Sunday, 31 January 2021

2020 Checkpoint

Hallo semuanya, apa kabar?

It's been a while since the last time I greeted you through my writing.

2020 is surely a tough year, isn't it?

Tulisan ini sudah kudoakan berbulan-bulan, draft-nya kupersiapkan entah sejak kapan, tapi akhirnya tetap saja aku menulis lagi dari awal. Mungkin ini salah satu obstacle kalau suatu saat aku berpikir untuk menuliskan sebuah buku. Bagaimana mungkin berharap bisa menyelesaikan sebuah buku yang matang dalam satu kali duduk? Hampir mustahil. Never mind, semakin aku banyak membaca, semakin aku sadar bahwa hal itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Hahaha.

Ngomong-ngomong, sepanjang 2020 aku sebenarnya beberapa kali membuat draft tulisan, tapi hampir tidak ada yang jadi kupublikasikan disini. Setiap hari, hampir setiap hari aku menulis, tapi aku menyimpannya untuk diriku sendiri. Berpikir, merenung, apakah ini pantas untuk dipublikasikan? Apakah hal ini bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan?

1. Covid

Pernah suatu kali, aku menulis tentang covid. Mencoba mengajak pembaca untuk bisa berdamai dengan keadaan ini, mencoba meng-encourage orang lain untuk bisa melihat blessings in diguise yang Tuhan berikan melalui keadaan ini. Sampai kemudian aku sadar bahwa aku sama sekali tidak pantas melakukannya. Apalah yang kualami, apalah dampak yang kurasakan sehingga aku bisa mengatakannya. Sulit rasanya untuk menuliskan sesuatu tanpa pernah mencicipi berada di posisi mereka. Harus beradaptasi dengan cara belajar yang baru, diberhentikan dari pekerjaan, kehilangan anggota keluarga, bisnis yang bangkrut, aku benar-benar tidak bisa relate dengan keadaan ini, aku sulit berempati dengan keadaan ini karena aku tidak pernah ada di posisi yang benar-benar terjepit atau hilang pengharapan karena covid.

Tuhan menganugerahiku sebuah pekerjaan di tempat yang cukup settled, sehingga ketika banyak orang harus memangkas jumlah pegawai mereka, kantor kami bisa tetap aktif merekrut pegawai baru. Bisnis perusahaan berjalan dengan lancar (kudengar bahkan lebih baik), gaji dan bonus kami dibayarkan dengan baik, dan aku diberi kesempatan untuk naik grade. Tuhan berbelas kasih kepada keluargaku dan orang-orang terdekatku dengan kesehatan yang baik. Rasanya tidak banyak perubahan yang terjadi, kecuali kenyataan bahwa aku tidak bisa jalan-jalan kemanapun di 2020.

Maka aku berdoa kepada Tuhan, memohon kiranya Tuhan menambahkan kasih dan empati di dalam hatiku, supaya sekalipun aku tidak mengalami dampak yang mengerikan, aku bisa berwelas asih kepada mereka yang harus mengalaminya. Tuhan baik dan memberikannya. Ngomong-ngomong, aku jadi teringat khotbah di gereja hari ini. Segala hal yang kita bisa mengerti, pahami, rasakan, semua itu bisa terjadi kalau Tuhan berkenan meneteskan anugerah-Nya kepada kita. Tugas kita adalah membuka diri seluas-luasnya, menjadi wadah tempat tetesan anugerah Tuhan tersebut akan ditampung. Jadi, kasih dan empati kepada sesama itu pun bisa kita rasakan jika dan hanya jika Tuhan menganugerahi kita perasaan itu.

2. Pekerjaan

Masih terkait dengan pekerjaan, 2020 adalah salah satu tahun yang tidak mudah untukku. Tahun ini adalah tahun debutku sebagai project manager. Rasanya tidak mudah karena di sisi lain aku tetap punya tugas developer. Jadi developer itu jauh lebih menyenangkan, sebenarnya. Tidak perlu terlibat diskusi yang panjang dan melelahkan, cukup mengerjakan sesuai arahan. Ya, sesekali bolehlah memberikan saran, tapi biasanya lebih kepada hal-hal yang bersifat technical, tidak harus berkutat dengan huru-hara ketika meeting dengan user (client). Kalau project manager, pekerjaannya lebih mirip seperti middleman, harus bisa jadi komunikator yang baik antara tim IT dan tim business/user/client. Selanjutnya aku akan pakai kata user saja, karena demikian kami biasanya menyebutnya. Jadi, seorang project manager harus bisa berpikir dari sudut pandang kedua belah pihak, baik dari sisi IT ataupun dari sisi user. Harus bisa "mengedukasi" user untuk bisa melihat dari sudut pandang IT, begitu juga sebaliknya. Mengapa ini penting? Karena terkadang, hal-hal yang terlihat mudah dari sisi user, bisa merupakan sesuatu yang bersifat challenging untuk IT.

Melalui pengalaman ini, aku banyak belajar, terutama bagaimana caranya memberikan win-win solution. Kenapa ini penting, ya karena kita harus berpikir jauh ke depan, tentunya. Jika kali ini kita bisa memberikan impresi yang baik kepada user, mereka puas dengan pekerjaan kita, tentu mereka akan meminta kerjasama lebih lanjut untuk projek-projek lain ke depannya. Di sisi lain, kita juga tetap harus menjalin hubungan baik dengan developer yang bekerja di projek kita, karena kalau tidak, bisa berabe ke depannya. Kalau dia tidak mau lagi bergabung dalam tim yang sama dengan kita, wah bahaya sekali.

Hal lain yang kupelajari adalah soal profesionalisme. Awalnya aku syok karena setiap kali meeting, orang-orang berbicara seperti sedang bertengkar. Aku si manusia yang sangat tidak tahan dengan suara keras ini, sering sekali kelelahan dengan cara mereka berdiskusi. Tapi lucunya, selesai meeting mereka tertawa bersama seolah-olah perdebatan sengit tadi tidak pernah terjadi. Mereka bahkan sempat menertawakanku karena ketika meeting hampir usai (saat itu aku sedang screen sharing), ada pesan Teams yang masuk dari temanku mengatakan, "May, kami mau pesan McFlurry, Maya mau nggak?" Begitu keluar dari meeting room, user-nya berkata kepada temanku, "Saya juga mau ya." Hahaha.

"Wah, keren. Profesional sekali orang-orang ini", pikirku waktu itu. Beda jauh denganku si anak bau kencur yang masih sering baper, menangis. Tahun 2020 lumayan berat sih, soalnya se-stres apapun aku di kantor, tidak ada jalan untuk melakukan short escape. Biasanya aku bisa pergi liburan, entah seminggu atau dua minggu dalam setahun, sekedar melepas penat dan re-charge energy. Lah sekarang? Boro-boro liburan ke luar kota, ke mall aja harus hati-hati.

Akhirnya, aku kelelahan dan burnt out. Sangkin lelahnya, aku terkena work slump selama beberapa waktu. Stres, ingin menangis, tapi nggak bisa. Tahu kan rasanya?

Lalu sekitar bulan Juni, aku berubah. Balik ke Maya versi beberapa tahun yang lalu, si plegma akut. Aku nggak lagi menangis kalau stres. Bedanya, badanku yang jadi stres. Sering pegal-pegal, kadang dada terasa sesak sampai aku harus berhenti minum kopi beberapa bulan. Aku belajar menjalani hari-hariku dengan lebih baik, menghadapi tantangan yang harus kuhadapi, dan menarik diri dari social life. Kalau kata Yuni, "Kak Maya sibuk self-love sekarang." Padahal bukan, memang tidak ada energi saja untuk berinteraksi dengan banyak orang. Jadi mulai Juni sampai akhir November atau awal Desember, aku nggak main WhatsApp. Aku cek berkala pas weekend aja. Jadi kadang kalau orang kirim pesan hari Selasa, aku balasnya Jumat malam atau bahkan hari Minggu. Hehe. Sampai sekarang masih gitu sih, jadi maklum aja kalau kadang aku late response ya. Bukannya apa-apa, energiku sedikit, jadi benar-benar harus dialokasikan dengan bijaksana. Tapi ada kasus-kasus khusus kok, misalnya kalau ada yang mengajak sharing untuk berbagi hidup, aku pasti akan tetap sediakan waktu. Itu pasti.

