Monday, 8 January 2018

[Random Story] : Wisdom Teeth, Wisdom Life




Aaaaaaaakkkhhhh :(
Sejujurnya aku lagi sedih kali sekarang :(
Sedihnya berkali-kali lipat, takutnya juga :(

Lately aku memang agak baperan ga jelas kaya' orang lagi PMS (padahal udh kelar 2 hari yg lalu).
Nah, sekarang masalahnya jadi nambah.
Jadi ceritanya sekitaran akhir Desember kemaren aku nonton-nonton video di YouTube tentang wisdom teeth.
 Itu apa?
Gigi geraham belakang,yang tumbuhnya pas kita udah dewasa.
Nah, aku dulu ga pernah explore lebih soal ini, padahal aku udah sadar kalo geraham bungsu-ku di bagian kiri bawah udah tumbuh sejak Februari 2016 (itu pas aku skripsian).
Aku sebenarnya selama ini selalu heran juga kenapa rasanya tingginya ga sama dengan gerahamku yang lain, kenapa kayanya tumbuhnya ga kelar-kelar juga sampe sekarang, tapi aku ga pernah ambil pusing karena ga pernah sakit sama sekali.
Nah akhirnya pas akhir Desember kemaren, gigi itu tiba-tiba agak nyeri. Bermodalkan YouTube, aku research laa. Ternyata hasilnya, giginya itu bukannya belum kelar tumbuh, tapi tumbuhnya miring aka ga normal :(
Mirisnya, ketidaknormalan pertumbuhan wisdom teeth ini adalah hal yang normal di dunia pergigi-an, sesuai dengan teori evolusi (explore sendiri aja ya soal itu, memei lagi unmood buat jelasin)

Pas libur Natal kemaren, yg bagian kiri bawah agak ngilu gitu, mungkin karena bolak balik kusentuh kali yaa jadinya dia capek juga #eh

Setelah itu, dia baikan. Sampai sekarang ga pernah ngilu sama sekali sih. Walaupun aku mikir, jelek juga ya gigi tiduran begitu.
Nah, tercetuslah keinginanku untuk cabut gigi itu.
Lalu pas aku explore, tau biayanya berapa?
Wkwk

3,5 juta PER EACH gigi.
Bayangkan!!
Gigiku ada 4 dan pas kuraba-raba pakai lidah kaya'nya semuanya abnormal alias perlu dicabut :(

Tapi keinginanku belum sebesar itu.
Sebelum apa yang kurasakan sekarang terjadi.
Giliran bagian kanan bawah yang bertingkah.
Parahnya, gusinya bengkaaaak kali dan aku jadi ga nyaman sama sekali.
Sampai-sampai pas kuraba, di bawah rahangku dekat leher itu ada benjolan kecil yang kalau ditekan rasanya sakit. Posisinya tepatlah di bawah gigi yang baru tumbuh itu.

Aku ga nyaman sama sekali.
Akhirnya kuputuskan, besok harus ke dokter gigi.
Dengan harapan, bakalan langsung bisa dicabut dan ga memberi efek apa-apa kecuali waktu pulih lukanya.

Nah, sebelum aku nulis ini, aku research lagi.
Ternyata ada efek samping ke syaraf (walau ini aku udah expect sih karena urusan gigi itu = urusan syaraf) makanya banyak orang malas buat cabut wisdom teethnya.

Tapi yang paling kutakutkan adalah, kalo misalnya aku harus disuruh masuk ruang operasi dan harus dibius total.
Ampuuuunlah :'(
Pas aku explore lebih dalam lagi, mereka bilang setelah dicabut kita ga boleh makan keras, harus tunggu sampai jahitannya dibuka dan lukanya sembuh. And you know? It can be 14 days up to 2 months to be healed.
KEBAYANG GAAAA??
Terus terus, ada kemungkinan bakalan disuruh bed rest lah, disuntik obat penggumpal darah-lah, dan yang pasti, bengkak di pipi sebesar bakpau selama beberapa lama sebagai efek dari operasinya.
KEBAYANG GAAAA :'(

Aku udah mau nangis kali membayangkannya daritadi.
Tapi kalau ga dicabut pasti bakalan merusak gigiku yang lain.
Bisa bergeser laa, inilah, itulah.
Tapi aku takut, takut kali :(
Gimana aku ke kantor dengan kondisi gigi semacam itu? :(
Gimana aku bisa meeting dengan pipi segede bakpau? :'(
Kalau aku harus makan makanan lembut, aku mau makan apa?
Mana mungkin aku minta tolong sama Bou untuk dimasakin makanan khusus tiap harinya. Kan ga tega :(
Lagian dia mana mungkin mau :(


Tapi yang paling kusedihkan dari semuanya adalah, I have to face and think about these kind of things alone, j u s t  o n l y  b y  m y s e l f .

I want to lean on someone about this fear but I have no one to do so :'(
*okeee aku mulai nangis*
Aku juga pengen bisa lean on sama seseorang, bisa share ketakutan-ketakutanku sama dia, bisa ngerasa punya seseorang yang mendukung dan meyakinkan aku kalo misalnya ga bakalan terjadi apa-apa.
Tapi aku ga punya siapapun :'(
Aku yang selalu dituntut untuk bersikap dewasa, mengayomi, dianggap selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri, mana mungkin aku cerita sama Mamak tentang hal-hal kaya' gini? :'(
Dia juga sibuk, banyak hal yang lebih penting buat dipikirkannya dibandingkan memikirkan masalah gigiku.
Tadi Mamak datang, terus aku sempat bilang, "Mak, besok aku ke dokter gigi lah, bengkak kali gusiku karena geraham bungsuku tumbuh ga normal. Mau kucabut ajalah.."
Terus Mamak jawab, "Mana bisa cabut gigi pas gusinya bengkak.."

