Saturday, 30 December 2017

[Book Review] : The Fifth Mountain (Gunung Kelima) by Paulo Coelho

Buku ini akan mengasah kemampuan kita dalam menilai sesuatu dari sudut pandang yang benar-benar berlawanan. Bacalah untuk mengasah kemampuanmu, tapi jangan anggap ini kebenaran. Pada akhirnya, buku ini tetap fiksi.
Enjoy!

1
“Tak mungkin Tuhan membiarkan kita dibantai tanpa belas kasihan, “ Elia bersikeras.
“Tuhan maha kuasa. Kalau Dia membatasi Diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakan-Nya. Kalau demikian halnya, aku memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.”
“Kalau Dia maha kuasa, kenapa Dia tidak menghindarkan orang-orang yang mengasihi-Nya dari penderitaan? Kenapa Dia tidak menyelamatkan mereka, bukannya justru memberikan kekuatan dan kemenangan kepada musuh-musuh-Nya?”
“Entahlah,” sahut si orang Lewi. “Tapi pasti ada alasannya, dan kuharap aku segera mengetahuinya.”
“Kau tidak punya jawaban untuk pertanyaan ini.”
“Tidak.”
**Jawabannya ada di akhir tulisan ini

2
Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis yang berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. Tanpa itu, segala sesuatu di dalam jiwa tersebut akan mati, meski raganya masih terus hidup, dan orang-orang akan berkata, “Di dalam tubuh ini pernah hidup seorang manusia.”

3
Barangkali manusia mengingkari takdirnya karena Tuhan tidak terasa lebih dekat. Dalam hati manusia Dia telah menempatkan mimpi akan suatu masa ketika segala sesuatunya mungkin terlaksana – kemudian Dia pergi menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Dunia mengubah dirinya sendiri, kehidupan semakin sulit, namun Tuhan tidak pernah kembali untuk mengubah mimpi-mimpi manusia.
Tuhan begitu jauh. Tapi kalau Dia masih mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk berbicara pada nabi-nabi-Nya, berarti masih ada sesuatu yang mesti dilakukan di dunia ini. Apakah kiranya jawaban itu?

4
Elia menatap burung gagak itu lekat-lekat.
“Aku sudah belajar,” katanya pada burung itu. “Meski pelajaran ini sia-sia, sebab aku sudah ditakdirkan mati.”
“Kau telah menemukan betapa sederhananya semua ini,” burung gagak itu sepertinya menjawab. “Cukuplah bahwa kau mempunyai keberanian.”

5
“Kenapa aku harus melakukannya?”
“Agar nama Tuhan dimuliakan.”
“Kalaupun itu benar terjadi, aku meragukan diriku sendiri. Aku tidak lagi layak menjalani tugasku,” sahut Elia.
“Semua orang berhak meragukan tugas yang diperintahkan kepadanya, dan mengabaikannya sesekali, namun dia tidak boleh melupakannya. Sebab siapapun yang tidak meragukan dirinya sendiri berarti tidak layak – sebab dengan keyakinan penuh akan kemampuannya, berarti dia telah berbuat dosa kesombongan. Diberkatilah mereka yang mengalami saat-saat ragu.”

6
“Maksudmu, menurut pendapatmu, dewa yang mengirimkan badai sama dengan dewa yang menciptakan gandum, meski badai dan gandum dua hal yang sama sekali berbeda?”
“Kau lihat Gunung Kelima itu?” tanya Elia. “Dari arah manapun kau melihatnya, gunung itu kelihatan beda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh ciptaan: mereka merupakan cerminan wajah yang berbeda dari Tuhan yang sama.”

7
Cinta bisa menjadi pengalaman yang lebih menakutkan daripada berdiri di hadapan prajurit Ahab yang memegang anak panah ditujukan ke jantungnya; kalau anak panah itu mengenai sasarannya, dia akan mati – dan selanjutnya terserah Tuhan. Tapi kalau cinta menghinggapinya, dia sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap konsekuensi-konsekuensinya.

