Sunday, 21 October 2018

Tentang Kerendahan Hati


🎢 Sedalamnya laut, seluas angkasa cara Tuhan mengasihiku


Tentang segala sesuatu yang kita yakini memang untuk kita, mengapa kita tidak bersedia menunggu lebih lama?

Beberapa minggu yang lalu aku menjadi MC di acara jam doa puasa pemekaran Fasilkom-TI. Seperti biasa, aku akan berbincang dulu dengan Bapa sebagai Tuan Rumah jam doa puasa ini terkait hal yang ingin disampaikan-Nya melaluiku sebagai pemimpin ibadah.
Biasanya hal ini tidak akan memakan waktu terlalu lama, apalagi jika hubungan kami sedang baik (aku juga tidak punya keberanian menjadi MC jika hubunganku dengan Bapa sedang tidak baik).
Tapi waktu itu ada yang aneh.
Aku membutuhkan waktu sangat-sangat lama untuk mendengar suara-Nya.
Aku mulai stres.
Tuhan, aku mau bilang apa?
Aku harus bawakan tagline apa?
Kamu mau ngomong apa melalui aku?
Latihan sudah dimulai dan aku masih belum bisa mendengar suara-Nya.
Rasanya Dia masih diam, mengamatiku yang makin stres dan mulai kesal.
Tuhan, buruan.
Mau ngomong apa sih?
Kasitau aku, please.
Aku stres.
Aku nggakmau ngeMC asal lalu aja.
Aku nggakmau cuma cakap-cakap angin aja nanti.
I want to feel You, feel Your presence, and influence them through my words, through our intimacy.
Aku mulai sedih.
Aku nangis di kantor.
Aku benci keadaan ini.
Keadaan dimana aku nggak bisa mendengar hati-Nya.
Keadaan dimana aku merasa hubungan kami baik tapi Dia tidak sedang ingin berbicara denganku.

Akhirnya di suatu sore yang sedikit lengang di kantor, Dia berbicara.
Kerendahan hati, May.
Kerendahan hati.
Aku mau kau berbicara untuk-Ku tentang kerendahan hati.
Aku tersenyum.
Akhirnya.
Setelah hari keempat.
Ok noted. Siap Komandan!

Aku mulai mengerjakan persiapanku.
Penuh ketakutan dan kebingungan.
Aku paling takut menjadi pemimpin ibadah jam doa dan jam doa puasa dibandingkan dengan jenis ibadah apapun yang pernah kupimpin.
Satu jam berlalu.
Persiapanku selesai.
Aku pergi latihan ke sekretariat KMK.
Disana suasananya benar-benar ribut.
Ribut sekali.
Seribut itu sampai di tengah-tengah sesi latihan, di lagu ketiga (atau ke berapa aku lupa), aku tiba-tiba diam.
Melipat tangan, meletakkan kepalaku di meja yang biasa digunakan MC (anak KMK pasti bisa membayangkan adegan ini).
Beberapa detik kemudian, aku mengangkat kepalaku, melihat salah seorang pengurus, berkata,
“De, aku nggakbisa melakukannya. Aku nggakbisa.”
“Kenapa kak?”
“Aku nggak bisa fokus. Ini terlalu ribut untukku.”
Aku pengen nangis kali waktu itu.
Malu, kesal, bodoh, semua perasaan itu bercampur aduk jadi satu.
Di hari latihan waktu itu, sebelum dievaluasi, aku mengevaluasi diriku sendiri.
Lebih baik menghantam diri sendiri daripada dihantam orang lain.
Haha.
Selesai latihan, aku pulang.
Aku lihat lagi bahan persiapanku.
Dalam hati aku menangis.
Tuhan, aku tahu aku bisa lebih baik dari ini.
I know it’s not me on my best version.
Semua kalimat-kalimat itu baik, tapi kok aku nggak merasakan apapun.
Efeknya nggak sedahsyat yang seharusnya, bahkan ke aku sendiri aja nggak, apalagi ke orang lain.
Aku berdoa sama Tuhan, sambil nangis.
Tuhan, aku benar-benar merindukan-Mu sekarang.
Aku cuma mengulangi kalimat yang sama berulang kali.
Sampai akhirnya kelelahan dan tertidur.

Hari berikutnya adalah H-1 acara itu. Aku mengulangi persiapanku lagi dari awal. Mengubah total konsepnya, kata-katanya, menghapus semua bagian yang awalnya kupikir perlu kusampaikan dan mengganti semuanya dengan firman Tuhan. Waktu itu Tuhan seolah-olah berkata, “May, kalimat buatanmu nggak lebih indah daripada firman-Ku. Comot langsung dari Alkitab bagian ini ini dan ini. Kau nggak perlu ngomong apapun. Biar aku yang berbicara sendiri sama mereka tentang apa yang mau Kusampaikan. Kali ini itu bukan urusanmu.”
Di latihan hari ini semuanya berjalan jauh lebih baik dibanding latihan kemarin. Semuanya lebih terstruktur, hikmat, tapi perasaanku tetap tidak sedamai, setenang, senyaman apa yang kuharapkan.
Saat doa malam aku berdoa lagi sama Tuhan.
Tuhan, aku benar-benar takut sekarang.
Kalau ada yang salah di antara kita, sampaikan padaku.
Tapi jangan biarkan kesalahanku membuat jemaat gagal menikmati Engkau besok.
Jangan Tuhan.
Jangan biarkan mereka pulang tanpa membawa apapun karena ketidakbenaranku.
Tuhan, aku benar-benar merindukan-Mu sekarang.

