kamu yang tidak bisa hidup tanpa perhatian dari seorang lawan jenis di sisimu, kamu mungkin sedang dalam perjalanan meletakkan identitasmu pada sebuah relasi antar manusia yang bisa kandas kapan saja.
Kamu yang selalu berusaha untuk terlihat bahagia dan tanpa cela, tidak lelah?

Beberapa waktu yang lalu, aku sakit dan diopname.
Waktu rasanya bergerak sangat lambat, aku ingin cepat-cepat kembali ke kantor dan berkutat dengan pekerjaanku yang menyenangkan dan tak jarang menyebalkan.
Sampai kemudian di suatu siang Tuhan berkata, "May, pekerjaan itu siapa yang berikan? Apa kau mulai meletakkan identitasmu, sukacitamu, pada sesuatu di luar Aku?"
Sebuah tamparan manis dari Allah Pemilik semesta kepada putri kesayangan-Nya.

Pada akhirnya, Iblis selalu mendorongmu untuk bergantung kepada sesuatu atau seseorang selain Allah.
"Kau nggak bisa hidup tanpa A."
"Jadi apa kau kalau nggak ada A?"
"Kau harus punya A supaya hidupmu enak."
"Kau harus melakukan A dulu supaya hari-harimu terasa lengkap."
Lucunya, dia bahkan pernah mengintimidasiku bahwa Tuhan tidak tertarik mendengar doaku. Tuhan akan mendengar doa PKKku aja. Jadilah aku bergantung sama PKKku, bukan sama Tuhan. Miris, bukan?

Iblis
Kau boleh bergantung terhadap apapun atau siapapun, kecuali Tuhan.

Tuhan
Kau tidak boleh bergantung terhadap apapun atau siapapun, kecuali Aku.

Kira-kira, mana yang lebih gampang?

"Bergantung sama apa aja deh, yang penting bukan Tuhan. Karena kalau kau udah bergantung sama Tuhan, aku kalah telak. Nggak ada lagi celah untuk memenangkanmu."
Kalau iblis punya otak, mungkin itu kira-kira isi otaknya.
Makanya hati-hati, awas.
Lihat sekelilingmu, perhatikan dirimu.
Siapa yang pertama sekali kamu cari ketika ada sesuatu yang menimpamu?
Ingat, kita memang tidak bisa hidup tanpa orang lain, tapi kita pasti bisa hidup tanpa seseorang itu.
Hanya yang pasti, kita tidak bisa hidup tanpa Allah.

