Wednesday, 31 January 2018

[Book Review] : Konspirasi Alam Semesta

Adalah karya kedua Fiersa Besari yang saya baca setelah Garis Waktu.
Pada beberapa titik kecil namun sangat penting, Juang, karakter utama dalam tokoh ini sangat mewakili perasaan saya.

Ada dua dialog yang paling saya ingat dari novel ini.

“Saya akan menunggumu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu kamu sadar kalau saya yang paling bisa membuat kamu bahagia.”

Kemudian,

“Saya lelah.”
“Lelah kenapa?”
“Kamu tahu ‘kan saya menyayangimu?”
“Jadi kamu lelah menyayangi saya?”
“Saya lelah menyayangi kamu sembunyi-sembunyi.”

Berbeda dengan Garis Waktu yang ditulis berdasarkan sudut pandang orang pertama, Konspirasi Alam Semesta ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Karena itulah, novel ini tidak lebih membosankan dibanding Garis Waktu. Novel ini juga membuktikan bahwa Fiersa Besari adalah seorang penulis yang bermodal; dalam konteks pengetahuan umum yang setidaknya cukup berhasil membuat saya senang.
Sejujurnya menjadi novel yang mampu menyenangkan hati saya itu mudah; berikan saya minimal satu saja kosakata baru ketika membacanya.
Dan itu yang novel ini berhasil berikan.
Ada beberapa kosakata yang saya yakin, kurang dari 50% pembaca novel ini paham artinya.
Saya tantang kalian ya.
Ada yang pernah mendengar tentang:
1.                   Titik Bifurkasi
2.                   Lekra
3.                   Pulau Buru
4.                   Pramoedya Ananta Toer
5.                   Renjana
6.                   Panakawan
7.                   Trangia
8.                   Ekstase
9.                   Mafhum
10.               Eks Tapol.

Hayooo, mana yang pernah didengar dan dipahami?

Hei kamu yang tahu kalau kalimat ini ditujukan untuk kamu, walaupun kamu pernah tidak tahu apa arti nocturnal, kamu pasti tahu setidak-tidaknya nomor 2,3,4, dan 10 kan?

Oke, aku bantu jawab satu per satu.
1.       Titik bifurkasi; adalah titik paling ujung sebelum sebuah pembuluh terbagi menjadi dua bagian
2.       Lekra; adalah singkatan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat. Kalian yang pernah membaca tulisanku tentang Henk Ngantung harusnya sudah tahu tentang ini
3.       Pulau Buru; adalah sebuah pulau tempat pengasingan tahanan politik di masa pemerintahan order baru (koreksi jika saya salah). Kalau kalian pernah dengar novel fenomenal bertajuk Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, nah, kalian pasti tak asing dengan tempat ini
4.       Pramoedya Ananta Toer; adalah seorang novelis fenomenal di masa pemerintahan orde baru. Novel-novelnya dilarang diterbitkan, dibumihanguskan, sehingga ada masa dimana ide-idenya untuk novel-novel itu diabadikan melalui mulut ke mulut sesama tahanan politik di Pulau Buru (**Ngomong-ngomong, perkataanmu waktu itu benar. Bahkan jika kita tak lagi bertegur sapa kelak, kamu akan selalu melekat dalam ingatanku, setidaknya karena Tetralogi Pulau Buru)
5.       Renjana; adalah sebuah istilah untuk menunjukkan hasrat, gairah, rasa hati yang kuat akan sesuatu
6.       Panakawan; adalah istilah dalam dunia perwayangan untuk melukiskan orang-orang terdekat (baca: pengikut, sahabat-sahabat) seorang pahlawan (pasti banyak yang membayangkan Gatot Kaca)
7.       Trangia; adalah kompor yang sering digunakan oleh para pendaki gunung
8.       Ekstase; adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan rasa nikmat yang tiada tara
9.       Mafhum; adalah istilah lain dari kata “pahaam” atau “mengerti”
10.   Eks Tapol; adalah singkatan dari “eks tahanan politik”, istilah yang digunakan untuk orang-orang yang pernah menjadi tahanan politik pada masa pemerintahan orde baru dan mengalami pengasingan. Orang-orang yang merupakan eks tapol dikenali dengan tersematnya tulisan ETP di KTP mereka. Hal ini membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan, dan terus mengalami pengasingan dari orang-orang sekitar bahkan setelah mereka dibebaskan dari tempat pengasingan itu sendiri. Anak-anak mereka biasa menghadapi peristiwa-peristiwa sejenis ‘ditelanjangi dan diikat di lapangan kemudian diolok-olok’ karena ber-orangtuakan eks tapol.

Hayooo, benar berapa?
:D

Untuk orang-orang yang lebih sering membaca novel-novel terbitan Wattpad, cobalah baca novel ini. Setidaknya wawasanmu tentang Indonesia akan bertambah sedikit. Novel ini menunjukkan bahwa benar seorang Fiersa Besari pernah menghabiskan beberapa bulan waktunya untuk menjelajah Indonesia. Ia bisa menggambarkan dengan cukup detail tentang kondisi Papua, Sinabung, juga Nias.

Overall, saya beri rate 3/5 untuk novel ini.

Lho, kenapa cuma segitu?
Beberapa alasan saya di antaranya:
1.                   Judul novel ini terlalu ‘umum’ di telinga saya. Ketika pertama kali membacanya, saya langsung tahu novel ini akan dibawa kemana. Di mata saya, padanan kata ‘Konspirasi Alam Semesta’ itu terlalu melekat pada sosok Paulo Coelho, yang kalian tahu beberapa novelnya sudah saya baca
2.                   Ada beberapa adegan tidak dewasa yang saya temukan dalam novel ini. Jambak-jambakan karena seorang laki-laki sampai-sampai salah satu jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit? Alamak, terlalu teenlit. Adegan lamaran di depan banyak orang? Bukan Juang banget. Ana yang sakit tumor otak? Haloooo, apa tidak ada pilihan penyakit lain yang bisa membuat saya ingin explore lebih gitu? Tumor otak terlalu umum.

Oh iya, salah satu bagian yang menarik adalah nama anak Juang dan Ana.
ILYA.
I love you, always.

Biasa aja sih, tapi karena saya pernah dapat pesan WA yang isinya “Ily”, saya jadi agak senyum gimana gitu pas baca nama anak mereka. Haha.

Bagian lainnya adalah ide penulis mengenai "Orang yang tepat seringkali datang di waktu yang tidak tepat; saat dia telah ada yang miliki."

Demikian review saya kali ini.
Dah.
:)

Oiya, di bagian akhir setiap bab dalam buku ini juga terdapat lirik lagu yang dituliskan dalam bentuk puisi (bukan sebaliknya).
Favorite saya berjudul Juara Kedua dan Waktu yang Salah.
Bisa kalian dengarkan di YouTube.

--
Untuk kamu,

Kamu dan Indonesia adalah sejuta pesona yang disampul oleh rasa sakit. Dan aku mencintai kalian berdua, sungguh.

0 komentar:

Post a comment