Friday, 20 July 2018

Keluarga

Hari ini Mamak datang mengunjungiku di rumah pengobatan.
Dari kursi depan kulihat Mamak berjalan tidak seimbang dari ujung jalan karena menjinjing banyak barang.
Begitu sampai di teras rumah pengobatan, Mamak terduduk kelelahan.
Mamak melihatku mengusap air mata sesaat setelah ia duduk.
Iya, aku sedang menangis sebelumnya.
Semenjak kecelakaan naas itu terjadi, sepertinya aku punya hobi baru; menangis.
Tuhan mengajarkanku banyak sekali hal tiga puluh tiga hari belakangan ini, karena itulah aku banyak menangis.

Kupandangi Mamak dari jarak 2 meter.
Tiba-tiba aku menangis lagi.
Dan secara tidak sadar, aku berjalan mendekat, berdiri di depannya kemudian bilang, "Mak.."
Kupeluk Mamak yang sedang duduk.
Kupikir itu adalah momen paling canggung yang pernah kulakukan ke Mamak.
Terus pas kupeluk Mamak ngomong,
"Kenapa kau nak?"
Terus aku jawab sambil nangis,
"Gakpapa, Mak. Maaf ya untuk semua kesalahanku selama ini."
Mamak masih heran.

Kulepaskan pelukanku, lalu aku duduk di dekatnya.
"Itu ada Mamak bawa ayam pinadar, makanlah kau. Jam tiga tadi Mamak bangun biar sempat masak itu."
Sebenarnya aku belum lapar.
Tapi entah kenapa, ketika kulihat Mamakku, aku jadi pengen makan.
Aku pengen Mamakku lihat aku lagi makan masakannya, yang dimasaknya khusus untukku, dan aku yakin ketika Mamak memasaknya, dia memikirkanku banyak sekali.

Kulihat Mamak makin kurus.
"Berapa timbangan Mamak sekarang?"
"Turun 7 kg Mamak."
"45 kg aja tinggal?"
"Iya."
Kulihatin lagi Mamakku sedang makan.
Aku berdoa juga untuk makan, masih dalam keadaan menangis.

Sembari makan kurenungkan kalimat-kalimat dalam tulisan bang Raditya Oloan di akun instagramnya pagi tadi.
"Keluarga adalah satu-satunya hal dimana kita ga punya kehendak bebas untuk memilihnya. Kenapa? Karena Tuhan percayakan kita buat lahir di keluarga itu. Dia tahu cuma kita yang paling tepat buat lahir disitu, menjadi jawaban untuk keluarga itu dan pas untuk membentuk kita untuk menggenapi rancangan-Nya di bumi ini. Stop complaint dan menggerutu tentang keluargamu. Start jadi jawaban buat mereka. Pastikan kamu jadi anak yang baik supaya nanti ngerti cara jadi orang tua yang baik. Mulai berikan kasih tanpa syarat, rasa bangga, perkataan penghargaan buat orangtuamu, bahkan sebelum mereka merasa layak menurut kamu."

And so on.
Selengkapnya baca sendiri aja di akun Instagram abang itu.

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya 26 Mei 2018, aku menyakiti hati Mamak begitu dalam.
Waktu itu aku sedang banyak pikiran.
Pikiranku benar-benar kacau dan perasaanku benar-benar terluka dan kecewa karena seseorang.
Waktu itu hari Sabtu ketika Mamak datang membawa bahan makanan mingguan.
Pikiran yang kacau dan suasana hati yang terluka membuatku lebih diam dan dingin dari biasanya.
Aku yang pada dasarnya lebih suka menyendiri, diam, dan dingin (terutama kalau di rumah), menjadi lebih diam dan dingin hari itu.
Mamak berbicara dengan adik-adik dan pada beberapa kesempatan dia terkesan sedang 'menyindir'ku.
Aku nggak paham.
Mungkin dia berharap aku nimbrung dalam pembicaraan mereka, mungkin juga dia sedang bercanda untuk mencairkan suasana, atau mungkin dia juga sedang mengharapkan pertolongan dariku.

