Sunday, 15 October 2017

[Perenungan] : Pendamping yang baik




Mungkin sebagian besar dari kita pernah menonton film berjudul Sky High.
Yes! That one!
Film dimana anak-anak berkekuatan super dikumpulkan untuk bersekolah di sebuah sekolah yang berlokasi di angkasa, dan setiap pagi, ada bus ajaib pula yang menjemput dan mengantarkan mereka kesana.
Ya, benar!
Film yang itu!

Ternyata, anak-anak berkekuatan super itu juga masih harus diklasifikasikan menjadi dua bagian; ‘utama’ dan ‘pendamping’.
Anak-anak dengan kekuatan yang dianggap keren dan berguna, akan dimasukkan ke dalam klasifikasi ‘utama’, sementara mereka dengan kekuatan yang dianggap ‘kurang berguna’ akan masuk dalam klasifikasi pendamping.
Yes.
Begitu.
Begitulah biasanya orang-orang memandang pendamping; tidak terlalu memberi dampak dan bukan aktor utama dalam sebuah alur cerita. Intinya, cerita akan terus berjalan tanpa kehadiran seorang ‘pendamping.’

Ini adalah hari terakhir kepemimpinan Pak Djarot sebagai gubernur DKI Jakarta. Aku menonton sebuah siaran dimana beliau dan istrinya diarak menggunakan kereta kencana, melewati berbagai tempat di Ibukota dan untuk terakhir kalinya, menyapa warga yang tidak sempat datang ke Balaikota.
Sungguh sebuah bentuk penghormatan dan cinta yang luar biasa dari warganya untuk pemimpin mereka. Bahkan bukan hanya warga Jakarta, melainkan masyarakat Indonesia di tempat lain juga memberikan penghormatan yang tinggi dan mengapresiasi kinerja dari beliau. Seumur hidup, jujur, baru kali ini aku melihat ada sosok pemimpin yang begitu dicintai rakyatnya. Karangan bunga tak henti-hentinya dikirim ke Balaikota dan Lap. Banteng, rakyat berkumpul bersama menyanyikan lagu-lagu nasional untuk membakar kembali semangat Pancasila dan persatuan bangsa, mengadakan ‘konser’ perpisahan, datang ke Balaikota hampir setiap hari setidaknya untuk bertemu dan menyampaikan keluhan dengan keyakinan akan sebuah tanggapan, dan masih banyak lagi. Pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya :)

Aku teringat tangis yang kucurahkan beberapa bulan yang lalu saat Pak Ahok dinyatakan bersalah oleh hakim dan dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Bukan semata-mata karena Pak Ahok dihukum, bukan. Aku terharu sekaligus benar-benar bersedih hati melihat ekspresi Pak Djarot saat itu. Ia langsung mengunjungi Pak Ahok, sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya dengan keputusan hakim, dan entahlah, kurasa ada kesedihan yang teramat dalam menghampiri dan berdiam di hatinya. Di berbagai kesempatan dia juga masih terus mengalirkan air mata, mengingat bagaimana percayanya beliau akan ketulusan Pak Ahok, betapa besarnya cita-citanya dalam membangun Jakarta. Rasanya belum pernah aku melihat seorang ‘wakil’, punya kepercayaan sedalam ini kepada pemimpin ‘utama’nya.
Pak Jokowi, Pak Ahok, dan Pak Djarot, ketiganya adalah pemimpin yang punya jiwa membangun. Saat Pak Ahok ditinggal Pak Jokowi, apakah beliau tiba-tiba linglung dan tak tahu harus berbuat apa untuk membangun Jakarta? Saat Pak Djarot ditinggal Pak Ahok, dalam kesedihannya yang mendalam, apakah beliau menjadi linglung dan tak tahu harus mengerjakan apa dalam waktu singkat itu?
Kita masing-masing tahu jawabannya.
Nggak.
Sama sekali nggak.
Pak Ahok bisa bekerja dengan baik saat ditinggal Pak Jokowi.
Pak Djarot juga bisa bekerja dengan baik saat ditinggal Pak Ahok.
Kenapa?
Karena si pendamping, dan orang yang didampinginya, punya visi, punya tujuan dan arah yang sama :)
Mereka punya cita-cita yang sama, mereka berjalan bersama, dalam gerak langkah yang sama, tidak ada yang mengatasi ataupun dibawahi, mereka melangkah, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, supaya tidak ada yang tertinggal.
Iramanya senada, dan ketika yang satu harus meninggalkan yang lainnya, sosok yang ditinggalkan masih tahu harus berbuat apa.
Pemimpin yang baik akan mentransfer visinya, memberikan pemahaman yang baik dan benar perihal cita-citanya, impian dan harapannya kepada pendampingnya, supaya si pendamping yang setia tahu, kemana mereka akan melangkah, dan apa yang akan mereka tuju.
Di lain hal, pendamping yang baik harus paham betul, apa yang menjadi visi si pemimpin utama, karena menurutku, pemahaman yang benar akan mengantarkan seorang pendamping kepada kepercayaan yang benar. Ia akan mengingatkan si pemimpin utama jika jalannya serong, dan akan mengerjakan hal-hal yang mendukung pencapaian visi itu.
Dan lihat hasilnya?
Tanpa Pak Ahok, Pak Djarot tahu, ia harus apa. Keren gaksih?

