Tuesday, 16 August 2016

Bagaimana caranya menemukan orang yang tepat?


“You don’t need to be a superhero to get the girl. The right girl will bring a hero in you.”
- Deadpool, 2016

Aku baru saja selesai mandi setelah menjalani malam ini dengan menonton sebuah film berjudul Deadpool yang entah kenapa tiba-tiba tersimpan di laptop pribadiku. Tagline di atas sungguh sangat menarik, tentunya. Suddenly I realize that I will be a heroine for a man, someday. Setiap laki-laki akan menjadi seorang pahlawan untuk satu orang perempuan, dia yang mampu menyentuh dan membawa keluar sisi kepahlawanan dari laki-laki tersebut.

Sebelumnya aku minta maaf kalau menggunakan istilah “laki-laki” dan “perempuan” disini dan bukannya “pria” dan “wanita” – walau sebenarnya aku lebih suka menggunakan itu – karena seorang pembicara pernah bilang frasa “pria” dan “wanita” itu tidak Alkitabiah. Ah sudahlah, itu hanya perkara semantik.

Masalahnya, bagaimana caranya menemukan perempuan yang tepat itu? Atau lebih tepatnya – agar lebih bermanfaat bagi semua gender – bagaimana caranya menemukan orang yang tepat?

Sebelumnya (lagi), tulisan ini hanya pendapat pribadi, cukup dibaca untuk menjadi referensi dan menemukan rumusan atau perenungan sendiri, karena tidak ada standar yang tepat untuk mengukur keakuratan tulisan ini. Hahaha.

Langkah pertama dalam menemukan orang yang tepat adalah mengenali dirimu sendiri. Mengenali diri bukan berbicara tentang mengingat siapa namamu, dari mana asalmu, apa status terakhir di akun facebook-mu, or so on. Mengenali dirimu adalah tentang benar-benar tahu apa yang kau inginkan, lalu kemudian mengerucutkannya menjadi hal-hal yang kau butuhkan (karena menurutku kedewasaan bukan berbicara tentang memiliki keinginanmu, tetapi memiliki kebutuhanmu). Kenali dirimu. Kenali potensimu. Kenali kelemahanmu. Kenali mimpimu. Kenali apa yang ingin kau capai dalam hidup ini. Kenali cara berpikirmu. Kenali caramu bertutur kata. Kenali caramu bertindak. Kenali caramu menyelesaikan masalah. Kenali caramu mengendalikan emosi. Kenali caramu berinteraksi dengan lingkungan. Kenali caramu mengambil keputusan dalam keadaan terdesak atau dalam keadaan tenang, dimana letak perbedaannya. Kenali hal - hal yang benar-benar kau sukai. Kenali hal-hal yang benar-benar kau benci. Dan lainnya. Itulah langkah pertama. Kenali dirimu sebaik-baiknya.

Langkah kedua adalah berteman dengan sebanyak-banyaknya orang. Sayang, saat aku katakan berteman dengan sebanyak-banyaknya orang, aku tidak sedang memintamu untuk berteman secara gambling, tetaplah selektif dalam berteman. Ingat, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik. Dan ini juga bagian yang sangat penting untuk kau ingat. Bertemanlah dengan sebanyak-banyaknya orang, bukan sebanyak-banyaknya lawan jenis. Perlakukanlah setiap orang dengan cara yang baik, benar dan tepat. Ini aneh tapi nyata, cinta bukan sebuah entitas yang bisa kau dapatkan dengan berbuat baik. Jangan pernah berpikir kau akan berhasil membuat seseorang mengejarmu hanya karena kau memperlakukannya dengan baik. Itu konyol. Berteman dengan sebanyak-banyaknya orang juga bukan berarti kau boleh dengan seenaknya menanam benih cinta dalam setiap hati yang kau singgahi, tumbuh atau tidak itu urusan belakangan. Oh, tidak. Itu murahan sekali, sayang. Orang-orang berkelas sepertimu tak selayaknya berbuat sesuatu serendah itu. Dalam tahap ini, belajarlah dan biasakan dirimu mengamati banyak orang. Itu salah satu hobi terbaikku, by the way. Mengamati seseorang dari jauh itu, ah, ada sukaci(n)ta tersendiri yang bisa kau dapatkan disana. Amatilah sebanyak-banyaknya orang. Amati caranya berpikir. Amati caranya bertutur kata. Amati caranya bertindak. Amati caranya menyelesaikan masalah. Amati caranya mengendalikan emosi. Amati caranya berinteraksi dengan lingkungan. Amati caranya mengambil keputusan dalam keadaan terdesak atau dalam keadaan tenang, dimana letak perbedaannya. Semakin lama kau mengamatinya maka akan semakin baik hasilnya. Saat kau berhasil mengelompokkan berbagai orang dengan kemiripan tertentu (kau bebas menggunakan standarmu dalam mengklasifikasikan mereka), kau akan lebih mudah “membaca” mereka dan menemukan cara yang tepat untuk menghadapi/ memperlakukan mereka. Kalau beruntung, kau bahkan akan mampu “menebak” masa lalu mereka.