Pada waktu itulah Tuhan, dengan lembut namun jelas, mulai berbicara.
May, kalau Aku menyuruhmu berkata-kata tentang kerendahan hati, kau pikir Aku akan mengijinkanmu melakukannya tanpa mengajarnya dulu terhadapmu?
Aku mulai senyum, ketawa, sambil nangis.
Iya ya. Aku bodoh, Tuhan.

Ia melanjutkan.
May, Aku yang lebih dulu merindukanmu.
Kemana kau selama ini?
Aku rindu perbincangan-perbincangan intim kita, aku rindu Maya yang senang duduk diam dekat kaki-Ku dan mendengar suara-Ku.
Belakangan ini Maya bukan pendengar yang baik untuk-Ku.
Aku mau ngobrol banyak, tapi Maya selalu sibuk.
Kalau udah nggak sibuk, Maya pasti udah kelelahan.
Aku rindu didengarkan sama Maya.

Pembicaraan itu berlanjut dengan aku yang lebih banyak diam sambil menangis, sementara Dia terus-menerus berucap, mengungkapkan isi hati-Nya yang terabaikanku selama beberapa waktu itu.
Malam itu aku benar-benar mengerti mengapa aku butuh waktu sedemikian lama untuk mendengar suara-Nya terkait pelayananku sebagai pemimpin ibadah.
Aku merenung, merenung, dan banyak merenung.
Banyak menangis.
Aku sadar, belakangan ini banyak sekali hal yang kukerjakan.
Aku sibuk di kantor, beberapa kali harus pulang hampir atau bahkan di atas jam sembilan malam.
Satu-satunya pelayanan yang pernah kutolak semenjak aku keluar dari rumah sakit hanya ketika aku disharingkan jadi MC di hari Minggu, jadwal tetap KTBku. Hanya itu alasan aku menolaknya, karena bagiku KTB lebih menyenangkan dan lebih kubutuhkan.
Selebihnya?
Aku selalu menjawab iya.
Jadi apapun.
Kalau adik-adikku pelayanan, aku pasti meluangkan waktu barang sekali dua kali memperhatikan mereka waktu latihan, dan itu kulakukan sepulang kerja, kadang bisa sampai di atas jam 10 malam.
Kalau ada yang meneleponku untuk sharing, aku selalu mendengarnya dengan telinga terbuka, jam berapapun itu dan sengantuk apapun aku.
Kalau ada yang minta bantuin kerjain skripsi, aku pasti menolongnya dan menanyakan perkembangannya.
Mamak bahkan sampai punya kalimat pamungkas, “Mana kak Maya? NgeMC lagi? Ke sekret? KMK? Kalau udah sakit dulu baru bisa diam di rumah.”
Yang kupikirkan waktu itu, waktu aku sakit, banyak orang yang setia berdoa untukku, banyak orang yang mengulurkan tangannya untuk menolong dan memperhatikanku, dan setelah keadaanku sudah lebih baik, aku sudah bisa berjalan, aku juga ingin melakukan hal yang sama untuk orang lain.
Aku berharap sebelum aku mati, aku bisa menjadi cukup berdampak dalam hidup orang lain.

Tapi ternyata semua nggak berjalan selancar itu.
Aku sangat sibuk.
Aku terlalu sibuk.
Aku menjadi sangat sibuk sehingga aku melepaskan bagian terbaik yang memang ditujukan untukku; suara Tuhan.
Duduk diam dekat kaki Tuhan dan terus menerus mendengarkan suara-Nya, berhubungan intim dengan-Nya.

Aku menangis terus.
Kepekaan itu hal paling berharga yang Tuhan pernah berikan untukku.
Aku nggak sanggup kehilangan itu, tapi kalau aku gini-gini terus, nggak bijak memilih mana yang sebaiknya kukerjakan dan mana yang nggak, pelan-pelan aku pasti akan kehilangannya.

Aku percaya Tuhan mengenal hatiku.
Tuhan yang paling tahu alasan di balik semua kesibukan dan kelelahanku.
Semua hal yang kukerjakan itu baik, pasti baik.
Tapi itu belum tentu yang terbaik.
Dan Maya adalah perempuan yang sangat dikasihi Tuhan, kepada Maya hati-Nya berkenan.
Maka dari itu Tuhan mau Maya selalu mendapatkan bagian yang terbaik, sesuatu yang nggak akan pernah bisa diambil dari padanya; keintiman dengan Tuhan.