Oh ya, aku berterima kasih kepada Tuhan untuk kak Devi. Sekalipun aku sulit untuk meluangkan waktu untuk berbincang dengan orang lain, di 2020 Tuhan memberi kak Devi untuk menjadi pendengarku akan banyak sekali hal. Terima kasih kak :)

Dan juga untuk Ko Simon, si kesuma budi dalam ulah dan olah. Terima kasih untuk alismu yang rendah, senyummu yang cerah serta matamu yang berbicara dan selalu berhasil menghibur tiap kali aku merasa lelah saat bekerja. Btw kata Yuni kamu ganteng banget :) Tapi Nisa bilang kamu nggak ganteng, kamu cantik. Haha :pxoxo

Bahagianya, semua challenge ini berbuah manis. Tuhan menganugerahiku dengan rekan-rekan kerja yang baik dan selalu mendukungku. Atasanku juga sangat suportif dan mendidikku dengan baik supaya aku bisa bertumbuh ke arah yang lebih baik dan matang. Dan hasilnya, di evaluasi tahunan akhir tahun lalu, aku mendapatkan nilai yang sangat baik, terbaik selama 4 tahun aku bekerja. Sekilas pembicaraan dengan bosku sewaktu one to one session:

"I see that you are quite aggressive, even though you don't really show it."

*silent mode, a bit scared of the comment*

"..and I like it. You know what is your direction, what is your goal, and you know how to achieve it. Keep up the good work."

Legaaaa.

Ini komentar yang paling aku sukai ketika kami sudah selesai one to one session:



Aku paling suka kata ini; grow.

3. Fangirling

Waktu kuliah aku pernah punya motto, "Jangan sampai karena study, fangirling tercecer." Oleh karena itu, sekalipun aku sibuk skripsian, aku tetap punya waktu nonton drama. Tapi tahun 2020 memang sangat menyibukkan, jadi bahkan hal sepenting nonton drama pun bisa berhenti kulakukan untuk sementara waktu. Bayangkan, aku baru menonton Itaewon Class minggu lalu, padahal drama itu sudah tayang sejak Februari 2020, kalau tidak salah.

Ngomong-ngomong, setelah belasan tahun menonton drama Korea, aku mulai bosan dan kesulitan menemukan drama yang sesuai dengan seleraku sekarang (walau aku sebenarnya juga masih mencaritahu seleraku itu yang bagaimana).

Aku mulai menarik pola ini lebih jauh.

Aku tidak lagi ingat kapan terakhir kali aku minum Cimory atau Ultra milk Taro, mungkin bahkan tidak meminumnya sama sekali di sepanjang tahun. Dua atau tiga tahun yang lalu, aku meminumnya setidaknya 5 kali dalam seminggu. Lalu aku mulai berpikir lebih jauh, "Mengapa aku tidak pernah bosan minum air putih?"

Mungkinkah karena air putih adalah ciptaan Allah, pemberian langsung dari Allah makanya aku tidak pernah merasa bosan?

Lalu jika konsep yang sama diaplikasikan kepada urusan teman hidup, bolehkah aku bertanya jika dia benar "pemberian Tuhan" maka mengapa kebosanan terus-menerus menerpa hubungan kalian?

Oke, jangan berpikir terlalu jauh, tapi bolehlah kamu pikirkan juga. Hahaha.

Oh ya, aku juga jatuh cinta sekali dengan lagu Gaho-Beginning. Gimana ya mengatakannya, kalau mendengar lagu itu aku bawaannya mewek, mata berkaca-kaca. Seakan-akan lagunya mau mengatakan, "Selama bumi masih berputar, jantung masih berdetak, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan memulai sesuatu yang baru lagi. Semangat Maya!"

Dan aku jadi teringat, kalau bisa sih, tahun 2021 ini aku sanggup untuk subscribe Netflix legal. Kalau bisa. Kalau tidak juga tidak masalah. Hehe.

4. Memasak

Aku juga belajar beberapa menu masakan tahun ini. Bukan karena covid, bukan. Bukan karena ingin memenangkan hati seseorang juga. Aku ingin melakukannya untuk upgrade skill aja. Seperti yang kusampaikan di atas, aku paling suka kata grow. Meng-upgrade skill untuk membuat orang lain impresif itu terlalu berisiko. Tapi lagi-lagi, itu cuma bertahan beberapa waktu, soalnya aku terlalu lelah di pekerjaan, jadi kalau weekend aku lebih memilih tidur lebih lama daripada harus pergi ke pasar berbelanja. Hehe.

Lagipula setelah kupikir-pikir, biarlah mereka yang diberi Tuhan karunia memasak itu yang memasak. Ya, aku bisanya ngoding, biarlah aku ngoding. Mereka bisanya memasak, aku bisanya menikmati. Hehe. Aku menghasilkan uang dengan ngoding, mereka menghasilkan uang dengan menjual masakannya untukku. Kan saling melengkapi toh? Aku tidak ingin memaksakan diri melakukan sesuatu yang belum kusukai, dan aku belum suka memasak. Sesederhana itu kok. Tapi aku suka dimasakin :)

Aku sadar kalau aku nggak enjoy masak. Maksudnya, aku nggak ingin melakukan itu terus dan terus. Kalau aku stres, aku nggak akan menjadikan memasak sebagai "a way to escape or to release the stress". Ya pikirku itu bukan masalah toh? Seperti banyak perempuan pada umumnya tidak enjoy membaca, letak perbedaannya dimana? Aku rasa patriarki terlalu menusuk ke daging kita sampai kita sulit memberikan apresiasi yang sama kepada perempuan yang senang berdiri di dapur dengan duduk di depan meja belajar. What's wrong with us?

"Tapi semua laki-laki maunya punya istri yang sering masakin dia."

Hahaha.

Duh Akang, ya sama toh, saya juga maunya punya suami yang sering masakin saya. Bangun pagi karena aroma sedap yang berasal dari dapur, berjalan menuju dapur, melihat suami menyadari keberadaan saya lalu berbalik dan tersenyum sembari berjalan mendekat dan memberi ciuman di kening dengan sepenggal kalimat pengiring, "Mandi dulu, selesai itu kita sarapan ya. Nanti aku anterin kamu ke kantor."

Emang ada laki-laki yang begitu, May?

Ya ada loo, banyak malah :)

PKK-ku yang jago masak aja kalau lagi hectic sering dimasakin sama calon suaminya, dibuatin bekal buat di kantor juga. Jadi ya, buat laki-laki jangan egois. Bukan kamu aja yang ingin punya pasangan yang bisa masak, kami perempuan juga ingin kok. Bukan kamu aja yang ingin punya pasangan yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kami perempuan juga ingin kok.

5. Mimpi

Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku masih juga banyak memimpikan orang lain di tahun 2020. Kata kak Winda, "Ngeri ya yang berkarunia mimpi ini." Kujawab, "Bukan karunia namanya kalau nggak membangun jemaat." Dulunya aku orang yang sangat percaya bahwa Tuhan bisa memakai mimpi sebagai cara-Nya menyatakan sesuatu, dan ini valid sebab Alkitab juga berkata demikian. Sekarang juga masih percaya sih, hanya aku belajar untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Pada waktunya Tuhan, Tuhan akan nyatakan sendiri kok. Kalau memimpikan seseorang, dan kira-kira mimpinya buruk, ya doakan. Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu.

6. Mengamati

Aku baru tahu tahun ini, ternyata penggunaan bra yang berlebihan itu justru menurunkan fungsi otot pada payudara untuk menopang, lhoo. Padahal dulu waktu remaja, teman-teman di sekolah sering sekali mengatakan, "Ikh harus pakai BH, nanti itunya kendor." Nyatanya, secara medis nggak begitu. Terlalu sering memakai bra justru membuat otot pada payudara tidak terlatih untuk menopang dirinya sendiri, dan itulah penyebab kekendoran yang sesungguhnya.

