Sunday, 24 September 2017

Dismenorrhea.

Hello!
Happy Sunday :)

Kalian ada yang tau ga dismenorrhea itu apa?
Ada?
Ada?
Ga ada ya?
Hiks :(
Okee today we will talk about girl's stuff; dismenorrhea.
Aka menstruation cramps.
Aka senggugutan.
Aku lebih suka nyebutnya dismenorrhea sih, biar kesannya intelek nan pintar gitu :p
Hahaha.

Nah, aku ini salah satu survivor dismenorrhea.
Wkwk.
Oke, kaya'nya ini bukan rahasia publik lagi.
Udah banyak orang yang kaya'nya menyaksikan kegilaanku kalo udah "gitu".
Bahkan bang Ega aja pernah bilang, "Ooooh, kam gitu juga kalo senggugut ya de? Aku ngerti soalnya si Dina juga gitu soalnya.."
Dan aku bersyukur sih semua teman laki-lakiku bukanlah golongan manusia yang menganggap hal-hal demikian tabuh untuk diperbincangkan, beda sama kebanyakan laki-laki di Afrika sana yang menganggap menstruasi itu kaya' kutukan sesaat. Kan jahat.
And I've read that 8 out of 10 women around the world got the same cramps on their monthly periods.
Jadi sebenarnya itu bukan hal yang tidak biasa.
Itu justru hal yang sangat biasa, apalagi kita hidup di jaman yang say no to training session say yes to junk food.
Maup ma.

Tapi walaupun itu hal yang biasa, sakitnya itu SAMA SEKALI GA BIASA.
Sakitnya itu LUAR BIASA.
Or at least for me.
It hurts A LOT.

Kalo yang kubaca-baca sih, itu karena kadar prostaglandin di dalam tubuh meningkat selama fase menstruasi. Prostaglandin itu sendiri bukan hormon, melainkan sejenis senyawa karena dia cuma bekerja di tempat dimana dia tersintesis. Nah, kalo bicara tentang hormon, dismenorrhea itu sendiri terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi hormon progesteron dengan estrogen. Biasanya progesteronnya jauh di atas estrogen, jadilah terjadi dismenorrhea.

Ketidakseimbangan ini sendiri katanya biasa terjadi di akhir usia belasan sampai awal 20-an, bahkan bisa berlanjut sampai perempuan itu menikah, hamil, dan melahirkan anak pertama. Baru dismenorrhea-nya bisa berkurang atau bahkan berhenti sama sekali.
FYI, emakku punya anak lima, tapi dismenorrheanya ga hilang, cuma berkurang drastis aja.
Kata mamak, waktu gadis dia juga kaya' aku, tapi kaya'nya aku lebih parah karena lebih jarang bergerak. Hahaha.

Aku sendiri juga ga ngerasain dismenorrhea sejak pertama kali menstruasi sih.
Kalo ga salah pertama kali mens itu umurku masih 13 tahun kurang 3 bulan.
Itu waktu SMP kelas 3.
Dulunya aku ga pernah sama sekali ngerasain nyeri apapun, sampai aku bisa ga nyadar kalo ternyata aku lagi mens.
Tapi semenjak aku makin tua, kalo ga salah pas kuliah semester berapa gitu, akhirnya aku ngerasain dismenorrhea.
Mungkin waktu itu umurku sekitar 17 atau 18 tahun.
Itu pertama kalinya aku ngerasain menstruation cramps.
Paling parah pernah ngerasainnya itu pas tanggal 20 Desember 2015.
Itu karena aku hujan-hujanan jam 2 pagi pulang natal TI  dan akhirnya jam 4 paginya aku pingsan di rumah.
Pengalaman dismenorrhea paling buruk ya itu, seminggu setelah lektu hilang tanpa kabar.
Untungnya semenjak itu, aku ga pernah ngerasain nyeri lagi sama sekali.
Ya ada lah nyeri-nyeri dikit, tapi cuma mirip sinyal "Eh May aku mau keluar loo, siap-siap yaa.."

Lalu 21 April 2017 kemarin ini, aku ngerasain itu lagi.
Aku ingat betul waktu itu aku lagi sendirian di kantor, hampir semua orang pergi keluar buat makan karena itu hari Jumat.
Dan aku berjuang sendiri dan ngerasa tinggal matinya aja, karena ada deadline dan aku nahan sakit sambil ngoding.
Kan sedih :(
Apa ga berlipat ganda sakitnya?
Sampe akhirnya kak Ica pulang makan dan aku minta tolong belikan painkillers aka feminax terus makan sebutir buat ngilangin rasa sakit.

Lalu hari ini terjadi lagi, setelah 5 bulan, aku akhirnya ngerasain itu lagi.
Hari ini sakitnya ada di urutan kedua sih seumur hidupku, yang sampe aku teriak-teriak tak berdaya sambil nangis-nangis karena rasanya perutku udah disayat-sayat sama hantu. Hahaha.
Dan aku sadar, ini juga karena aku lagi masuk angin :)
Bandel lah terus May, bandel lah.