8
Namun demikian, dia akan tetap mencintai orang ini, sebab untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan kebebasan. Dia bisa mencintai laki-laki ini, meski laki-laki ini tidak mengetahuinya; dia tidak membutuhkan izinnya untuk merasa kehilangan, untuk memikirkannya setiap saat, untuk menunggunya pulang makan malam, dan untuk mengkhawatirkan rencana-rencana yang disusun orang-orang untuk mencelakainya.
Sepertinya inilah kebebasan: bisa merasakan apa yang dihasratkan hati, tanpa perlu memikirkan pendapat orang-orang lain. Dia telah melawan tetangga-tetangganya dan teman-temannya mengenai kehadiran orang asing ini di rumahnya; namun dia tidak merasa perlu melawan dirinya sendiri. Dia merasa bebas, sebab cinta membebaskan.

9
“Kau sedang apa?”
“Aku sedang tidak punya kegiatan,” sahutnya.
“Kalau begitu belajarlah sesuatu. Pada saat ini, banyak orang berhenti menjalani kehidupan. Mereka tidak marah, juga tidak berseru-seru memprotes; mereka sekadar menunggu waktu berlalu. Mereka tidak menerima tantangan-tantangan kehidupan, jadi kehidupan pun berhenti memberikan tantangan pada mereka. Kau juga mengambil risiko yang sama; tunjukkan reaksi, hadapi hidup, tapi jangan berhenti hidup.”
“Hidupku mulai kembali berarti,” kata perempuan itu sambil menunduk. “Sejak kedatanganmu kemari.”

10
Selama bergenerasi-generasi orang-orang mencoba memaksakan kehendak mereka; mereka menyatakan keinginan, tapi tidak peduli apa yang dipikirkan orang-orang lain – dan akibatnya semua kerajaan itu hancur. Rakyat kita berkembang karena mereka belajar mendengarkan; beginilah cara kita mengembangkan perdagangan – dengan mendengarkan apa yang diinginkan orang lain dan berusaha memenuhinya sedapat mungkin. Hasilnya adalah keuntungan.”

11
Kita begitu ingin berbicara dengan mereka, sampai-sampai kita tidak mendengarkan apa yang mereka katakan. Tidak mudah mendengarkan: dalam doa-doa kita, kita selalu berusaha menyampaikan kesalahan kita, dan apa yang kita kehendaki terjadi pada kita. Tapi Tuhan sudah mengetahui semuanya, dan kadang-kadang Dia hanya meminta kita mendengarkan apa yang hendak disampaikan Alam Semesta pada kita. Dan agar kita bersabar.”

12
“Mengapa aku harus memilih antara menyelamatkan kota ini dan menolong bangsaku?”
“Sebab manusia harus memilih,” sahut malaikat itu. “Di situlah letak kekuatannya; kesanggupan untuk memilih.”
“Pilihan yang sangat sulit; aku harus merelakan kematian suatu bangsa demi menyelamatkan bangsa lainnya.”
“Lebih sulit lagi menentukan jalan untuk diri sendiri. Orang yang tidak mau memilih dianggap mati di mata Tuhan, meski dia masih bernapas dan berkeliaran di jalan-jalan.”
“Selain itu, tak seorang pun akan mati,” malaikat itu melanjutkan. “Setiap jiwa akan memperoleh keabadian dan akan melanjutkan tugasnya. Untuk segala sesuatu di bawah matahari ada alasannya.”

13
“Mengapa Dia yang menciptakan dunia memilih menggunakan tragedi untuk menuliskan buku takdir-Nya?”
“Tidak ada tragedi, yang ada hanyalah yang tak terhindarkan. Segala sesuatu ada alasannya: engkau tinggal memilah-milah mana yang sementara dan mana yang abadi.”
“Manakah yang sementara?” tanya Elia.
“Yang tak terhindarkan.”
“Dan manakah yang abadi?”
“Pelajaran-pelajaran yang dipetik dari yang tak terhindarkan itu.”

14
“Aku kembali merasakan tekad yang sangat besar untuk hidup. Kau menyuruhku mempelajari huruf-huruf Byblos, dan itu kulakukan. Aku hanya ingin menyenangkanmu pada mulanya, tapi kemudian aku sangat menyukai pelajaran baru itu, dan aku menemukan ini: aku sendirilah yang menentukan makna hidupku.”

15
Keheningan itu menandai saat pertempuran penting, namun para penduduk Akbar salah menafsirkannya; mereka telah meletakkan senjata dan sedang bersenang-senang justru saat mereka seharusnya waspada. Mereka mengabaikan contoh yang diberikan alam: binatang-binatang menjadi diam justru saat bahaya datang.