Oh ya, tahun 2020 juga aku melihat banyak sekali kejadian yang cukup disayangkan. Temanku yang telah berpacaran sejak kami lulus SMA tiba-tiba berpisah dan menikah dengan orang lain. Padahal aku masih ingat betul kalimat-kalimat romantis yang mereka lontarkan untuk satu sama lain, aku suka. Tidak jauh berbeda, temanku yang lain yang telah berpacaran selama 10 tahun tiba-tiba berpisah tepat sebelum mereka mulai mempersiapkan pernikahan. Hmm, memang masa depan tidak ada yang tahu ya. Durasi benar-benar tidak bisa menjadi jaminan atas apapun.

Di sisi lain, banyak sekali orang yang menikah di tahun ini. Aku salut dengan mereka, punya nyali sebesar itu. Pernikahan hanya untuk orang-orang yang cukup berani, aku tidak punya keberanian itu.

Semoga mereka semua, yang menikah dan yang ditinggal nikah, berbahagia.

7. Si Kecil yang Merasa Kecil

Sebagai orang yang dianugerahi Tuhan dengan kasih yang melimpah, aku tumbuh menjadi seorang perempuan yang percaya diri. Karena itu, aku sulit relate dengan insecurity. Aku sulit "merasa kecil", karena sekalipun banyak hal yang tidak bisa kulakukan dengan cakap (memasak misalnya) aku percaya Tuhan memberikan potensi yang besar dan unik dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, aku merasa, sepertinya perlu deh sesekali mencoba merasakan hal ini. Ya supaya bisa bertumbuh, jangan-jangan aku cuma katak dalam tempurung saja.

Akhirnya masuklah aku ke dalam sebuah "kelompok" dimana aku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya. Tempat dimana aku sulit mendapatkan perhatian atau lampu sorot. Never mind, it's needed to challenge myself. I like it. Aku rasa semua orang butuh ini, tempat dimana dia merasa dirinya kecil dan bukan siapa-siapa. Semua orang yang dibesarkan dengan privilege berbicara, didengarkan, dimintai pendapat, disenangi, diperhatikan, dianggap kompeten, biasanya akan sulit merasa kecil, rendah hati, ataupun takjub akan sesuatu, bahkan rentan sombong. Ini berbahaya, oleh karena itu kita harus melatih diri kita dengan cara yang tepat. Tepat = sesuai kehendak Allah.

8. Doa yang Dijawab

Ini salah satu hal yang paling membuatku bahagia di tahun 2020. Jadi, ada sebuah hal yang sudah kurindukan sejak akhir tahun 2019. Kudoakan berulangkali, dan akhirnya di penghujung 2020 Tuhan menjawab doaku dan mengabulkannya. Terima kasih, Bapa yang baik, Tuhan atas langit dan bumi.

9. Membaca

Di tahun 2020, aku membuat target membaca sebanyak 50 buku. Nah dari 50 buku itu, aku hanya bisa menyelesaikan 46 di antaranya. Lumayanlah, mengingat 2020 adalah tahun tersibuk selama aku bekerja, ini benar-benar anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Sisanya, ada sekitar 4 atau 5 buku lagi yang kubaca tapi belum kuselesaikan, mungkin tidak akan pernah, biasanya karena memang isinya kurang menarik menurutku. Aku sih tidak terlalu kekeuh dalam hal ini, baca buku harus sampai selesai. Ya kalau memang tidak ada nilai-nilai yang bisa menggugah hatiku ketika membacanya, tinggalkan. Mending waktunya dipakai untuk baca buku yang lain. Ini prinsip pribadi sih, ada juga orang yang merasa harus menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Ya nggak masalah juga, namanya prinsip. 

Bagaimana perasaanku terkait target bacaan yang tidak tercapai? Ya biasa saja. Haha.

Aku mah bukan orang yang target oriented, aku lebih mementingkan kenikmatan dalam menjalani prosesnya. Jadi kalau tidak tercapai, ya bodo amat. Oh wait, lain hal kalau urusan pekerjaan. Tentu target harus tercapai, apa gunanya deadline. Hehe.

Jadi jika bisa kusimpulkan, pengkategorian apakah aku akan kecewa atau biasa saja jika sebuah targetku tidak tercapai terletak pada apakah hal ini mempengaruhi orang lain atau tidak. Kalau target bacaan tahunanku tidak tercapai, memangnya siapa yang dirugikan? Ya paling cuma aku. Jadi tidak ada alasan yang cukup bagiku merasa kesal akan hal itu. Tapi kalau urusan pekerjaan, ya tentu akan berdampak kepada orang lain toh, wajar kalau sekiranya aku merasa kecewa jika tidak menyelesaikannya dengan baik dan sesuai ekspektasi.

10. Berbelanja dengan Bapak

2020 adalah kali pertama aku membelikan Bapak sepatu. Kami pergi berdua ke mall dan aku menemani Bapak memilih dari satu rak menuju rak lain sambil bergandengan tangan, sampai pilihannya jatuh ke sebuah sepatu yang menurutku memang cantik sekali (Yaampun seleramu Pak..)

Aku terharu sekali setelah kami selesai membeli sepatu itu. Bukan hanya karena Bapak terlihat bahagia dengan sepatu pemberian anak gadisnya, tapi juga terharu karena melihat sisa saldo rekeningku. Hahaha. Tapi aku senang, senang sekali :)

11. Berjalan bersama Bapa

Satu hal yang paling penting bagiku tahun ini adalah ketika Tuhan menaruhkan pemahaman yang baru tentang komitmen di hatiku.

Mungkin teman-teman yang sudah membaca tulisanku bertahun-tahun tahu, betapa seringnya dulu aku menekankan "rasa cinta kepada Tuhan" dalam banyak tulisanku. Seseorang bahkan pernah berkata dia semakin yakin untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ya ketika aku bercerita tentang "cinta" itu. Lalu sekarang, seiring dengan bertambahnya usia dan mendewasanya aku, Tuhan ajarkan hal yang lebih penting lagi dalam relasi manusia dan Tuhan; komitmen.

Apalah arti cinta tanpa sebuah komitmen?

Sebagai seorang perempuan dewasa, aku tentu perlu mengerti betul akan hal ini. Apa gunanya seorang laki-laki yang beribu kali berujar cinta namun tidak menunjukkan komitmen kepada perempuan yang dicintainya? Malang sekali rasanya jika ada seorang laki-laki yang mengaku sangat mencintaiku tapi kemudian masih dengan mudahnya tebar pesona dengan perempuan lain di luar sana, atau mengaku cinta, ingin menikah, tapi tak kunjung menunjukkan tanda-tanda?

Pantas saja dan indah sekali memang ketika Tuhan menggambarkan relasi-Nya dengan umat-Nya seperti sebuah pernikahan. Seiring dengan berjalannya waktu, pernikahan mungkin tidak lagi menghadirkan cinta yang memberi kesan bergelora dan menggairahkan, tetapi aku percaya komitmen akan menjaga hubungan itu tetap bertumbuh sehat sebagaimana seharusnya. Dan kupikir, itu yang Tuhan inginkan dariku perihal relasiku dengan-Nya.

Komitmen untuk mengasihi dan setia mengikut Dia seumur hidup, berjalan kemana Dia meminta dan bertumbuh ke arah dari mana sinar-Nya datang.

Tuhan benar-benar baik.


2021 Prayers

Tibalah kita di bagian akhir dari tulisan yang sangat panjang ini. Aku benar-benar berterima kasih kepada Tuhan untuk kesempatan yang dia berikan untukku melewati tahun 2020 dengan baik. Tiga hari dalam seminggu aku pergi ke kantor dengan kendaraan umum, belum lagi ke gereja setiap hari Minggu. Sampai sekarang aku masih sehat, tidak berurusan dengan covid. Mungkin pernah, tapi sudah sembuh sebelum terdeteksi. Who knows? Berulangkali aku hampir celaka karena ojol yang hampir bertabrakan, tapi Tuhan sampai sekarang masih memberikan kepadaku napas kehidupan. Kurang luar biasa apalagi, coba?
Aku jadi makin sadar, kalau kita hidup itu, ya murni karena anugerah Tuhan. Period.

Aku tidak menaruh harapan yang khusus untuk tahun ini. Aku hanya berharap bisa terus bertumbuh di dalam Tuhan, dalam segala hal. Usiaku 25 tahun dalam beberapa bulan ke depan, dan aku sedikit takut menyambutnya, sebab kupikir aku belum cukup dewasa sesuai dengan usiaku. Kuharap aku bisa terus mendewasa, memiliki karakter-karakter yang agung, menjadi perempuan saleh sesuai dengan kehendak dan kemurahan hati-Nya.

