Sunday, 28 August 2016

Untukmu, orang yang sedang kudoakan.

Dan jelas saja aku mengiring langkahmu dalam pelukan eratku setiap hari, dari belakang maupun dari depan, dengan mendoakanmu.


Hari ini aku ingin bercerita tentang doa. Mengapa? Karena aku senang berdoa (sekalipun aku tidak se”pintar” itu berdoa). Aku senang dengan setiap gejolak emosi yang kurasakan saat aku sedang berdoa. Aku benar – benar sadar bahwa berdoa bukan tentang kita, tentang kepuasaan emosi kita, tapi tentang Dia yang kepada-Nya kita menyatakan doa – doa kita. Ya, aku tahu itu dengan jelas. Dibalik sikap ceria versi labil yang kumiliki, sejujurnya aku adalah tipe orang yang sulit sekali mengijinkan orang lain mengetahui perasaan terdalamku. Semua hal yang kuceritakan, semua hal yang kutuliskan, semua hal yang kuungkapkan lewat bibir maupun air mata, sebenarnya jarang sekali mampu mewakili perasaan terdalam yang tersimpan di relung hatiku. Dan semua itu, hanya satu hal yang sanggup menyingkapkannya; D O A.

Doa yang kumaksud disini tentunya bukan sembarang doa. Untuk bisa merasakan kepuasaan batin saat sedang berdoa ada satu hal yang sangat dituntut keberadaannya dan tak bisa ditoleransi; kejujuran. Maksudku, jika pada Tuhanmu saja kau tidak bisa berhasil jujur atas segala sesuatunya, maka siapa lagi manusia di muka bumi ini yang kepadanya kau tak berani berbohong?

Aku bahagia, aku lega, aku puas saat bisa mengungkapkan kebahagian, kekecewaan, kemarahan, kegelisahan, dan harapanku yang sesungguhnya kepada-Nya. Aku bahagia bisa seekspresif mungkin bercerita dengan-Nya tanpa sebuah pakem sikap tubuh. Aku bahagia karena pernah beberapa kali tersungkur, tergeletak dan menangis sejadi – jadinya di lantai kamarku sampai ingusku bertebaran disekujur pakaianku saat hatiku benar – benar sesak rasanya. Aku bahagia karena seringkali bingung harus mengambil keputusan apa dan ada satu suara dalam hatiku yang menuntun lututku untuk bertelut di samping tempat tidur dan meletakkan tanganku di atas tempat tidur itu untuk kemudian berdoa. Aku bahagia saat bisa duduk bersila di atas tempat tidurku dengan bantal terletak di atas kedua pahaku dan kemudian berdoa dalam malam – malam yang sunyi (ini biasanya terjadi saat suasana hatiku sedang tidak ekstrem). Bahkan aku bahagia bisa berdoa tanpa menutup mata saat sedang beraktivitas (mungkin ini namanya doa sebagai nafas hidup).

Satu hal yang sangat kunikmati dalam berdoa adalah masa dimana Tuhan menuntunku untuk berdoa bagi hal – hal yang sering terluput oleh banyak orang. Beberapa kali orang pernah berkata, “Maya kenapa selalu bilang ‘bersyukur atas bangun pagi dan hidup hari ini disaat banyak orang di luar sana yang berjuang untuk tetap hidup’ kalo mimpin doa pas lagi ngeMC?” dan aku selalu akan menjawab, “Karena kita seringkali lupa mensyukuri hal – hal yang terasa mudah kita dapatkan, seolah – olah itu adalah rutinitas semata.” Seberapa sering kita pernah berdoa, “Tuhan, aku lelah sekali hari ini tapi aku harus bangun pagi – pagi sekali besok. Tolong buat aku terlelap sesegera mungkin dan bisa tidur nyenyak.” ? Seberapa sering kita pernah berdoa, “Tuhan aku rindu sekali padanya. Bisa sematkan dia di mimpiku malam ini, tidak? Tapi banyak ngobrolnya ya, Tuhan. Jangan diem – dieman  kayak kemaren itu. Wkwk.” Atau berkata, “Tuhan hari ini aku mau nyuci dan cucianku banyak. Please buat cuacanya panas terik ya, Tuhan.” Paham maksudku ga? Kita terlalu terbiasa dengan pola pikir dimana ada hal – hal yang terlalu kecil untuk kita sampaikan sama Allah dan seolah – olah Allah ga punya waktu untuk mendengar hal sekecil itu disaat ada jutaan orang diluar sana yang punya masalah jauh lebih ekstrem. Atau bahkan kita tumbuh dengan pemikiran sombong bahwa masalah kecil ini ga perlu lah diberitahu ke Tuhan toh aku bisa sendiri mengerjakannya. Hei, nak, sadarlah!

