Friday, 15 December 2017

[Perenungan] : Hubungan yang mendingin – sesuatu yang lebih menakutkan dari sekedar pengkhianatan


Untuk suatu jangka masa yang cukup panjang aku pernah berpikir bahwa pengkhianatan adalah sebuah hal yang paling menakutkan dalam sebuah hubungan. Dikhianati rekan kerja, saudara, sahabat, apalagi pasangan, rasanya adalah sebuah hal sangat menakutkan yang bisa terjadi dalam hubungan dua anak manusia.
Sejujurnya, membayangkannya saja sudah pasti membuat enggan. Seseorang yang menghabiskan banyak waktunya denganmu, tiba-tiba berbalik arah meninggalkanmu, mengkhianatimu, demi sesuatu atau seseorang yang ingin dia capai.
Lalu belakangan, setelah menonton Because This is My First Life dan Extraordinary Couple, aku menyadari ada satu hal yang lebih menakutkan dibanding sekedar sebuah pengkhianatan; hubungan yang mendingin.
Sebuah perasaan dimana kau tidak lagi merasakan gairah apapun ketika menjalani hubungan dengan seseorang, sebuah perasaan dimana segala sesuatu berjalan terlalu normal karena kalian sudah sangat terbiasa satu dengan lainnya, sebuah perasaan dimana kau tak bisa berpisah bukan karena kau ingin bersamanya, tapi karena kalian sudah terlalu lama.
Aku menyadari bahwa banyak sekali pasangan yang berjalan dalam waktu lama tapi tidak lagi didasari oleh cinta yang menggebu. Segala sesuatu yang tersisa hanyalah kebiasaan. (Btw menurutku cinta yang menggebu itu bukan sebuah kesalahan, selama ia stabil adanya dan berhasil dikendalikan)

“Aku sudah terbiasa bersama-sama dengannya.”
“Kami udah pacaran 5 tahun, kan lucu kalau kami putus hanya karena aku ga berdebar-debar lagi ketika berada di dekatnya.”
“Aku udah malas nyari yang lain, udah banyak juga yang kenal sama dia, yang tau kalo kami udah lama pacaran.”
"Dia yang selama bertahun-tahun ini menemaniku."
“Semua temanku udah kenal sama dia, dia juga udah sering kubawa ke keluargaku.”
“Nanti takutnya kalau kami putus malah dapat yang lebih ga baik dari dia, sama aja.”

Banyak sekali hubungan yang berakhir karena terlalu banyak pertengkaran yang terjadi, dan bagian yang paling menyedihkan adalah, mereka bahkan tak ingat lagi hal apa yang memicu pertengkaran tersebut, sangkin seringnya bertengkar.
Saat salah satu dari mereka memberanikan diri untuk memicu pembicaraan agar bersepakat untuk berpisah, perpisahan pun terjadi.
Yes!
Umumnya hubungan yang mendingin akan berakhir seperti ini.
Satu pihak ingin berpisah, tapi ragu apakah ini adalah jalan yang terbaik, ragu akankah dia tidak menyesali keputusan ini. Lalu apa yang dia lakukan? Menunggu. Menunggu sampai pasangannya yang mengatakan terlebih dahulu mengenai perpisahan itu.
Sehingga ketika pasangannya sudah mengatakan lebih dulu, dia bisa lebih mudah mengatakan “iya.” Jelas saja, dia sendiri sudah memikirkan kemungkinan itu sejak lama.
Nah, berdasarkan statistika, dari 100% pasangan berpacaran yang berpisah, 86% di antaranya akan memilih untuk kembali bersama. Mengapa? Mostly, ya karena kebiasaan yang kusampaikan sebelumnya. Percaya atau tidak, sebuah hubungan akan membentuk pola hidup. Dan mau atau tidak, secara tidak sadar kita sudah terbiasa dengan pola hidup itu.