Kuharap aku bisa lebih peka melihat kebutuhan orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan. Aku banyak merenung, sepertinya uang-uang yang kuhabiskan untuk order makanan selama ini (padahal di rumah ada yang bisa dimakan, cuma kadang aku bosan aja sama menunya) jauh lebih tinggi nilainya kalau diberikan untuk orang lain. Dua puluh enam ribu yang kuhabiskan untuk membeli ayam penyet Kak Tari setiap minggu mungkin bisa lebih berguna kalau diberikan kepada orang lain. Sembari mengetik aku sadar, perut tidak seharusnya menjadi tuan atas diriku. Aku harus lebih banyak melatih diri lagi perihal ini di tahun ini.

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

 -1 Yohanes 2:16-17 (TB)


Terima kasih Bapa, Yesus, dan Roh Kudus untuk segalanya.


Monday, 8 June 2020

Selamat Ulang Tahun


Long story short, tepat sebulan yang lalu aku berulang tahun ke-24. Wahahaha. I was very happy and the birthday was as romantic as expected (thanks dear! xoxo) but I'm not writing this to tell you about the details, don't worry. Aku cuma mau menuliskan beberapa pemikiran dan perenunganku di ulang tahun kali ini.

Kalau ditanya apa hal yang paling unik di ulang tahun kali ini, mungkin perasaan menjadi tua ya. Sejujurnya aku juga cukup bingung dengan perasaan ini, dan mungkin satu-satunya usaha yang bisa kulakukan untuk menepisnya adalah dengan mengabaikannya. Ini aneh dan asing, sebab untuk pertama kalinya aku merasa "Oke, aku sudah dewasa tua." Aku baik-baik saja sampai usiaku 23 tahun, dan karena itu aku cukup terkejut ketika menyadari ada gap yang sangat besar antara angka 23 dan 24. Haaaah. Mungkinkah ini bagian dari quarter life crisis, entahlah. Aku belum membaca literatur terkait hal tersebut.

Di usia yang baru ini juga aku akhirnya menyadari kebodohan yang sudah bersarang di kepalaku selama bertahun-tahun terakhir. Ini lucu, serius. Setidaknya untukku ini sangat lucu, sebab aku masih tertawa ketika menuliskannya malam ini. Oke, aku ceritakan sedikit pasalnya ya.

Sedari dulu, aku suka dengan konsep perempuan pekerja, mungkin karena aku dibesarkan oleh Mamak dan Oppung yang juga bekerja. Menurut pendapatku, perempuan harus bekerja dan mengerti caranya bertahan hidup. Bahkan kalau kita baca Amsal 31, disana jelas dituliskan bahwa seorang istri yang cakap itu adalah istri yang bekerja. Aku tidak sedang mendiskreditkan seorang ibu rumah tangga tentunya, sebab bagiku ibu rumah tangga juga adalah seorang pekerja (dan mungkin yang terberat serta paling membosankan).

Karena hal tersebut, sejak beberapa tahun yang lalu (mungkin sejak kuliah?), aku menyimpan satu cita-cita ini di dalam hatiku:

"Aku ingin menjadi sangat sibuk di dalam pekerjaanku sampai aku bisa melupakan hari ulang tahunku sendiri."

Selama bertahun-tahun, menurutku cita-cita ini adalah sesuatu yang keren. Cita-cita ini tentu tidak pernah terwujud, dan terpujilah Tuhan karena itu tidak pernah terwujud. Aku baru menyadari betapa konyolnya cita-cita semacam itu di ulang tahunku tahun ini. Jadi begini ceritanya. Beberapa hari sebelum berulang tahun, disiplin rohani Bible Reading-ku tiba di kitab Ayub. Semua pasti tahu dong kisah Ayub? Terakhir kali aku membaca kitab Ayub secara runtut adalah sekitar 23 bulan yang lalu, dan tahun ini aku kembali membacanya.

Ketika membaca kitab Ayub, aku merenung pada bagian dimana Ayub mengutuki sendiri hari lahirnya. Ayub bilang, "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku.."
Aku mencoba menyelami perasaan Ayub pada waktu itu. Di dalam ketaatan dan kesalehannya, Ayub kehilangan semua yang berharga di hidupnya dalam tempo yang sangat singkat. Sekiranya Ayub adalah seorang pendosa besar, tentu menurut hukum alam kedukaannya adalah sebuah peristiwa yang wajar dan sudah sepantasnya terjadi. Tapi masalahnya, aku cukup yakin bahwa setiap orang yang membaca kitab Ayub akan mengetahui betapa saleh dan jujurnya dia, betapa ia memiliki hati yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Waktu itu Ayub pasti sedih, bisa jadi juga bingung. Penderitaan agaknya telah menghadirkan selaput pada matanya dan mengaburkan pandangannya akan rencana Allah bagi hidupnya. Relasinya dengan Tuhan tetap ada, tetapi sepertinya sangat pahit, itulah sebabnya dia sampai mengutuki hari kelahirannya. Dan itu normal. It's totally normal. Aku bersedih setiap kali membaca kitab Ayub. Pasti pahit sekali rasanya hidup Ayub saat itu.

Kutuk Ayub akan hari kelahirannya itulah yang membuatku sadar bahwa cita-citaku bodoh dan konyol. Sederhana sih, waktu itu aku berpikir seperti ini:

"May, kalau kau bisa sampai lupa sama hari ulang tahunmu sendiri (padahal selama ini kau selalu ingat), bisa kupastikan pada saat itu relasimu dengan Tuhan pasti hancur-hancuran. Cobalah bayangkan. Memangnya kau bisa bahagia, sesibuk apa pun pekerjaanmu, kalau relasimu dengan Dia babak belur?"

Ok, case closed. Aku berdoa kepada Tuhan sambil menertawai diriku sendiri.
"Tuhan, aku bodoh kali ya. Hahaha. Tuhan kiranya berbelas kasih dan tolong aku, jangan sampai aku lupa mengucap syukur kepada-Mu untuk kelahiranku ke dunia ini ya."

Cita-cita konyol itu hal kedua yang kurenungkan. Selanjutnya, masih seputar relasiku dengan Tuhan. Belakangan aku tidak menangis sesering dulu, sampai-sampai aku terkadang ragu sendiri dengan relasiku bersama Dia. "Are we fine?" Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak secengeng dulu, padahal dulu mah asal relasiku dengan Tuhan baik, aku pasti kelewat baper. Lihat langit menangis, lihat telur dadar menangis, lihat video di Instagram menangis, pokoknya aku mudah tersentuh dan terharu laa. Apakah aku sekarang bukan lagi anak perempuan kesayangan-Nya? Apakah Dia sudah enggan berbagi rasa denganku?

Setelah pergumulan selama beberapa waktu di dalam doa, aku akhirnya menyadari satu hal ini; bahwa aku tidak hanya mendewasa di mata dunia tetapi juga di mata Allah. Suatu waktu di masa lalu aku adalah anak kecil yang sering sekali berurai air mata, perlahan-lahan Allah mendidik dan mengajarku untuk duduk berhadapan dengan-Nya dan berbincang layaknya orang dewasa. Tentu aku tidak pernah dilarang untuk menangis, tetapi orang dewasa pasti tahu bahwa tangisan tidak selalu bisa menawarkan solusi. Sebagaimana aku mendewasa di dalam usia, akupun perlu mendewasa di dalam iman dan relasi kepada Allah. Sampai kapan aku harus menitikberatkan penikmatanku akan Allah pada perasaanku sendiri? Itu terlalu egois. Allah harus mendidikku supaya aku bisa menjadi rekan sekerja-Nya, dan Dia sedang melakukannya.

Jadi, kalau boleh kutuliskan doa dan harapanku kepada Allah di usia yang baru ini, aku hanya minta agar Dia memberiku hikmat untuk menjadi anak-Nya yang patuh. Sebab aku yakin, di dalam kepatuhan kepada Tuhan, ada kebahagiaan.

Aku sudah sangat mengantuk sekarang, kupikir aku akan mengakhirinya disini.

