Monday, 13 June 2016

“Pulanglah, anak-Ku. Bapa rindu bertemu.”

Tetes demi tetes air hujan pun turun, mengalir menyusuri lorong demi lorong malam gelap kemudian meresap.
Tanah kemudian menjadi basah, namun waktu perlahan merenggut jejaknya tanpa bekas.
Ini hari ketiga belas di bulan Juni, hari ketiga belas keenam yang paling kurindukan.
Tangisan langit yang tumpah meruah seolah berkata ia juga bersedih hati melihat keadaan ini.
Bintangku, kau pun tak menunjukkan sinarmu malam ini, dan hujan yang sendu ini membuatku lemah tak berdaya merindukan sinarmu dalam relung malamku.
Dinginnya malam membuat anganku melayang jauh, andai saat ini kau ada di sampingku, memelukku erat dan berbagi kehangatan denganku.
Hujan kesekian ratus yang kusaksikan sepanjang hidupku, hujan kesekian ratus pula yang membuatku mensyukuri kehadiranmu.
Ah, betapa indahnya Tuhan menciptakanmu, bintang.
Betapa indahnya pahatan demi pahatan, waktu demi waktu yang Ia habiskan untuk membentukmu menjadi seindah ini.
Betapa indahnya hatimu, kasih-Nya nyata dan sungguh indah terlihat dalam cerah wajahmu.
Betapa berharganya kau di mata-Nya.
Betapa bersyukurnya aku bisa melihat karya agung-Nya mengalir dalam dirimu.
Betapa besar kasih-Nya atas hidupmu sehingga Ia berikan Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus, gantikan kau di Kalvari.
Aku tahu saat ini kau lemah.
Aku tahu saat ini kau sedang terluka.
Aku tahu saat ini kau merasa dihakimi.
Aku tahu kau lelah dengan tuntutan demi tuntutan ketaatan yang harus kau kerjakan sementara mereka yang menuntut mungkin tidak tahu kau sedang “sekarat”.
Karena itu bintang, sayangku, kekasih hatiku, terbukalah.
Keterbukaan adalah awal dari pemulihan, begitu kata salah satu buku yang pernah kubaca.
Terbukalah kepada-Nya, kepada Allah yang mendengarkanmu, Allah yang sanggup melawatmu dengan cara yang tak terpahami kepalamu namun bisa dimengerti hatimu.
Allah yang sanggup memberimu kepuasaan melebihi kata – kata semangat bernada manja yang keluar dari bibir gadis itu.
“Pulanglah, anak-Ku. Bapa rindu bertemu.”
Ia rindu sekali padamu.
Aku malu berkata ini tapi aku tahu bahwa rinduku tak segila rindu-Nya kepadamu.
Aku tahu kau lelah, aku tahu kau terluka.
Aku tahu kau rindukan kedamaian di hatimu, ketenangan di jiwamu.
“Pulanglah, anak-Ku. Bapa rindu bertemu.”
Ia Allah yang tahu sekali tentang perasaanmu, setiap hal yang melintas di pikiranmu, setiap sendu dalam renungan malammu, setiap waktu – waktumu yang harus terbuang untuk meratapi kesedihanmu, kehilanganmu,
Ia tahu.
Ia terlebih tahu dibanding dirimu sendiri.
Kau pernah bimbang dengan perasaanmu sendiri?
Tak sekalipun Ia bimbang dengan perasaanmu.
“Pulanglah, anak-Ku. Bapa rindu bertemu.”
Aku tahu kau ingin sekali hilang, terbang bebas tanpa ada yang menghalang.
Aku tahu kau ingin dimengerti, aku tahu kau ingin sekali meletakkan kepalamu di bahu seseorang.
Bahuku, mungkin?
Tapi bintangku, jadikanlah Dia yang pertama kali mengetahui perasaanmu, kekecewaanmu, kerinduanmu.
Di malam yang sendu ini kurindu kau tutup pintu kamarmu, lepaskan kacamatamu, pejamkan mata kecilmu, perlahan redup, menutup.
Letakkan lututmu di lantai, lipat tanganmu dan letakkan di atas tempat tidurmu.
Atau kalau kau tidak malu, tersungkurlah disana.
Arahkan hatimu kepada Tuhan.
Ia siap menolongmu.
Aku mengasihimu, bintangku, sayangku, kekasih hatiku.
“Pulanglah, anak-Ku. Bapa rindu bertemu.”

4 comments:

  1. ada yg perlu diralat penulisannya sis...'dia'--> 'Dia' di kalimat ini: Tapi bintangku, jadikanlah dia yang pertama kali mengetahui perasaanmu, kekecewaanmu, kerinduanmu. .wkwkwk.. (komenku ga penting :P)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahaha, itulah kak, aku udah menyadarinya dari kemaren tapi malas aku ngeditnya. Makjang, berapa banyak kakak buka blogku ini? Bisa lebih dari 50 nambah viewernya dalam beberapa jam :'D

      Delete
  2. bah, baru ini ya...baru 4.wkwkwkw *tulisan Juni

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, soalnya blogku yang sebelumnya udah kuprivat hahaha

      Delete