Thursday, 12 October 2017

[Random Story] : Jangan pergi




Beberapa hari yang lalu aku chattingan sama Mondo.
Terus aku tanya dia, “Do, kalo kau jadi laki-laki, aku cewek yang gimana menurutmu? Coba gambarkan.”
Terus dia malah kirim gambar beneran -_-
Gambarnya dari fotoku yang paling dia suka, sangkin sukanya sampe pernah dijadiin dp selama beberapa waktu. Haha
Mungkin cuma itu satu-satunya foto pribadiku yang disimpannya dengan baik di HPnya -_-
Terus akhirnya dia jawab beneran.
“Mapan di usia muda. Udah bisa nikah kau kak.”
Hahaha
Jawaban macam apa ini coba -_-
“Kompleks”, kata dia.
“Kalo aku bukan PKKmu kau bakalan naksir samaku ga?”
“Mungkin. Hahaha”
Sebenarnya ini bukan pertanyaan sih :p
Soalnya aku tau buat si Mondo aku itu PKK rasa pacar wkwk
Terus aku tanya lagi.
“Kau ga minder ngedekatin aku do?”
“Minder liat diri sendiri..”
“Ya karena kau ngebandingin dirimu sama cewek itu kan?”
“Iya haha”
“Berarti katakanlah kau naksir samaku, tapi pas udah dekat bisa aja kau jadi tiba-tiba gamau kita sama-sama karena kau minder kan?”
“Auramu buat orang minder kak.”
“Tapi kalo aku beneran sayang samamu gimana?”
“Kami itu butuh semacam pengakuan, semacam pernyataan yang meyakinkan dari kakak. Kakak ga terpuruk pas kehilangan dia. Nah itu yang buat dia merasa seakan-akan ga berarti. Intinya kakak itu terlalu kuat, dan orang jadi menafsirkan kalo kakak ga punya rasa yang dalam, karena ga berdampak setelah ditinggal pergi. Hahaha”

Aaaaaand ya, it’s not like the first time I hear something like this.
“Aku belum sarjana May, mana berani aku ngedekatin kau.”
“Aku belum ada apa-apanya dibanding kau May.”
Bahkan disaat bercanda-canda aja adaaaa juga yang nanggepinnya serius.
“Tunggu aku sarjana dulu laa ya kak May, kerja, baru kuajak kakak doa sama.”
Hahaha.
Atau juga, “Aku apalah kak May, masih mahasiswa. Ga sebanding sama kakak.”

Ya sekalipun mungkin itu cuma bercanda (yang kuharap juga kek gitu karena aku ga minat sama adek-adek :p), tapi rasanya aneh aja.

Dan yang paling menyakitkan itu pas kau harus mendengarnya langsung dari orang yang kau inginkan. Satu-satunya.

“Aku yang gabisa ngimbangin kau May.”

Jujur, aku udah muak sama omongan kaya’ gini :’)
Sekalipun aku sungguh sangat amat mengerti bahwa bagi laki-laki, harga diri mengatasi perasaan.
Itulah kenapa dulu Bapak bisa marahin Mamak di depan kami, tapi kalo udah giliran minta maaf?
Dia ajak Mamak ke kamar, terus dia tutup pintunya, dia minta maaf sambil berlutut disana (aku tau karena aku ngintip dari jendela wkwk)
Kenapa?
Karena harga diri membuat Bapak ga bisa minta maaf sama Mamak di depan kami.
Aku juga mengerti bahwa bagi laki-laki, perasaan dibutuhkan adalah sebuah hal yang sangat mereka inginkan. Merasa bahwa pasangannya butuh perlindungan, butuh pengayoman, butuh diarahkan, dlsb.
Aku juga mengerti bahwa sekalipun seorang laki-laki benar-benar, katakanlah menyayangi seorang perempuan, tapi jika ia tidak merasa bahwa perempuan itu membutuhkannya, harga dirinya akan terluka dan ia memilih pergi.

Aku mengerti betul.
Aku hanya ga mengerti, what’s so good about me sampai-sampai, it’s not 1 or 2 who say likewise?
Tapi kalo aku bilang, “Yaudah kalo gadak yang ngerasa bisa ngimbangin aku, ya aku gausah nikah.”
Mereka jawab apa?
“Janganlah May, ada orang yang membutuhkanmu blab la bla, you deserve someone better bla bla bla”
Jadi maksudmu aku naksir samamu karena apa?
Bukan karena ada sesuatu dalam dirimu yang ga kutemukan dalam diriku?
Kalo kau menganggap dirimu rendah, berarti kau menganggap aku rendah juga laa kan? Makanya aku bisa naksir sama orang “serendah” kau yang kau pikirkan. Iya kan?

Tapi maaf, aku ga serendah yang kau pikirkan.

