Sunday, 23 October 2016

Eksposisi Habakuk oleh Pdt. Zendrato Manullang, S.Th, S.Pd

Akhirnya..

Setelah sekian lama hiatus, hari ini aku punya waktu, tenaga, dan inspirasi untuk menyoreti blog ini sebagai sarana menampung pemikiran kompleks nan detailku yang terkadang hanya bisa dimengerti oleh aku dan Tuhan. Terima kasih Tuhan :’)

Jadi hari ini pertama kalinya aku melayani di PAK sebagai seorang alumni (karena tahun lalu pas masih mahasiswa juga udah pernah ‘dipanggil’ melayani disana). Eciiieeee.. Ada peningkatan satu level :’D Meningkat usianya maksudnya :3

Ibadah PAK hari ini membahas tentang ekposisi Habakuk, dan itulah yang akan kubagikan melalui tulisanku di malam yang dingin bekas persinggahan gagah hujan senja tadi. Bagian ini dibawakan oleh Pdt. Zendrato Manullang, S.Pd, S.Th, which is my favorite Pengkhotbah ever !! ^_^ Kebayang ga gimana bahagianya aku hari ini? :D

Oke, kita masuk ke bagian yang lebih serius.

Kalian tahu Habakuk? Pernah dengar tentang beliau? Pernah baca kitabnya? Aku yakin banyak dari kita yang kesulitan menemukan dimana letak kitab Habakuk, yang tentunya tak semudah menemukan kitab Mazmur ataupun Kisah Para Rasul.
Ya, Habakuk memanglah bukan nabi yang ‘sebesar’ Yesaya ataupun Yeremia. Beberapa pembicara sering menggunakan istilah ‘nabi kecil’ (yang mana aku kurang senang mendengar istilah tersebut), dan syukurlah bang Zendrato ga menggunakan istilah yang sama. Dan itulah bagian yang menarik dari nabi Habakuk ini. Tidak ada tulisan yang bisa secara riil menjelaskan siapa dia, darimana dia berasal, bagaimana silsilah keluarganya, berapa usianya, apalagi apa makanan favoritnya dan siaran radio rohani mana yang sering dia dengarkan. Namun satu hal yang pasti, nabi Habakuk adalah seorang yang beriman.

Kitab Habakuk menceritakan tentang penglihatan nabi Habakuk akan penjajahan bangsa Yehuda oleh bangsa Babilonia (Babel), kisah dimana orang – orang yang ‘kuat’ dibawa ke Babilonia untuk dipekerjakan disana dan tinggallah di Yerusalem sisa – sisa bangsa Yehuda yang lemah namun setia; Mungkin kita lebih akrab dengan cerita Daniel dalam kasus ini.

Habakuk hidup di jaman raja Yosia, raja Yehuda yang takut akan Allah (sayangnya ketakutannya akan Allah tidak diwarisi oleh anak – anaknya Yoahas dan Yoyakim yang menjadi raja setelah dia). Sepertinya Habakuk memang tumbuh dengan menyaksikan bagaimana Yosia memimpin bangsa Yehuda sesuai dengan firman Allah. Kalau bang Zendrato tadi bilang, di masa kepemimpian Yosia, bangsa itu ada di posisi yang ‘baik.’ Keterpurukan moral kembali terjadi saat bangsa itu dipimpin oleh orang – orang yang tidak takut akan Tuhan pula. Masuk akal, bukan? Inilah yang menjadi dosa bangsa Yehuda pada saat itu. Ketidaksetiaan berjamaah. Sangkin sedikitnya orang – orang yang didapati tetap setia, sampai – sampai mereka disebut ‘sisa’. Dan karena itulah, mereka harus diadili, mereka harus dihajar, karena Allah menghajar orang – orang yang dikasihi-Nya.

Sederhananya, nabi Habakuk tumbuh dengan dasar iman yang idealis. Apa itu iman yang idealis? Iman yang idealis berkisah tentang seorang manusia yang mempercayai bahwa Tuhan pastilah membela orang benar dan tidak mungkin memakai orang yang tidak takut akan Dia menyatakan keadilan bagi umat-Nya. Inilah yang menjadi akar masalahnya. Inilah yang menjadi pergumulan nabi Habakuk.