Ketika aku merenungkan kembali hidupku ke belakang, aku menyadari bahwa tak pernah satu kali pun aku kekurangan kasih sayang dari Tuhan. Walau beberapa hal tentu tidak bisa luput dari kekecewaan, namun tetap saja Allah menyediakan.

Beberapa orang pernah bertanya mengapa blog ini diberi nama ladyceberg. Ladyceberg adalah gabungan antara lady (perempuan) dan iceberg (gunung es).

Telah lama aku menyadari bahwa aku adalah seorang perempuan yang mirip dengan gunung es di lautan. Sebagian kecil muncul ke permukaan, namun menyimpan sesuatu yang sangat besar di bawah permukaan air. Entah itu potensi atau emosi. Entah kepahitan atau juga kegembiraan. Banyak yang tersimpan rapi di bawah genangan. Lalu Tuhan berkarya, dan seiring dengan menghangatnya hatiku, mencair pulalah sebagian bongkahan es itu, muncul pulalah ia sedikit demi sedikit ke permukaan. Semakin ia muncul, semakin pula keberadaannya disadari orang lain. Dan Tuhan yang selalu berkarya, akan selalu memakainya untuk memberkati orang lain.

Kupikir hidup adalah sebuah proses yang panjang. Kita tidak pernah benar-benar mahir menjalaninya, sebab bagi kita semua, ini adalah hidup pertama kita. Karena itu di usia yang baru ini, aku ingin terus belajar menjadi orang dewasa. Merengkuh setiap potensi dan kesempatan yang datang, sepaket dengan tantangan dan penderitaan yang tak jarang beriringan. Masih banyak hal yang ingin kuketahui. Aku ingin lebih tekun lagi belajar filsafat, membaca lebih banyak buku, mendengarkan lebih banyak orang. Aku ingin terus belajar dan memenuhi benakku dengan pengetahuan, sebab hanya kekuasaan semacam itu yang tak bisa direnggut siapapun dariku.

Aku ingin terus belajar dan bertumbuh, karena sejatinya untuk itulah manusia diciptakan. Kita telah berhenti hidup tepat di saat kita memutuskan untuk berhenti belajar. Aku yakin, tidak pernah ada orang yang cukup pintar dan kompeten untuk menjadi manusia. Ini hanyalah tentang ketekunan yang dibungkus dalam sebuah komitmen akan sebuah pembelajaran berkelanjutan.

Di usia yang baru ini aku juga belajar satu hal baru, bahwa karya-karya terbaik memiliki satu kesamaan dasar; mereka membawa harapan.

Kuharap aku, kita semua, terus belajar menjadi orang-orang yang keberadaannya membawa harapan bagi banyak orang. Jika tidak semua, setidaknya beberapa. Entah itu melalui tulisan kita, cara kita bertutur kata, perbuatan kita, kerendahan hati kita, dan terutama iman kita. Sebab kita juga dulu adalah orang-orang tanpa harapan. Aku adalah orang tanpa harapan. Aku berdosa besar, dan tidak ada satu kebaikan pun yang tersisa dalam diriku. Sampai kemudian aku bertemu dengan Dia, Pencipta dan Penebusku, yang terus berkarya mengembalikan citra ilahi itu, sampai saat ini.

Untuk semua orang yang pernah, sedang, dan akan berulang tahun, mari tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan untuk kelahiran kita semua, untuk Ibu yang menaruhkan nyawa, dan untuk kebaikan dan kekejaman dunia yang dengan setia bergantian merawat kita.

Kita akan terus bertumbuh.
Di dalam kelihaian tangan Allah, kita akan terus bertumbuh.

Selamat ulang tahun, kamu perempuan yang sangat dikasihi.


Saturday, 15 February 2020

Bejana Kecil di Meja Pelelangan

akulah bejana kecil di meja pelelangan
berdiri di sudut barisan paling belakang
cokelat berdebu dan tidak menarik perhatian
satu per satu temanku ditawar habis-habisan
satu per satu temanku pergi dengan angkuh terjual dengan harga yang lumayan

akulah bejana kecil di meja pelelangan
berdiri di sudut barisan paling belakang
cokelat berdebu dan tidak menarik perhatian
satu per satu pembeli mulai kehabisan uang
tapi mereka tetap tinggal terheran melihat si Orang Besar tak kunjung jua mengajukan tawaran

akulah bejana kecil di meja pelelangan
cokelat berdebu dan tidak menarik perhatian
sedikit rapuh mungkin juga retak
Oh, sekarang tiba giliranku!
menit demi menit berlalu, tiada juga yang memberi penawaran
aku berdiri di tengah panggung kedinginan
menahan perih karena tak ada yang menginginkan

akulah bejana kecil di meja pelelangan
cokelat berdebu dan tidak menarik perhatian
suasana mulai riuh minta pelelangan dihentikan
toh tak ada jua yang akan bangkit memberikan penawaran

si Orang Besar mulai mengangkat tangan
kesunyian menyapu ruangan
si Orang Besar menyebutkan sejumlah tawaran
grasak grusuk mulai kedengaran
"Akhirnya si Orang Besar mengajukan penawaran, tapi lihat, apa mata-Nya sedang kehilangan sentuhan?"

akulah bejana kecil di meja pelelangan
cokelat berdebu dan mulai menarik perhatian
suasana mulai riuh minta pelelangan dilanjutkan
satu per satu orang mulai mengajukan penawaran
oh, ya, mereka hanya berusaha mendapatkan apa yang si Orang Besar inginkan

sepuluh
sembilan
delapan
tujuh
enam
lima
empat
tiga
dua
...

si Orang Besar kembali mengangkat tangan mengajukan penawaran
sebuah nilai yang takkan menemui tandingan
keheningan menyapu ruangan

sepuluh
sembilan
delapan
tujuh
enam
lima
empat
tiga
dua
...
dua
...

si juru lelang mengambil nafas terakhir..

Terjual.

akulah bejana kecil di meja pelelangan
dengan hati-hati aku yang ringkih diangkat untuk dipindahkan
sejumlah orang berkerumun di sekitar si Orang Besar untuk mencari jawaban
mengapa aku?
mengapa aku?

dengan teduh si Orang Besar katakan,
"dia bejana-Ku yang t'lah lama hilang."

akulah bejana kecil di meja pelelangan
cokelat berdebu tapi harganya tak terkalahkan
nilaiku hanyalah karena si Orang Besar yang berikan

Friday, 31 January 2020

Seni Menerima Penolakan

Salam untukmu yang kukasihi. Belakangan cuaca sedikit lembap, jangan lupa air hangatnya ya.

Apa kabar?
Semoga salamku ini menemui damai sejahtera saat tiba di sisimu. Malam ini aku ingin berbagi cerita tentang sebuah penolakan yang pernah kuterima beberapa tahun yang lalu. Semoga ceritaku bisa memberi dampak yang baik untuk kamu ya.

Suatu ketika, saat usiaku masih 20 tahun dan aku baru saja lulus dari bangku universitas, aku pernah melamar pekerjaan di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang pelayanan kepada anak-anak. Saat headcount untuk posisi itu belum terisi, aku bekerja untuk posisi yang kulamar itu sebagai pekerja paruh waktu. Ya, anggap sajalah seperti magang. Aku beruntung sekali, bukan? Bisa mencicipi lebih dahulu jenis pekerjaan yang sedang kulamar sebelum aku benar-benar diterima untuk bekerja disana.

Pekerjaanku tidak begitu rumit. Aku hanya perlu menerjemahkan setiap surat dari anak-anak itu ke dalam bahasa Inggris agar bisa dimengerti oleh orangtua asuh mereka di luar negeri. Sebaliknya, aku juga harus menerjemahkan surat dari orangtua asuh ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh anak-anak yang mereka sponsori melalui LSM tersebut. Setelahnya, aku akan memisahkan surat-surat tersebut berdasarkan kategori tertentu, memasukkannya ke dalam amplop, menempelkan identitas penerima, lalu seseorang akan membantuku untuk mengirimkannya melalui pos. Sesekali, jika sedang tidak ada surat yang masuk, aku akan membantu supervisor untuk mengelola beberapa hal kecil terkait administrasi atau manajemen data.