Tapi hari itu hatiku benar-benar gelap.
Beberapa sindirannya memancing emosiku sedemikian rupa sehingga aku mulai menangis dengan keras kemudian berbicara dengan volume suara yang cukup keras dan terisak-isak.
Hari itu, aku benar-benar bukan diriku.
Aku mulai mengeluh ini dan itu, mengeluh tentang perasaanku selama ini, cara mereka memperlakukanku, dan banyak hal. Aku menyampaikan semua rasa sakit yang selama ini kurasakan dari keluargaku dan selalu kupendam.
Inti dari semua kalimatku adalah, KALIAN MENGASIHIKU DENGAN SYARAT. KALIAN MENGASIHIKU KARENA AKU BEGINI, BEGINI, DAN BEGINI.

Aku ingat sekali ekspresi Mamak waktu itu.
Dia tercengang, syok mungkin.
Dia mulai menangis, kemudian pulang dengan tangisan yang lebih menjadi-jadi.
Sesuatu dalam hatiku kemudian menamparku begitu keras sambil berkata, "Kau gila, May!"

Hatiku menjadi lebih kacau hari itu.
Semalaman aku menangis, menyesali perlakuan menyakitkan ku terhadap Mamak.
Besok paginya Bapak meneleponku sambil menangis.
Dia menyuruhku minta maaf sama Mamak.
Aku ingat Mamak bilang,
"Mamak nggak nyangka, Maya yang selama ini selalu jadi penghiburan Mamak, kebanggaan Mamak di depan semua orang, kok bisa memikirkan hal seperti itu. Ngomong kaya' gitu. Mamak benar-benar kecewa dan sedih."
Aku juga ingat Bapak bilang,
"Itu cuma ada di pikiranmu, nak. Kau 'kan anak Tuhan. Bapak kenal kau pendoa. Jangan biarkan pikiran dan perasaanmu dimanfaatkan Iblis. Berdoa kau nak, ya?"
Ketika harus mengingat kembali hari dimana aku menyakiti Mamak itu untuk bisa menuliskan ini, aku kembali menangis menyesali betapa telah berdosanya aku terhadap dia yang surgaku ada di bawah telapak kakinya.

Aku adalah anak yang sering merasa kepadaku dituntut terlalu banyak hal.
Aku selalu dituntut untuk berprestasi.
Pernah suatu ketika aku 'dimarahi' karena hanya bisa meraih juara dua umum dan bukan juara satu.
Aku selalu dituntut untuk tahu segala hal.
Apapun itu.
Kalau aku bilang aku nggak tau, mereka akan bilang, "Ah, masa' nggak tau? Coba caritau lah yaa.."
Aku adalah anak yang nggak pernah sama sekali ditanya "Gimana di sekolah? Gimana di kampus? Gimana skripsinya? Gimana di kantor?"
Kalimat "Mak, minta uang sidang segini.." padahal nggak pernah melihatku mengerjakan skripsi sama sekali bukanlah hal yang asing untuk orangtuaku.
Jadi juara kelas juga bukan sesuatu yang begitu mengagumkan.
Saat aku mulai menghibur diri dengan menjadi anak yang lebih berprestasi dibanding anak lainnya sekalipun, aku hanya akan mendapat respon, "Iyalah, gizimu pulak udah beda sama mereka."
Saat SMP kelas 1 aku sudah harus bisa mengurus keperluan sekolahku sendiri sementara aku harus melakukannya untuk adik-adikku bahkan sampai mereka mau masuk ke perguruan tinggi.
Mamak akan selalu bilang, "Nggak ngerti mereka itu, kau ajalah, Nang.."
Dan banyak hal lainnya yang selama ini mengintimidasiku dan membuatku merasa, "Ah, aku hanya aset bagi keluarga ini."

Tapi kemudian setelah membaca tulisan bang Raditya Oloan itu dan merenungkannya berulang kali hari ini, aku belajar melihat dari sudut pandang yang berbeda.
"Memangnya kenapa kalau aku dianggap aset oleh keluargaku? Dianggap aset 'kan karena berharga, bernilai?"
"Memangnya kenapa kalau ga pernah ditanyain? Berarti 'kan karena aku dianggap dewasa dan bijaksana, bisa menyelesaikan semua masalahku sendiri tanpa perlu campur tangan langsung dari mereka."
"Memangnya kenapa kalau aku dianggap harus tau semua hal? Berarti 'kan karena mereka menganggapku berwawasan luas atau setidaknya cukup pintar untuk belajar hal baru."
"Memangnya kenapa kalau aku dianggap bisa mengerjakan ini itu? Mengurus ini itu? Berarti 'kan karena mereka percaya bahwa aku bisa diandalkan."
"Memangnya kenapa kalau dituntut banyak? Tuhan aja menuntut banyak kok kepada yang dipercayakan banyak."

