Sunday, 30 December 2018

Tentang Kesempurnaan


Pada sebuah garis waktu, aku pernah jatuh cinta kepada seseorang.
Dulu, kami sering berbincang dan berbagi pikiran tentang banyak hal.
Ia akan melihat dari sebuah sudut pandang, aku akan melihat dari sudut pandang yang cenderung berbeda.
Menariknya, kami selalu menemukan titik temu dalam setiap diskusi kami.
Selalu.

Sampai suatu ketika, aku lupa tepatnya kapan, mungkin sekitar Oktober atau November tahun lalu, ia datang dengan sebuah pertanyaan sederhana.
“May, kalau orang yang udah percaya Kristus bunuh diri, masuk surga nggak?”
“Kalau udah percaya Kristus harusnya nggak akan bunuh diri, sekalipun ada keadaan-keadaan dimana pikiran untuk melakukan itu muncul, tapi seharusnya nggak sampai kepada percobaan untuk melakukannya kan. Kenapa?”
“Aku mau meyakinkan pemikiranku aja. Kalau matinya nggak sengaja, masuk surga nggak?”
“Contohnya?”
“Ya ngebut-ngebut aja di jalan, tunggu sampai ada yang nyambar, terus mati. Kan nggak bunuh diri.”
“Tapi kan tetap aja niat awal melakukannya untuk bunuh diri. Nunggu disambar kan?”
Pembicaraan itu berlanjut tentang beberapa masalah yang terjadi, mengapa pikiran kurang baik itu bisa terpikirkan olehnya, sampai ia tiba pada kalimat,
“Dia Tuhan yang pasti bisa melewati apapun, May. Dia sempurna.”

Aku nggak pernah mencari tahu apa yang terjadi dengannya saat ini.
Aku nggak pernah mencari tahu di kota mana dia berada saat ini, apa pekerjaannya, terutama, apakah konsep yang sama masih melekat dalam pemikirannya saat ini.
Tapi dimanapun itu, Tuhanku yang mengasihiku akan melindunginya :)

Hari-hari berlalu dan aku makin menyadari bahwa begitu banyak orang Kristen punya konsep yang sama.
Tuhan Yesus adalah Allah yang bisa menanggung apapun karena Dia sempurna.
Bahkan pernyataan paling menggelitik yang pernah didengar adik kelompokku dari seseorang yang sharing dengannya berisi,
“Waktu Tuhan Yesus di kayu salib, Dia harus melepaskan ke-Allah-an-Nya supaya bisa merasakan rasa sakit yang sempurna.”
Edan.
Jadi maksudnya, ke-Allah-an Tuhan Yesus membuat-Nya gagal untuk merasakan rasa sakit yang seharusnya Dia rasakan di kayu salib?
Konyol.

Mengapa kita mudah menerima konsep kasih Allah sempurna, kebaikan Allah sempurna, pengampunan Allah sempurna, tapi kemudian berlaku tidak adil terhadap-Nya dengan enggan berpikir bahwa kesempurnaan-Nya juga membuat Ia harus menanggung rasa sakit yang sempurna?
Aku percaya bahwa kesempurnaan Allah menyentuh segala hal, termasuk rasa sakit yang Ia harus tanggung.
Kesempurnaan-Nya tentu membuat-Nya menanggung rasa sakit dalam kadar paling sempurna.

Pada hari-hari dimana hatiku paling patah dan pecah, seringkali aku bersedih dan menyesali keadaan mengapa orang yang kucintai tidak bisa mengenali sebesar dan seluas apa cintaku untuknya. Betapa banyaknya ia menyita hati, pikiran, dan doa-doaku. Mengapa tidak ada yang mengerti, Tuhan? Mengapa hanya kak San satu-satunya orang di muka bumi ini yang bisa mengerti itu?
Ada banyak malam dimana aku berlutut di hadapan Allah sambil menangis untuk mengisahkan cerita yang sama terus-menerus. Pada malam-malam itu pula Allah membelai lembut rambutku dan mengusap kepalaku, berkata lembut dengan mata-Nya yang berkaca-kaca, “Putri-Ku, bukankah Aku yang lebih dulu merasakannya? Bukankah Aku yang lebih dulu mencintai seisi dunia dan dunia yang gagal mengenali cinta-Ku? Bukankah Aku yang paling mengerti perasaanmu saat ini dalam dimensi paling sempurna?”
Aku tersenyum.
“Ah, Tuhan. Betapa kecilnya kesedihan hatiku dibandingkan kesedihan-Mu, ya.”