Aku menyukai pekerjaan itu dan sangat menginginkannya. Pekerjaan itu tidak rumit, tidak menimbulkan kelelahan baik fisik maupun mental, tidak berisiko tinggi, dan aku menyukai lingkungannya. Setiap Senin dan Jumat pagi, kami akan melakukan devotion bersama di ruang belakang sebelum memulai pekerjaan di hari itu. Kami menaikkan lagu pujian bersama, berdoa bersama, dan sharing Firman secara bergantian. Di siang hari, kami akan berkumpul di tempat yang sama untuk makan siang dan berbagi cerita. Aku bahkan bisa bertemu dengan seseorang yang memiliki aroma tubuh memikat dan selalu tertinggal di setiap ruangan yang baru saja disinggahinya. Ditambah, dia seorang lawan bicara yang menyenangkan. Sederhananya, ini pekerjaan yang benar-benar kuinginkan, dan aku rela melepaskan posisi MT di sebuah perusahaan yang cukup dikenal demi pekerjaan ini.

Selang beberapa bulan semenjak aku bekerja paruh waktu disana, proses rekrutmen untuk posisi itu pun dimulai. Tiga orang dipanggil untuk mengikuti tahap wawancara, dan tentu saja, aku salah satu di antaranya. Selama wawancara berlangsung, aku tahu hasilnya akan seperti apa. Aku pasti gagal. Benar saja, tidak lama setelah itu, hasil rekrutmen diumumkan. Aku ditolak.

Waktu itu rasanya tidak hanya mengecewakan, tapi juga menyakitkan. Di satu sisi, aku merasa dikhianati. Menjaga posisi itu selama berbulan-bulan untuk kemudian diisi oleh orang lain. Perihnya, aku ditolak oleh orang-orang yang selama ini bercengkerama atau bahkan berbagi ruangan denganku. Mungkin begitu ya perasaan orang-orang yang menjalin cinta selama bertahun-tahun tetapi kemudian tidak berjodoh. Meminjam istilah yang tidak lagi asing di telinga kita, jagain jodoh orang.

Di lain sisi, aku cukup berusaha untuk mengerti dan menerima kenyataan walau selalu saja gagal.
"Ya Tuhan, aku salah apa? Kurangnya dimana? Aku muda, lulus dengan IPK yang cukup baik, menerima predikat cum laude, dan aku nggak diterima untuk pekerjaan ini? Pekerjaan yang sudah kulakukan selama beberapa waktu belakangan ini? Masa' sih mereka lebih menerima orang baru yang harus belajar dari nol lagi dibandingkan aku yang sudah tau betul jobdesk untuk pekerjaan ini apa?"

Baik, aku tidak akan mengklaim bahwa bahasa Inggrisku benar-benar bagus. Tapi, apa susahnya sih menerjemahkan surat anak kecil yang isinya hanya berputar-putar di kegiatannya sehari-hari baik di sekolah, rumah, ataupun sawah? Aku pikir kemampuan bahasa Inggrisku setidaknya sedikit lebih baik daripada itu. Setidak-tidaknya, aku tidak akan mati kelaparan karena tidak bisa memesan makanan jika berkunjung ke negara yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Inggris.

Aku sedih, marah, atau lebih tepatnya, kecewa. Kekecewaan yang mendalam dan membuatku berduka. Ditambah lagi, setelah kupikirkan lebih lanjut, aku memang tidak pernah menerima panggilan interview untuk posisi sejenis admin yang pernah kulamar. Apa gunanya cepat wisuda, IPK di atas tiga koma lima, kalau mendapat pekerjaan saja sangat susah, batinku waktu itu.

Di hari-hari terakhirku bekerja disana, aku bercerita dengan HR yang juga merupakan salah satu interviewer-ku kala itu. Aku bilang saja betapa kecewanya aku karena tidak diterima oleh mereka. Aku ingat betul jawaban beliau sampai sekarang, dan mungkin akan selamanya. Jawaban itu singkat dan jelas.

"May, kalau kau ditolak itu, bukan berarti karena kau nggak mampu melakukannya, tapi karena kapasitasmu lebih dari apa yang kami butuhkan. Kami butuhnya segini (memberi jarak 3 cm antara ibu jari dan jari telunjuk), kau bisanya segini (memberi jarak 10 cm antara ibu jari dan jari telunjuk)."

Dalam hati aku menggerutu, Ah, kaya'nya ini lip service aja. Mana mungkin ada yang begitu. Justru makin banyak yang kita bisa harusnya makin menguntungkan perusahaan dong.

Singkat cerita, aku diterima di kantor tempatku bekerja saat ini. Aku lulus interview dari seorang bos berbahasa asing, dan posisi yang kutempati menuntutku untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bagian dari keseharian. Aku harus mengakui bahwa kemampuan bahasa Inggrisku masih jauh dari kata bagus, tetapi aku juga tidak boleh menyangkali diri dari rasa syukur bahwa penolakan yang kuterima sebagai seorang penerjemah surat anak kecil mengantarku kepada sebuah pekerjaan yang akan memberiku kesempatan untuk meningkatkan kemampuanku lebih jauh lagi.

Tapi, bukan itu bagian terbaiknya. Setelah bekerja sebagai seorang konsultan IT selama lebih dari setahun, aku mulai mengerti mengapa Tuhan mengijinkan hatiku patah waktu itu. Lewat kak Tari, kakak yang bekerja sebagai admin di kantor tempatku bekerja saat ini, aku akhirnya bisa melihat bahwa admin adalah salah salah satu pekerjaan paling rumit dan layak diberi penghargaan. Aku harus mengatakan bahwa kak Tari adalah garda terdepan untuk segala hal di kantor kami. Mulai dari pegawai yang baru masuk, mereka pasti akan berurusan dengan kak Tari perihal fasilitas A dan B di kantor. Kalau laptop kami ada masalah (sulit connect ke Wi-Fi, kabel LAN, atau port USB tidak berfungsi dengan baik), kak Tari adalah orang pertama yang kami cari, bukannya teknisi. Kalau finger print di kantor kami bermasalah (sudah scan out tapi tidak terakumulasi di sistem), kami juga bisa berbondong-bondong menemui kak Tari untuk menanyakan hal tersebut.

Kak Tari juga adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur setiap perjalanan dinas. Pengurusan visa, membuat laporan perbandingan harga, membeli tiket pesawat, tiket hotel, sampai berurusan dengan pihak maskapai penerbangan jika ada delay. Bahkan, urusan kaki kursi yang patah pun akan kami laporkan ke beliau. Belum lagi kalau higher ups di kantor berulang tahun, segala tetek bengek perayaan ulang tahun biasanya akan diserahkan kepada kak Tari walau kami semua tahu bahwa itu adalah sesuatu di luar jobdesk-nya. Beberapa bulan yang lalu kami akhirnya sadar, kak Tari selama ini mengerjakan pekerjaan yang layak dilakukan tujuh sampai sepuluh orang. Dear kak Tari, kalau suatu saat kakak membaca tulisan ini, aku mau bilang terima kasih banyak atas setiap pertolongan kakak untuk kami ya! Semoga kakak selalu sehat dan bahagia!

Kak Tari memberiku gambaran tentang sebuah pekerjaan yang mungkin bisa kukerjakan, tetapi akan menimbulkan tingkat stres yang cukup tinggi bagiku. Aku akhirnya bisa bersyukur atas penolakan yang kuterima saat itu. Sepertinya Tuhan memang benar-benar mengenal karakterku. Aku memang sangat tidak cocok melakukan pekerjaan administratif yang terkesan sederhana tetapi sifatnya berulang. Aku pasti akan sangat bosan dan tidak bergairah melakukannya. Bagiku, rasanya pasti jauh lebih baik stres karena memikirkan logic untuk membuat sebuah fitur sesuai permintaan client daripada harus berurusan dengan ratusan pegawai dengan segala permasalahan mereka. Untuk teman-teman pembaca yang saat ini pekerjaannya bersifat administratif, salam kasih dariku untuk kalian. Percayalah, pekerjaanmu mulia.

