Sunday, 3 September 2017

Jatuh hati.

"ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu, terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia, kuharap kau tau bahwa 'ku terinspirasi hatimu.."


Penggalan lagu Raisa yang judulnya Jatuh Hati.
Iya, itu, Raisa yang hari ini nikah itu.
Pertama kali dengar lagu itu aku cuma kepikiran sama satu orang sih, orang pertama yang buat aku merasakan persis seperti penggalan yang kutuliskan di atas :) Hehe

Tapi bukan berarti aku cuma pernah jatuh hati sama dia seorang aja.
Aku juga pernah jatuh hati sama orang lain, dan beruntungnya, aku ketemu orang lain itu hari ini.
Rasanya?
Senaaaaaaaang kali.
Senang yang ga terkatakan.
Senang bisa lihat dia dari dekat.
Senang bisa motret dia walaupun hasilnya berantakan karena nyuri-nyuri.
Senang bisa ngobrol banyak hal sama dia, dan rasanya itu *&^%$#@! kali pas dia ngeliat tepat ke mataku pas lagi ngomong.
Huaaaah :')

It's not love, trust me.
He has wife and child (maybe children) already.

Aku juga pernah nulis sesuatu tentang dia beberapa waktu yang lalu.
Klik disini kalo mau baca ya :)

Kalo aku disuruh mendeskripsikan dia dalam satu frasa, aku bakal bilang dia seorang laki-laki yang tegas dalam kelemahlembutan.

Heih, I'm quite good in "reading" someone loo, trust me.

Tiap kali dengar dia khotbah, atau bahkan cuma ngobrol singkat aja, dia selalu berhasil mencelikkan mataku akan hal-hal yang sudah mendarah daging sebagai kebenaran; padahal ternyata kalau ditelisik lebih dalam adalah sebuah kesalahan, bahkan kesalahan fatal.

Dia selalu berhasil mentransfer apa yang dia pikirkan setiap kali dia berbicara.
Idealnya, dia bisa 'mempengaruhi'ku.
Dan itu bukan hal yang gampang.
Ga gampang menemukan orang yang bisa mempengaruhiku dengan caranya berpikir, dengan caranya melihat dunia, karena nyatanya aku jenis orang yang hobi berpikir, merenung, dan udah punya stigma yang mengkristal untuk masing-masing hal.
Dan menariknya, belum pernah sekalipun aku ga setuju dengan apa yang dia sampaikan.
Aku jatuh hati pada tuturnya, terkagum pada pandangnya dan caranya melihat dunia.

Tiap kali aku diminta jadi MC, kalau aku tau dia yang bakal jadi pengkhotbahnya, aku pasti langsung jawab iya tanpa pikir panjang.
Ini bukan salah motivasi, bukan.
Ini namanya bonus.
Haha.

Dua tahun yang lalu aku jadi MC di acara pengutusan Pemimpin Kelompok Kecil (aka komsel, cell group) dan dia yang jadi pembicaranya.
Waktu itu dia ada ngomong, "Seperti apa yang disampaikan MC kita yang cantik tadi.."

Kebayang ga perasaanku waktu itu?
Meleleh beneran serius.

Nah, seminggu yang lalu aku juga diminta jadi MC di acara pengutusan PKK tahun ini.
Aku udah jawab iya.
Pas itu pengkhotbahnya belum ada.
Terus aku bilang sama pengurus, "Bang Zendrato aja yang jadi pembicaranya de.."
Nah ternyata ada email kalo pindahan hari ini dimulai jam 2 (kantor kami pindah ke Lt.15 dari Lt.5)
Padahal ibadah pengutusannya mulai jam 2.
Setelah berusaha ini itu, ternyata tetap aja gabisa.
Jadilah hari senin kemarin itu aku bilang sama pengurus aku gabisa jadi MC di ibadah pengutusan hari ini.
Setelah aku kasitau, aku tanya siapa pembicaranya jadinya.
Terus pas adek itu jawab, "Bang Zendrato kak..", serius aku mau nangis kali.
Sedihnya sampe hari Jumat itu beneran.
Sampe aku tau kalo MC penggantinya itu teman kompakku di kampus, sesama member Arashe, si Pelin, baru aku ikhlas. Hahaha.