Sewaktu aku disalahpahami, tulisan-tulisanku dianggap dengan sengaja menyakiti, aku dianggap mengeraskan hati, tidak tahu diri, hatiku sangat sedih dan aku banyak menangis.
Tapi waktu itu Tuhan bilang, "Sayang, bukankah Aku yang paling tahu rasanya disalahpahami? Dituduh? Tiap kali Aku seakan terlambat menolong manusia dalam kesusahan-kesusahannya, apa yang manusia katakan? 'Tuhan dimana Engkau? Mengapa Engkau meninggalkan aku?' Manusia seketika menjadi amnesia akan semua hal yang pernah kulakukan untuknya. Aku disalahpahami, Aku dituduh, oleh orang-orang yang paling Ku-cintai. Bukankah Aku yang paling mengerti perasaanmu saat ini dalam dimensi paling sempurna?"
Aku tersenyum lagi.
“Ah, Tuhan. Betapa kecilnya kesedihan hatiku dibandingkan kesedihan-Mu, ya.”

Pernah suatu kali aku ditinggalkan oleh orang yang paling kucintai di muka bumi. Paling kucintai sekaligus paling kubutuhkan waktu itu. Kondisinya waktu itu aku sedang terpuruk, tidak punya nyali untuk sekedar hidup, dan depresi. Dan dia merasa itulah saat yang paling tepat untuk pergi.
Rasanya?
Hampir mati :)
Selama dua puluh dua tahun aku hidup, aku pikir itu adalah hari-hari paling berduka dalam hidupku.
Hanya orang-orang yang pernah ditinggalkan saat hampir mati yang tahu rasanya seperti apa.
Kemudian Allah menunjukkan satu bagian yang sangat familiar di Alkitab.
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Sejak saat itu aku makin peka akan perasaan Tuhan Yesus.
Aku makin sadar bahwa kesempurnaan-Nya justru seringkali membuat-Nya harus menanggung emosi-emosi dalam kadar paling sempurna yang pernah ada.
Tuhan Yesus, betapa kecilnya kesedihanku dibandingkan kesedihan-Mu saat Bapa-Mu meninggalkan-Mu ya? 😭

Sewaktu Daud, seorang yang berkenan di hati Allah dan yang melakukan segala kehendak-Nya (1 Sam. 13 : 14) jatuh ke dalam dosa perzinahan, bisa bayangkan betapa terluka dan hancurnya hati Allah waktu itu?
Ah Tuhan, aku pun pasti telah melukai dan meremukkan hati-Mu sama dalamnya dengan Daud ketika aku jatuh ke dalam dosa yang sama ya?
Aku, perempuan yang begitu melekat di hati dan pikiran-Mu ini.

Aku juga telah melihat banyak sekali orang yang merasa takut akan sesuatu.
Tapi belum pernah sekalipun, sama sekali belum pernah, salah satu di antara mereka menjadi sangat ketakutan sampai-sampai peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Paling jauh juga hanya terkencing-kencing di celana.
Hanya satu orang di dunia ini yang kutahu (tidak kusaksikan langsung tapi kuimani) pernah mengalami hal serupa.
Tuhan Yesus.
“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” – Lukas 22 : 44
Aku pikir, tidak ada rasa takut yang lebih sempurna yang pernah ada di dunia ini daripada rasa takut yang dirasakan Tuhan Yesus di taman Gestemani waktu itu.