Teman-teman, aku tidak tahu penolakan seperti apa yang saat ini sedang kamu hadapi. Kamu mungkin telah menjadi terlalu lelah mencari pekerjaan, tetapi belum juga menemui titik terang. Kamu mungkin mulai membandingkan kehidupanmu dengan orang lain dan segala pencapaian yang melekat dalam diri mereka. Di saat semua orang seakan-akan telah mengetahui segala hal, mengepakkan sayap mereka ke tempat-tempat yang sepertinya nyaris mustahil untuk kamu tuju, kamu masih ada disini berusaha menancapkan akar agar tidak serta-merta hanyut tersapu ombak.
Tetapi ingat, tidak semua penolakan yang kita terima menunjukkan ketidakmampuan kita. Jika disiplin dan integritas adalah nilai hidupmu, kemungkinan besar tempat itu tidak akan menerimamu sebab keberadaanmu mungkin akan membuat mereka terganggu.

Kamu mungkin telah ada di ujung jalan dalam pengejaran untuk mendapatkan hati seorang wanita, tetapi dia tak juga menunjukkan tanda-tanda memiliki ketertarikan yang sama. Hey, kadangkala kita ditolak bukan karena kapasitas kita kurang memadai, tetapi karena kapasitas kita terlalu memadai dan mereka hanya butuh sesuatu yang bersifat cukup. Jadi jangan terlalu patah hati lagi ya jika seorang wanita menolakmu dengan jurus kamu-terlalu-baik-buat-aku. Bisa jadi baginya kapasitasmu memang terlalu besar untuk bersanding dengannya, dan dia tidak punya kepercayaan diri untuk menghadapi itu.

Kamu yang tumbuh besar dengan perasaan ditolak di tengah-tengah keluarga sekalipun, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi untuk kebaikanmu. Terima kasih karena telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat daripada siapapun. Aku percaya bahwa seseorang sepertimu akan bisa bertahan hidup di ujung bumi, dan bukan hanya itu saja, kamu bahkan sangat mungkin menjadi seorang penolong yang baik bagi seseorang di luar sana. Aku tidak bisa menjamin banyak hal, tetapi satu hal yang kutahu pasti, Bapa di surga sangat mengasihimu dan menginginkanmu.
Kiranya apa yang Daud katakan berikut ini memberi penghiburan di hatimu.

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.

- Maz. 27 : 10

Atau, kamu mungkin adalah seorang kakak rohani yang sedang berjuang mendapatkan balas kasih dari adik-adik rohaninya? Duh de, bukan kau aja yang perlu kupikirkan. Adekku di rumah aja nggak kuperjuangkan sebesar perjuangan yang kulakukan untuk mendapatkan hatimu. Aku capek de, hatiku lelah. Terserahmu lah. Aku pengen menyerah.
Anyone can relate?  Hahaha. Aku pernah ada di posisimu, teman :)

Apapun penolakan yang sedang kamu hadapi, aku harus mengatakan bahwa itu normal dan kamu tidak sendirian. Setiap orang dewasa yang bernyawa rentan mengalami penolakan. Kita bukan lagi anak kecil yang cenderung disukai oleh semua orang. Tiap-tiap hari kita berpotensi untuk mengalami penolakan, entah oleh sebuah instansi, organisasi, bahkan mungkin oleh orang-orang terdekat di dalam kehidupan kita yang mungkin kita pikir tidak akan mengecewakan.

Kita selalu berpeluang untuk terluka. Omong kosong untuk orang yang mengatakan aku udah biasa disakiti/ ditolak. Penolakan, sekecil apapun, frekuentif atau tidak, cepat atau lambat akan menghasilkan efek traumatis jika tidak ditangani dengan cara yang tepat. Rendah diri, merasa tidak kompeten, merasa tidak berharga, merasa ada yang salah dengan dirinya, atau perasaan-perasaan negatif lainnya kerap kali berseliweran di pikiran. Tetapi sebagai orang dewasa, mari belajar bahwa penolakan itu ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi, sebab terkadang ia bagaikan cinta pertama yang datang tanpa aba-aba, dan satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menerima dan menghadapinya untuk bisa menyaksikan akhirnya.

Mari kuceritakan kepadamu salah satu seni menerima penolakan paling agung yang pernah kubaca.

Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

- Mat. 15:21-28

Teman-teman perhatikan, Tuhan Yesus bukan hanya menolak (reject) perempuan Kanaan tersebut, Dia mengabaikannya (ignore). Apakah Ibu tersebut patah hati? Aku yakin, iya. Tetapi apakah hal tersebut menyurutkan langkahnya? Tidak. Alih-alih melangkah pergi dan menyimpan dendam kesumat di dalam hatinya, dengan berbesar hati dan bijaksana Ibu tersebut memberi jawab. Lihat apa yang terjadi! Silahkan baca dan renungkan perikop itu sekali lagi.

Tulisan ini bukan sebuah deklarasi bahwa aku adalah seorang gadis yang kebal akan penolakan. Bukan, bukan. Sama seperti kebanyakan manusia pada umumnya, aku masih sangat takut tiap kali hal-hal yang kuinginkan harus dikaitkan dengan keputusan orang lain. Aku masih menangis dan cenderung menarik diri ketika pesan-pesan yang kukirimkan panjang lebar kepada seseorang yang sangat kupercaya hanya dibalas dengan satu dua kalimat diplomatis yang menandakan ketidaktertarikan orang tersebut atas kegundahanku kala itu. Pernah aku juga menangis di meja kerja hanya karena Yuni terlalu sibuk untuk menemaniku membuat kopi di pantry atau menonton bioskop. Beberapa kali aku juga menarik kembali pesan di WhatsApp yang kukirimkan kepada seseorang untuk memintanya menemaniku ke pusat perbelanjaan, karena aku takut pesan itu akan dibalas, "Aku udah ada janji."

Maka sekali lagi kusampaikan, tulisan ini bukan sebuah deklarasi bahwa aku telah kebal dengan penolakan. Sebaliknya, tulisan ini dibuat sebagai ajakan bagi kita semua untuk memiliki sikap yang benar ketika harus diperhadapkan pada sebuah penolakan. Bagaimana belajar untuk berbesar hati, bagaimana memandang semua penolakan yang kita terima sebagai bagian dari perjalanan hidup dan pertumbuhan kita sebagai seorang anak manusia, dan bagaimana mencari tahu hal baik apa yang Tuhan tengah rancangkan di tengah-tengah penolakan yang kita alami. Mengutip apa yang dikatakan Shang Su Yi, nenek dari si tampan Nick Young dalam trilogi Crazy Rich Asian:
"..kadang-kadang, sesuatu yang awalnya kelihatan buruk bisa menjadi hal paling sempurna di dunia bagi kita."
Sebagai penutup, aku ingin mengajak kita semua untuk mengatakan kepada diri kita sendiri, jangan pernah takut mengalami penolakan. If it worth goes to you, it will be yours in the end. But even if it's not, God loves you wholeheartedly and know what's best for you.

Dan ingatlah hal ini:

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

-Matius 24:13

Dimanapun kamu berada, penolakan seperti apapun yang sedang kamu hadapi, doaku memelukmu.

Tuesday, 31 December 2019

Melepaskan Pengakuan

Hey, belated happy birthday! 🤗

Apa kabar?
Semoga kamu ada dalam keadaan yang baik dan hati yang penuh dengan ucapan syukur. Hampir setengah tahun sejak terakhir kali aku bercerita kepadamu melalui tulisan sebagai media-nya. Kuartal ketiga dan keempat memang selalu menjadi hari-hari paling menyibukkan di kantor, ditambah lagi kesibukan untuk beberapa pelayanan yang dipercayakan Tuhan untuk kukerjakan beberapa bulan terakhir, tubuh rasanya terlalu lelah untuk berbagi cerita. Tiba-tiba, kita sudah ada di penghujung tahun saja. Terima kasih untuk kamu yang dengan setia berkunjung dan bertanya, "Tulisan baru kapan rilisnya?"

Tahun ini adalah tahun paling produktif sekaligus tahun paling sibuk yang kulalui di kantor. Berkutat dengan banyak R&D yang membosankan di tahun lalu ternyata tidak seburuk itu, sebab hal itu ternyata mengambil banyak peran dalam memperkuat kemampuanku untuk ngoding. Mengerjakan project berlapis sejak awal tahun hingga kuartal keempat, merilis delapan project baru untuk beberapa negara, membuatku merasa gembira. Sederhananya, tahun ini adalah tahunku.

