Monday, 11 September 2017

Dreaming. (Chapter 3)

Hello. It's me again.

Pagi ini masih dengan pertanyaan yang sama juga.
Why were you login to my dream?

Hari ini aku mimpiin kamu lagi.
Even when I don't think much about you.
Cause idk what should I think about you.
Tapi aku dulu pernah baca.
Katanya kalau seseorang login di mimpi kita, artinya dia lagi mikirin kita sebelum tidur.
Dulu aku percaya-percaya aja.
But now, it doesn't make any sense laa.
Kamu?
Mikirin aku sebelum tidur?
Hah.
Impossible.
Jadi kalo aku mimpiin Song Joong Ki artinya dia mikirin aku juga sebelum tidur?
Masa iya -_-
Karena mimpiin kamu aku jadi kepikiran.

Are you okay?
:(

Kali ini mimpinya drama kali, beneran.
Jadi kayaknya sih ya, di mimpi itu ceritanya kita pernah punya hubungan, but then you were gone before the goodbye, leaving scars on my heart and on family's as well.
Terus tiba-tiba kamu datang lagi, main ke rumah aku.
Tapi bukan rumah yang di Helvet.
Terus orang rumah aku ngeliatinnya kaya' setengah kesal gitu, tapi masih diladeni dengan baik sih kamunya.
Hahaha.
Terus banyaklah hal yang terjadi hari itu, yang kalau dituliskan disini kaya'nya terlalu drama.
Hahaha.
Kamu main seharian di rumah.
Nungguin aku kerjain ini itu sampai akhirnya kita bisa ngobrol.
There was a scene dimana aku baru aja kelar mandi hujan (bodoh gaksih?) terus kamu bantuin aku buat ngeringin rambut.
Nah pas aku mandi hujan itu bareng adek-adek, kamu ngeliatin aja dari jendela sambil senyum polos nan sendu.
Senyum kaya' orang yang udah mau meninggal gitu.
Aaaaakh.
Mimpi apa ini?
:'(

Then that day I realized that I've never moved on from you, not even a step.
Di mimpi itu aku nyadar kalau aku masih punya perasaan yang sama ke kamu dengan waktu kita pacaran dulu (dalam mimpi yaaa ini sekali lagi dalam mimpi).
Disitu aku ingat perasaan bahagiaku karena kamu akhirnya kembali.
Mungkin bukan perasaan bahagia, tapi perasaan lega.
Lega karena ternyata kamu baik-baik aja dan masih ingat sama aku.

Terus pas sorenya kamu pulang.
Setelah kamu pulang aku dijemput sama orang lain.
Aku ga ingat sama sekali wajah seseorang ini.
Di mimpiku itu wajahnya kaya' ga pernah kelihatan kamera.
Hahaha.
Cuma keliatan punggungnya, atau apalah.
Hm, ternyata setelah kepergian kamu ada 2 orang yang sungguh-sungguh ngedekatin aku.
Tapi tokoh yang satu lagi aku ga ingat sama sekali adegan bareng dia -_-

Nah, dari analisaku terhadap mimpiku sendiri, aku bisa tau kalau dia itu dosen di kampusku dulu.
Hahaha.
Kebayang ga sih?
Di kampusku itu ga ada dosen laki-laki yang belum menikah.
Sejauh yang kutau.
Nah kenapa aku ngomong gitu?
Soalnya di mimpiku itu ada adegan kami ketemu sama seniorku, terus seniorku itu langsung ngehubungin kawan-kawannya menggosip kalo Bapak itu jalan sama anak 2012.
Wkakakaka.
Lucu kali bah -_-

Dia laki-laki yang baiiiiiik kali.
Sebaik Ardi mungkin ya.
Aku ingat adegan dimana pas kami berdua nonton bioskop, aku ngeliatin dia ke arah kiri, dianya lagi fokus kali nonton, sambil ketawa gitu tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
Terus pas aku liatin dia, aku diam-diam nangis.
Aku teringat sama kamu tadi sore.
Aku nangis karena aku tau aku sama sekali ga bisa memberi dia perasaan apapun karena semuanya udah kuberi ke kamu.
I've given you too much until almost nothing left for me neither other guy.
Aku masih ingat betul gimana sedihnya aku di mimpi itu, ngeliat orang di sebelah kiriku yang udah baik, lemah lembut, mapan, tapi aku nangis karena aku ga bisa punya perasaan apa-apa sama dia.
Dan aku tahu betul kalau kehadirannya selama ini cuma kumanfaatin buat ngisi kekosongan hidupku selama kamu nggak ada.

Terus pas pulangnya dari bioskop itu, kami sempat beli 3 jenis cake, red velvet, tiramisu, sama satu lagi entah apa, terus abis itu kami belanja di supermarketnya mall.
"Buat adek-adek di rumah..", kata dia.
Aku masih diem aja nanggepinnya.
Nih manusia atau titisan dewa.
Pas udah di luar supermarket, aku pegang tangan dia bentar terus aku bilang, "Aku mau ngomong sesuatu."
"Nanti aja."
Terus aku diem lagi.
Kami keluar dari mall, dan disitu aku ingaaaat kali gimana dia bener-bener ngejagain aku langkah demi langkah.
Dan mirisnya, aku masih tetap aja mikirin kamu.

Kami berdua ke parkiran, terus masuk mobil.
Nah pas di jalan dia tiba-tiba berhenti.
Di jalanan yang gelap, sepi.
Dia bilang, "Aku tahu tadi dia datang ke rumah."
Terus aku tiba-tiba syok berat dan gaktau mau ngomong apa.
"Aku juga tau kalo selama ini, sekeras apa pun aku berusaha, kamu ga pernah punya perasaan apa-apa ke aku."
"..."
"Kenapa? Memang gabisa sama sekali ya?", sambil natap aku dengan tatapan nanar.
Sampai sekarang aja aku masih sedih tiap ingat mimpi itu.
Dan aku ingat betul gimana aku di mimpi itu cuma bisa nangis terisak-isak hampir ingusan (wkwk) dan cuma tau bilang, "Maaf.." berulang kali.
"Gakpapa, aku bakal tetap nungguin kok.."
Dan aku cuma bisa tetap diam, ngomong dalam hati, "Jangan."

Adegan berlanjut ke 6 bulan kemudian.
Saat dimana aku ketemu lagi dan aku bisa lihat di matanya kalau dia udah benci atau kecewa kali samaku.
"Gakbisa ya kalau pergi ke SG bilang-bilang? Harus pergi, pindah gitu aja tanpa permisi? Apa susahnya ngomong kalau kamu mau pindah hah? Kamu pikir gampang ditinggalin gitu aja tanpa kabar?"

Ternyata di mimpi itu aku tiba-tiba dinas/pindah tugas ke SG (which might be happened in real life as well, in very short time) dan aku ga bilang apa-apa ke dia.


Aku pergi gitu aja tanpa permisi, karena di hatiku dia bukan siapa-siapa.
Mungkin ini juga yang kamu rasain waktu itu.


End.
Aku terbangun.
Terbangun dengan ketakutan.
Takut kalau-kalau mimpi itu jadi nyata.
Takut kalau-kalau memang benar aku ga akan pernah jatuh hati lagi sama orang lain seumur hidupku, cause I've given you too much, until almost nothing left for me neither other guy.

Ngomong-ngomong, Medan hari ini berkabut.
Kelihatan dari lantai 15.

0 komentar:

Post a comment