Terus tadi aku juga datang terlambat kali ke ibadahnya.
Nyampe di sekret udah lagu penutup aja.
Aku ga dengar dia sama sekali khotbah.
Sampe aku nanya-nanya sama yang lain, "Eh tadi bang Zendrato khotbahin apa?"
Dan ga ada yang jawab seperti yang kuharapkan.
Malah ada yang bilang gaktau.
Jadi agak kesal.
Si kawan ini dengarin khotbah gak sih?
Hahaha.
Mending gantian aja gitu tadi, dia mindahin barang-barangku ke kantor baru, aku yang ikut ibadah itu kalo toh dia ga sungguh-sungguh dengarin khotbahnya bang Zendrato.
Huhu.

Nah, pas udah kelar, ada acara salam-salamannya.
PKK baru yang diutus disalamin laa satu per satu ke depan.
Aku maju aja, tapi bukan buat salaman sama mereka.
Aku berdiri di depan bang Zendrato buat motret dia diam-diam.
Hahaha.
Soalnya kan ga lucu kalo aku ngajak dia foto tiba-tiba.
Kalo tadi aku jadi pelayan acara bisalah.
Kaya' beberapa bulan yang lalu dia khotbah di ibadah alumni, pas fotoan aku sengaja berdiri di sebelah dia.
Nah foto yang aku ambil tadi aku post di WhatsApp, dengan caption, yaa you know laa.

Setelah itu ada acara makan-makannya.
Selama makan aku liatin ke arah dia terus, liat dia lagi ngobrol sama si Pelin, MC tadi, dan beberapa orang lainnya.
Aku ngomong sama orang-orang di sebelahku yang tau kalo aku kagum berat sama dia, "Weee.. Mereka ngomongin apa ya? Kalo aku jadi MC kian pasti aku bisa makan di dekat abang itu terus bisa dengar dia punya cerita.."

Beberapa waktu berlalu sampe akhirnya hujan deras dan ga ada yang bisa pulang.
Aku kemudian memberanikan diri 'nimbrung' (aslinya aku ga segini beraninya loo serius) cuma buat bisa ikut dengarin cerita mereka.
Awalnya aku sembunyi di balik punggung Pelin.
Lama-lama aku beraniin diri ngerespon apa yang abang itu ceritain, nanya beberapa hal, dan senangnya kami punya kesamaan ; sama - sama ngelihat tepat ke mata seseorang ketika menjelaskan sesuatu kepada orang itu.

We both are good in eye contact.

Banyak laa yang diceritain abang itu. Cerita kalo dia udah ga jadi pendeta GKPI lagi, tapi udah jadi pendeta seumur hidup di GKI. Dia cerita gimana prosesnya yang panjang dan gabisa kuceritain disini. Telponlah aku kalo mau cerita lengkap :p
Dia juga cerita apa aja hal yang mereka kerjakan di gereja itu, dan sepanjang dia ngomong aku cuma bisa menggumam dalam hati, "Andai pendeta di gereja tempatku beribadah adalah pendeta yang sungguh-sungguh punya visi seperti abang ini.."
Malah disuruhnya pulak berdoa jadi pendeta.
Hahaha.

Walaupun aku ga dengarin dia khotbah, aku bisa belajar banyak hal hari ini karena perbincangan menanti hujan berhenti tadi.

Sangkin kagumnya aku sama abang itu, aku sampai ingat impiannya apa.
Jadi tadi aku tanya ke dia tentang impiannya yang dia sampaikan dua tahun yang lalu itu.
Dan katanya udah ada rintisan untuk mencapai itu.
Terima kasih Tuhan :)

"Main-mainlah ke gereja kita. Kalo butuh waktu menyendiri, ada perpustakaan mini disana.."
Dan dengan keceplosannya aku menjawab, "Ah, nanti jadi salah motivasi pulak aku bang."

Pas dia pulang, kami bersalaman.
Terus aku bilang sama orang-orang itu, "Ga cuci tangan laa aku siap ini wee.. Hahaha"
Dan iya beneran, sampe aku kelar nulis ini, aku belum cuci tangan sama sekali.
Salaman sama orang seberwibawa abang itu rasanya, teduh kali.

Semoga Tuhan senantiasa melimpahinya akan kasih kepada Allah, sehingga penikmatan itu mengantarkannya kepada penyerahan diri sepenuhnya pula untuk perluasan kerajaan Allah di dunia ini.
Kiranya Tuhan memberkatimu berlimpah-limpah dan memperluas daerahmu.
Dan kiranya tangan-Nya menyertai dan melindungimu daripada malapetaka sehingga kesakitan tidak menimpamu :)

Amin.



0 komentar:

Post a comment