Sunday, 10 December 2017

[Random Story] : ABCG

Jika menikah bukanlah sebuah pilihan, maka Ardi adalah pilihan paling aman.

Ardi adalah seorang teman dekat yang dihadiahkan Tuhan untukku. Aku ga ingat sama sekali kapan kali pertama kami bertemu. Semua ingatanku tentang dia bermula dari secretariat KMK di Jl. Berdikari no. 35, lima tahun yang lalu. Hari itu, di ruangan belakang rumah itu kami berkumpul dan berkenalan dengan seorang abang-abang cakep (katanya salah satu kompel tercakep se-UP MIPA haha) bernama bang Andreas. Bang Andreas adalah calon PKK kami, yang kemudian menjadi PKK lalu selang beberapa waktu memilih untuk tidak bersama-sama kami lagi karena satu dan lain hal yang tidak kami tahu sampai sekarang. Hari itu kami sepakat membentuk sebuah kelompok kecil yang diberi nama Green Peace Worshiper. Haha. Entah dari mana ide itu berasal dulunya. Sejak dulu sampai sekarang aku masih merasa nama itu, maaf, norak. Di kemudian hari, setelah berganti PKK dan menjadi AKK permanen kami membuat nama kelompok kecil yang baru. Namanya Gioire.
Kalau dibandingkan dengan Ardi, aku adalah AKK yang terlalu hina dan sama sekali ga layak dibandingkan dengan dia. Aku adalah AKK yang membuat PKK LAKI-LAKIku menangis karena keapatisanku, kecuekanku, tingkahku yang mau keluar dari kelompok kecil tanpa memberi alasan yang jelas, dan hal-hal luar biasa lain yang telah kulakukan untuk membuatnya bersedih.
Dan saat itulah Ardi hadir. Dia adalah jembatan antara aku dan PKKku yang begitu sulit untuk saling memahami. Mungkin dulu PKKku pernah benci samaku sangkin tidak perdulinya aku terhadapnya, terhadap kelompok kecil kami. Sudah tidak perduli, selalu lagi mengajak berdebat setiap kelompok. Mungkin dulu kekritisanku begitu membuatnya kewalahan dan kesal. Aku masih ingat betul masa-masa dimana aku seringkali berkata, “Ah, ga masuk akal kali.” Dan saat itulah PKKku menjawab, “Ga semua bisa masuk akalmu de.” Intinya, aku selalu berusaha mempercayai sesuatu kalau itu udah masuk akal. Hahaha.
Dan saat itulah Ardi juga hadir.
Mungkin bagi PKKku Ardi bagaikan oase di tengah padang gurun. Ia baik, ia mendengarkan dengan baik, bukan seperti aku yang rasanya ingin sekali mendebatkan setiap hal yang PKKku ucapkan karena menurutku ucapan-ucapannya penuh dengan retorika. Btw, itu aku yang dulu :)
Itulah juga salah satu alasan terkuat kenapa dulu aku beberapa kali ingin keluar dari kelompok kecil. Ardi dan PKKku begitu mirip. Mereka sering menggunakan kalimat-kalimat yang pada saat itu masih di luar jangkauanku, kalimat-kalimat yang menurutku terlalu klise dan penuh retorika, terlalu tidak berimbang dengan keadaan saat ini. Aku paling kesal setiap kali akan bernyanyi mereka akan bertanya alasanku memilih lagu ini. PKKku selalu menegaskan kalimat yang tertulis di bagian bawah setiap halaman Gita Sorgawi. “Singing with Understanding.” Tiap kali mereka bertanya, sejujurnya aku ingin sekali menjawab, “Ga bisa rupanya aku milih lagu ini karena menurutku nadanya enak? Atau karena aku lagi pengen aja?”
Sejujurnya aku selalu ingin menjawab seperti itu dulu. Hahaha.