16
Beberapa orang mengeluh tidak memperoleh hasil apa-apa di Akbar, dan hendak mengadu nasib ke tempat lain.
“Suatu hari nanti, orang-orang ini akan kembali. Mereka tidak menemukan apa yang mereka cari, sebab mereka pergi bukan hanya membawa tas-tas perjalanan, namun juga beban kegagalan-kegagalan yang pernah mereka alami. Ada beberapa orang yang kembali dengan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah, atau dengan perasaan sukacita karena telah memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka, tapi tidak lebih dari itu. Masa lalu mereka di akbar membuat mereka takut, dan mereka tidak cukup percaya diri untuk berani mengambil risiko.
“Di lain pihak, ada orang-orang yang melewati depan pintuku dengan penuh semangat. Mereka telah memetik buah dari setiap detik kehidupan mereka di Akbar, dan melalui usaha keras mereka berhasil mengumpulkan uang untuk mengadakan perjalanan. Bagi orang-orang ini, kehidupan merupakan kemenangan yang taka da habisnya, sampai kapanpun.
“Orang-orang ini pada akhirnya juga kembali, namun mereka membawa kisah-kisah yang luar biasa. Mereka memperoleh segala sesuatu yang mereka idam-idamkan, sebab mereka tidak dibatasi oleh kekecewaan-kekecewaan  masa lalu.”

17
“Kepedihan yang kita rasakan tidak akan pernah hilang, tapi dengan bekerja bisa membantu kita meringankannya. Tubuh yang sudah lelah tidak akan sempat merasakan kepedihan lagi.”
**Persis dengan masa-masa dimana aku berhasil mengabaikan kepedihanku karena kepergian seseorang dengan mengerjakan skripsi. Hahaha

18
“Ada tiga hal yang bisa dipelajari orang dewasa dari anak kecil: merasa bahagia tanpa alasan, selalu sibuk dan ada saja yang dikerjakan, dan bagaimana menuntut sekuat tenaga agar keinginannya dikabulkan. Anak itulah yang membuatku kembali ke Akbar.”

19
Tuhan menantangnya untuk berkonfrontasi Dia dan menjawab pertanyaan-Nya: “Mengapa engkau mempertahankan mati-matian hidupmu yang begitu singkat dan penuh penderitaan? Apa artinya perjuanganmu itu?”
Orang yang tidak tahu mesti menjawab apa atas pertanyaan ini akan menyerah, tapi orang yang berusaha mencari makna hidupnya, dan merasa Tuhan telah bertindak tidak adil padanya, akan menentang takdirnya sendiri dengan berani. Pada saat itulah api dari langit akan turun menyambarnya – tapi bukan api yang membunuh, melainkan api yang meruntuhkan tembok-tembok lama dan menyingkapkan pada setiap manusia potensi-potensinya yang sejati. Orang-orang pengecut tidak pernah berani membiarkan hati mereka dibakar api ini; mereka tidak ingin ada perubahan, mereka ingin segala sesuatunya tetap sama, sehingga mereka bisa terus hidup seperti biasa dan berpikir dalam pola yang biasanya juga. Sementara itu, orang-orang pemberani membakar segala yang sudah lama dan meninggalkan segala-galanya – meski harus membayar mahal dengan menanggung penderitaan batin – termasuk Tuhan, dan meneruskan langkah ke depan.
“Orang-orang pemberani selalu keras kepala.”
Dan di atas sana, Tuhan pun tersenyum puas, sebab inilah yang Dia kehendaki; Dia ingin setiap orang memikul sendiri tanggung jawab atas hidupnya. Sebab dalam analisis akhir nanti, bukankah Dia telah memberikan anugerah terbesar kepada anak-anak-Nya: kemampuan untuk memilih dan menentukan tindakan-tindakan mereka.
Hanya orang-orang yang memiliki api suci ini di hati mereka berani menantang Tuhan. Dan hanya mereka yang tahu jalan untuk kembali menuju kasih-Nya, sebab mereka mengerti bahwa tragedi bukanlah hukuman, melainkan tantangan.

20
“Buat apa kita membantu pihak musuh?”
“Supaya hidup kita masing-masing mempunyai makna. Musuh hanyalah alat untuk menguji kekuatan kita.”