“Biasanya kalau hari Minggu kami Ibadah bareng-bareng.”
“Biasanya kalau hari Jumat dia jemput aku dari kantor terus kami makan malam bareng.”
“Biasanya kalau jam 12 siang dia ngirim foto menu makan siangnya hari ini.”
“Biasanya kalau aku perlu ngurus-ngurus sesuatu dia yang nganterin.”
Dan biasanya-biasanya lainnya.
Nah, saat pola hidup kita seketika berubah dengan berakhirnya hubungan ini, kita merasa tidak nyaman. Kita rindu dengannya, dengan dia yang sudah merusak pola yang membuat kita terbiasa ini. Tunggu. Mungkin kita tidak rindu dengannya, tapi kita rindu kembali ke pola hidup yang bisa membuat kita keluar dari ketidaknyamanan ini.
Saat itulah, kita memilih kembali.

Nah, dari 86% pasangan berpisah yang memilih untuk kembali bersama ini, biasanya hanya 3% yang bertahan.
97% sisanya? Ya berpisah lagi.
Mengapa?
Karena kabel putus yang disambung kembali biasanya hanya akan menjadi sumber korslet semata.

Tapi kan masih ada kemungkinan 3% untuk bertahan May.

Ya, benar.
Tapi tau ga? Mostly dari 3% pasangan ini juga tidak lagi menjalani hubungan dengan leluasa. Mereka merasa canggung dan sangat berhati-hati akan segala sesuatu. Rasanya seperti sedang berjalan di sebuah lapisan es yang tipis. Mereka tidak lagi bertengkar; atau bahkan memilih berbohong kepada pasangannya asalkan mereka tidak bertengkar, asalkan mereka terlihat damai. Mereka tidak lagi menegur satu sama lain tentang kebiasaan atau karakter pasangannya yang tidak mereka sukai, yang menurut mereka tidak baik. Mereka tidak lagi berdebat walaupun mereka tidak setuju, mereka lebih mudah mengiyakan sesuatu yang tidak mereka sukai (asalkan pasangannya suka), mereka tidak lagi mengutamakan kebahagiaannya. “Yang penting kami tidak berdebat. Yang penting kami tidak bertengkar.” Itulah kalimat yang mereka sampaikan kepada dirinya sendiri.
Mereka terus berusaha menepikan apa yang disebut hati nurani.
Sederhananya, mereka telah berhenti menjadi dirinya sendiri.
Dan saat itulah, hubungan itu kembali dingin.

Sebuah hubungan yang sehat haruslah diisi dengan perdebatan; didengarkan dan mendengarkan, ditolak dan menolak, disetujui dan menyetujui. Sebuah hubungan yang sehat haruslah juga memperjuangkan kebahagiaan pribadi, bukan hanya kebahagiaan pasangan. Saat kau berjuang membuatnya bahagia, tapi kau sendiri sengsara, itu bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan dalam sebuah hubungan disebut kebahagiaan jika keduanya bahagia, jika keduanya memiliki gairah untuk menjalin hubungan dan melangkah ke arah yang lebih serius.

Dan percayalah, hubungan yang seperti ini sama sekali tidak menyenangkan.
Tidak lagi polos, tidak lagi leluasa, yang ada malah terlalu penuh dengan kehati-hatian.
Tidak ada lagi yang ingin berdebat, tidak ada lagi yang ingin bertengkar, semuanya menyimpan baik-baik perasaan tidak suka, tidak setuju, perasaan kesal itu di dalam hatinya.
Tidak ada lagi yang ingin memicu sebuah diskusi serius tentang perasaan  masing-masing.
Tidak ada lagi yang berani mengutarakan apa yang benar-benar dia inginkan, betapa kecewanya dia, betapa bersedihnya dia, betapa dia merasa sedang berjuang sendiri agar hubungan ini tetap bertahan. (Ngomong-ngomong, ini seringkali terjadi; merasa bahwa ia berjuang sendiri, sementara pasangannya tidak peduli sama sekali)

Segalanya terlihat baik-baik saja; segalanya terlihat hangat, bahkan terlihat jauh lebih hangat daripada sebelumnya.
Padahal sebenarnya ada hati yang merana, ada hati yang tidak percaya, ada hati yang merasa tidak berdaya.
Ada bibir yang terus berujar cinta, padahal hati penuh gelisah karena ia pun tak seutuhnya yakin tentang rasa.
Ada bibir yang  selalu menebar tawa, tapi mata tak bisa sembunyikan lara.
Semua yang terlihat hangat itu hanya pura-pura.
Mengapa?
Karena jika perdebatan, pertengkaran, atau diskusi serius itu terjadi, segala sesuatunya akan hancur. Tidak ada lagi yang tersisa. Sama sekali tidak, kecuali luka yang menganga lebih lebar dan dalam.

