Thursday, 3 August 2017

'Become as little children..'

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Matius 18:3

--

Tiga hari yang lalu, tepatnya saat Minggu pagi, sama seperti kebanyakan orang Kristen lainnya, aku bersiap – siap untuk beribadah di gereja. Biasanya aku berangkat ke gereja bersama dengan Ranti dan Nadia karena Andri lebih suka beribadah di malam hari. Sembari bersiap-siap, tiba-tiba suara Maktua-ku yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami kedengaran dari depan rumah.

“Nadia..Nadia..Udah siap kau nang?”
Akupun kemudian bertanya kepada Ranti.
“Ran, Nadia pergi duluan ya?”
“Iya, disuruh Maktua karena kakinya sakit, biar ada yang bantuin Maktua jalan, ga kuat dia kalo jalan sendiri ke gereja.”
“Oooh..”

Masih sembari bersiap-siap, aku kemudian merenung, “Kenapa ya Maktua ngajakin Nadia buat nolongin dia? ‘kan Nadia yang paling kecil di rumah kami. Kenapa ga aku? ‘kan aku lebih besar, lebih kuat buat bantuin Maktua jalan.”

Di gereja, aku duduk di bangku baris kedua paling kiri. Dari sana aku bisa melihat keluar jendela. Mataku terarah ke gedung sekolah minggu yang berada tepat di samping gedung utama gereja. Kuperhatikan salah seorang anak sekolah minggu berjenis kelamin laki-laki dengan semangatnya sedang mengacungkan tangannya kepada guru sekolah minggunya. Kuamati anak itu beberapa waktu, dia begitu polos saat sedang berusaha membuka Alkitab pribadinya. Seringkali ia tersenyum penuh keceriaan, ia tertawa bersama teman-temannya, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu mengusik pikirannya terlalu lama.

Tiba-tiba aku teringat ayat Alkitab yang kutuliskan di awal tulisan ini.

“..menjadi seperti anak kecil..”

Maktuaku menyuruh Nadia untuk menemaninya dan bukannya aku karena dia punya stereotip bahwa anak yang lebih kecil lebih mudah disuruh/dimintai tolong, lebih patuh pada perintah.

Dari perenungan demi perenunganku di minggu pagi itu aku akhirnya semakin mengerti mengapa Tuhan Yesus menyuruh kita untuk menjadi seperti anak kecil.

Anak kecil itu mudah diatur, mereka taat aturan, mereka seringkali lebih patuh dibanding orang-orang dewasa. Bukankah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kita untuk taat dan tunduk pada kehendak Bapa seperti seorang anak kecil?

Anak kecil itu penuh semangat, rasa lelah seringkali tak mengurangi semangat mereka saat sedang bermain atau melakukan aktivitas lain. Bukankah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kita untuk tetap semangat dalam jerih lelah kita saat melayani Dia?

Anak kecil itu polos, mereka mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Mereka menangis saat makanannya diambil, mereka tersenyum saat mendapat hadiah, mereka tidak tahu caranya menunjukkan fake smile untuk menutupi kesedihan mereka. Bukankah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kita untuk hidup jujur dan polos di hadapan Bapa? Berani membuka diri kita di hadapan-Nya, dalam doa mengutarakan setiap kesusahan hati ataupun sukacita kita tanpa perlu berpura-pura berkata “Tuhan, aku baik-baik saja.”

Anak kecil itu penuh keceriaan. Tidak ada kesusahan atau kekuatiran yang terlihat di raut wajah mereka. Mereka menjalani hari-harinya seolah-olah itu adalah hari terbaik dalam hidupnya. Bukankah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kita untuk senantiasa bersukacita dan tidak menaruh kuatir akan apapun juga karena sama seperti biji mata-Nya Bapa senantiasa memperhatikan kita?

Semoga bagian ini kembali mengingatkan kita akan salah satu ajaran paling unik dari Tuhan Yesus, “menjadi seperti anak kecil.”

Shalom.

Pertama kali dipublikasikan di LINE pada tanggal 8 Maret 2017

0 komentar:

Post a comment