Tuesday, 18 July 2017

'let your hearts be broken, and not your clothing..'

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu..”
Yoel 2 : 13a

Hallo.
Hari ini aku bible reading. Setelah sekian lama BRku terseok-seok dengan alasan kelelahan dan berbagai alasan murahan lainnya. Miris ya. Mungkin awalnya tadi aku BR ga se-excited yang seharusnya aku rasakan. Malah tadi pas mau mulai Brnya aku ngomong sendiri buat di dengarin adekku, “Baca Alkitab ajalah aku, biar ngantuk.” Oke itu memang bercanda tapi jangan ditiru, itu ga baik. Buktinya? Aku bukannya ngantuk malah jadi nyalai laptop dan buat tulisan ini.
Oke let’s move on to the main topic.
BRku hari ini tiba di kitab Yoel, sebuah kitab yang sepertinya jarang sekali diPAkan orang-orang terajin sekalipun, apalagi aku. Ah, harusnya tadi explore sedikit sebelum nulis ini, tapi takut terlanjur unmood buat nulis.
Satu bagian yang paling kuingat adalah ayat yang kusematkan di awal tulisan ini.
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu..”
Menarik ya.
Mengoyakkan pakaian aja aku enggan apalagi mengoyakkan hati.
Lagian gimana caranya coba?
Mengoyakkan pakaian sebenarnya adalah tradisi yang banyak dikerjakan di zaman Alkitab, baik perjanjian lama maupun perjanjian baru.
Aku gaktau apakah ini hal yang tepat menyebutnya sebagai ‘tradisi’, ataukah sebenarnya ada istilah yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya.
Dari beberapa bagian yang pernah kubaca, biasanya tradisi mengoyakkan pakaian dilakukan untuk menunjukkan penyesalan dan kehancuran hati, duka yang amat dalam, ataupun untuk menguatkan sebuah statement.
Misalnya, raja Daud yang menyesali perbuatannya (berkonspirasi dalam kematian Uria untuk memperistri istri Uria) setelah diberi peringatan oleh nabi Nathan, ataupun Yosua yang juga mengoyakkan pakaiannya untuk meyakinkan bangsa Israel bahwa negeri yang ia intai bersama 11 pengintai lainnya memang benar baik adanya.
Tapi hari ini Firman Tuhan berkata lain.
Jika di kitab-kitab lainnya Firman Tuhan berkata, “Koyakkanlah pakaianmu dan berkabunglah..” dan seterusnya, hari ini Firman-Nya berkata lain.
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu..”
Sederhana sekali, tapi aku pikir kalimat ini benar-benar mewakili isi hati Allah.
Kita sering sekali memohon ampun, mengumbar janji bahwa kita akan berubah, bahwa kita akan meninggalkan sebuah kebiasaan enak tapi tidak baik itu, memberikan harapan-harapan palsu kepada Allah seakan-akan hati kita sudah sepenuhnya menjadi milik-Nya.
Sayangnya tidak.
Allah cukup mengenal kita melampaui segala entitas lain yang pernah ada, sehingga Ia tentulah benar-benar tau, apakah hati kita ini milik-Nya atau tidak.
Apakah kita mendua hati atau tidak.
Menipu diri sendiri dan menipu Allah itu jauh lebih buruk daripada banyak dosa lainnya.
“Sudahlah. Ini bukan kali pertama kau bilang menyesal, kau meminta maaf, lalu berujar janji tak akan mengulanginya lagi. Ini juga bukan kali pertama aku percaya pada kata-kata manismu dan memberimu kesempatan yang lain.”
Monolog di atas terdengar tidak asing, bukan?
Mungkin akan lebih mudah dipahami jika aku melanjutkannya begini:
“Hentikan semua kata-katamu yang mengatakan bahwa kau menyesali perbuatanmu. Hentikan. Aku butuh pembuktian, bukan hanya untaian kata belaka.”
Ada sebuah kutipan dari buku yang pernah kubaca; persembahan terbaik bagi Tuhan adalah hati yang hancur.
Sederhana, bukan?
Sederhana, tapi tidak sesederhana itu.
Di dalam sebuah hati yang benar-benar hancur, tidak ada keinginan untuk kembali mengerjakan dosa. Di dalam sebuah hati yang benar-benar hancur, yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan sekaligus pengharapan yang teramat dalam akan Tuhan Yesus, satu-satunya Pribadi yang sanggup mengumpulkan setiap kepingan-kepingan hati yang telah hancur itu dan menyatukannya kembali, membentuknya menjadi lebih bernilai dan lebih indah.
Di dalam sebuah hati yang benar-benar hancur, tidak ada ruang yang tersisa untuk kehendak pribadi. Yang tersisa hanyalah akhir dari sebuah keakuan.

Maka jika kau berkata hatimu telah hancur karena seseorang atau sesuatu, percayalah, ini saat yang paling tepat untuk mengembalikannya kepada Pemilik aslinya.

0 komentar:

Post a comment