Saat aku jatuh cinta, sorot matanya yang memancarkan keleluasaan adalah salah satu hal yang paling kucintai di muka bumi.
Aku sangat bahagia saat menatap mata itu.
Dan kini aku berpikir, “Kebahagiaan yang Allah rasakan pasti jauh lebih sempurna ya saat Dia melihat mataku memancarkan keleluasaan yang sama.”
Kebahagiaanku adalah hal yang paling banyak menyita hati dan pikiran-Nya setiap waktu.
Karena itu aku telah memutuskan, aku akan selalu belajar seni untuk berbahagia, seni untuk bersukacita, juga seni untuk merayakan penderitaan.
Belajar dari Dia, supaya kebahagiaan yang kuperoleh itu benar, bukan dengan merusak kebahagiaan orang lain ataupun dengan melakukan tipu muslihat.

Kepadamu yang telah merasakan berjuta jenis perasaan serta emosi yang pernah tercipta di muka bumi, aku juga telah merasakannya.
Kita bersama-sama telah merasakannya.
Kita telah pernah merasakan kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang mendalam, duka yang mendalam, ketakutan yang mendalam, cinta yang mendalam, dan banyak emosi lainnya.
Untuk itu, mari ingat bagian ini; Allah-pun telah terlebih dahulu merasakannya.
Bahkan, Ia merasakannya dalam dimensi paling sempurna.

Kalau ditanya betapa berhati-hatinya aku menjalani kehidupan saat ini, tidak, betapa berhati-hatinya aku berpikir, berkata-kata, dan berperilaku saat ini, aku pikir kak San dan Winda adalah orang yang paling tahu jawabannya. Mereka adalah saksi hidup dalam perbincangan-perbincangan seriusku dengan Allah. Dan kalau ditanya alasannya apa, itu karena Allah telah memberiku kesadaran bahwa setiap kali aku berbuat dosa, setiap kali pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatanku menyimpang dari kehendak-Nya, aku telah memberi-Nya rasa sakit yang sempurna.
Dan tidak sepatutnya aku, perempuan yang selalu menyita hati dan pikiran-Nya sepanjang waktu, terus-menerus menghancurkan hati-Nya.
Bukan berarti aku telah berhenti melukai-Nya.
Tidak.
Aku masih sering mengecewakan-Nya.
Seringkali malah.
Aku hanya terus belajar mengurangi kadarnya saja :)
Kita semua harus belajar melakukan hal yang sama toh?

Jadi, yok.
Sebagai orang-orang yang diampuni, jalani kehidupan dengan penuh kehati-hatian.
Bukan karena takut akan murka Allah, tapi karena takut akan menyakiti hati-Nya.
Dia, yang di dalam hati dan pikiran-Nya, sepanjang waktu terngiang-ngiang tentang kita.
Romantis ya?
:)

Bersedihlah, menangislah, berdukalah, tapi selalu ingat, Allah telah terlebih dahulu merasakannya,  dan Ia telah merasakan semua itu dalam dimensi paling sempurna.
Jangan lagi hidup dengan pemikiran “Waktu Tuhan Yesus di kayu salib, Dia harus melepaskan ke-Allah-an-Nya supaya bisa merasakan rasa sakit yang sempurna.”
Tidak.
Pemikiran seperti itu adalah bentuk kesombongan yang membuat manusia seolah-olah ada di atas Allah sehingga mampu merasakan sesuatu yang lebih besar daripada apa yang Allah mampu rasakan.
Menerima konsep bahwa kasih Allah sempurna, kebaikan Allah sempurna, pengampunan Allah sempurna, harus juga bersikap adil dengan menerima konsep kesedihan dan rasa sakit Allah juga sempurna.
“Imam Agung kita itu bukanlah imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya, Ia sudah dicobai dalam segala hal¸ sama seperti kita sendiri; hanya Ia tidak berbuat dosa!” – Ibrani 4 : 15 (BIMK)

Sebagai penutup, aku mengutip pernyataan salah satu penulis terbaik bangsa ini, Pram, dalam bukunya berjudul Bumi Manusia; seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.



2 comments:

  1. Aku nangis bacanya
    Bukan karna tulisan nya sedang bercerita hal sedih, tapi karna Allah bicara lewat tulisan itu
    "Sondang, bukan kah hati Ku juga pernah di sakiti dunia ?"

    Terus bilang gini
    "Percayalah Sondang, Aku sudah mengalahkan dunia, jangan takut lagi ya"

    ReplyDelete