Dan ketika melihatnya dengan cara itu, aku tersenyum, kemudian menangis, terharu melihat cara Tuhan mengajarku (lagi).
"Kau bukan hanya sekedar aset untuk keluarga ini, putri-Ku. Kau jawaban bagi keluarga ini. Aku yang mengutusmu kesana. Ini adalah tempat paling tepat yang telah Kupilihkan untukmu dibentuk, dididik, dan ditempah sedemikian rupa supaya kelak kau bisa menjadi jawaban bagi sesuatu yang lebih besar lagi; kebutuhan dunia. Kau akan Kupakai dalam pengerjaan rancangan-Ku bagi dunia, dan di keluarga inilah Aku membentukmu.

Dan percayalah, ketika berhasil sampai pada titik itu, titik dimana kita sadar bahwa kita adalah jawaban bagi keluarga kita dan mulai menjalani hidup kita sebagaimana 'sebuah jawaban' menjalani hidupnya, rasanya akan sangat indah, lega, dan mengharukan.

Kita mungkin seringkali mengecilkan peran-peran keluarga bagi hidup kita.
Sering merasa, "Kenapa cuma aku yang memikirkan keluarga ini?"
Sering merasa sendiri, seolah-olah keluarga kita nggak pernah memikirkan kita.
Merasa seolah-olah sudah pasti pundak teman lebih nyaman daripada pundak keluarga.
Merasa seolah-olah sudah pasti tangan teman lebih hangat daripada tangan keluarga.
Merasa seolah-olah sudah pasti pelukan teman lebih hangat dari pelukan keluarga.
Merasa seolah-olah sudah pasti telinga teman lebih lebar daripada telinga keluarga.

Aku sering merasa takut menceritakan isi hatiku, kesedihanku, kesakitanku kepada keluargaku.
Bukan takut, lebih tepatnya tidak percaya mungkin.
Tidak percaya bahwa mereka akan bisa menjadi pendengar yang baik.
Bahkan mungkin tidak percaya bahwa mereka akan ada di pihakku.
Aku takut mereka akan berkata, "Itu aja nya? Kupikir tadi ntah apa.." dan menganggapku bodoh karena membiarkan sesuatu yang mereka anggap 'kecil' menyita pikiran dan perasaanku begitu banyak.
Tapi ketika aku mencobanya, instead of "Itu aja nya?", respon yang kudapat justru sebuah pelukan hangat, dukungan dan penghiburan dari orang-orang yang pernah kuanggap nggak akan bisa melakukannya; keluarga.

Bapak yang setiap pagi menyapa,
"Bagaimana buha baju? Apa sudah bangun?"
"Bagaimana buha baju? Apa sudah sarapan?"
"Bagaimana buha baju? Apa sudah makan siang?"
"Bagaimana buha baju? Apa sudah mandi?"
"Bagaimana buha baju? Apa sudah makan malam?"

Di malam-malam penuh penderitaan yang harus kulalui, hari-hari dimana aku meronta kesakitan, menjerit dan menangis sesak sampai kelelahan, Ranti yang membelai lembut rambutku sambil bilang,
"Jangan nangis..", padahal dia sendiri turut menangis melihat penderitaanku.

Mereka siapa?
Keluargaku.
Dan aku bersalah karena pernah mengecilkan peran keluarga di hidupku.
Mereka yang mengenalku dalam sejarah, tapi tak pernah berbalik arah.

Hari ini, ketika kulihat Mamakku dalam balutan tubuh mungilnya dan kulit gelapnya berjalan menjauh dari rumah pengobatan menuju jalan lintas, Tuhan menyadarkanku.

Betapa mengagumkannya perempuan kecil itu.
Dia adalah orang pertama yang mencintaiku tanpa syarat.
Pertama-tama dia, kemudian Bapak, kemudian adik-adik.
Dan mungkin tidak akan ada lagi selain mereka di bumi ini yang sanggup melakukannya, kecuali Kristus itu sendiri.

Mamak yang sering marah, sering meledak-ledak, sering menangis, Mamak yang sama juga yang di pikirannya cuma ada dua; suami dan anak-anaknya.

Mamak yang sering marah, sering meledak-ledak, sering menangis, Mamak yang sama juga adalah teladan terbaikku dalam perannya sebagai pendoa bagi suami dan anak-anaknya.

Dia adalah orang pertama yang mencintaiku begitu dalam, bahkan jauh sebelum kami bertemu.

Mamak benar-benar mencintaiku, itu pasti.
Aku benar-benar mencintai Mamak, itu mungkin bohong.
Aku hanya benar-benar berterima kasih atas kehadirannya di perjalanan hidupku selama ini.
Tapi aku tahu, berulang kali maut telah berusaha menjemputku, dan kalau sampai saat ini aku masih selamat, itu semua karena doamu.
Doamu.
Doamu.
Doamu Mak, yang selama ini menjadi ganti tanganmu membelai rambutku.
Doamu Mak, yang selama ini menjadi ganti pundakmu menjadi senderanku.
Doamu Mak, yang selama ini menjadi ganti tubuhmu memelukku.
Doamu Mak, yang selama ini menjadi ganti jemarimu menghapus air mataku.
Doamu Mak, yang selama ini menjadi ganti bibirmu bertanya "Gimana di kantor?"
Doamu Mak, yang selama ini menjadi pengiring langkahku ganti hadirmu.

Doamu, Mak.
Dan aku memujamu karena itu.

Ah, Pak.
Apa yang pernah kau lakukan di masa lalu, sehingga begitu beruntungnya dirimu beristrikan pendoa seperti dia?

Yok,
Renungkan.
Adakah dia, yang mencintaimu tanpa syarat?
Atau setidak-tidaknya, adakah dia, yang tetap mencintaimu bukan hanya ketika kau menyakitinya, tapi juga ketika kau menepikan dan meninggalkannya?
Atau setidak-tidaknya lagi, adakah dia, yang mendoakanmu sebanyak ibumu?


Karena sebuah doa yang tulus adalah pabrik kasih terbesar pemberian seorang manusia.




--
Sebelum pulang Mamak tersenyum lebar dan bilang,
"Nanti Ranti balik lagi kok kesini. Tenang aja. Gausah nangis ya. Bentar ajanya sendiriannya."
Maaaak, aku nangis bukan karena itu 😌😌

--
Dan aku baru dikabari kalo Ranti nggak jadi balik kesini.
Jadi malam ini aku sendirian di rumah pengobatan.
Hebat 😌😌

4 comments:

  1. Tulisanmu slalu mnyentuhku kak😭😭. Jdi smakin brsyukur kalo aku setiap anak diberikan mamak yg punya fisik lemah tapi strong melebihi satria baja hitam atau tokoh2 avengers yg skrg lagi di kagumi di smua kalangan. Aku smakin brsyukur di ksih mamak yg hatinya selembut sutra walau suka ngomel dan klo pulang skolah slalu prtanyaan prtama "gak tinggal tupperwarekan?" Trus baru nyuruh makan. Yg slalu nelepon aku lbih dri 10 kli shari klo ada paket telepon pdah aku dkatnya di mdan. Dan krna aku udh jauh skrg di telepon 1 atau 2kli atau lbih. Yg slalu baik dan mnerima aku apa adanya ditengah2 kbejatan diriku. Ahhhhh true love bgt pokoknya. Agggg jdi rndu mamakku syang 😭😭😭. NB : maafkan komenku yg kyk cerpen ini ya kak. Trima ksih jga mngingatkan aku utk brsyukur. Krna di tengah2 kekurangku yg sangat banyak ini yg banyaknya melebihi sampah di jkt tapi Tuhan tempatkan aku di kluarga yga hebat dan mamak yg TEOPBEGET love you full mom 😍 and dad too 😍

    ReplyDelete
  2. Tulisan yg sangat menyentuh hati, mengingat kembali hal itu,aku menyangimu 😘, jangan lupa janji capping day yoo

    ReplyDelete
  3. Thankyou kak utk tulisan ini, aku lagi kepikiran sama kondisi keluarga ku saat ini yang sedang down dan itu jadi membuat aku kepikiran terus kadang mau ngapai2n pun ga semangat kalo udh banyak hal yg ku pikirkan :(,tapi tulisan ini menyadarkan ku bahwa Tuhan ga sembarangan menempatkan aku di keluarga ku saat ini.

    kak minta tolong doakan aku agar bisa memanajemen pikiran ku dengan baik dan tetap berpengaharapan pada Nya
    Terimakasih kak maya

    ReplyDelete