Aku juga paling kesal setiap kali Ardi memimpin bahan saat kelompok kecil. Setiap kali kami akan bernyanyi, Ardi akan membuat kalimat pengantar yang rasaku panjaaaaaaang sekali, dan sejujurnya membuat seleraku hilang sebelum lagunya mulai dinyanyikan. Mungkin Ardi juga masih ingat kalau dulu aku sering bilang, “Jangan panjang kali pengantarnya ya Pal.” Sejujurnya, dulu aku juga kesal kalau Ardi memimpin doa (kalau dipikir-pikir dulu aku bejat sekali ya). Habisnya, Ardi kalau memimpin doa itu lama sekali. Aku akan selalu ngantuk karena lamanya durasi doa itu, ditambah lagi dia menggunakan kalimat-kalimat yang pada saat itu terlalu klise untuk kudengarkan.
Kami juga tidak pernah akrab di kampus. Ia bergaul dengan teman-temannya sendiri, aku juga bergaul dengan teman-temanku sendiri. Kami hanya menjadi KTB saat kami sedang di sekretariat KMK.
Sampai akhirnya ada satu masa dimana aku benar-benar membutuhkan pertolongan, dan entah kenapa dialah yang paling memiliki peluang untuk menolongku saat itu. Semenjak itu hari-hariku berubah. Berubah dari yang dulunya malas tiap kali mau kelompok menjadi tetap malas, hanya segan karena Ardi sudah menolongku. Mungkin itu rasanya terutang budi. Hahaha.
Lambat laun semuanya berubah. Aku juga ga ingat kapan kali pertama aku akhirnya merasakan kasih untuknya. Kapan kali pertama aku merasa bahwa ia begitu baik, kasihnya begitu tulus dan betapa luar biasanya Tuhan bekerja dalam dirinya, betapa luar biasanya Tuhan mengajarku ketika mengamatinya. Tapi yang jelas, semua kesadaran ini lambat laun tumbuh seiring dengan bertumbuhnya pula kasihku kepada Tuhan.
Aku begitu terkagum melihat Ardi yang begitu mengasihi semua orang. SEMUA orang, tanpa terkecuali. Bahkan orang gila sekalipun. Aku akan selalu ingat ucapan Ardi yang mengatakan, “Orang gila juga butuh Injil, pal.” Sulit bagiku untuk mengerti apa yang ia maksudkan pada saat itu, tapi akhirnya perlahan-lahan Tuhan akhirnya memberiku pemahaman tentang bagian ini.
Ardi sudah terkenal sebagai orang yang baik, bahkan di kalangan pengkhotbah sekalipun. Tiap kali aku menjadi MC, atau apapun itu dan berkenalan dengan pembicaranya, lalu aku bilang aku KTB-nya Ardi, mereka akan bilang, “Ooooh si Ardi Ginting? Baik itu..” Orang-orang yang juga belum tau aku KTBnya Ardi juga biasanya akan merespon begini ketika pertama kali tau; “Ikhhh, enak kali bisa jadi KTBnya bang Ardi..” Saat itulah biasanya aku merasa benar-benar ga pantas jadi KTBnya. Hahaha.
Aku juga ingat masa-masa dimana aku mengeluhkan hubunganku yang tidak baik dengan Mamak. Ardi selalu mengingatkan, “Pal, orangtua itu udah mengkristal kali karakternya, gabisa lagi diubah. Kalaupun bisa, susaaaah kali. Jadi kam yang harus berusaha mengerti Mamak, bukan kam berharap Mamak mengerti caramu berpikir.” Ardi ga akan membelaku sedikitpun tiap kali aku mengeluhkan kalau aku baru aja bertengkar sama Mamak dlsb. Ia akan selalu berkata bahwa akulah yang harus berubah, akulah yang harus mengerti, akulah yang harus mencair, dlsb. Dan ajaibnya, ketika kucoba lakukan itu, semuanya berjalan dengan baik.