Langkah ketiga adalah fokuslah pada satu orang. Pengenalanmu akan kebutuhanmu ditambah hasil dari pengamatanmu akan banyak orang PASTI akan membawamu kepada satu pengerucutan; dia. PASTI dari sekian banyak orang – dalam hal ini lawan jenis – yang kau amati, ada satu yang lebih “bersinar” dibandingkan yang lain. Tolong garisbawahi bahwa “bersinar” yang kumaksud bukan karena kulitnya berkilauan seperti Musa setelah bertemu dengan Allah, atau karena ia memiliki kulit putih bersih bak model iklan sabun atau lotion yang terkenal itu. Pasti ada satu orang, yang karena “sinar”nya, berhasil membuatmu ingin memperhatikannya lebih daripada yang lain. Saat kau sudah menemukan orang yang seperti itu, fokuslah mengamati dia. Fokuslah pada dia. Fokuslah pada. Fokuslah. Fokus. Cari tau segala sesuatu tentang dirinya. Cari tau segala sesuatu. Cari tau. Cari. Tau.

Selanjutnya? Ah, kau pasti sudah mahir sekali setelah ini. Sederhananya, bagian ini menuntut kepekaan dan ketaatanmu. Mengapa? Karena kepekaan dan ketaatan adalah dua senjata terbaik yang bisa menyelamatkanmu dari jurang ketergesa-gesaan “jatuh cinta”. Kau tau, sayang? Jatuh cinta sepertinya satu bagian yang paling mampu membuatmu menoleransi APAPUN, karena itu berhati-hatilah, waspadalah, supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Masalahnya, peka terhadap apa? Taat terhadap apa?

Pekalah akan suara Allah – kau pasti sudah tahu bahwa cara terbaik mendengar-Nya adalah dengan berdoa, TANGIANG; DOA dalam bahasa Batak, berasal dari kata TANGI yang artinya MENDENGAR – dan taatlah akan kehendak-Nya. Dalam bagian ini ada satu hal yang tidak bisa kau lepaskan; penyangkalan diri. Artinya apa? Cari tau sendiri yaa, sayang. Haha.

Mungkin hanya ini yang bisa kusampaikan. Mengapa? Karena akupun belum menemukan orang yang tepat itu. Mengapa? Ya, mungkin karena Ru belum wisuda. Ini ga nyambung. Maaf.

Tapi sebenarnya, apakah pertanyaan di awal itu memang benar? Bagaimana caranya menemukan orang yang tepat?

Aku sendiri sebenarnya tidak berpendapat bahwa ini adalah pertanyaan yang tepat. Tidak ada cara untuk menemukan orang yang tepat, sayang. Sederhananya, latihlah dirimu untuk berpikir, berkata, dan bertindak seperti Kristus. Karena cerita cinta bukan berbicara tentang menemukan orang yang tepat, tetapi menjadi orang yang tepat untuk ditemukan.

Selamat malam. Dimanapun kamu berada saat ini, Kristus mengasihimu.

2 comments:

  1. Jadi kaka udah doa apa sekarang? :v, doa sama kah di tahun ini kak? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih doa umum, de ๐Ÿ˜Š
      Kalau 2020 Tuhan perintahkan mendoakan seseorang, ya doakan. Kalau nggak, gakpapa juga. Kakak sih tergantung instruksi Komandan aja ๐Ÿ˜Š

      Delete