Just like what I've expected before.
Manalah Mamak tau apa-apa soal apa yang sedang berkecamuk di pikiranku tentang geraham bungsu ini.
Di pikirannya ya ga ada bedanya cabut gigi yang itu dengan cabut gigi yang lain, ya sama-sama cabut gigi aja.
Akhirnya aku memutuskan untuk ga melanjutkan pembicaraannya.

Tapi aku juga gabisa nyalahin Mamak soal hal itu.
Aku juga ga boleh berharap bisa manja-manjaan dan merengek sama dia kalo ngerasa sakit atau apapun, atau mungkin kalau aku patah hati, itu sama sekali ga mungkin.
She can share her feelings with me, her hopes, her dreams, but me?
I can't do those kind of things to her.
Rasanya terlalu egois kalo aku masih berharap Mamak bisa ngurus-ngurusin masalahku sementara dia punya segudang masalah yang dia harus pikirkan.
Akulah yang harusnya bantu Mamak memikirkan penyelesaian masalahnya, bukannya ikut-ikutan nambahin pikirannya.

Tapi sebenarnya, kalau boleh jujur, sebagai anak pertama, aku juga pengeeeen kali bisa manja :'(
I want to share my feelings, my sorrows, my fears, my dreams, but I just can't do it :'(
Aku juga sebenarnya lelah when everyone is leaning on me, hoping me to help them, solving their problems, teaching them, help them to choose which one is good and which one is not.
Aku bukan ga senang bisa diandalkan, bukan ga senang dianggap dewasa, bukan ga senang bisa bantu mereka.
Aku senang, senaaaaang kali malah.
It's an honour for me to be the oldest.

Tapi sejujurnya, aku juga butuh diperhatikan.
Aku butuh dikasi masukan.
Aku butuh dikasi saran dan penguatan.
Aku butuh dikasi semangat.
I'm only 21 yo and somehow I feel that life is just too hard for me :'(
Ya aku tau di luar sana banyak orang yang hidupnya jauh jauh jauh lebih sulit daripada aku, lebih sedih dari apa yang aku rasakan.
So people out there will judge me "Aaaahh lu gatau terima kasih masih untung bla bla bla"

Tapi nggak, sebenarnya nggak gitu.
Bukan aku gatau terima kasih, sama sekali bukan.
Aku sadar betul bahwa sampai sekarang masih hidup aja itu karena anugerah-Nya, setelah semua hal menyakitkan yang harus kuhadapi di masa lalu, mungkin aku udah bunuh diri kalo aku ga kenal Tuhan Yesus.

Tapi aku juga pengen mengeluh.
Maksudnya, aku juga pengen ada masa-masa dimana aku bisa mengeluhkan semua perasaaan yang bertumpuk-tumpuk di kepalaku ini sama seseorang.
Masa dimana aku bisa manja, bisa mengkek, bisa ga perlu berlagak dewasa dan bertingkah sekanak-kanak mungkin di depannya.
Teman yang setidaknya bisa mendengarkan semua keluh kesahku juga udah jauh, dan karena itulah aku makin ngerasa kesepian dan sendirian.
I need someone who can help me enjoying my life, which I'm not good at.
Aku ga punya lagi orang-orang yang bisa kuajak ketemuan pas aku pulang kerja, yang dengannya aku bisa tiba-tiba nangis karena stres di kantor terus makan es krim sepuasnya atau kekenyangan makan mie ayam di Uncle K.
Aku ga bisa share semua hal yang membuatku hampir gila di kantor, bahkan aku gabisa share disini, since it's confidential.
Masalah yang sebenarnya itu-itu aja sampai Juwita kayanya mau nabok tiap kali aku cerita tentang itu.
Dia aja udah muak.


Mungkin karena itu aku jadi in love sama late night call yang bisa kurasakan pertama kali lebih dari 2 tahun yang lalu.
Sebuah masa dimana I have no need to share my stories, my sorrows, tapi aku ngerasa kaya' lagi dibawa ke dunia paralel dimana aku bisa, setidaknya untuk sejenak, melepaskan semua kesesakan yang kurasakan selama ini.
Melalui semua obrolan-obrolan ga penting itu, aku merasa jadi manusia biasa.
Manusia yang ga dibebani sama tanggung jawab.
Manusia normal berusia 21 yang harusnya masih bisa bertingkah alay dan ga punya beban apa-apa.

I have no idea about h a p p i n e s s, but I'm hoping for it.

Andai Tuhan tahu betapa kesepiannya aku.
Andai Tuhan tahu betapa hampir gilanya aku dengan semua masalah yang bertumpuk-tumpuk di pikiranku ini.
Andai Tuhan tahu betapa inginnya aku punya teman dekat yang bisa membuatku merasakan hidup sebagai manusia normal.
Andai Tuhan tahu, betapa rindunya aku akan kebahagiaan yang sudah kulupakan rasanya itu.

Mungkin Dia tahu, tapi Dia memilih diam.

0 komentar:

Post a comment