Monday, 5 February 2018

[Book Review] : Dilan 1990 (Trilogi Dilan Bagian I)


Hi :)
I really don’t know as well why do I end up writing this review.
Haha.
Mungkin ini bukan review, tapi cuma sekedar tuangan perasaan yang kurasakan ketika membacanya.
Sebelumnya aku mau kasitau dulu, ini bukan kali pertama aku membacanya.
Pernah suatu kali, waktu itu dikenalin sama Juju.
Tapi anehnya, entah kenapa aku ga ingat sedikitpun sama isinya :(
Jadi aku baca ulang, entah karena fenomena booming film-nya, bisa juga karena saat ini aku sudah lebih serius berusaha menikmati sastra lokal dibanding dulu.

Novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama; Milea.
Milea menuangkan sebanyak-banyaknya hal yang sanggup ia ingat tentang penawan hatinya di masa SMA; Dilan.
Mengapa novel ini menarik minat banyak pembaca, hm, menurutku, mungkin salah satu alasan utamanya ya karena ditulis dari sudut pandang orang pertama itu, tanpa melupakan alur dan latar waktu maupun tempat dari kejadian-kejadian yang dikisahkan ulang oleh penulis.
Biasanya memang, tulisan yang dilukiskan dengan sudut pandang orang pertama lebih mudah dicerna dan dibayangkan, setidaknya menurutku begitu.

Perasaanku ketika membacanya?
Senang – jika kuposisikan diriku sebagai Milea yang masih kelas 2 SMA (walau sewaktu kelas 2 SMA usiaku masih 14 tahun, mungkin 2 tahun lebih muda darinya) – walaupun buku ini tidak memberiku satupun kosakata baru. Dan, review ini akan kutuliskan berdasarkan sudut pandangku seolah-olah usiaku masih 14 tahun juga.

Dilan mungkin memang sosok impian semua gadis remaja.
Ia pintar, tapi juga cerdas.
Ia nakal, tapi juga baik.
Ia menyenangkan, tapi juga menyebalkan.
Ia kreatif, juga mampu membuat seseorang merasa diperlakukan spesial dan berharga.
Ia sopan, tapi juga tidak.
Ia tahu kepada siapa perlu menurut, juga kepada siapa perlu melawan.
Tapi untukku pribadi, yang paling menarik dari semua karakternya adalah – tentunya selain bagian yang menyatakan ia mencintai sastra dan suka membaca, juga bacaan kami setipe pula –, ia menunjukkan perasaannya dengan sangat polos, tidak dibuat-buat.

Kalimat-kalimat yang diutarakannya mungkin terdengar receh di telinga orang dewasa, tapi ingat; gadis remaja suka yang begitu. Aneh memang.
Gadis remaja seusia Milea tidak akan jatuh cinta dengan laki-laki yang menawarkan kemapanan dan kedewasaan (yang cenderung dibuat-dibuat) oleh mahasiswa hebat seperti Kang Adi.
Tidak butuh, sama sekali.
Gadis remaja tidak butuh laki-laki yang dengan sombongnya pamer kalau dia anak ITB, kalau dia sudah punya usaha bisnis rintisan, kalau dia aktif di organisasi kampus, kalau dia suka membaca novel berlatar belakang sejarah Inggris, kalau dia bisa antar jemput dengan mobil pribadi, bisa menjadi tutor pribadi, dlsb.
Gadis remaja tidak butuh itu semua.
Milea tidak butuh itu semua.
Ia hanya butuh seorang laki-laki sederhana, yang nyaris tergila-gila padanya, tapi anehnya, tidak bertekuk lutut di hadapannya.
Ya begitulah.
Dengan kesungguhan yang tersirat dalam kepolosannya, semua itu sudah cukup.
Oh ya, satu lagi, sopan santun.
Setidaknya untuk Milea, Dilan selalu bersikap sopan dan santun.

Pembaca/penonton mungkin banyak yang menyimpan asa dalam hati, “Sisakan satu orang seperti Dilan untukku, ya Tuhan.”
Sayang dalam asanya itu, mereka tak sanggup bertingkah seperti Milea.
Milea itu, spesial.
Dia mampu melihat hal besar dalam hal-hal kecil yang Dilan lakukan; yang mana tidak banyak perempuan yang cukup bijak untuk bisa melakukannya.
Ketika melihat TTS dia tidak hanya sedang melihat lembaran-lembaran teka-teki yang memusingkan kepala, ia bisa melihat jam-jam yang dihabiskan dalam usaha si pemberi untuk mengisinya sampai selesai.
Kamu bisa melihat hal yang sama?
Ketika melihat cokelat dia tidak hanya sedang melihat cokelat, tapi juga orang-orang yang diajak Dilan untuk berkonspirasi dalam usaha pemberian cokelat itu.
Kamu bisa melihat hal yang sama?
Sederhananya, Milea tidak dangkal.

Dilan mungkin terkesan romantis di mata banyak orang, tapi itu juga karena Milea memberi keleluasaan bagi Dilan untuk mengekspresikan cintanya dengan cara yang Dilan sendiri inginkan.
Coba kalau Milea katakan, “Ikh, ini doang?”
Bisa Dilan leluasa menunjukkan cinta?
Pasti tidak.

Jadi cinta dan kepedulian itu bisa terlihat indah, tidak semata-mata tergantung pada si pemberi, tapi juga cara si penerima dalam memahami, menerima, lalu menyikapi.

Kisah cinta ini mungkin jadi kisah cinta impian banyak orang, bagiku sendiri terkhusus pada bagian dimana Milea bisa sedekat itu dengan ibu dari calon pacarnya.
Siapa yang tidak iri mungkin tidak normal -_-

Tapi yang paling aneh dari novel ini, bagaimana mungkin seorang anggota geng motor bisa jadi juara kelas? Haha. Sedikit berbanding terbalik dengan realita jaman ini.

Itu saja.

Oh ya, jangan lupa, ini dari sudut pandang anak berusia 14 tahun, yang tidak butuh kemapanan, cukup hanya kenyamanan. Yang tidak butuh diajak bicara soal masa depan, cukup seseorang yang entah kenapa selalu dirindukan, walaupun bertemunya masih barusan.

Rate : 3/5

2 comments:

  1. Udh review sebagus ini, tp rating sodara cm 3/5. Wkwkwkw
    Kayak dinaik2kan tp pas liat ratingmu, kaum awam kek awak jd mikir "lah jd intinya, bagus gak sih sbnrnya Dilan2 ini" wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jg pernah kasih rate 4,5/5 loo, you check my IG account ma @ladyceberg

      aku kasih rate tinggi itu utk buku yg bisa kasih ilmu baru, pemahaman baru, sudut pandang baru ketika menilai sesuatu :)

      Delete