Aku selalu berusaha menghindar buat minum obat.
Selalu berusaha kali.
Sampe rasanya udah mau mati kali dulu kaya' tadi, wajahku juga udah pucat kali, kepalaku udah sakit kali, mataku juga udah susah kebuka, aku juga udah capek teriak dan nangis baru aku minta tolong orang rumah buat beliin obat.
Aku gamau ketergantungan, beneran.
Tapi rasanya jadi kaya' menyiksa diri dan mencicipi setengah kematian.
Padahal sebenarnya cuma butuh sebutir dan fyuuuh, dalam waktu dua menit sakitnya reda lalu aku bakalan ngantuk sendiri dan ketiduran.
Entah karena kecapekan nangis atau efek dari obatnya.
Tapi paspas kaya' gini orang rumah romantis-romantis kali.
Wkakaka.
Andri yang bisa disuruh apa aja, bisa buatin air hangat dalam botol buat kompres perut aku, Ranti yang rela jauh-jauh ke apotik di pajak buat beli obatnya (which is ongkos ke pajak aja lebih mahal daripada obat yang dibeli), dan Nadia yang megangin tanganku pas nungguin Ranti udah kaya' suami yang megangin tangan istrinya pas lagi melahirkan.
Hahaha.
Ya walaupun Andri selalu menunjukkan kekhawatirannya dengan cara marahin aku.
"Kok bisa sampe kek gitu kali pulak? Ga pernah lagi nya kau kaya' gitu."
"Makanya jangan entah apa-apa kau makanin. Tauco laa kau makanin tadi apalah.."
Cemana aku ga makan itu kalo itu yang dimasakin bou coba? -_-

But now I'm fine.
Totally fine.
Ya nyeri dikit-dikit normal laa, tapi bisa diabaikan.

Kalo ga salah ada laki-laki yang nanya samaku beberapa waktu yang lalu, junior sih kayaknya.
"Kak May mens itu rasanya gimana sih?"
Terus tau aku ngejelasinnya gimana?
"Kaya' lagi ingusan, ingusnya terus menerus keluar, hidungnya pegel ga?"
"Pegel kak."
"Nah, mens juga kaya' gitu. Karena dinding rahimnya luruh barengan sama sel-sel telur yang ga dibuahi, darahnya keluar terus dari situ. Jadi ya rasanya "itu"nya pegel. Hahaha. Ngerti ga?"
"Oooo, iya ngerti kak. Kaya' kita kalo lagi ingusan terus ingusnya meler-meler gitu ya kak.."
"Iya, bedanya karena yang keluar darah, jadinya lebih lemas. Apalagi kalo Hb si perempuannya kurang. Makin lemas lah. Bisa pingsan malah."
"Oooo, jadi kalo ada yang senggugutan itu gimana rasanya kak?"
"Kaya' kita kalo lagi meras sari kelapa pakai handuk bersih atau saringan, kan susah keluar airnya kalo ga diperas kan? Karena lubang saringannya kecil-kecil. Nah, gitu juga kalo lagi mens. Apalagi perempuan yang belum menikah, kan mulut rahimnya masih sangat sempit, jadi darahnya susah keluar. Itulah kenapa rahimnya berkontraksi supaya mulut rahimnya bisa kebuka dan darahnya bisa keluar. Kebayang ga kalo perutmu diperas-peras berulang kali selama beberapa hari? Gitulah kira-kira. Sama kaya' mamak-mamak yang kontraksi pas melahirkan itu, cuma keknya melahirkan lebih sakit. Kakak belum pernah melahirkan jadi gabisa jelasin. Hahaha."
"Oooo gitu ya kak.."
"Iya, jadi jangan anggap pembicaraan kek gini tabuh ya de. Kalian laki-laki juga harus ngerti biar ga mikir cewek kelen penyakitan atau apalah itu. Biar ga jahat-jahat kelen sama perempuan. Haha. Dan ingat, semua perempuan mendambakan laki-laki yang bisa mengusap hangat perutnya saat dia sedang kesakitan nanti, tapi kalo udah nikah yaaa :p"
"Okee pindah topik ke TH hahaha"

Dan sekianlah pembelajaran hari ini.
Semoga perempuan yang membaca ini bisa menjelaskan situasi"nya" dengan cara yang tepat, dan laki-laki yang membaca ini tidak lagi menganggap hal-hal demikian tabuh untuk diperbincangkan.
Ini ilmu nak :p


--

Jika kau masih menganggap menghindari seseorang adalah cara terbaik untuk melupakannya, kau salah.
Kau bodoh.
Kau pengecut.
Kau pikir aku pernah membuat seseorang melupakanku begitu mudah?
Jangan bermimpi.
Tidak sama sekali.

0 komentar:

Post a comment