Aku juga selalu merasa bahwa Ardi adalah orang yang akan selalu dilindungi Tuhan. Aku selalu merasa aman ketika berada di dekatnya. Jam berapapun itu, semengerikan apapun cuacanya, dimanapun kami berada, aku selalu merasa bahwa aku tidak akan berada dalam bahaya ketika Ardi ada bersamaku. Aku selalu percaya bahwa Tuhan akan melindungi Ardi, dan secara otomatis perlindungan itu juga akan berimbas kepadaku. Ini sugesti kepada diri sendiri. Hahaha.
Ardi adalah orang yang akan selalu berhasil membuatmu merasa spesial. Dia akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Ia akan memandang laki-laki sebagai saudaranya dan perempuan sebagai saudarinya. Ia akan membagi miliknya denganmu jika dia melihatmu membutuhkan sekalipun saat itu dia sedang pas-pasan. Ga percaya? Coba tanyakan anak-anak tetangganya, “De, bang Ardi itu gimana orangnya?”
Bahkan adik-adikku di rumah juga begitu menyukainya, entah kenapa. Mereka hanya bertemu beberapa kali, tapi adik-adikku sepertinya bisa merasakan bahwa dia adalah orang baik. Bahkan Mamak juga begitu, kalau aku pulang malam, pas Mamak nelpon dan kubilang akan diantar oleh Ardi, aku langsung bisa merasakan kelegaan dari suaranya. “Oooh, baguslah kalau gitu. Hati-hati kalian ya.”
Aku masih ingat betul hari dimana aku sudah bekerja dan adikku sedang sakit DBD. Mamak menyuruh membeli sup spesial dan aku ga punya waktu untuk membeli itu karena hanya dijual di siang hari. Aku akhirnya meminta tolong kepada Ardi untuk membelikannya. Ia jauh-jauh membeli sampai hampir mendekati Pancur Batu, lalu mengantarkannya ke Helvetia. Kebayang jauhnya?
Aku juga ingat hari dimana aku sidang meja hijau, keluarga Ardi sedang berlibur dan dia harus pulang ke Kabanjahe untuk menjaga rumah dan mengurus ayam. Ia datang jauh-jauh dari Kabanjahe demi mengantarkan sebuket bunga yang banyak mawarnya dan mengucapkan selamat. Waktu itu sidangnya lama sekali selesai, dia sudah lama menunggu dan begitu aku keluar dari ruang sidang, dia langsung mengatakan, “Aku balek ya pal. Kutinggalkan tadi ayamku di Kabanjahe.” Hahaha.
Aku juga ingat hari dimana aku wisuda dan aku ga bilang sama dia sama sekali. Tiba-tiba sekitar jam 10 malam, saat sedang hujan, ada suara dari luar pagar. “Maya..Maya..”
Ardi ada di depan sana sambil memegang sebuket bunga dan bungkusan kado. Di bawah rintik hujan.
Dan dengan apa kubalas semua perlakuannya itu?
Jangan tanya.
Di hari dia sidang?
Aku travel business ke Singapura.
Di hari dia wisuda?
Aku ga datang karena kerja.
Bahkan di saat dia mengadakan syukuran wisudanya di sekret KMK, aku juga sengaja ga datang. Kubilang aku lagi PMS. Hahaha. Memang iyasih. Tapi alasan utamanya bukan itu, tapi karena aku belum beli kado. Adek-adek kelompokku yang datang ke syukuran itu sibuk nanyain, “Kak, kakak dimana? Bang Ardi nyarikin.”
Adek-adek kenalan juga banyak yang ngechat, “Kak Maya ga datang syukuran bang Ardi? Tega kaliiiii…”
Dan berbagai jenis hujatan lainnya.
Akhirnya minggu lalu kukasilah kado wisuda itu. Entah dipakainya entah nggak. Hahaha.

