Tuesday, 19 September 2017

Battleship Island

Beberapa waktu yang lalu aku menonton Battleship Island, sebuah film asal negeri ginseng, Korea Selatan, yang mengisahkan tentang pendudukan Jepang atas Korea di akhir perang dunia II. Film ini bercerita tentang keadaan penduduk Korea yang dibawa secara paksa ke sebuah pulau bernama Hashima. Mereka adalah orang-orang yang diiming-imingi sebuah kehidupan yang layak di Jepang, dan iming-iming ini didapat melalui sebuah surat dengan pengirim Shimura, seorang Jepang yang memiliki kedudukan tinggi.
Setibanya di pulau Hashima, mereka diperlakukan sangat jauh berbeda dari apa yang sebelumnya mereka harapkan. Setiap laki-laki, baik dewasa maupun yang masih anak-anak dijadikan penambang batu mulia, sedangkan perempuan dewasa dan anak-anak perempuan dijadikan wanita penghibur ataupun pelayan.

“Aku adalah ketua pimpinan disini, aku akan bertanggung jawab atas kalian.”
“Semuanya akan bekerja untuk mencari kerikil dan batu permata disini. Itu semua akan digunakan untuk membangun prasarana negara. Jadi, kalian semua harus bekerja keras.”
“Kami sudah menyiapkan pakaian yang tepat untuk kalian.”
“Jika kalian bisa mendapatkan batu yang bagus, kalian bisa keluar dari sini.”
“Semua yang ada disini akan diperlakukan seadil-adilnya.”
“Sekarang kalian adalah bagian dari rakyat kami, jadi anggap saja kampung halaman sendiri.”
“Kami tidak akan melakukan hal bodoh kepada kalian, dan kalian akan dijamin makanannya. Kalian akan tinggal di kamar yang sudah disediakan, dan apapun yang akan terjadi menjadi tanggung jawab kami.”
“Kami akan membekali kalian dengan kitab suci. Jangan merasa seperti diperbudak oleh kami. Semua orang Korea disini adalah keluarga kami.”

Kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat-kalimat propaganda penuh tipuan yang disampaikan oleh orang-orang Jepang kepada orang-orang Korea yang mereka tawan.
Aku teringat dengan kisah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa.
Apa yang Iblis sampaikan melalui ular waktu itu?
“Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” – Kejadian 3 : 1
Sebuah tipu muslihat.
Alih-alih menyampaikan tepat seperti apa yang Allah sampaikan, Iblis memutarbalikkan fakta tentang larangan itu dan mengatakan bahwa orang yang memakan buah itu “sekali-kali tidak akan mati, tetapi akan menjadi seperti Allah.” – Kejadian 3 : 5

Ada kemiripan dalam dua kisah beda zaman ini.
Dibanding “menyerang” secara langsung, si jahat tampaknya lebih senang membuat calon korbannya mengkhayalkan sesuatu yang indah melalui janji-janji palsunya.
Jika dianalogikan dengan katak, seperti yang Pak Jokowi sering sampaikan, si jahat tampaknya lebih senang mengelus-elus katak itu terlebih dahulu, memasukannya ke dalam wadah berisi air, lalu memanaskan wadah itu dengan api, sampai akhirnya perlahan-lahan si katak akan mati kepanasan di dalam wadah berisi air mendidih tanpa tahu bahwa ia telah dicurangi, dibandingkan langsung membunuh mati si katak itu.

Pertanyaannya, apakah kita mampu mengenali dengan baik manakah pengharapan sejati yang berasal dari Allah, dan manakah pengharapan semu penuh tipu muslihat yang berasal dari Iblis?

Kisah Battleship Island berlanjut.
Ternyata, ada seorang penduduk Korea yang menjadi tetua di Hashima Island. Orang ini bernama Yoon Hak Cheol. Ia adalah sosok yang sangat dipercaya oleh para tawanan disana. Ia menjadi simbol harapan bagi bangsanya. Setiap kata-kata bijak nan menenangkan yang keluar dari mulutnya selalu berhasil membawa harapan dan semangat baru bagi orang-orang sebangsanya. Kehadirannya benar-benar bagaikan oase di tengah panasnya tambang batu mulia.

“Kita harus membangun tambang ini, agar kita bisa membangun negara kita. Kalian hanya perlu mempercayaiku, dan jangan lupa bersyukur kepada tuhan, agar semua yang kita kerjakan diberi kelancaran.”
Lalu semua orang akan merasa lega, surut emosinya, dan percaya kepada simbol harapan bangsa itu, sembari kembali ke “rutinitas” penjajahan mereka.
Semua orang pernah mempercayainya.
Ya, pernah.
Sampai akhirnya seorang pembawa harapan yang sesungguhnya datang; Park Moo Young (diperankan oleh Song Joong Ki).
Ia membongkar semua kejahatan yang dilakukan Yoon Hak Cheol, menunjukkan berkas-berkas yang membuktikan bahwa Yoon Hak Cheol ternyata adalah pembelot dan tidak berpihak sama sekali kepada bangsanya sendiri. Setelah bangsa Korea percaya bahwa Yoon Hak Cheol adalah seorang pengkhianat, Park Moo Young kemudian membunuhnya.

Perjuangan untuk merdeka kemudian dimulai.
Bangsa Korea yang selama ini bertahan di dalam penindasan dengan harapan-harapan palsu yang mereka terima akhirnya bangkit dan maju, memperjuangkan kemerdekaan mereka. Mereka sadar bahwa semua penindasan ini harus berakhir, dan hanya ada satu cara agar penindasan ini berakhir; mereka harus berjuang. Bukan perjuangan yang biasa atau hanya kata semata, melainkan sebuah perjuangan yang penuh dengan dedikasi dan pengabdian diri, sebuah perjuangan yang mengorbankan segalanya demi sebuah pengakuan; kemerdekaan dari penjajahan.

Ini punchlinenya.
Mereka sadar, lalu mereka berjuang.

Sadar dulu, baru bisa berjuang dengan benar.
Aku dan kamu juga sebenarnya tidak luput dari peperangan.
Setiap kita memiliki medan juang kita masing-masing.
Memang, kita adalah orang-orang yang sudah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tapi, kenyataan itu tidak semata-mata membuat kita terlepas dari perjuangan melawan dosa dan kedagingan. Masih banyak dari kita yang terus bergumul dengan dosa kesayangannya, kebiasaan-kebiasaan buruknya di masa lalu, karakter yang kurang baik, apatisme, dan lainnya.
Mengapa tiap-tiap hari kita berdoa dan merenungkan Firman Tuhan?
Apakah hanya rutinitas semata?
Ataukah karena kita sudah sadar bahwa kita sedang berperang dan membutuhkan amunisi berupa relasi dengan Allah?
Jika sudah sadar bahwa hidup ini adalah peperangan, teruslah berjuang, karena setiap orang percaya “ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” – Roma 8 : 29

Terakhir.

“Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” – Ibrani 12 : 4

0 komentar:

Post a comment