Biar kuceritakan sebuah rahasiaku padamu.
Di sepanjang Maret, bahan saat teduhku diambil dari kitab Yakobus.
Kamu yang pernah membacanya mungkin sudah tahu bahwa gambaran besar dari kitab Yakobus berbicara tentang perbuatan baik dan benar sebagai wujud iman yang sejati.
Kamu yang pernah membaca ini juga harusnya tahu bahwa aku pernah melakukan sebuah dosa besar di masa lalu yang secara otomatis merusak track recordku sebagai seorang perempuan Kristen.
Bulan Maret kulalui dengan banyak tangisan.
Demikian aku menuliskannya di catatan pribadiku.
15 Maret 2019 - Saat teduh hari ini bicara soal iman dan perbuatan lagi. In the end, semuanya bicara tentang iman seorang manusia yang terukir indah melalui perbuatan-perbuatannya serta semua hal yang dia lakukan. Dan udah sewajarnya seorang yang menyandang status sebagai Kristen dituntut untuk bersikap dan berperilaku lebih suci dibanding yang lainnya. Semakin banyak kita bicara tentang Allah, semakin banyak mata yang siap mengamati segala bentuk gerak-gerik kita. Karena itulah seorang Kristen selalu dituntut untuk taat, taat, taat. Cara hidup kita yang barbar dan sembronoan bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Somehow aku sedih kalau mendengar tentang bagian ini. Aku pasti teringat lagi sama dosa-dosaku di masa lalu. Ya, semuanya udah diampuni sama Tuhan. Tapi terkadang nggak bisa dipungkiri, iblis selalu berusaha datang mengintimidasi. Mengingatkan aku akan dosaku lagi, membuatku menangis lagi. Sekarang rasanya takut menuliskan apapun, berbagi apapun. Pemikiran-pemikiran takut dianggap munafik dan kacau itu sering datang menghantui. Tuhan, aku rindu menulis. Berbagi ide. Berbagi hidup. Tapi intimidasi itu sering datang, aku sering merasa sangat tak pantas membicarakan sesuatu dengan lantang, apalagi kalau yang menjadi topik cerita adalah Dia yang akan kembali datang.
Tentu aku sadar benar, ini akal-akalannya si iblis karena aku sudah menang. Aku sadar betul. Tapi kadang hati ini begitu lemah. Oh Tuhan, seandainya dan seandainya. Seandainya saja tak pernah kulakukan yang demikian, mungkin sekarang aku bisa jauh lebih leluasa menulis tentang Tuhan. Aku sedih dengan perilakuku sendiri. Sedih karena pernah mengambil sebuah langkah bodoh yang merusak track recordku sendiri. Kadang kalau lihat kak San, Winda, Yuni, Jeklin, dan banyak temanku lainnya, I feel like I’m too dirty comparing to them. Oke, aku nangis-nangis ketika menuliskan ini.
Tuhan, bukannya aku sedikit mensyukuri pertumbuhanku sekarang. Bukannya aku kurang mensyukuri hubungan kita sekarang. Bukannya aku kurang mensyukuri pengampunan yang kuterima sampai sekarang. Tapi kadang hati ini begitu lemah. Kalaulah dan kalaulah. Kalaulah aku nggak merusak track recordku sendiri, kalaulah aku bisa menjaga martabatku sebagai seorang perempuan yang sepatutnya berlaku anggun, terhormat dan elegan, kalaulah.
Hari ini ketika membaca tentang iman dan perbuatan, aku nggak berani meminta banyak hal sama Tuhan. Nggak minta supaya bisa menunjukkan iman melalui perbuatan, atau apapun itu. Rasanya aku memang nggak punya daya lagi berbuat benar. Apapun yang kulakukan semenjak hari itu terasa sebagai sesuatu yang onar. Tuhan, aku cuma minta satu hal. Aku minta Tuhan menguatkan hatiku setiap hari. Aku merasa iblis nggak bosan-bosannya mengintimidasi aku, mengecilkan aku, membuatku terus-menerus merasa berdosa dan hina. Dia nggak lelah, Tuhan. Dia nggak lelah sama sekali. Apa yang ada di otaknya hanyalah berupa usaha-usaha nyata untuk membungkamku, supaya aku berhenti menulis atau bercerita tentang-Mu. Sungguh, Tuhan. Sungguh aku tau dengan sungguh bahwa pengampunan-Mu bersifat utuh dan penuh. Sungguh aku tau. Tapi kadang hati ini begitu lemah. Kadang pikiran ini begitu liar berkelana. Bertanya ini dan itu, merenung ini dan itu, menerka ini dan itu, lalu kemudian berujung dengan pilu.
Bisakah kamu rasakan intimidasi yang mengungkungku waktu itu?
Sewaktu aku bercerita di KTB, Nanda bilang, "Bahan saat teduh kita sama, tapi aku nggak diintimidasi. Udah kaya' Tuhan Yesus kau, May, diintimidasi iblis pakai firman. Kenapalah coba nggak aku yang diganggunya? Bukan kurang buruk masa laluku. Karena aku nggak akan menuliskannya kaya' kau."

Oh, iya.
Nanda benar.
Akhirnya aku makin sadar, aku nggak boleh kalah dong.
Aku nggak mau kalah laa.
Anggap aja ini ujian kenaikan kelas, dicobai dengan cara yang sama dengan pencobaan terhadap Tuhan Yesus.
Nggak nanggung, iblis pakai firman!
Semakin aku diintimidasi, semakin tekun aku berdoa, semakin rajin aku baca Alkitab.
Aku ingat apa yang dituliskan pada Ibrani 1 : 3
..Ia (Yesus) menopang segala yang ada dengan firman-Nya..
Setiap hari aku berdoa, setiap kali pula aku menangis di dalam doa.
Sampai akhirnya hatiku kembali diliputi kedamaian dan sukacita yang melimpah di dalam Dia.
Bersyukur lagi atas Allah yang Maha Pelupa akan dosa.

