Monday, 24 July 2017

P3 : Pengalamanku Perihal Persepuluhan

Holla.
Judulnya agak lebay ya. HAHAHA
Hari ini aku mau berbagi soal pengalamanku tentang memberikan persepuluhan, perpuluhan, atau bagaimanalah banyak orang menyebutnya.
Intinya tentang perihal memberikan sepersepuluh dari “milikmu” kepada Allah.
Kira-kira begitulah.

Pertama kali aku mendengar tentang persepuluhan itu sekitar 10 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih SMP, dan tinggal bareng kakak-kakak sepupuku yang udah pada kuliah dibawah asuhan bou (bou: saudara perempuan Bapak) semata wayang kami yang diberi karunia melajang oleh Allah. Btw, sampai sekarang aku masih diasuh sama bouku loo. Bekal buat makan siang di kantor setiap harinya masih bou yang masakin.

Waktu itu ada satu orang sepupuku yang ikut pelayanan mahasiswa di POMK FKM UKM KMK USU, dan dia jadi koordinasi disana. Dari dia aku tau soal disiplin rohani, 7/7 dlsb yang sering kita isi terus dicek sama komisi kelompok kecil itu. Aku masih ingat dulu sering bilang, “Aku ga sepede kakak berani bilang udah pasti masuk surga bla bla bla” sampe akhirnya aku ngerti kenapa dulu dia bisa seyakin itu soal kepastian keselamatannya. Makasi yaa kak hahaha. Walhasil sejak SMP aku udah rajin saat teduh dan pengen ikut kelompok kecil kalo nanti kuliahnya di USU.

Nah dari dia jugalah aku tau soal persepuluhan. Aku ga terlalu ingat gimana cerita-ceritanya kami soal itu, tapi aku ingat kalau dulu dia rajin kasih persepuluhan waktu dia masih kuliah. Dulu aku heran, ya kurang lebih aku taulah kakak ini dikasih berapa per bulannya sama orangtuanya, dan sejujurnya aku pernah mikir, “Dengan uang segitu masih harus kasih 10% buat Tuhan? Di luar persembahan setiap ibadah minggu? Gileeee.. Apa cukup?”

Tahun demi tahun berlalu sampai akhirnya tibalah saatnya aku yang kuliah. Itupun, aku masih belum pernah ngasih persepuluhan. Logikanya kan orang yang udah punya penghasilan sendiri-lah yang harusnya memberikan persepuluhan, aku kan masih ditanggung sama orangtua, jadi belum punya penghasilan sendiri. PKKku juga ga pernah cerita apa-apa soal itu soalnya bahan kami belum nyampe di MHB-11 walaupun kami udah hampir 2 tahun kuliah. Hahaha

Nah, soal persepuluhan ini juga jadi poin penting dalam kriteria calon PKK alias pemimpin kelompok kecil. Kayaknya sih aku mulai ngasi persepuluhan itu pas dipersiapkan jadi CPKK pas tahun 2014, tentunya dengan motivasi yang tidak semurni yang seharusnya. Huhu. *maafkan hamba ya Allah* Daripada ditanyain banyak-banyak soal itu, dianggap ga ngerti konsep persepuluhan, mendingan dikasih aja kan? Dulu mikirnya gitu. Karena kenyataannya memang gitu sebenarnya, banyak dari kita yang sulit memberikan persepuluhan bukan karena kita ga paham konsep dan esensinya tapi karena kita ga menghidupinya. Pemahaman itu cuma sampai di pikiran aja, tapi ga sampai ke hati, itulah kenapa kita ga taat.

Waktu itu aku juga jadi panitia salah satu acara se-USU, jadi mau gakmau sebagai panitia yang budiman harus memberikan persepuluhan juga. Hahaha. Nah, selepas itu udah jadi PKK, juga harus tetap memberikan persepuluhan dlsb. Intinya, awal dari semua itu adalah dipaksa atau “memaksa diri untuk taat.”
Waktu kuliah aku juga dapat beasiswa sejak semester 2 sampai tamat. Jadi dulu pas mahasiswa persepuluhanku itu adalah sepuluh persen dari uang mingguan yang dikasi Mamak, dikali 4 minggu, ditambah uang beasiswa.

