Friday, 28 September 2018

Tentang Momentum

🎶 Tobymac - Thankful for You

Dan sekali lagi aku berani mengatakan, “Allah yang kusembah itu, kebaikan-Nya tidak mengenal musim. Dan menaruh percaya kepada-Nya, adalah pondasi dari setiap keputusan-keputusan yang tak pernah kusesali dalam hidupku.”

Hari ini sepulang kerja aku menuju sekretariat KMK.
Aku ada janji sharing terkait sebuah pelayanan sekaligus melihat adikku yang besok akan melayani sebagai MC dan pemusik. Ardi tiba-tiba datang entah darimana, padahal selama ini dia ada di Kabanjahe. Kami menyantap martabak yang dibeli Ardi di sesi istirahat sembari aku membantu adikku memperbaiki kata-kata yang akan disampaikannya sebagai MC.
Selang beberapa waktu, pra GR dimulai.
Ponselku berdering dan kulihat nama Bapak tertera di layarnya.
“Halo nang, dimana?”, suara Mamak terdengar di ujung ponsel.
“Di sekret KMK, Mak.”
“Dimana itu?”
“Padang Bulan.”
“Oh jadi belum pulang ke rumah?”
“Belum, Mak.”
“Gini, nang. Mamak mau minta tolong. Transferkan dulu uang segini bisa? Besok Mamak ke Medan kan, Mamak ganti nanti. Nanti Mamak kirimkan nomor rekeningnya.”
“Hah?”
“Iya, penting kali ini, nang. Harus malam ini.”
“Aku nggak ada uang segitu, Mak.”
“Ah, masa’ nggak ada? Besok langsung Mamak ganti pun.”
“Untuk apa rupanya, Mak? Ke rekening siapa? Atas nama siapa?”
Tiba-tiba suara Bapak terdengar agak keras.
“Udah kirimkan aja, banyak kali pertanyaanmu.”
“Aku perlu tahu untuk apa, Pak.”
“Biasa laa nang, barang belanjaan Mamak ini. tapi harus malam ini dibayar. Besok Mamak ganti pun.”
Aku senyum sendiri.
“Mak, kalau mau bohong, Mamak salah orang. Mamak tahu sendiri aku bukan orang yang bisa dibohongi. Jujur Mak. Uangnya buat apa?”
“Udah, pokoknya kirimkan aja ya nang. Nanti Mamak kirimkan nomor rekeningnya.”
“Hm.. Kirimlah. Biar kuusahakan uangnya.”

Ponselku mati.
Baterainya habis dan aku lupa membawa charger.
Dan, charger ponselku itu beda tipe dengan charger ponsel kebanyakan orang, jadi aku nggak bisa meminjam charger siapapun.
Aku panik.
Perasaanku nggak enak.
Feelingku benar-benar buruk.
Pasti ada sesuatu ini terjadi.
Adek-adekku.
Kenapa mereka?
Ardi duduk di sebelahku.
Kudekati dia sambil berkata, “Pal, kam ada uang segini? Pinjam.”
“Segitu nggak bisa, pal. Pas-pas tinggal segitu soalnya. Gabisa ditarik segitu pas.”
“Aku ada uang segini kok. Cuma butuh segini lagi. Besok langsung kuganti.”
“Untuk apa memangnya pal?”
“Tadi Mamak nelpon, dia minta ditransferkan uang segini. Hapeku mati.”
“Coba telpon dulu.”
“Udah kubilang hapeku mati. Nggak ada yang punya charger kaya’ aku disini.”
“Tanya dulu untuk apa. Nanti ditipu.”
“Mereka nggak mau kasitau. Bahkan tadi Bapak ngomong gini..”
“Paksa terus sampe mereka kasitau.”
“Pal aku panik. Tolong antar pulang.”
Ardi masih sibuk riang gembira bernyanyi dalam kekalutanku yang hampir menangis dan perasaan tidak enak ini.
Aku memutuskan untuk pulang sendiri.
Aku pakai sepatuku.
“Eh mau kemana kam?”
“Pulang.”
“Kuantar aja kam laa. Gimana tadi Mamak itu?”
“Aku gabisa tanya. Hapeku mati.”
“Hapal nomornya? Ini telpon dari hapeku aja. SIM 2 ya.”
Diangkat.
“Pak hapeku mati.”
“Pantaslah kutunggu-tunggu nggakbisa dihubungi.”
“Kirimkan kesini aja nomor rekeningnya.”
“Oke kukirim ya.”
“Untuk apa rupanya, Pak? Aku perlu tahu.”
“Udah kirim aja.”
“Hmm..”                                                                                                          