Maksudku, Dia ga pernah menuntut kita untuk berkata – kata manis nan puitis atau bahkan baku dan sesuai tata bahasa yang baik dan benar saat berdoa. Hallo, sayang, ini doa dan bukannya essay pada kelas bahasa Indonesia. Jujurlah. Luweslah. Nikmatilah percakapan sederhana tapi serius itu dalam kejujuranmu tanpa perlu ruwet memikirkan susunan kalimat yang tepat untuk digunakan. Dia mengerti maksudmu. Dia mengerti diammu. Dia jauh lebih mengerti engkau daripada dirimu sendiri. Sayang, ini sulit tapi percayalah, hanya dalam kejujuranlah kau bisa mendengar-Nya.

Tentunya dalam berdoa ada masa – masa dimana kita malas berdoa. Entah itu karena terlalu ngantuk, kelelahan, atau memang sedang hambar saja rasanya. Akupun pernah mengalaminya. Selama mendoakanmu, akupun pernah mengalaminya. Ada hari – hari dimana aku absen menyebutkan namamu dalam doaku karena aku merasa lelah dan mengantuk jadi lebih baik aku tidur saja. Kau, ya, kau yang sedang kudoakan sejak bertahun – tahun silam sampai dengan sekarang. Kau, keluargaku. Kau, yang kurindukan ada pertobatan, kasih, kesabaran, kelemahlembutan, penguasaan diri di keluargamu. Kau, teman – teman terdekatku. Kau, yang kuharapkan disandingkan dengan laki – laki yang sepadan untuk menjadi teman hidupmu. Kau, para artis idola dan dosenku yang kurindukan akan mendengar dan menerima Injil sebelum meninggal. Kau, PKK dan KTBku yang kuharapkan akan tetap setia. Kau, adik – adik kelompok kecilku yang sedang dan terus berjuang dalam pertumbuhan tunas imanmu. Kau, setiap orang di Fasilkom-TI yang sudah percaya dan kurindukan tetap teguh dalam imanmu. Kau, orang – orang yang akan meneruskan pengerjaan pelayananku di PEMA. Kau, setiap orang yang berbagi hidup denganku dan rindu untuk kudoakan.

Ada banyak sekali masa dimana aku sangat mengantuk di pagi – pagi benar atau malam pekat. Tapi saat aku mengingatmu, kau yang butuh sekali topangan doa dalam hidupmu, bagaimana bisa aku mengabaikannya? Bagaimana bisa aku mengabaikanmu, kau orang yang sedang kudoakan? Bagaimana bisa aku memilih tidur nyenyak saat mungkin ada peperangan besar dalam dirimu?

Untukmu orang yang sedang kudoakan. Hidup ini baik, sayang. Kau orang baik, sayang. Maka jalanilah hidupmu dengan baik, bertahanlah terus dalam perjuangan hidupmu selama menumpang di dunia ini dengan mengingat satu hal sederhana ini;



Di luar sana, minimal ada satu orang yang tak pernah luput menyebut namamu dalam doanya tiap – tiap hari, mungkin itu aku. Maka bertahanlah, berjuanglah, dan berubahlah ke arah yang lebih baik, setidaknya untuk menghargai doa – doanya.



Aku masih disini, di barisan yang sama, barisan orang – orang yang ingin melihat hidupmu memiliki akhir yang setia dan bahagia.
Selamat malam, untukmu yang sedang kudoakan.

Ruuu, aku mengawali malam tadi dengan membaca dan berdoa untuk negara Angola, belajar tentang marxisme, dan aku sangat ingin membahasnya denganmu saat ini. Semangat untuk pelayananmu di Ibadah nanti ya, Ruuu-ku ;)

2 comments:

  1. Kak doakan aku dalam doa kakak ya :)

    ReplyDelete