Friday, 18 August 2017

Another. Goodbye.

“It matters how this ends, ‘cause what if I never love again..”

Sepenggal lirik dari lagu All I Ask milik Adele ini menyadarkanku akan sebuah kenyataan sederhana, entah ini pahit atau tidak; ada seni dalam sebuah perpisahan.
Bagaimana jika orang yang kau tinggalkan itu memilih untuk tidak jatuh cinta lagi sepanjang sisa hidupnya, atau setidaknya untuk waktu yang sangat lama?
Bagaimana jika dalam pilihannya itu dia bahkan tidak punya akhir yang indah untuk dikenang?
Itulah mengapa akhir dari sebuah kebersamaan itu penting. Itulah mengapa ada seni dalam sebuah perpisahan.

Kesemena-menaanmu masuk dan menggali relung hatinya tak bisa jadi alasan untukmu kemudian boleh semena-mena pula menghentikan galian itu dan menyisakan lubang besar menganga disana. Ada sebuah penghormatan yang perlu kau berikan untuk dia yang hatinya pernah kau isi dan dia yang pernah mengisi hatimu. Ketergesa-gesaan di awal jatuh cinta mungkin telah membawa kalian pada keputusan yang salah; kebersamaan.

Waktu yang berlalu dalam kebersamaan mungkin saja kemudian menyadarkanmu bahwa ini adalah sebuah kesalahan dan sepertinya kalian memang harus mengakhiri segalanya. Perpisahan adalah jalan yang paling baik untuk diambil. Sebelum galian itu terlalu dalam, sebelum luka yang akan ditimbulkan semakin melebar.

Oke, begini caranya. Biasanya kau mulai mengurangi intensitas komunikasi dengannya, membuatnya lelah dan kesal karena menunggu, terheran karena perubahan sikapmu, kemudian kau perlahan – lahan menghilang, lenyap bagaikan cahaya cantik kembang api yang hanya menyisakan debu dalam gelapnya malam. Ah kawan, sayangnya itu kuno sekali.

Mengapa kau tak ingin dikenang sebagai orang baik sampai akhir? Mengapa tak berikan saja akhir yang indah untuk dikenang olehnya? Pada akhirnya perpisahan tetap akan menyisakan luka, entah itu berakhir dengan indah atau berakhir dengan tidak indah. Jadi mengapa kau memilih memberikan akhir yang tidak indah? Yang tidak bisa membuatnya tersenyum saat mengenangmu? Mengapa tidak kau berikan dia kesempatan meluapkan semua perasaannya, mencoba mengurungkan niatmu untuk berpisah?

Oh kawan, berikanlah penghormatan itu.
Sekali lagi, bagaimana jika dia memilih untuk tidak jatuh cinta lagi?
Bagaimana jika dia memilih hanya memikirkanmu sepanjang sisa hidupnya (meskipun ini sebenarnya cukup bodoh dan gila)?
Itulah mengapa akhir dari sebuah kebersamaan itu penting.

Ah ya, bagian ini mengingatkanku sebuah hal sederhana pula; alangkah baiknya jika aku mulai fokus menorehkan kisah – kisah yang membahagiakan bersama orang lain. Keluarga, teman, atau siapapun itu. Harusnya aku membawa kebahagiaan dalam hidup mereka. Mengapa? Karena mungkin saja itu akan jadi hal terakhir yang bisa mereka kenang atasku.
Bisa saja itu adalah akhir yang indah dari kebersamaan kita.

Jika saja tak ada peristiwa Via Dolorosa, mungkin dunia tak akan menyadari betapa besarnya cinta Kristus untuknya, saat dimana perpisahan itu terjadi karena Dia harus turun ke dalam kerajaan maut untuk menebusnya. Itulah mengapa, ada seni dalam sebuah perpisahan.

--

Pertama kali dipublikasikan di Facebook pada tanggal 15 Agustus 2016

0 komentar:

Post a comment