Entah sejak kapan motivasi memberikan persepuluhan itu perlahan-lahan dimurnikan oleh Allah, sampai akhirnya aku tiba pada keadaan bahwa ini bukanlah semata-mata sebuah kewajiban, ataupun salah satu parameter yang tepat bahwa aku adalah anak Allah, melainkan jatuh kepada sebuah keyakinan bahwa segala yang aku miliki saat ini berasal dari pada Allah dan sudah sepatutnya dikembalikan kepada Allah.

Sekarang setelah keluar dari dunia mahasiswa, kemudian bekerja, memberikan persepuluhan juga tetap kukerjakan. Eits, jangan pikir karena sekarang aku punya uang sendiri, memberikan persepuluhan itu akan jauh lebih mudah, lebih gampang.

Big NO! Salah besar.

Justru setelah jadi alumni-lah godaan itu rasanya jauh lebih berat dan menantang.
Kenapa nggak?
Jumlah yang harus kita berikan lebih besar, di sisi lain banyak hal yang kita inginkan atau idamkan untuk dimiliki, ada orang-orang yang membutuhkan bantuan kita, sementara gaji kita juga ga besar-besar kali. Apalagi besar kemungkinan di dunia kerja kita dikelilingi oleh orang-orang belum percaya, makin jauh dari orang-orang yang mungkin bisa ngingatin kita untuk taat. Susah ngebaginya? Susah, apalagi kalo kita punya cita-cita jalan-jalan ke Korea dlsb. Hahaha.

Oke aku jadikan pengalamanku sebagai contohnya.

Setiap bulan gajiku dipotong 4% untuk jaminan kesehatan, asuransi jiwa, dlsb. Jadi bersihnya, setiap bulan aku menerima 96% dari total gajiku.
Nah, setelah itu aku harus memberikan persepuluhan.

Ini bagian yang agak menarik sebenarnya.
Jadi waktu itu aku mikir-mikir, apakah aku harus memberikan 10% dari gaji bersihku yang 96% itu, ataukah memberikan 10% dari gaji kotorku yang 100% itu?
Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya aku merasa bahwa yang benar adalah memberikan 10% dari gaji kotorku, bukan dari gaji bersihku.

Selain itu, aku juga harus ngasih sedikit-sedikit ke Mamak setiap bulannya, buat bantuin Mamak sekolahin adek-adek, apalagi Bapakku udah pensiun.

Biasanya setiap habis gajian aku juga ngasi uang ke bou, yang sebenarnya jumlahnya kecil kali, ditambah beliin bahan saat teduh buat dia. Aku tau itu ga sebanding sama cinta kasihnya untukku selama 10 tahun ini, tapi lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali kan?
Dulunya aku ga pernah cerita ke orangtua soal ini, takut aja haha, tapi one day pas mijitin aku Mamak pernah bilang, “kalo selesai gajian kasihlah bou itu sedikit-sedikit ya kak..”
Emakku dukung kalo aku ngeluarin uang untuk kebaikan. Hahaha. Thanks Mom!

Eum, apa lagi ya?
Oh, belum lagi masa dimana orang rumah, misalnya Bapak, bakalan tiba-tiba nyindir, “Belum pernah nyicipin gaji buha baju laa..” atau “Buha baju baru gajian kan..”
Walhasil harga diri sebagai buha baju aka anak perempuan paling besar bakalan memicu diri untuk beli sesuatu dan mengeluarkan uang. Hahaha.
Atau segenap adek-adek yang minta dibeliin kado ulang tahun, atau ditraktirin nonton.

Aku juga pastilah punya kebutuhan dan keinginan sendiri kan?
Pingin beli ini, pingin beli itu, makan ini, makan itu, ketemuan sama ini, dlsb.
Ludeslah tak bersisa gaji yang tak seberapa itu. Haha.