Aku ga naksir sembarangan orang.
Jadi kalo kubilang aku naksir kau, berarti kau bukan orang sembarangan, bukan rendah pula.
Jadi apa lagi yang buat kau ngerasa minder?
Apa perlu aku stepping down dari diriku sekarang, supaya kau ngerasa kita seimbang?
Kan ga lucu -_-

Tapi kalo kau berharap bersama-sama dengan seseorang yang akan terpuruk jika suatu saat kau pergi, maaf bukan aku orangnya. Aku akan menangis untuk waktu yang lama sambil meratapi perpisahan kita, tapi untuk terpuruk, aku gabisa. Suatu saat kalau Mamakku atau Bapakku juga harus pergi, aku mungkin juga akan meratap untuk waktu yang sangat lama, tapi aku ga akan memilih untuk terpuruk. Ini bukan kepercayaan diri, ini adalah bentuk kesadaran akan kenyataan dan hari depan yang masih perlu ditata.
Jika aku terpuruk karena kehilanganmu suatu saat, maka bagaimana nasib anak-anak kita kelak?
Aku juga ga ingin bersama-sama dengan seseorang yang akan terpuruk jika suatu saat aku pergi meninggalkannya. Aku ingin dia merasakan kesedihan dan duka yang mendalam, melewati malam-malam penuh kesedihan dan peratapan karena kehilanganku, tapi aku gamau dia akan melanjutkan hidupnya dalam keterpurukan. Bagaimana nasib anak-anak kami kelak?
Jadi kalau kau mencari seseorang yang akan terpuruk jika kau tinggalkan, memang benar, bukan aku orang yang tepat :)

Juga jika kau berharap bersama-sama dengan seseorang yang akan meminta bantuanmu setiap waktu, ingin dijemput disini, diantar kesana, ditemani saat belanja, yang akan tetap berkirim pesan denganmu bahkan saat ia sedang bersama teman-temannya, aku juga gabisa.
Aku ga akan minta dijemput dan diantar kesana kesini hanya karena kita berpasangan.
Sayang, kau bukan supirku :)
Aku membutuhkanmu, tapi bukan begini caranya.

Aku juga merasa perlu untuk memiliki waktu pribadi bersama teman-temanku, saat dimana kita tak perlu saling memberi kabar karena kita saling percaya.
Aku juga tahu kau membutuhkannya, waktu pribadi bersama teman-temanmu. Saat kau bersama mereka, sampaikan, agar aku tak terus menerus bertukar pesan singkat denganmu.

Saat kita makan bersama, aku juga akan membayar untuk diriku sendiri.
Kenapa?
Karena kau ga punya kewajiban untuk membelikanku ini itu, walau hanya semangkuk bakso, karena kita mungkin saat itu belum menikah.
Tapi sesekali aku juga akan menerima tawaranmu untuk mentraktirku, kenapa?
Agar harga dirimu sebagai laki-laki yang punya hasrat ‘menyediakan’ tidak terluka :)

Kalau kau ingin bersama seseorang yang bisa kau temani saat belanja, maaf, bukan aku juga orangnya.
Aku tau menemani perempuan berbelanja itu sangat membosankan.
Apalagi menemaniku, yang cenderung pemilih dan sabar melihat-lihat yang lain sebelum memutuskan mau beli yang mana.
Dan kalau boleh jujur, aku cenderung pemalu pada bagian ini.
Di sisi lain, aku ga begitu suka kita berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk waktu yang lama.
Aku ga ingin ada orang lain yang menikmati dan mengagumi keindahanmu selain aku.
Dan karena itulah, aku ga akan memintamu menemaniku berbelanja :)

Kalau kau ingin bersama-sama seseorang yang akan mengirimimu foto setiap kali kau bertanya dia sedang apa, dimana, bersama siapa, sebagai bukti, maaf, bukan aku juga orangnya.
Sayang, aku mungkin saja kekurangan waktu untuk mencintaimu, bagaimana mungkin aku membuang waktu untuk mencurigaimu?
Kita bisa bersama jika kita saling percaya dan saling menjaga kepercayaan itu.

Tapi kalau kau ingin bersama-sama seseorang yang membutuhkanmu dan akan kau butuhkan, mungkin aku orang yang tepat.
Aku butuh seseorang yang akan menolongku mengubah pemikiran kompleksku menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami, seseorang yang bisa menolongku mengambil keputusan yang tepat saat aku merasa bimbang akan sesuatu, seseorang yang ingin menata hidupnya agar kami bisa berbahagia bersama, juga seseorang yang akan mengusap hangat perutku saat dismenorrheaku kambuh.

Seseorang yang, setiap kali melihatku, dalam diam, berbisik kepada Tuhan, “Terima kasih.”

--

Aku ingin ceritakan sebanyak-banyaknya hal yang kuhadapi, aku ingin kau tau kalo hidupku juga ga sesederhana dan sebahagia itu, tapi aku takut, takut kalau-kalau aku mulai berani bergantung lagi padamu, lalu tiba-tiba kau pergi, lagi, duniaku seketika akan runtuh.

0 komentar:

Post a comment