Terkadang kita bahkan tidak membutuhkan iblis untuk merasa terintimidasi.
Seringkali kitalah penyumbang terbesar atau tersangka utama dalam rasa intimidasi itu.
Bukannya menjauh, kita malah bergerak mendekatinya.
Padahal firman Tuhan dalam Yakobus 4 : 7 - 8 berkata, "..lawanlah iblis,.. Mendekatlah kepada Allah,.."
Melawan iblis itu artinya menolak secara sadar, aktif, dan terus-menerus.
Maka kalau ada yang bertanya, "Gimana caranya lepas dari rasa intimitasi yang merongrong kita?", jawabannya sebenarnya sangat sederhana; Melekatlah dengan Allah melalui firman, doa yang penuh kejujuran, dan persekutuan dengan sesama orang percaya.
Tenang, dalam perjuangan ini, kamu tidak sendirian.

Kunci dari kehidupan yang berhikmat dan jauh dari intimidasi yang bersumber dari kebohongan-kebohongan galib adalah kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri.
Berdamai dengan segala keinginan, ambisi, hawa nafsu, pikiran, perkataan, perbuatan yang menyimpang dari master plan Allah.

Tentang orang-orang yang merendahkanmu selama ini?
Abaikan mereka.
Untuk apa memusingkan orang yang menghina pakaian yang kamu beli dengan jerih lelahmu sendiri sementara untuk membeli pakaiannya sendiri dia masih menadahkan tangan kepada ibunya?
Kamu fashionable bukan karena dia menganggapmu fashionable.
Untuk apa memusingkan orang yang mengatakan tubuhmu terlalu kurus atau gemuk sementara makan sebutir nasi pemberiannya saja pun kamu tak pernah?
Kamu bukan sampah hanya karena dia menganggapmu sampah.
Bahkan pahit-pahitnya, sekalipun kamu memang sampah, jangan lupa, kita hidup di jaman dimana sampah sekalipun sudah ada nilainya.
Kamu tidak murahan hanya karena dia menganggapmu murahan.
Kamu tidak kampungan hanya karena dia menganggapmu kampungan.
Kamu bernilai bukan karena dia menganggapmu bernilai.
Kamu diciptakan indah, segambar dan serupa dengan Allah.
Dan camkan ini, Tuhan tidak akan membuatmu berkunjung ke bumi selama beberapa puluh tahun tanpa memberimu modal untuk berkarya disana.
Temukan modal itu!

Tiap kali seseorang memandangmu rendah dan pandangan itu mulai membuatmu merasa kecil, atau tiap kali kamu disalahpahami dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri, pikirkan ini.
"Kalau kau mendapat kasih karunia Tuhan, pemikiranmu akan diubahkan. Kau akan sadar bahwa penghinaan terhadapku adalah penghinaan terhadap Allah yang kusembah. Olok-olokan terhadapku adalah olok-olokan terhadap Pemegang kendali penuh atas semesta. Hati-hati lho! Tapi, seandainya pun pemikiranmu masih terlalu bebal untuk berubah, nggak masalah. Aku juga nggak rugi sama sekali."

Ijinkan aku mengutip salah satu dialog yang paling membekas di hatiku saat menonton film Captain Marvel.
I have nothing to prove to you.
Kamu yang sedang membaca ini, kupastikan sekali lagi bahwa Allah sendiri yang memilihmu untuk membaca bagian ini.
Aku tahu karena aku telah terlebih dahulu berdoa untukmu.
Kamu dipilih karena Allah tahu kamu membutuhkannya.
Bisa jadi sekarang, bisa jadi di hari depan.
Bisa jadi untukmu sendiri, bisa jadi untuk orang lain yang butuh kamu kuatkan.
Dengarkan aku, sayang.