Tapi ternyata kesibukan dan kelelahanku telah merusak semuanya.
Ketidakbijaksanaanku dalam memilah dan memilih mana yang harus kukerjakan dan mana yang tidak membuatku kehilangan keintiman dengan Tuhan untuk sementara.
Hubungan kami tidak buruk, tidak.
Tapi juga tidak mesra sebagaimana seharusnya, sebagaimana selama ini kami menjalaninya.
Dan itu semua salahku.
Aku telah menjadi pendengar yang tidak baik bagi Allah.
Ketakutanku kehilangan kesempatan untuk melayani-Nya dan orang lain di sisa hidupku membuatku kehilangan momen indah untuk menikmati-Nya.
Bodoh kan?
Masa’ gara-gara sibuk mengambil yang baik aku jadi nggak mengambil yang terbaik?

Setelah aku sadar, aku share hal ini ke KTB.
Aku berkomitmen untuk beristirahat.
Mereka juga yang paling tahu gimana kondisi kesehatanku belakangan ini.
Mereka mendukung.
Iyalah, itu kali pertama aku datang KTB dan PKKku nggak menyapaku dengan kalimat, “Hai, cantik!”
Instead of bilang “Hai, cantik!”, dia malah ngomong, “Iya de, kelihatan memang Maya kelelahan kali dan pasti stres juga. Bruntusan mukamu!”
Kaaaaaaak -_-

Bagian ini belum selesai.
Beberapa hari kemudian aku diminta untuk sharing Firman di ibadah padang untuk anak-anak sekolah minggu di salah satu gereja.
Do you know how excited I was?
Whoaaa, sure I did!
Orang-orang yang dekat denganku pasti tahu segregret apa aku sama anak kecil.
Dan dikasi kesempatan untuk cerita tentang kisah cintaku dengan Tuhan sama mereka, kebayang kan betapa senangnya aku?
Tapi waktu itu aku mencoba menahan diri sebelum menjawab iya.
Aku chat PKKku.

Kak, ada kan temanku guru sekolah minggu. Jadi mereka mau ada kebaktian padang gitu hari minggu ini. Terus aku diminta untuk share firman ke anak-anak itu. Kakak taulah segreget apa aku sama anak-anak. Apakah ini ujian atas komitmenku untuk beristirahat?

PKKku balas.

Iya.
Ga usah dulu laa nang.
Jangan nakal, ingat kesehatanmu juga.

Aku balas lagi.

Tapi kaaaaan..
Ah aku galau hahaha

PKKku balas lagi. Dan kalian tahu apa isinya?

Gadak galau-galau.
Kakak bantu ambil keputusan.
Jangan ambil ya May.
Kau butuh istirahat sejenak dek.

Jleb.
PKKku cantik dan kolerik, btw.
Dan aku ‘nurut’ sama dia.
Hahahaha
Akhirnya aku menolak tawaran menggiurkan itu.
Dengan sedih hati aku balas ke dia.

Huh. Berat x bah. Oke. Aku mau belajar menahan diri. Next time Tuhan pasti kasih kesempatan lain. Semoga.

Dan PKKku memberi kalimat yang sangat menghibur.

Ya pastilah nang.


Setelah kejadian itu aku belajar mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang baik tapi mungkin akan menjadi penghalang bagiku untuk mendapat yang terbaik.
Sedih rasanya saat harus menolak untuk membantu skripsi orang lain dengan segera karena aku sadar kesehatanku tidak memungkinkan untuk itu.
Sedih rasanya ketika harus menahan diri, menepikan sesuatu yang benar-benar menggugah hatiku, karena aku tahu, ini belum waktunya.
Tapi seperti apa yang PKKku pernah sampaikan, buah yang matang karena dikarbit nggak akan pernah semanis buah yang matang di pohon. So, tunggu momen yang tepat. Ini belum saatnya.


Masing-masing dari kita pasti punya gambaran tentang kerendahan hati.
Dan beberapa minggu terakhir aku telah belajar satu dimensi lain dari kerendahan hati.
Kerendahan hati agaknya juga berbicara tentang kesediaan menunggu waktu yang tepat untuk segala sesuatunya.
Kerendahan hati agaknya juga berbicara tentang kerelaan untuk menepikan sesuatu yang benar-benar menggugah hati kita.
Kerendahan hati agaknya juga berbicara tentang kesanggupan untuk melepaskan hal-hal baik yang datang saat ini karena yang dipersiapkan Tuhan bagi kita bukanlah sesuatu yang sekedar baik, tapi yang terbaik.
Karena sekali lagi, tentang segala sesuatu yang kita yakini memang untuk kita, mengapa kita tidak bersedia menunggu lebih lama?


 Jauhlah dari padaku dan dari padamu menjadi orang “..yang mempunyai nafsu rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.” – Ibrani 12 : 16



5 comments:

  1. Thank you udah sharing kedekatan mu sama Tuhan wahai Lady. Semangat terus menjadi berkat lewat tulisan2 mu ya lady ����

    ReplyDelete
  2. Terimakasih sudah berbagi kak
    Sangat memberkati πŸ˜‡

    ReplyDelete
  3. Wah,like itu 😍


    Jadi pengen penulis kayak Kaka 😊

    ReplyDelete