Selang kurang dari lima menit Bapak nelpon lagi.
“Udah dikirim?”
“Bentar Pak. Kondisinya gini, aku nggak punya uang sebanyak itu, dan sekarang aku lagi sama Ardi. Aku mau pinjam uangnya tapi dia nggak akan pinjamin kalau nggaktau untuk apa.”
“Udah pinjam aja.”
“Gabisa begitu, Pak. Ardi perlu tahu. Kalau nggak Bapak ngomong aja sama dia.”
Kami menepi.
Ardi bicara dengan Bapak.
Aku berdoa terus, “Tuhan lindungi adek-adekku. Tolong Tuhan, tolong. Aku percaya sama-Mu, Tuhan. Aku tau Kau tau aku percaya sama-Mu. Lindungi adek-adekku, Tuhan.”
Ardi hanya menyebutkan satu kata, dan kakiku lemas seketika.
“Narkoba..”
Aku langsung paham arahnya kemana dan adekku yang mana yang kena.
“Polisi?”
“...”
“Jadi dia dimana sekarang amang?”
“...”
“Kalo nggak suruh aja dia kirimkan lokasinya biar aku sama Maya jumpain dia, kasih uangnya cash.”
“...”
“...”
“...”
“Okelah amang. Kami ke rumah dulu ini ya.”
Telpon dimatikan.

Kutanya Ardi ada apa.
“Si Andri dijebak polisi, kasus narkoba.”
Kakiku lemas, gemetar. Kupegang lengan Ardi.
“Pal, tolong aku pal..”

Kami melanjutkan perjalanan.
“Dia umur berapa?”
“18 tahun.”
“Udah dewasa pula ya..”
“Pal ayok lapor polisi.”
“Kalo yang jebak polisi, jumpa-jumpa kawan itu pal, kita yang kalah.”
Aku hampir nangis.
Aku itu imajinatif.
Mikirnya jauh.
Di kepalaku udah ada satu film hanya dengan pembicaraan sesingkat itu.

Di satu sisi aku benar-benar kecewa sama Mamak dan Bapak yang sedemikian kekehnya nggak memberitahuku (bahkan Bapak sampai bersuara keras), di sisi lain aku teringat adekku Andri.
“Pal, aku kenal adekku Pal. Dia benar-benar polos. Meskipun kadang kata-katanya kasar kalau bercanda tapi dia benar-benar polos soal berteman. Aku udah sering peringatkan dia soal pergaulannya. Itu bukan pergaulan yang baik untuknya. Aku takut dia benar-benar dijebak. Dia polos kali, pal..”
Ardi berusaha menenangkanku berulang kali.
Aku percaya adekku, aku sangat percaya dia dan aku tahu kalaupun benar ada narkoba di tangannya, dia pasti dijebak.
Tapi bisa jadi ini kasus penipuan semata, karena nominal tebusan yang diminta terlalu kecil untuk kasus sebesar itu.
Aku terdesak.
Mamak Bapak terus menerus menelpon mendesak untuk segera mentransfer uangnya, sementara aku sibuk mengulur waktu dan berkata, “Sebentar lagi ya Pak, sedang di jalan ini.”
Aku ingat betul doaku tadi.
Di sepanjang jalan aku cuma berdoa,
“Tuhan, aku mengenal-Mu sebagai Allah yang baik. Aku percaya Engkau akan selesaikan perkara ini untukku. Aku benar-benar percaya itu. Aku perempuan yang sangat Engkau kasihi, dan kita benar-benar akrab. Engkau selalu terbukti bisa dipercaya dan aku nggak pernah menyesal mempercayai-Mu. Tolong aku, Tuhan. Aku butuh pertolongan-Mu. Aku setiap hari berdoa agar Engkau membuka jalan bagi adekku untuk bisa mengasihi-Mu. Kalaupun dia harus dipenjara, jadikan ini jalan bagi-Nya untuk mengenal-Mu. Aku percaya segala sesuatu terjadi untuk kebaikan kami.”
Aku terus-menerus mengulang doa yang sama di sepanjang jalan.
Apa aku seberiman itu?
Nggak.
Aku berdoa demikian sambil berusaha untuk beriman sedemikian besar.

Sesekali mengangkat telpon untuk mengulur waktu.
“Aduh lama kali dikirim. Udah lima jam ini kurasa daritadi. Cepatkan sikit..”
“Iya Pak, sabar ya Pak. Lagi di jalan. Sebentar lagi nyampe.”
Kami melihat-lihat dimana ATM terdekat, berjaga-jaga kalau uang tersebut harus ditransfer setidaknya demi menenangkan Mamak dan Bapak yang sudah sangat panik.
Di jalan aku menelpon Jesfer dari ponsel Ardi.
Dia satu-satunya orang yang kuingat kalau berurusan dengan polisi.
Pas aku nangis minta tolong, dia malah ngomong,
“Kak, jangan nangis. Kita jumpa dimana? Aku ke rumah kakak. Jangan transfer uangnya. Pokoknya jangan sama sekali.”

Aku masih berdoa dengan doa yang sama.
Doa yang imannya masih dikumpulkan pada saat yang sama ketika dipanjatkan.
Sampai di persimpangan gang, aku bertanya kepada teman-teman Andri.
“Ada lihat Andri?”
“Di rumah. Belum ada keluar dia, May.”
“Yakin?”
“Harusnya sih di rumah.”