Kamu adalah apa yang Allah pikirkan tentangmu.
Bukan apa yang kamu sendiri pikirkan, bukan pula apa yang orang lain pikirkan.
Bukan juga perihal tanggapan apa yang dunia berikan.
Sungguh.
Kamu adalah apa yang Allah pikirkan tentangmu.
Mengapa?
Karena Dia satu-satunya Pribadi yang mengenalmu dalam dimensi yang paling sempurna.
Maka kejarlah citra yang baik di mata Allah, karena citra yang baik di mata manusia juga akan mengiringnya.
Fokuslah pada apa yang terbaik, bukan hanya sesuatu yang sekedar baik.
Perkenanan di hadirat Allah jauh lebih berharga dibanding perkenanan di hadapan manusia.
1 Korintus 4 : 3 - 5 (FAYH) "Bagaimana halnya dengan saya? Apakah saya seorang hamba yang baik? Pendapat Saudara mengenai hal ini, atau pendapat orang lain, bahkan pendapat saya sendiri pun, tidaklah menjadi soal bagi saya. Saya merasa hati saya bersih, tetapi itu pun bukan bukti yang mutlak. Tuhan sendirilah yang akan memeriksa saya dan menentukan apakah saya seorang hamba yang baik atau bukan. Karena itu, sebelum Tuhan datang kembali, janganlah cepat-cepat menarik kesimpulan mengenai apakah seseorang merupakan hamba yang baik atau bukan. Pada waktu Tuhan kembali, Ia akan membawa terang, sehingga semua orang dapat dengan jelas melihat keadaan masing-masing sampai jauh di lubuk hati kita. Maka semua orang akan tahu mengapa kita melayani pekerjaan Tuhan. Pada saat itulah Allah akan memberikan kepada setiap orang pujian yang patut diterimanya."
Pada akhirnya, selamat menikmati kehidupan sebagai orang yang merdeka dari rasa intimidasi dalam bentuk apapun karena sudah terpenjara oleh cinta kasih-Nya.
Kisah Para Rasul 16 : 23 - 25 "Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka."

21 comments:

  1. Entah kenapa, tiap tulisanmu yang ku baca selalu berhubungan dengan apa yang lagi ku rasakan dan ku perjuangkan, karena udah kw doakan mungkin ya untuk semua pembacamu biar Tuhan yang pilih, ku rasa beberapa orang jaga ada mengalami hal yang sama denganku ketika membaca tulisanmu.

    Baru2 ini aku belajar tentang Perlengkapan rohani, ya tiap detik dalam hidup itu sebenarnya peperangan rohani, peperangan melawan si iblis yang selalu cari celah dan menunggu kapan waktu tepat menyerang kita.

    Kemarin si iblis menyerang aku, menipu aku, pake Firman pulak itu, dikelabuinya aku, tapi untung aku sadar kalo aku sedang ditipu dan diintimidasi, dan langsung bangkit, dan mungkin beberapa orang jg merasakan kemenangan yang luar biasa hebat ketika bisa berhasil menang dari intimidasi dan tipuan si iblis.

    Itulah kira2 yang terpikirkan ku saat baca tulisan mu may, aku sulit menuangkan pikiran dalam tulisan hahaha

    Semangat terus menulis lady.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah membaca, bang Nepen!
      Selamat menantikan cerita-ceritaku yang lainnya ya :)

      Delete
  2. Memang matang kali kau kalau menuliskan sesuatu ya dek. Butuh waktu ntah berapa lama kau research, merenung, merasakan baru bisa menuangkannya dalam tulisan.

    Anyway, lumayan lepas la rasa rindu baca tulisanmu dek. Memang buat penggemar tulisanmu harus sedikit bersabar untuk bisa baca tulisan se-epic ini.

    Teruslah menulis dan memberkati dek.