Ngomong-ngomong, karena Ardi memperlakukan semua orang begitu baik, berhati-hatilah jika kau adalah orang yang baperan. You will think that he has some for you, but the thing is, it’s only your imagination. He did it to everyone, not only you. Intinya kalau diperlakukan baik sama Ardi, jangan baperan. Itu karena dia memang baik. Dan percayalah, dia ga akan pernah memberimu harapan palsu.
Dan seiring dengan bertumbuhnya kasihku untuk Ardi, aku juga benci kalau harus melihat dia terluka atau patah hati. Ada masa-masa dimana aku ingiiiiin sekali mendatangi orang yang mematahkan hatinya dan marah-marah. Hahaha. Tapi itu ga mungkinlah, karena aku yakin Ardi akan jatuh cinta kepada perempuan yang baik, perempuan yang ga pantas kumarah-marahin karena udah membuatnya kecewa.
Btw ga sedikit orang bertanya kenapa aku ga mendoakan Ardi aja. Mendoakan dalam konteks menginginkannya menjadi teman hidupku. Hahaha. Kalian mau tau alasannya? Karena Ardi ga mungkin jatuh cinta samaku. Haha. Kalian tau kenapa?
Jadi dulu, waktu kami masih semester satu, ada mata kuliah agama. Di mata kuliah itu kelompok Ardi membawakan tema Teman Hidup. Waktu itu Ardi bilang, “Pacar pertamaku nanti yang akan jadi teman hidupku. Aku maunya satu untuk selamanya.” Terus waktu itu aku jawab, “Yaudah, kupacarin laa kau, abis itu langsung kuputusin, biar kau ga nikah-nikah selamanya.” Itu aku lagi bercanda looo. Hahaha. Ternyata dia nanggepinnya serius, “Ga beres cewek ini bah.” Semenjak itu dia menegaskan di dalam hatinya, “Maya di blacklist.” Hahaha.
Eh tapi bukan berarti karena Ardi ga mungkin jatuh cinta samaku, lantas aku punya cinta sepihak sama dia ya -_-
Buatku, Ardi adalah representasi dari Amsal 17:17 yang sesungguhnya.
Ga mungkin kan aku jatuh cinta sama saudaraku sendiri?
Kami tidak punya hubungan darah sama sekali tapi aku merasa begitu dekat dan percaya padanya, melebihi banyak saudaraku yang masih memiliki hubungan darah denganku.
Aku selalu ingin tahu orang seperti apa yang akan menjadi teman hidup Ardi di masa depan.
Tapi meskipun begitu, aku ga pernah mengkhawatirkannya.
Aku yakin Ardi akan menemukan kebahagiaannya dan membahagiakan orang yang bersamanya kelak.
Aku juga sering mengkhayal, seandainya Ardi harus menikah dengan seorang perempuan yang bukan pilihannya sekalipun, aku yakin dia akan memperlakukan perempuan itu dengan sangat baik, mengasihinya dengan sungguh, menghormatinya, tidak melukai perasaannya, dan yang pasti adalah melindunginya. itulah kenapa di awal tulisan ini aku menulis, jika pernikahan bukanlah sebuah piliham, maka Ardi adalah pilihan paling aman.
Tapi meskipun begitu, aku selalu berharap Ardi akan menikah dengan seseorang yang dipilihnya sendiri untuk dicintainya. Aku rasa dia akan lebih berbahagia jika begitu.

Selamat ulang tahun, sahabat terkasih.
Aku begitu bersyukur tiap kali mengingatmu, tiap kali mengamati kasih Tuhan yang mengalir dalam dirimu kepada semua orang, tiap kali mengamatimu saat sedang berbagi dengan orang lain.
Terima kasih untuk setiap doa yang kau panjatkan kepada Tuhan untuk menopangku.
Mungkin tanpa semua itu, aku udah gila sekarang.
Setiap hari aku mendoakanmu dengan doa yang sederhana; kiranya Allah menuntunmu untuk tetap taat, sehingga sampai akhir usiamu kau didapati tetap setia.

Aku mengasihimu.

1 comment: