Wednesday, 21 February 2018

Tetelestai :)

21 Februari 2018

Tuhan, terima kasih.
Aku akan mengingat hari ini sebagai salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku.
Baginya ini adalah sebuah pencapaian baru dalam hidupnya, bagiku ini adalah sebuah pencapaian baru dalam perjalanan imanku kepada-Mu.
Terima kasih sudah memilihku untuk mengerjakan panggilan ini, padahal Kau punya wewenang menggantiku dengan yang lain.
Saat aku lemah hati dan ingin berhenti kemudian melarikan diri, Engkau tetap setia menanti aku kembali.
Tak sekalipun Kau biarkan mezbah doaku runtuh, malah Kau perkokoh hari demi hari.
Terima kasih sudah menghardikku di Agustus 2016, sekalipun rasanya sakit sekali.
Jika waktu itu Kau tak menghardikku karena tidak taat, lalu aku tak pernah kembali, maka tak pernahlah 'kan kurasakan kebahagiaan ini.
Kau benar, Tuhan.
Tidak ada ketaatan yang tidak berbuah kebahagiaan.
Atau lebih tepatnya, sukacita.
Tiga tahun memohonkan hal yang sama tidaklah mudah.
Berat, ingin menyerah, tapi Engkau paksa.
Tidak, Engkau tidak paksa semena-mena.
Aku yang ingin belajar taat dan ingin melihat bagaimana akhirnya.
Oh, ternyata begini.
Akan kuceritakan pada anak perempuanku kelak, bagaimana Engkau mendidik ibunya berdoa.
Kutuliskan disini supaya di hari berat lain yang mungkin akan kuhadapi di masa depan, bisa kutemukan jejak kebaikan-Mu disini.

Aku mengasihinya, Tuhan, karena-Mu.
Tapi Engkau yang paling.
Maka tawanlah dia dengan kasih-Mu, seperti Engkau telah berhasil menawanku.

Tetelestai :)

--
Yesterday.
May, aku takut.
Hampir aja tadi aku ke rumah kamu buat jumpain kamu dulu sebelum sidang besok.

Today.
I want to see you tonight, may I?

0 komentar:

Post a comment