    🤗🤗🤗🤗🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak Santi yang selalu mendukung pengembangan bakat adik-adiknya ��

      Delete
  3. Terimakasih untuk tulisannya.
    Saya terberkati.
    Demikian saja yg mau saya sampaikan.
    Tetaplah berkarya, anak Tuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata kak Fajar juga pembaca ��
      Terima kasih sudah membaca kak!

      Delete
  4. maya, here i am yang akhirnya berjuang dengan PC kantor untuk membaca dan meninggalkan jejak disini (karna ada waktu senggang yang tidak kebetulan)
    terimakasih untuk tulisanmu may yang selalu kunanti. selalu! dan bagian ini bagian yang banyak menyentuhku lagi. ketika aku membaca tulisan ini. ada banyak part yang aku bilang sama diriku sendiri "iya betul kali" "hmm, pas kali" "hmm, may kok sama yg kita renungkan dan alami ya?" bagian saat teduhmu itu juga adalah bahan saat teduhku dan aku jg terintimidasi. wkwkwkwk. aku kembali mengingat betapa beratnya ketika kita di intimidasi. betapa tertekannya ketika di intimidasi iblis dan rekan rekannya dan 1000% benar klo kita ternyata juga adalah adalah tersangka utamanya dalam mengintimidasi diri. bulan februari dan maret adalah bulan yang penuh intimidasi untukku. ngeri lah pokoknya.

    Bagian yg mengandalkan PKK atau orang lain itu pun kualami may. dan bersyukur juga segera Tuhan ingatkan klo itu adalah intimidasi dan penolakan akan keberadaan Tuhan. hingga aku blg sama Tuhan, "Tuhan, aku capek mengandalkan orang lain. aku capek memikirkan penilaian orang lain, aku mau apa kata Tuhan dan penilaian Tuhan" dan aku lega. hahahha. aku bersyukur untuk tulisanmu ini ibuk penulis, ini menguatkanku, ini menolongku, dan memberkatiku.
    teruslah menulis may dan jadi berkat untuk banyak orang melalui tulisanmu.

    klo terintimidasi lagi kau may, perintahkanlah dia untuk enyah darimu. karena kau pun punya kuasa untuk itu. semangat may. lopelopelah untukmu.

    btw, ada loh tulisanmu yang dulu dulu yang masih nanggung may. hahahha. aku masih menantikan cerita itu ya. cok cek lagi nanti, keknya itu tulisan tahun 2016/2017. hahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya keluar juga dari persembunyianmu sebagai sider ya nang hahaha

      Oke siap!
      Nanti aku usir cantik iblisnya hehe

      Oh, kaya'nya aku tau tulisan yg kau maksud.
      Nanti itu jadi buku aja kali ya?
      :D

      Delete
  5. Mulai tadi malam aku ngga berhenti mengintimidasi diri ku sendiri
    Lanjut ke tadi pagi
    Dan terus berlanjut sampai aku baca tulisan kakak
    Aku berhenti
    Lebih tepatnya tertegun
    Setetes demi setetes air mataku jatuh
    Setelah sekian lama aku mati rasa, sampai2 bahkan kesedihan ku pun tak lagi ku rasakan


    Aku bersyukur
    Setidaknya aku bisa merasakan sesuatu hari ini, ngga kayak kemarin saat semuanya hambar
    Meski aku masih berjuang
    Gatau mau berbuat apa
    Entahlah
    Ekspektasi diri ku sendiri dan ekspektasi orang lain yang begitu sempurna dan tinggi
    Semua itu mengikat ku, membuat ku ngga bisa bergerak, membuat ku mati rasa, membuat ku 'kelelahan'


    Thankyou kak
    Setidaknya aku tau apa yang sedang terjadi sama diri ku sekarang
    'Dosa kesayangan yang di sebut intimidasi'
    Setidaknya aku tau aku sedang berhadapan dengan apa dan tau harus mengandalkan Yesus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice!
      Sadar dulu sedang dalam kondisi apa, supaya tau solusinya apa.
      Selamat berjuang de!
      Aku berjanji untuk mendoakanmu :)

      Delete
  6. Itu yang seringkali kurasakan, terintimidasi... Seringkali berpura2 hebat, kuat tapi sbnrnya aku yakin sekuat itu 😥. Sering mengejar kesempurnaan yang melukai diriku sendiri, tulisan ini mengingatkan ku bahkan menamparku ..