Kalian tahu juga ga cerita tentang Bu Vero yang mengirim WA kepada Om Addie MS perihal perkembangan ‘misi’ di Taman Ismail Marzuki?
See?
Sehari setelah Pak Ahok di’asingkan’, waktu dimana Bu Vero dan keluarga seharusnya masih berduka, beliau masih ingat tugas dan tanggung jawab yang sedang diembannya. Ia tahu cita-cita suaminya, tapi suaminya saat itu sedang ‘dikurung’, maka ia, yang masih bisa ‘terbang’ bebas di luaran sini, tidak terus menerus larut dalam kesedihan dan melupakan cita-cita suaminya, melainkan terus bekerja, mengerjakan sesuatu, sekecil apapun itu, yang bisa barang sedikit saja, memberikan kontribusi kepada pencapaian cita-cita itu.
See?

Visi itu menular.

Jadi kalau kelak, istrimu tak paham apa visi hidupmu, kau bukan pemimpin yang baik. Mengapa? Karena kau gagal menularkannya.
Jika juga kelak istrimu tak paham apa visi hidupmu setelah kau berungkali menjelaskannya, dia juga bukan seorang pendamping yang baik. Mengapa? Karena arah dan tujuan kalian tidak sama, gerak langkah kalian tak seirama, seorang akan berjalan tergesa-gesa, sementara yang lainnya akan tertinggal di belakang karena kelelahan, tanpa tahu ia sedang berjalan menuju apa di depan sana.
Bayangkan jika kau menikah, punya anak, lalu kau tiba-tiba meninggal, menurutmu, apakah pasanganmu kelak bisa melanjutkan hidupnya dengan baik tanpa kehilangan visi kalian?
Jika kelak pasanganmu meninggal lebih dulu apa kau akan terpuruk tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa untuk melanjutkan hidup dan memelihara anak-anak kalian? Atau jangan-jangan, kau juga malah jadi enggan untuk hidup?


Hanya orang-orang kuatlah yang bisa menjadi pendamping yang baik.
Pendamping yang baik menaruh kepercayaan seutuhnya pada pemimpinnya.
Tanpa Kuroko, Kagami hanyalah seorang pemain basket yang sedikit lebih hebat dibanding pemain basket pada umumnya, tidak lebih dari itu.
Tontonlah Kuroko no Basuke jika ingin memahami bagaimana menjadi pendamping yang baik.
Tapi ingat, pendamping hanyalah sebuah bayangan, sementara pemimpin utama adalah cahayanya.

Semakin terang sebuah cahaya, semakin terlihat jelas pula bayangannya.

5 comments:

  1. Trbaik dah lu sis...
    Di tunggu tulisan selanjutnya 😊😊😘😘

    ReplyDelete
  2. Trbaik dah lu sis...
    Di tunggu tulisan selanjutnya 😊😊😘😘

    ReplyDelete
  3. Kuroko no basuke? Tonton made in abyss. Baru bilang pendamping yang baik itu gimana

    ReplyDelete
  4. Duh aku gatau cerita bu Vero yg WA kan Om Addie MS itulah weheheh.

    Dan, Pak Djarot yg berkacamata gelap itu semakin tampak luar biasa. Iya yaaa. He has vission yg tajam juga. Hahaha

    ReplyDelete