Monday, 27 August 2018

Tentang Karunia


Waktu itu 16 Maret 2017 saat aku menulis tentang seseorang yang pernah beberapa kali terlibat dalam pelayanan yang sama denganku. Aku menulis tentangnya di hari kematiannya. Itu kali pertama tulisanku disukai, dikomentari, dan dibagikan oleh ratusan orang. Aku syok melihat respon yang cukup masif itu. Saat itu aku sadar, bukan baik buruknya tulisanku yang membuat orang-orang bisa merespon sedemikian rupa, tapi karena aku sedang bercerita tentangnya. Tentang dia yang kehadirannya begitu memberi kesan pada hati banyak orang.
Saat itulah aku menetapkan dalam hatiku perihal cita-cita terbesarku. Aku ingin mati sebagai orang yang berdampak. Aku ingin saat aku mati nanti orang-orang akan mengingatku sebagai perempuan yang ‘memberi sesuatu’ di dalam hidup mereka. Mungkin sampai di hari kematianku aku nggak akan bisa memberi dampak dalam skala besar seperti apa yang para penguasa atau politisi bisa lakukan, tapi apa yang kurindukan adalah bisa menyelami kehidupan orang lain secara personal dan dikenang sebagai orang yang memberi dampak baik untuknya.

Sering kupikirkan, jika aku mati di usia dua puluh tujuh, kira-kira aku sudah seberguna apa ya?
Kira-kira apa ya yang sudah kulakukan dalam perjalananku menjadi manusia?
Kemarin salah seorang seniorku meninggal di usia yang belum mencapai dua puluh enam tahun.
Kemudian dosenku.
Kemudian tadi di gereja diumumkan ada kecelakaan yang menewaskan banyak anggota yang berasal dari satu keluarga. Ada yang usianya masih empat belas tahun, bahkan ada yang masih sepuluh tahun.
Rasanya seperti menentang kodrat semesta jika harus meninggal semuda itu.
Oh Tuhan, aku belum pernah jadi Ibu tapi kupikir, betapa remuknya hati orangtua yang ditinggal mati anaknya sendiri. Apalagi Ibu. Sembilan bulan menjaga kandungannya dengan hati-hati, menjadikan nyawanya setara dengan modal awal di meja taruhan demi kelahiran sang anak, memelihara dan membesarkannya, memberinya makan dan menyekolahkannya.
Mana ada orangtua yang memimpikan akan menguburkan anaknya sendiri, bukan?

Aku merenung, merenung, dan banyak sekali merenung beberapa bulan belakangan ini.
Tuhan, hal apa ya yang bisa kulakukan sebagai seorang manusia, terlebih-lebih perempuan?
Hal yang sederhana saja pun tak apa, asal bisa memberi dampak.
Dan akhirnya aku menemukan jawabannya.

Tuhan memberi aku karunia mendengar.
Sederhana ya.
Mungkin pun cuma aku yang menganggap mendengar itu sebagai karunia.
Tapi aku sadar Tuhan sering memakaiku dalam hal itu.
Tuhan sering mengirim orang-orang yang ingin bersuara, menjerit, mengeluh, menangis, bingung dan butuh didengarkan ke dalam hidupku dan dengan hikmat-Nya, Dia selalu mengajariku cara terbaik untuk memberi reaksi kepada orang-orang itu.
Kadang aku hanya perlu diam, karena yang mereka butuhkan hanya telinga ekstra yang terbuka.
Kadang aku memberi pelukan hangat sambil mengelus pundaknya sebagai bentuk dukunganku.
Kadang aku harus memberi jawab karena yang mereka cari memang solusi.
Kadang aku juga harus menjadi antitesis dari pernyataan-pernyataan mereka.
Malah kadang satu-satunya kalimat yang perlu kuucapkan hanyalah, “Aku sangat mengerti perasaanmu. Aku pernah merasakannya.”
Dan banyak cara lain untuk bereaksi atas kedatangan mereka.

Aku juga akhirnya sadar (setelah disadarkan PKKku haha), bahwa Tuhan juga memberiku karunia lain.
Karunia peka mendengar suara Tuhan.
Suatu ketika dia berkata begini,
“May, kau itu punya karunia yang bahkan banyak anak Tuhan yang lain nggak punya. Kau dikasi kepekaan mendengar suara Tuhan. Tuhan suka ngomong langsung samamu. Bukan cuma merasa-rasa, tapi Dia memang benar-benar suka ngobrol samamu. Kau punya hubungan yang intim sama Dia. Nggak banyak anak Tuhan yang dikasi karunia berdoa gitu. Jangan sampe kau kehilangan karunia itu karena nggak taat.”
Ketika aku memikirkan dan merenungkannya berulang kali, ikh, nggak ikhlas aku kalo harus kehilangan karunia itu :(
Tapi kan kalo nggak kukembangkan juga, sama aja. Mungkin suatu ketika Tuhan akan ambil lagi. Tohnya nggak kupergunakan.
Aku merenung, merenung, dan merenung.
Karunia mendengar manusia dan karunia mendengar suara Tuhan.
Perpaduan yang hakiki.
Akhirnya aku berdoa sama Tuhan.
“Tuhan, tolong kirimkan aku orang-orang yang butuh didengarkan dan didoakan. Siapapun mereka, aku mau Kau pakai melayani mereka. Nggak masalah kalau aku hanya bisa mendukung dan melayani mereka dengan cara-cara paling sederhana, asalkan hidupku berdampak.”
Dan Tuhan menjawab.
Tuhan mengirim orang-orang itu.
Ada yang datang dengan masalah cinta, studi, tugas akhir, pekerjaan, panggilan hidup, hubungan pribadi dengan Tuhan, keluarga, dlsb. Maragam-ragam laa pokoknya.
Kemudian Dia berkata,
“May, kau nggak bisa cuma nunggu aja. Cari mereka. Cari orang-orang yang butuh didengarkan dan didoakan itu. Nggak ada alasan kau plegma laa, nggak mau nyampurin urusan orang kalo dia nggak datang sendiri laa. Kau yang harus menghampiri mereka, sebagaimana Aku yang selama ini menghampirimu.”
Siap, Kapten!
Akhirnya kumulai dengan hal-hal sederhana.
Tiap kali aku mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang, kutanyakan apa topik doanya dan aku mendoakannya.
Pernah juga aku buat story di WA atau Instagram, mengatakan kalau ada yang mau didoakan, chat saja.
Dulu kalau ada orang yang membuat story atau mempostkan sesuatu yang memberi kesan ‘aku sedang gundah’, aku cenderung cuek dan tidak terlalu ambil pusing.
Sekarang aku sedang belajar rendah hati untuk menghampirinya lebih dulu dan bertanya, “Ada apa?”
Tuhan yang baik akan menjagaku dan mengajarku dengan hikmat-Nya agar perbuatanku tidak disalahartikan sebagai bentuk kekepoan dan bukan kesungguhan atau ketulusan untuk mendengar dan mendoakan.
Aku percaya itu.
Dia Guru terbaik soal ilmu komunikasi.

Tentang karunia,
Kita sering memandangnya sebagai sesuatu yang haruslah memberi dampak besar atau bahkan bersifat kegaib-gaiban.
Seolah-olah karunia hanya berbicara soal menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dlsb.
Padahal memberi juga ternyata adalah karunia.
Tentang karunia,
Masing-masing dari kita pasti memilikinya.
Kita mungkin hanya belum menemukan atau menyadarinya.
Sekali kita menyadarinya, tolong pastikan kita menghadap Tuhan dan berkata, “Tuhan, dengan cara apa aku harus mengembangkannya? Tolong ajari aku dan beri aku keberanian.”


Hari ini seseorang yang (awalnya kupikir) tidak terlalu akrab denganku datang dengan pergumulan akan tugas akhir (ini udah kesekian kalinya orang dengan kasus sejenis datang, sampe-sampe Winda bilang, “Kau kaya’nya punya karunia mendoakan orang yang lagi skripsian laa May. Yang tertunda tiga tahun aja bisa selesai karena doa-doamu wkwk”)
“Aku senang jumpa kakak. Makasih ya.”
“Kapan pula kita jumpa. Ooohh semalam. Hahaha.”
“Pertama kali waktu di Ilkom laa. Pesan-pesan kakak yang kuingat. Gimana harus peka sama panggilan Tuhan, ga semua kata orangtua itu kita iyakan. Menerima Kristus.”
“Wks aku aja nggak ingat apa yang kubilangi de. Tapi syukurlah kau mengingatnya. Aku senang bacanya.”
“Serius loo kak. Aku menerima Kristus ya karena kakak.”
(Padahal seingatku aku nggak pernah cerita Injil sama adek ini -_-)
“Ya kak sebenarnya banyak kali pergumulanku bingung mau curhat sama siapa. Yang ngasih motivasi pun nggak nyambung. Kak, netes air mataku. Aaarrrgh, kak Maya pun :’( Nggak tau ya kak, nggak gombal sih. Baru sama kakak sih aku nurut dari kata-kata kakak..”
(Dilanjutkan dengan isi curhatan dan responku)

“Makasih kakak motivator yang manis😍😍”

“Motivator bah”
“Yoi lah. Buktinya kata-kata kakak kuingat sampe sekarang. Mata kuliah lain aja aku lupa. Wkwk. Waktu sharing pertama kali aja aku ingat apa yang kakak bilang.”
(Aku syok, sharing pertama kami ya tahun 2015, mana kuingat lagi apa yang, kubilangi waktu itu. Entahpun pas itu aku cuma cakap angin wkwk)
“Apalah coba?”
“Waktu itu kakak ngajak aku sharing untuk acara ini. Terus kakak cerita soal panggilan Tuhan dalam hidup kita, ketaatan untuk melakukannya sekalipun mungkin itu harus bertentangan dengan apa yang kita mau, atau yang orang-orang yang mencintai kita mau. Terus kakak kasih contoh ini ini ini. Kakak juga kasitau kalau kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Pas itu kupikir itu tentang kemiripan fisik, tapi kakak bilang itu soal karakter Allah yang tercermin dalam diri kita. Gitu-gitu laa pokoknya kak ah. Malu aku. Kalo aku butuh bantuan kakak jangan jenuh ya. Jangan anggap aku bodok sekalipun aku memang bodok. Tapi jangan terlalu baik juga nanti aku jadi sayang. Kalau udah sayang aku jadi manja dan nangis kalau kakak kenapa-kenapa.”

Aaah, Tuhan.
Kok aku harus setua ini dulu baru nyadar indahnya takluk di bawah kendali-Mu, mengembangkan karunia yang Kau beri untuk memuliakan-Mu dan membahagiakanku.
Ajar-ajari aku terus ya Sayang :)

2 comments:

  1. 'harus dikembangkan'. Baiklahh, kayaknya aku harus mngasah karunia yg diberiNya dan jgn sampe stagnan.Nanti diambil pula hahha. thank you May. mari terus bertumbuh bersama :')

    ReplyDelete
  2. Ditelaah dengan seksama dan direnungkan.
    Anw, templatenya bagus.

    ReplyDelete