Menyedihkan bukan jika menjalani hubungan dalam kesengsaraan dan dilemma, merasa seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis sepanjang waktu, dan mirisnya tak tahu akan sampai kapan?

Hubunganmu saat ini bagaimana?
Hubungan yang mendingin atau penuh kehangatan dan cinta?
Jika kau terjebak dalam hubungan yang dingin, coba pikirkan baik-baik. Mungkin memang penting untuk mengakhiri semua ini. Mengakhiri semua dilemma dan kesengsaraan ini.
Aku bukan sedang menyuruhmu putus. Bukan. Tapi coba pikirkan matang-matang.
Kehangatan sejati bukanlah sesuatu yang bisa kau reka-reka.
Keharmonisan bukanlah keharmonisan jika kau terlalu mengusahakannya.
Kemesraan bukanlah kemesraan jika kau terlalu mengumbarnya.

Ke depannya, jangan hanya belajar untuk tidak mengkhianatinya, untuk tetap bertahan menjalani hubungan dengannya. Tapi belajarlah juga untuk tetap ada di luar zona “dingin” itu. Belajarlah membuat segala sesuatunya bisa tetap terasa hangat dan mendebarkan, bahkan jika waktu telah berlalu begitu lama.
Sekali lagi, kehangatan sejati bukanlah sesuatu yang bisa kau reka-reka.

Kau pantas untuk tetap bahagia.

Yang ini, aku juga belum belajar, soalnya belum ada pasangannya. Hahaha.

--

Percayalah.

Hubungan yang dingin dengan Tuhan sebenarnya paling menyebabkan kesengsaraan dan dilemma, hanya tidak semua orang mampu menyadari kesedihannya.

5 comments:

  1. Tp kan kak may, aku kadang bingung. My partner, orgnya sangat baik and he never mad at me. Krn itulah aku merasakan hubungan yg 'dingin' itu, kadang aku mau marah jd ga enakan, mau utarakan ini itu jd ga enak. pada awalnya aku pikir ini ga akan baik untukku. Krn whatever i did, dia tetap sabar. Tp setelah ku renungkan lg, dmn lg aku bisa dpt pasangan yg spt ini? Selama 21 bulan kami pacaran, bisa hitung jari berantanmya kak, itupun bukan berantam hebat. That's why i feel like ini hubungan yg membosankan hahaha. Tp lagi2, 'dia org baik, byk org yg malah mendambakan dia'. Well, ku jalani lah sampai detik ini kak. Kadang aku enjoy, kadang biasa aja, yahhhhh ku pikir bumbu2 dlm hubungan hahaha. Yg terutama, dia cinta Tuhan kak ❤❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah utk kasus ku ini gmn kak may? Hahaa krn aku kadang2 bingung di buatnya.

      Delete
    2. De, you have to tell him about your feelings.
      Gimana kamu juga mau dikasi masukan, 'dimarahin', dlsb.
      Hubungan yg baik itu bukan karena ga pernah berantem dlsb, tp gimana kita bisa jadi diri kita sendiri.
      Berani mengungkapkan apa yg kita rasakan, berani mengutarakan apa yg kita harapkan, gimana bukan cuma dia yg memberi dampak ke hidup kita, tp kita jg memberi dampak ke hidup mereka.
      Pacarmu sekarang, kulihat mmg baik kali.
      Hahaha
      Dia rasanya sangat dewasa dan ga menuntut apa-apa 😂
      Kalau menurutku hubungan kalian bukan dingin de, tapi aman 😂

      Delete
    3. I love u kak may wkwkwkwkwk kk ga ada niat mau jd psikolog? Hahaha

      Delete
    4. Ada kali sih de hahaha
      Tapi lulusnya di Ilkom 😂😂
      Biarlah psikolog itu jadi bakat terpendam aja wkwkk

      Delete