    Terimakasih buat tulisnamu ya ka may..

    Terus berjuang dan jadi berkat lewat tulisan Kaka. ❤️

    ReplyDelete
    Replies

    1. Itu yang seringkali kurasakan, terintimidasi... Seringkali berpura2 hebat, kuat tapi sbnrnya gak sekuat itu 😥. Sering mengejar kesempurnaan yang melukai diriku sendiri, tulisan ini mengingatkan ku bahkan menamparku ..

      Terimakasih buat tulisnamu ya ka may..

      Terus berjuang dan jadi berkat lewat tulisan Kaka. ❤️

      Delete
    2. Terima kasih sudah membaca, de!
      Semoga ada kesempatan untuk kita berbagi cerita sambil bertatap muka ya :)

      Delete
  7. Cerita unik sbelum aku baca tulisan ini. Di kantor rncana mau pulang cpat tdur cpat krna udh lelah bbrapa hari krja lembur bagai kyuda. Trus waktu di kamarku tiba2 aku dengar suara dari drama korea. Aku yg iseng prgi ke kamar oca yg 2 kamar di dpan kamrku, krna pikirku pasti oca yg nonton. Soalnya anak itu emng sring kali nonton drama klo lagi bosan. Dan trnya bkan dia yg nonton drama. Dan aku lbih teliti lagi mncari sumber suara trnyata itu kamar dpanku. Trus aku brtanya pda oca. Jdi ko ngapain ca? Trus di ksih tunjuk tulisan ini. Ku baca, dan aku adalah org yg trintimidasi krna dosaku.aku marasa org yg tak brguna dan tak tau diri ketika Tuhan mmberikan sgalanya padaku. Aku malah tak memberikan apapun yg Tuhan inginkan driku.aku mnyadarinya namun aku mrasa kosong. Tapi mmbutuhkan ssuatu yg mmbuatku mnyadari di luar Tuhan aku hanya manusia bodoh yg tanpa arah. Smpai ku baca tulisan yg mnguatkanku. Dan yg mmbuat mnyadari Tuhan trut brkerja dlama pemuliahanku. Dan itu begitu frontal mngatakannya "Kamu yang sedang membaca ini, kupastikan sekali lagi bahwa Allah sendiri yang memilihmu untuk membaca bagian ini.
    Aku tahu karena aku telah terlebih dahulu berdoa untukmu.
    Kamu dipilih karena Allah tahu kamu membutuhkannya." Aku brsyukur atas kmurahan hati Tuhan yg mngingat aku yg sudah mnjadi sampah ktika di luar dripadaNya 😭

    ReplyDelete
  8. Kak may, makasihh yaaa untukk tulisannya, wihh aku terberkati 🥰 pas bacaa tulisan kakak jugaa haha senyummm senyumm sendiri kek orang bodo tadi aku kak, dalam hati bilang:"iyaa pernah akuu dulu kek gini".

    Boleh donk yaa kak, sharee ke temankuu, setelah bacaa tulisan kakak, akuu teringatt juga ke temankuu yang sampee sekarang terintimidassii sama perkataan dari orang orang sekitarsekitarnyaa dan mama nya juga, hampir setiap waktuu diaa cerita tentang problemnya kak. semogaaa membacaa tulisan kaka bisa jadi berkatt dan penguatan sama dia kak dan bukan di aku saja.

    Makasih kakkk 💕 😁🥰🥰

    ReplyDelete
  9. Udah lama disuruh baca, dan baru sempatnya skrg. Terima kasih kak, tulisanmu sangat memberkati.♥

    ReplyDelete
  10. Wahh, setelah sekian lama gak baca tulisanmu nang... Aku sadar kembali apa yg msh kurang kulakukan. Makasih ya, lewat tulisanmu aku ingat kembali...

    ReplyDelete
  11. 😭, This make me crying....
    Intimidate sometimes so sick!

    ReplyDelete