Friday, 2 February 2018

[Perenungan] : Ketaatan


Pertama kali dipublikasikan di Line pada tanggal 27 Januari 2017

--

Hosea 1:2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."

Yehezkiel 4:12-13 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka."
Selanjutnya TUHAN berfirman: "Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana."


Berhubung BR-ku sedang ada di Yehezkiel saat ini, aku jadi sering berbagi tentang perenunganku dari kitab ini. Maap yaa ;)

Hosea dan Yehezkiel adalah dua kitab yang mencerminkan setidaknya dua sisi penting; Betapa gilanya cinta kasih Allah bagi manusia dan betapa gemarnya manusia berzinah di hadapan Allah.

Hosea, seorang nabi, disuruh menikahi perempuan sundal kelas kakap di jaman itu. Setelah menikah, perempuan itu berzinah. Allah menyuruh Hosea menikahi perempuan sundal itu, sekali lagi.
Yehezkiel adalah seorang anak manusia yang tak pernah dinajiskan dari masa mudanya sampai dengan perintah ini diberikan Allah (Yeh. 4:14), tapi ia diperintahkan untuk membakar rotinya di atas kotoran manusia untuk menggambarkan penghukuman yang akan Allah berikan kepada bangsa Israel.

Kalau dipikir-pikir, Allah kita ini kejam ya?
Mereka tampaknya tidak berbuat sesuatu yang mengharuskan mereka menanggung 'kehinaan' semacam itu, ditambah dengan status mereka sebagai nabi.
Mengapa Allah menyuruh mereka melakukan itu?
Bukan itu yang mau kubagikan hari ini.

Sejujurnya aku masih dan akan selalu terheran-heran setiap membaca cerita-cerita ini berulang kali.
Tak bisa kutemukan satupun kalimat disana yang menggambarkan penolakan mereka akan perintah Allah.
"Ikkkkhhh, please deh Tuhan, gila aja kalo aku harus nikah sama perempuan sundal, aku ini nabi loo Tuhan."
Atau,
"Hallloooww, Tuhan ga salah bilang 'kan? Kenapa juga aku harus membakar rotiku di atas kotoran manusia? Najis deh!"
*sekalipun di ayat selanjutnya diceritakan kalo kotoran manusia-nya diganti jadi kotoran lembu*

Aku ga menemukan kalimat-kalimat sejenis (atau yang lebih kuno lagi, karena yang di atas terlalu modern) disana.
Hosea dan Yehezkiel hanya mengerjakannya, sesuai dengan perintah Allah.

Dan ini, WOW, suwaaaaggg!
Mungkin itu yang bisa kubilang.

Sementara kita?
Udah jelas-jelas Tuhan nyuruh untuk melayani disini, tapi kita milihnya yang sana karena mungkin bakalan lebih tenar kalo melayani disana. Huftthhh, masuk akal memang. Tapi itu salah. Itu namanya ga taat.

Apakah Tuhan menuntut kita melakukan hal yang sama seperti yang Ia perintahkan kepada Hosea dan Yehezkiel?
Mungkin tidak.
Apakah Tuhan menuntut ketaatan yang sama?
Tentu iya.

Maka setia dan taatlah akan perkara kecil, karena ketaatan itulah yang akan menjadi kerikil-kerikil untuk kita tapaki dalam perjalanan untuk dipercayakan perkara yang lebih besar lagi.

Bagaimana bisa taat?
Latih dan isilah dirimu dengan firman dan doa, seperti apa yang bang Ega katakan beberapa waktu yang lalu.

😇

0 komentar:

Post a comment