Saturday, 3 February 2018

[Perenungan] : Single but Happy


Hari ini adalah hari yang unik.
Diawali dari naik tangga sampai lantai lima (yang mungkin udah terdengar biasa), turun tangga dari lantai lima belas (ini juga udah terdengar biasa), juga kejadian lift jatuh karena keberatan beban lalu proses evakuasi yang dramatis serta bully-an yang kuterima sepanjang siang karena dianggap sebagai penyebab kekacauan itu (ini ga biasa, kecuali bagian aku dibully, itu udah biasa).
Haha.
Sepulang dari kantor, aku ikut ibadah MBA (Mimbar Bina Alumni). Nah, itu yang mau kushare hari ini.

--

Ibadah MBA hari ini bertema Single But Happy. To be honest, aku belum sesedih itu dan segalau itu berkenaan dengan statusku yang belum taken. Mungkin hal-hal demikian akan dihadapi kalau usia udah mencapai 28 ke atas, udah didesak-desak keluarga untuk segera menikah, nah, barulah biasanya terasa itu sakitnya. Tapi yang mau kubagikan hari ini juga bukan resensi khotbah tadi, agak jauh malah, tapi aku mau share perenungan pribadiku aja.
“Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan..”
Adalah tagline yang paling kuingat hari ini.
Kalau kita disuruh bersukacita di dalam Tuhan, berarti ada dong bersukacita di luar Tuhan?
Iya, ada. Banyak malah.
Salah satunya adalah pola pikir bahwa keberadaan pasangan akan membawa sukacita ke dalam hidupnya.
Jadi jika dia single, tidak sedang dekat dengan siapapun, atau sedang digantungin perasaannya oleh seseorang, ia sulit untuk merasa bahagia.
Semestanya seolah-olah hanya sedang berotasi di urusan yang itu-ituuuuu saja.
Padahal sebenarnya ga begitu.
Salah satu bagian yang paling kuingat dari buku Lady in Waiting adalah pelajaran untuk menjadi puas hanya dengan keberadaan Kristus. Kita harus sampai pada titik kesadaran penuh bahwa tidak ada satu laki-laki atau perempuan manapun di muka bumi ini yang kehadirannya sanggup membuat kita merasa puas, kecuali Dia; Kristus.
Bagian lain yang tak kalah pentingnya adalah tentang ‘berharga’.
Bahwa kita berharga sebagaimana adanya kita, sekalipun kita single, sekalipun orang bermain-main dengan perasaan kita, sekalipun kita sudah memberikan yang terbaik tapi kemampuan kita masih saja tidak diakui, sekalipun tidak ada laki-laki yang mendekati kita, tidak ada laki-laki yang menunjukkan ketertarikan kepada kita, sekalipun kita belum menikah padahal usia sudah dianggap perawan tua, kita tetap berharga, sebagaimana adanya kita.
Kita telah berharga sejak saat Tuhan merancang kelahiran kita di sebuah keluarga, bukan sejak adanya pengakuan dari manusia lain di bumi ini. pengakuan yang kumaksud dalam arti ada yang menginginkan kita (entah dalam konsep teman hidup, pekerjaan dlsb).
Aku mengatakan ini karena aku pernah merasakannya; merasa seperti sampah.
Saat aku merasa dikecewakan, saat aku merasa tidak dianggap, saat aku merasa diabaikan tanpa tahu salahku apa, saat aku ditinggalkan, saat aku tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan kapabilitasku, saat ide-ideku dianggap tidak benar hanya karena itu adalah ideku, aku merasa seperti sampah.
Sungguh.
Dan tidak sedikit waktu yang kubutuhkan untuk belajar bangkit kembali, menyadari betapa berharganya aku di mata-Nya, walau aku hanya begini.
Sampai sekarang pun aku masih sering merasa seperti sampah :(
Tapi tidak sesering dulu.

Melekat juga di ingatanku tentang standar yang tepat untuk menjadi teman hidup.
Tidak cukup hanya lahir baru, tapi juga harus mencintai Tuhan dan mencintai pelayanan-Nya.

Whoaaaa.
Dan menemukan orang seperti ini itu sungguh amat sulit.
Mereka yang aktif sekali di pelayanan itu pun, melayani sebagai MC atau pemusik setiap minggu di gereja/kampus, bisa jadi tidak mencintai Tuhan.
Mencintai Tuhan adalah tentang menanggalkan diri kita untuk menyenangkan-Nya, dan itu adalah salah satu dimensi terdalam yang sebaiknya dikejar oleh setiap orang percaya. Dan untuk bisa sungguh-sungguh mencintai Tuhan, dibutuhkan LATIHAN. Serta, kerendahan hati.

Oiya, curhat dikit.
Tadi terpikirnya cuma sama satu orang; Ardi.
Memang KTBku yang satu itulah, pasti bahagia kalilah adek itu bisa bersama-sama dengan orang yang mencintai Tuhan kaya’ si Ardi :)
Aku turut bangga.
Wkwk.

Aku udah ngantuk.
Tapi sebenarnya yang paling ingin kusampaikan dari tadi adalah,
Mencintai seseorang itu tidak pernah terlalu berat, yang berat itu adalah mencintai orang yang tidak mencintai Tuhan.

Tapi sebelum ke dia, kamu sendiri, sudah cinta Tuhan atau belum?
:)


0 komentar:

Post a comment