Sampai di depan rumah aku lihat Nadia.
“Babang mana?”
“Di rumah.”
Ardi langsung mukul motornya.
“Sama siapa dia di dalam? Ada orang asing?”
“Tidur. Sendirilah.”
“Serius?”
“Iyaloh. Kenapa?”
Aku langsung masuk ke rumah.
Kulihat dia terbangun dengan wajah kebingungan.
Sangkin kesalnya, aku berdosa. Aku mengumpat.
Sesuatu yang hampir nggak pernah kulakukan.
“Brengsek mereka..”
Aku berlari ke arah adekku.
Kupeluk dan kupegangi wajahnya.
Aku nangis sambil meluk-meluk dia.
Masih sempat mengajukan pertanyaan,
“Kau kemana aja seharian? Baru pulang darimana bang?”
“Baru pulang kuliah laa. Kecapean. Tidur.”
Aku masih meluk dia dan ngusap-ngusap wajahnya.
Dia ngomong, “Kau kenapa? Udah gila kau ya?”
Wkwkwk.
Aseeeem.
Dia nggaktau aku udah gimana paniknya disudutkan Mamak dan Bapak.
Ardi langsung telpon Bapak, kasih kabar kalau Andri ada di rumah, tidur dengan pulas dan polosnya, tanpa tahu apapun.

Aku ngobrol beberapa hal dengan Bapak dan Mamak, menyampaikan kekecewaanku atas sikap mereka yang demikian tertutup samaku, dan kiranya ini jadi pelajaran untuk kami semua.
Tentunya dengan kelemahlembutan.
Tapi aku juga dengan tegas berkata,
“Jadi Mamak dan Bapak menyadari kesalahan kalian? Aku perlu tau, Pak. Itu gunanya aku jadi anak paling besar, anak yang diandalkan. Ini bukan kali pertama ini terjadi di keluarga, tapi respon kalian sangat berbeda kali ini. Tiba-tiba suruh transfer uang. Mencoba menutup-nutupi. Biasanya tanya dulu keadaan, dia ada dimana. Oke. Intinya sederhana. Akui kesalahan dan ini jadi pelajaran buat kita semua.”
Andri dan Nadia juga. Masing-masing punya ponsel tapi nggak ada satupun yang bisa dihubungi.
Aku terlalu kejam?
Nggak.
Aku sangat mengerti perasaan dan kekhawatiran Mamak dan Bapakku.
Mungkin kalau ada yang telpon mereka dan bilang, “Anak Bapak, Maya, ketangkap lagi pakai narkoba..” mereka nggak bakal percaya kalau aku cukup polos untuk bisa dijebak.
But that prank call, ya Lord, aku ingat kali kejadian serupa.
Tahun lalu mungkin, sekitar jam tiga pagi.
Aku ditelpon.
Tapi pertanyaan mereka waktu itu jelas.
“Babang di rumah?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Iya Bapakku sayang.”
“Coba cek dulu di kamarnya. Ada barusan nelpon kami nangis-nangis bilang Tolong Pak tolong Pak, persis suara babang.”
Nah tadi?
Logikanya mereka yang tahu aku lagi di luar, harusnya bilang, “Nggak ada orang di rumah yang bisa dihubungi. Pulang sekarang ya nang. Tadi ada telpon gini gini gini.”
Are they hypnotized?
Entahlah, aku malas berpikir ke arah sana.
Are they stupid?
No,they’re not.
My father is a super smart person.
I know him very well.
Hanya, terkait anak-anaknya, mereka sangat lemah.
Semua orangtua normal begitu.
Aku mengerti.
Secara utuh.

Terakhir aku bilang, “Ini ngomong sama Ardi. Kalau nggak ada dia tadi aku nggak tau entah bakal gimana.”
Aku langsung bertelut di lantai, di ruang tamu.
Menengadah ke atas.
Berdoa sambil nangis.
“Tuhan, aku nggak pernah salah mempercayai-Mu. Sekali lagi kebesaran-Mu nyata. Aku benar. Kebaikan-Mu nggak mengenal musim. Engkau besar. Engkau mulia. Engkau agung.”
Aku terus mengulangi kalimat yang sama selama beberapa menit.
Ardi sibuk bertelepon.
Wkwkwk.

Tentang momentum.
Segala sesuatu hadir tepat pada waktu-Nya.
Ardi yang biasanya di Kabanjahe, tiba-tiba muncul hari ini dan menolongku melewati semua kekalutan ini.
Segala sesuatu hadir tepat pada waktu-Nya.
Termasuk hadirnya pertumbuhan imanku hari ini kepada-Nya.
Manis Kau, Tuhan.
Manis.
Manis sekali.



Kepada Ardi,
Masih menjadi misteri mengapa Tuhan sedemikian menunjukkan kasih-Nya kepadaku melalui kehadiranmu.
KTBku yang terkasih, saudaraku di dalam Tuhan, karenamu aku mengerti apa arti bagian ini.
“Kulihat di wajahmu, kemuliaan Raja.”
Terima kasih untuk segalanya.

1 comment:

  1. Tuhan akan selalu bersama Orang-orang yang takut akan Dia, Akan selalu bersama orang yang mengandalkan Dia. Sangat Memberkati pengalaman Imanmu May. God Bless

    ReplyDelete