Akan ada masa dimana godaan itu datang dan bilang, “Udah, gimana kalo bulan ini gausah ngasih persepuluhan? Daripada nanti ga cukup? Tuhan pun ngertinya itu..”
Akan ada masa itu nak, akan ada.
 Aku juga pernah tergoda, sampai akhirnya aku benar-benar merenungkan ayat ini :

“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” – Maleakhi 3 : 10

Jleb. Rasanya ga perlu dijelaskan lagi yaa maksudnya apa. Bayangin looh, Tuhan sampe ngomong, “UJILAH AKU”. Kurang jaminan apa lagi kalo Tuhan akan pelihara hidup kita? Tuhan bilang ujilah Dia. Ini ya, kalo kita sampe berani ngomong ke orang lain, “teslah aku”, berarti karena kita benar-benar yakin omongan kita itu bisa dibuktikan kan?

Jadi ini bukan tentang seberapa besar yang kita bisa berikan, tapi tentang ketaatan dan kasih kita kepada Allah. Aku pernah punya teman yang persepuluhannya hanya 12 ribu rupiah sebulan. Bayangin, 12 ribu rupiah loo, sekali makan di kantin aja kayaknya kurang ya? 12 ribu rupiah, karena uang bulanannya cuma 120 ribu. Kecil? Iya, kecil. Tapi dia tetap memberikannya. Kenapa? Aku yakin karena kasihnya kepada Tuhan dan keyakinannya akan pemeliharaan Tuhan.

Ini juga bukan tentang perdebatan persepuluhan itu harus dikasih kemana, apakah harus ke gereja atau bolehkah diberikan ke parachurch juga. Bukan, ini bukan tentang itu. Aku udah beberapa kali menemui orang yang sibuk bertekak soal persepuluhan harus dikasi kesinilah, ga boleh dikasi kesinilah, tapi nyatanya persepuluhannya juga ga diberikan. Cuma sibuk bertekak aja harus ngasi kemana. Faedahnya apa?

Ini juga bukan tentang kewajibanmu sebagai PKK, sebagai koordinasi, sebagai panitia, sebagai apalah-apalah, karena kalau begitu, nanti setelah kau berhenti jadi koordinasi, berhenti dari sebuah kepanitiaan, berhenti jugalah kau memberikan persepuluhanmu kepada Tuhan. Dan ini fakta. Ga cuma satu orang yang kukenal seperti itu, berhenti memberikan persepuluhan karena tidak lagi terlibat dalam sebuah pelayanan yang terstruktur. Dan itu ga baik. Aku gamau kita berlaku hal yang sama.

“Ah kau mah enak May ngomong gitu, persepuluhanmu pasti ga pernah terlalu sikit sampe kau malu ngasinya kan? Kau kan ada beasiswa, belum lagi uang dari Mamakmu, pasti agak banyak bisa kau kasih..”

Ada yang mikir gitu? Malu sangkin sikitnya jadi mendingan ga ngasi?
Nggak gitu. Sama sekali nggak.
Tau nggaksih aku pernah ngasih persepuluhan cuma 20 ribu, entah 20 ribu atau 25 ribu itu aku lupa, itu pas aku masih pengangguran. Haha.
Waktu itu 2 adek kelompok kecilku jadi komisi keuangan yang bertanggungjawab mengumpulkan persepuluhan komponen pelayanan. KTBku jadi KWK yang mendampingi komisi keuangan. Malu aku ngasi persepuluhan sekecil itu? Sejujurnya malu.

Lucu loo rasanya waktu si Ardi (KTBku itu) ngomong ke aku, “Jadi cuma segitu uangmu sebulan pal?”
Lucu kali. Malu juga. Untungnya dia udah terlalu tau seluk beluk kehidupanku dan menerimaku apa adanya. Haha.