21
Aku tidak ingin berdebat apakah Allah-ku lebih kuat atau lebih berkuasa; aku tidak ingin membicarakan perbedaan-perbedaan kita. Aku lebih tertarik pada kesamaan-kesamaan kita. Tragedi ini telah menyatukan kita dalam satu rasa; putus asa. Mengapa bisa demikian? Sebab kita mengira segala sesuatu bisa ditemukan jawabannya dan diputuskan dalam jiwa kita; dan kita tidak bisa menerima perubahan.
“Kalian dan aku sama-sama berasal dari bangsa pedagang, tapi kita juga bisa bertindak sebagai pejuang,” dia melanjutkan. “Dan pejuang selalu tahu apa yang layak diperjuangkan. Dia tidak akan maju perang demi hal-hal yang bukan urusannya, dan dia tidak membuang-buang waktu untuk provokasi-provokasi.
“Pejuang juga bisa menerima kekalahan. Ia tidak menganggap enteng kekalahan, juga tidak berusaha mengubahnya menjadi kemenangan. Dia menelan kepahitan akibat kekalahan; dia menderita melihat sikap masa bodoh, dan putus asa karena kesepian. Namun setelah semua itu berlalu, dia akan bangkit kembali dan memulai segalanya dari awal. Pejuang tahu bahwa perang terdiri atas banyak pertempuran; dan dia akan terus maju.”

22
Sebagian besar sudah begitu lelah, sehingga mereka tidak saling bercakap-cakap, tapi mereka jadi mengerti pentingnya membiarkan pikiran mengembara tanpa tujuan, seperti awan-awan di langit. Cara ini bisa mengurangi beban kecemasan di hati setiap orang, dan mereka jadi menemukan inspirasi serta kekuatan untuk menghadapi hari esok.

23
“Bertindaklah bijaksana, sebagaimana orang-orang yang telah diberi kesempatan kedua; jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jangan lupakan alasanmu diberi kehidupan.”

24
Anak-anak membantu kalau diminta, tapi biasanya mereka bermain-main saja; itulah kewajiban anak-anak yang paling utama.

25
“Lama berselang angin padang pasir telah menyapu bersih jejak-jejak kaki kita di pasir. Tapi dalam setiap detik kehidupanku, aku ingat apa yang terjadi; engkau masih tetap menghiasi mimpi-mimpiku dan hari-hariku. Terima kasih telah menemukan aku.”

26
“Di manakah Dia menuliskan sabda-sabda-Nya?”
“Di dunia sekitar kita. Kalau engkau memperhatikan apa-apa yang terjadi dalam hidupmu, setiap hari akan kau temukan dimana dia menyembunyikan sabda-sabdanya dan kehendaknya. Cobalah melakukan perintah-Nya: untuk itulah engkau diberi kehidupan di dunia ini.”

27
“Haruskah orang selalu pergi pada akhirnya?”
“Kita harus selalu tahu, kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan sukacita dan makna hidup selebihnya. Dan ada risiko kita akan diguncang-guncang hebat oleh Tuhan.”
“Betapa kerasnya Tuhan.”
“Hanya kepada orang-orang pilihan-Nya.”

28
Tuhan seringkali menyuruh nabi-nabi-Nya mendaki gunung-gunung untuk berkomunikasi dengan-Nya. Aku sering heran, mengapa Dia berbuat demikian, dan sekarang aku tahu jawabannya: kalau kita berada di tempat tinggi, kita melihat segala sesuatunya begitu kecil.
“Kepuasan dan kesedihan kita tidak lagi terasa penting. Segala pencapaian dan kehilangan kita tertinggal di bawah sana. Dari ketinggian gunung, kita bisa melihat betapa luasnya dunia ini, dan betapa lebar cakrawala-cakrawalanya.”

--

“Mungkinkah Tuhan itu jahat?” desak si anak laki-laki.
“Tuhan maha kuasa. Kalau Dia membatasi Diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakan-Nya. Kalau demikian halnya, aku memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.”
Elia berdiam diri beberapa saat, membiarkan anak tu merenungkan makna kata-katanya. Kemudian dia melanjutkan.

“Tapi justru karena kemahakuasaan-Nya itu, Dia memilih hanya berbuat kebaikan. Saat kita tiba di akhir cerita, barulah kita melihat bahwa seringkali hal-hal yang baik datang dalam kemasan yang kelihatannya jahat, tapi Dia terus mendatangkan kebaikan, dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi manusia.”

0 komentar:

Post a comment