Thursday, 7 September 2017

-

Tuhan,
Terkadang aku sangat lelah menjalani kehidupan ini.
Hidupku terlalu dipenuhi dengan tangisan, dipenuhi dengan harapan-harapan yang tak kunjung tersampaikan.
Kau bilang tunggu, maka aku menunggu.
Tapi ini semua rasanya terlalu berat.
Aku terlalu banyak terluka, dan kupikir aku sudah terlalu lelah menunggu.
Orang-orang bergerak melangkah, menapaki langkah mereka di jalan-jalan yang terbuka bagi setiap impian mereka.
Tapi aku?
Masih disini, di tempat yang sama tanpa pergerakan sedikitpun.
Kupikir apa yang kurindukan tidaklah terlalu sulit untuk Kau berikan.
Kupikir apa yang kuminta bukanlah sesuatu yang muluk adanya.
Sebelum aku memintanya aku juga belajar untuk tahu diri.
Kau tahu bukan, jarang sekali aku meminta sesuatu untuk diriku sendiri.
Jarang sekali.
Ingat kapan terakhir kali aku meminta sesuatu kepada-Mu yang benar-benar hanya tertuju untuk diriku?
Aku sendiri tak ingat.
Sebegitu jarangnya aku memohonkan diriku di hadapan-Mu, seolah-olah ada jatah untuk doa yang dikabulkan dan aku tak ingin menggunakan jatahku hanya untuk kepentinganku sendiri.
Tapi kali ini, aku benar-benar menginginkannya.
Dan aku sudah menunggunya selama berbulan-bulan.
Berusaha bertahan dalam ketidakadilan ini, dalam perlakuan buruk ini, mencoba tetap taat menanti dalam kebenaran karena kupikir Kau sendiri yang akan berjuang untukku.
Kau Bapa yang mengasihiku dan tak sulit bagi-Mu memberikan apa yang kupinta ini.
Tapi lagi-lagi aku salah.
Ya, benar.
Menjadi anak-Mu memang tidak mudah.
Tidak, ini benar-benar tidak mudah sama sekali.
Kata-Mu Kau sedih melihat anak-anak-Mu terluka?
Kok sepertinya Kau anteng-anteng saja dengan keadaanku saat ini?
Pikir-Mu aku baik-baik saja?
Tidak.
Sama sekali tidak.
Aku hancur.
Terluka.
Aku lelah meratapi nasibku yang tak berubah.
Aku lelah hidup sebagai manusia yang sepertinya tidak tahu bersyukur dan terkesan tukang mengeluh dengan menuliskan ini.
Tapi aku juga ingin Kau tahu bahwa aku tak sesanggup itu.
Aku lelah.
Lelah sekali.

Lelah dengan hari-hari dimana penantian ini tak kunjung usai dan peluhku berganti dengan air mata.

0 komentar:

Post a comment