Aku menuliskan ini bukan karena aku mengklaim diriku sebagai manusia yang sangat taat dalam memberikan persepuluhan.
Nggak.
Sama sekali enggak.
Aku juga pernah kok dulu bolos ngasi persepuluhan, ya karena itu, takut ga cukup dan berbagai alibi murahan lainnya. Justru aku menuliskan ini untuk mengingatkan diriku sendiri untuk selalu ingat akan janji Tuhan akan pemeliharaan-Nya. Bahwa Tuhan akan selalu memelihara, Tuhan akan selalu menyediakan, Tuhan akan selalu mencukupkan. Tidak akan dibiarkan-Nya anak-anak-Nya melarat dan terlantar dalam ketaatan mereka. Tidak akan. Tidak akan pernah. Selama kau taat, Tuhan akan selalu punya cara untuk menolongmu. Aku berani jamin itu.

Guys, aku pernah sama sekali ga punya uang, bahkan buat ongkos aja aku ga punya. Padahal waktu itu aku punya pelayanan dan harus ke sekret. Tapi Tuhan selalu menyediakan anak-anakNya yang lain untuk bantuin aku.
“Datang aja dulu, entah pinjam uang siapa disitu, nanti disini abang ganti uangnya sekalian ongkosmu pulang.”
“Mana no rekening kakak, biar aku transferkan aja nanti, jadi jangan sampe ga datang ya kak.”
Dan banyak pertolongan lainnya.
Mereka yang bantuin aku juga bukan orang-orang yang mewah hidupnya, yang punya banyak uang untuk dibagi-bagi ke orang lain, tapi mereka adalah orang-orang yang tau, bahwa Tuhan akan memelihara mereka, juga akan memeliharaku melalui mereka.

Keren nggak sih?
Keren kali menurutku.

Dan aku menuliskan semua ini, supaya aku ingat dan siap sedia, kalau-kalau di masa depan Tuhan juga akan memakaiku untuk menjadi alat-Nya dalam memelihara kehidupan anak-Nya yang lain. Tuhan akan mencukupkan, Tuhan akan menyediakan.
Tuhan akan mengajarimu cara mematikan keakuan, mengasihi orang lain, dan memanage setiap pemberian-Nya sebaik-baiknya, melalui ketaatanmu dalam memberikan persepuluhan.
Akan ada masanya kau merasa puas dan justru senang, saat kau harus kehilangan uangmu karena memberikannya kepada orang yang kau cintai, orang-orang yang mencurahkan cinta kasihnya untukmu walau kau tak sedarah dan sedaging dengannya.
Akan ada masanya kau merasa puas dan justru senang, saat kau harus menunda membeli sebuah sepatu yang sudah lama kau inginkan, demi mengalihfungsikan uangnya kepada kebutuhan orang lain yang lebih mendesak.
Akan ada masanya kau merasa puas dan justru senang, saat kau tau bahwa persepuluhanmu yang jumlahnya kecil itu dipakai secara luar biasa untuk memperkenalkan dunia yang luas ini kepada Pemiliknya.
Percayalah, aku sudah merasakannya, dan aku bahagia.

Akhir kata, selamat berbahagia dalam ketaatanmu. Ingat, Tuhan memelihara.



P. S : Persepuluhan juga bukan hanya bicara tentang uang atau harta, tapi juga bicara tentang waktu dan talenta.


---------------------------------------
Sidestory : Tips taat persepuluhan
---------------------------------------
Sesaat setelah kau menerima gajimu atau uang bulananmu, segeralah sisihkan persepuluhanmu SAAT ITU juga. Jangan tunda. Itu yang kulakukan, dan aku berhasil mengatasi godaan itu lebih mudah. Yeaaaayy!!
---------------------
Sidestory lainnya
---------------------
Aku beneran udah lama kali pengen beli sepatu itu :(

Tapi yaudahlah, mudah-mudahan bulan depan bisa beli. Haha.

1 comment:

  1. Aku juga dulu mikir nya ngasih perpuluhan kalo udh punya penghasilan sendiri kakak atau udh kerja dulu, tapi ternyata bukan.

    ReplyDelete