Oh Tuhan, rasanya tidak mungkin sekali Engkau memakai bangsa yang tidak mengenal-Mu itu untuk menyatakan keadilan-Mu kepada bangsa kami, ya walaupun kami berdosa?
Apalagi Babilonia, bangsa yang besar itu, bangsa yang kejam itu, rasanya tidak mungkin sekali sisa – sisa umat-Mu yang masih setia ini bisa terluput dari kekejaman mereka, seolah – olah mereka akan bertanya “Kamu masih setia kepada Tuhan atau tidak?” dan kalau kami menjawab, “Ya” maka mereka akan meluputkan kami dari penjajahan itu?
Ah, tidak mungkin sekali Tuhan.
Pastilah kami semua akan dihabisi oleh mereka.
Pastilah mereka tidak akan pandang buluh dalam menindas kami, entah kami setia kepada-Mu ataupun tidak.
Tapi, Tuhan, bukankah Kau seharusnya membela umat-Mu yang masih setia ini?
Bahkan bangsa Israel yang tegar tengkuk di zaman Musa itu saja Kau payungi dengan tiang awan agar tak kepanasan di siang hari, mengapa Kau seolah – olah tidak mendengar teriakku atas penindasan yang dialami bangsa ini?
Terlebih lagi mereka, bangsa kafir itu, Kau pakai untuk menyatakan keadilan-Mu atas kami?
Oh, Tuhan, rasanya ini tidak masuk akal sama sekali.
Idealnya, seharusnya bukan begini cara-Mu menyatakan keadilan-Mu atas kami.
Masa’an bangsa yang tidak lebih benar dari kami itu Kau pakai menyatakan keadilan-Mu atas kami?
Masa’an bangsa yang tidak lebih benar dari kami itu Kau pakai menghajar kami karena ketidaksetiaan kami?

Beginilah kira – kira pergumulan itu kalau disederhanakan; bagaimana melihat keadilan Allah dalam waktu dan cara yang tidak ideal menurut pandangan manusia.


Eksposisi ini dibagi atas 4 bagian oleh bang Zendrato.

Bagian pertama bercerita tentang menanti waktu Tuhan dalam kesetiaan (1 : 2 – 4)

Pertama kali, Habakuk diuji oleh masalah waktu. Seperti yang saya tuliskan di atas, sudah sekian lama nabi Habakuk meneriakkan tentang penindasan itu kepada Allah, tapi apa yang dia rasakan? Dia merasa sepertinya Allah sedang membiarkan orang fasik menindas orang benar dalam waktu yang panjang. Bahkan setelah doa syafaatnya sekian lama itu, lihat apa respon Allah dalam Habakuk 1 : 5 – 11 (baca sendiri yaa). Oh, Tuhan. Aku sendiri merasa tamparan ini keras sekali. Setelah sekian lama merasa diperlakukan tidak adil, berharap bahwa Allah akan meluputkan bangsa Yehuda dari musuhnya, Allah justru seolah – olah semakin ‘menakut – nakuti’ umat-Nya melalui deskripsinya tentang bangsa fasik yang akan dipakai untuk menyatakan keadilan-Nya (Babilonia). Allah seolah – olah tidak bersegera menolong umat-Nya, menutup mata dan telinga-Nya serta berdiam diri menyaksikan penindasan itu.

Ya, waktu kerap kali menjadi penguji dalam kemurnian dan keteguhan seseorang. Berapa lama kita menjadikan hal yang sama sebagai pergumulan kita? Berapa tahun waktu yang sudah kita habiskan untuk menggumulkan hal yang sama? Pekerjaan? Teman hidup? Pertanyaannya, apakah kita masih sama setianya mendoakan hal itu seperti ketika pertama kali kita mendoakannya?
Ataukah kita mulai mereka – reka jawaban dari Tuhan; alih – alih pemikiran kita sendiri? Silahkan jawab sendiri, saya sudah menjawabnya di dalam hati saya tadi sore :)


Bagian kedua bercerita tentang membiarkan Tuhan bekerja dengan cara yang tidak terselami (1 : 5 – 17)

Habakuk mengurung cara Allah dengan pemikiran:
Bagaimana mungkin Tuhan memakai orang jahat mengingatkan orang benar? (1 : 5 – 6)
Bagaimana mungkin Tuhan memakai orang yang lebih jahat untuk menghajar orang yang kejahatannya lebih kecil? (1 : 13)

Sayangnya kita terlalu sering menganggap ‘cukup’ pengalaman rohani yang kita miliki; Nyatanya seluruh pengalaman itu tidak cukup besar untuk menampung cara – cara luar biasa dari Allah, yang akan dinyatakan-Nya sepanjang zaman.

Ketika kita sudah mengurung cara Allah, disitulah terjadi kekeliruan pada iman kita. Mari belajar bagaimana menerima cara Tuhan tanpa mencampurinya. Mari belajar membangun kepekaan dalam komunitas; Masihkah benar? Ataukah sudah menyimpang? Jangan – jangan keterlibatan dengan cara – cara yang tidak benar kita bungkus dengan kalimat – kalimat sok rohani “Buktinya Tuhan saja izinkan ini terjadi, bukankah ini cara Tuhan?”


Bagian ketiga bercerita tentang kepastian Tuhan dalam menegakkan keadilan-Nya (2 : 1 – 19)

“...Mengapa Engkau memandangi orang – orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” (1 : 13)

Bagian ini mengingatkanku bahwa kita semua pasti akan diadili sesuai dengan perbuatan kita masing – masing. Seringnya mata kita hanya tertuju kepada ketidakadilan besar, sehingga ketidakadilan kecil tidak lagi dipandang sebagai sebuah ketidakadilan; Padahal, konsep ini bertentangan dengan keadilan Allah. Keadilan-Nya akan menyambangi setiap kejahatan, besar dan kecil. Kejahatan yang lebih sedikit dari kejahatan si penindas tidak akan pernah membuat kejahatan kecil si korban berubah menjadi ketidakjahatan. Jadi, berhati – hatilah!
---Isilah galon milik PT. Aq** dengan air mineral bermerk sama, bukan dengan air suling yang harganya lebih murah 75%--- Ini contoh kecilnya.


Bagian keempat bercerita tentang kesetiaan menantikan Tuhan menuntaskan keadilan-Nya ( 3 : 1 – 19)

Masa penantian adalah masa pergumulan, tapi masa pergumulan bukanlah masa yang buruk. Hidup oleh iman membawa kita kepada kepada ruang yang maha luas untuk melihat keadilan Tuhan, bahkan sampai kepada kehidupan yang kekal, yang akan menjadi ruang yang sangat cukup bagi Allah untuk menyatakan keadilan-Nya, ketika kita belum atau tidak dapat melihatnya di ruang sempit kehidupan di dunia ini.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang tak menghasilkan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak – sorak di dalam Tuhan, beria – ria di dalam Allah yang menyelamatkanku.

Sebagai penutup, saya mengutip surat pertama Petrus di pasal 5 ayat 10, “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.”


Salam hangat,
Perempuan itu.

P. S : Ini foto tadi. Akhirnya bisa foto-an di sebelah bang Zendrato :’D Satu – satunya orang yang ketika melihatnya aku berpikir, “Ga ada salahnya mendoakan cowok kolerik. Mereka juga layak didoakan.” “Kalo pendetanya kaya’ abang ini aku juga mau jadi istri pendeta.” Pengkhotbah yang bisa buat aku cuma melihat ke arahnya selama berjam – jam tanpa merasa bosan ataupun ngantuk, dan nahan ke kamar mandi biar ga ketinggalan satu kalimatpun. Haha. Dan, ada hal baru yang langsung tertanam dan tumbuh di hatiku tanpa bisa kulupakan walaupun tak kutuliskan setiap mendengarnya berkhotbah :) Syukur kepada Tuhan yang memakai beliau ^^



-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

--Ice breaker--

“Jadi, kalo harus milih antara bang Zendrato sama bang *, kau lebih suka yang mana May?”
“Tergantung ibadahnya ibadah apa sih, bang. Kalo untuk yang gini, bang ini, kalo yang gini, bang ini lah.”
“Oh gitu..”
“Tapi kan bang..”
“Apa itu?”
“Sesuka – sukanya aku sama bang Zendrato..”
“Apa? Aku lebih suka sama abang sih, gitu?”
“Iya sih. Kok tau? Hahaha..”

“Udah ketebak, May! Udah! Udah cukuplah kau ngegombalin aku -_-”

0 komentar:

Post a comment