"Maya's case is special, everybody wants her," kata salah satu petinggi paling dihormati di timku pada sesi resource planning beberapa waktu yang lalu. Rasanya? Bangga dong. Dari anak yang merasa dirinya paling tidak kompeten di tahun pertama bekerja, menjadi seorang anak yang diinginkan dan boleh memilih ingin terlibat di project yang mana. Munafik jika kukatakan aku tidak gembira, setelah semua air mata yang tertumpah dan kerja keras yang harus kulakukan untuk bisa mencapainya.

Pernah satu kali, pada hari-hari paling sibuk dalam pekerjaanku beberapa bulan yang lalu, aku bersikap sangat arogan di hadapan Tuhan. Waktu itu aku merasakan kesakitan yang tidak biasa di kepalaku akibat kelelahan bekerja. Aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa sakit kepala bisa menjadi demikian menyakitkan. Tubuhku demam, dan aku sadar betul bahwa aku benar-benar harus pulang dan beristirahat. Di sisi lain, aku tahu bahwa sekalipun aku pulang, seluruh pikiran dan hatiku akan tertuju pada pekerjaanku. Maka alih-alih meminta ijin untuk pulang, kamu tahu apa yang kulakukan? Aku pergi ke toilet, duduk, menunduk, kemudian berdoa disana. Mengutarakan doa paling sombong nan arogan yang pernah keluar dari mulut seorang anak manusia. Mau tahu isi doaku waktu itu?

"Tuhan, aku sibuk. Aku nggak punya waktu untuk sakit. Tolong sembuhkan aku."

See? Take a deep breath and curse me if you want to. Aku layak menerimanya.
Beruntungnya aku, Tuhan memilih untuk tidak menindaklanjuti kesombonganku itu di hari yang sama. Alih-alih marah dan membuatku lebih sakit lagi, Tuhan malah mengabulkan doaku. Aku sembuh, bermodalkan doa dan air hangat. Sejenak Tuhan membiarkanku melanjutkan obsesiku akan pekerjaan.

Di lain waktu, aku lagi-lagi diperhadapkan pada sebuah keadaan yang tidak kusukai dan berujung dengan tangisan. Pasalnya sederhana. Aku sedang berkutat dengan dua buah project baru yang akan go-live dalam waktu dekat saat client mengajukan penambahan fitur untuk salah satu project Europe yang sudah terlebih dahulu go-live beberapa bulan sebelumnya. Karena aku sedang sibuk dengan project baru, atasan mengajukan agar penambahan fitur untuk project EU milikku itu dialihkan kepada orang lain, tapi aku kekeuh untuk tidak mengalihkannya.

"Itu milikku, dan aku hanya akan membiarkan orang lain menyentuhnya ketika aku tidak lagi ada disini," batinku waktu itu. Kesannya tidak masuk akal, bukan? Tapi akupun memiliki alasan pribadi untuk itu.

👦: "Don't you trust him? You need to trust your colleague."
👧: "You cannot feel me. It's not about trust or mistrust. It's my very first project that I built from sketch and went smoothly, and I'm not going to pass it to someone else. Not him, not others."
👦: "You have no idea how many demands that come to our team. We need you more in new projects instead of doing that extra feature thingy."

Sebenarnya, di tahun kedua aku memang difokuskan untuk mengerjakan R&D, dimana aku harus melakukan research untuk memastikan apakah project ini bisa dikerjakan atau tidak dengan platform yang kami gunakan, sesuatu semacam itu. Jika kukatakan bisa, maka aku akan membuat prototype (sketch) dan jika proposalnya disetujui oleh client, orang lain akan menjadi developer-nya. Harusnya aku sudah terbiasa dong mengerjakan sesuatu yang pada akhirnya harus dilepaskan untuk orang lain? Tapi entah mengapa, yang satu ini berbeda. Aku memiliki rasa kepemilikan yang lebih atas project ini dan itu membuatku tidak bisa dengan mudah merelakannya. Aku berdoa kepada Tuhan agar Ia membuka jalan supaya aku tidak perlu melakukan handover project tersebut kepada orang lain, dan lagi-lagi Ia mengabulkan doaku.

Kesibukanku terus berlanjut. Tidak peduli aku makan sebanyak apa, berat badanku stabil bahkan cenderung menurun. Menyenangkan bukan?
Ya iyalah, wong makanan yang masuk ke mulutku tidak sebanding dengan beban emosional dan mental yang harus kuhadapi ketika berusaha menyelesaikan semua project itu. Tidak jarang aku menggunakan jam makan siang untuk bekerja. Di lain waktu aku bahkan tidak ingat untuk minum air putih sama sekali. Aku juga cukup sering menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor dan menguncinya, maka tidak jarang aku harus mengeluarkan uang lebih untuk bisa menggunakan taksi online jika pulang terlalu larut.

Suatu ketika aku pulang hampir jam sepuluh malam dan menaiki Grab Car menuju rumah. Di luar hujan tengah turun dan driver memutar lagu Orang Ketiga. Aku duduk di bangku belakang supir, memasang headset tanpa memutar lagu apapun. Kualihkan pandanganku ke luar jendela, menatap rintik hujan di sepanjang jalan Putri Hijau yang gelap saat malam. Samar-samar kudengar Tuhan berbicara, lembut sekali.

"Apa sih yang kau cari, May?"

Aku memang pernah mengatakan kepada Tuhan bahwa aku akan sangat sibuk tahun ini, jadi aku berharap jika Dia berencana menghardikku, tolong jangan berikan hardikan keras yang menguras banyak tenaga dan air mata. Dan sepertinya, Tuhan mengabulkannya. Suara itu lembut setengah berbisik, namun menggetarkan jiwa. Pelan-pelan aku menangis dalam diam, merenungkan pertanyaan yang sederhana namun sarat akan makna; Apa sih yang kau cari, May?

Beberapa hari setelahnya, bosku datang dari Singapura untuk melakukan sesi annual perfomance appraisal dengan bertatap muka. Annual performance appraisal adalah momen dimana seorang pegawai akan menerima masukan dan pujian terkait performa kerjanya di tahun tersebut dan tahun ini, aku menerima banyak sekali pujian.

"You are the best option that we have now."
"Everyone wants to work with you so I ask them to take turns."
"You are very strong at technical skills."
"You are good at management, you can jump from one to another project at the same time, meet the deadline and oftenly beyond expectation."

Aku tidak bisa mengingat semuanya tapi aku ingat betul bahwa sesaat setelah aku keluar dari ruangan itu, tangisku pecah. Aku pergi ke toilet dan menangis lama sekali disana. Tangis kebahagiaan karena menerima banyak pujian? Sayangnya, bukan. Tangisku yang pecah adalah tangis kesedihan. Gila, bukan? Gila. I was totally insane.

Alasanku menangis itu sederhana sekali; bosku memberi masukan perihal ownership. Intinya, memiliki rasa kepemilikan atas sebuah project itu baik, tapi ada kalanya kita dituntut untuk menyerahkannya kepada orang lain karena kemampuan kita lebih dibutuhkan untuk sesuatu yang lebih penting atau lebih mendesak. Satu masukan yang sebenarnya masuk akal, namun entah kenapa waktu itu berhasil membuat mataku kabur dan gagal melihat semua pujian yang bosku sampaikan. Seluruh kerja kerasku selama setahun penuh rasanya cacat karena satu kebodohan, ketidaksediaanku untuk melepaskan pengakuan sebagai 'pemilik' dari sebuah project yang memang kukerjakan dengan sepenuh hati. Aku pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa.

Kamu pernah secara tidak sadar menyanyikan sebuah lagu? Aku pernah, sering malah. Malam itu, di perjalanan singkat dari jalan utama menuju rumah, mulutku tanpa sadar menyenandungkan sebuah lagu.

"🎶 Selain Kau tiada yang lain yang kuingini di bumi.."

"Tunggu, sebentar. Barusan aku bernyanyi apa?" batinku.

"🎶 Selain Kau tiada yang lain yang kuingini di bumi.."

Di rumah, setelah selesai berberes, aku membuka Alkitab dan melanjutkan bible reading-ku yang pada waktu itu sedang ada pada masa transisi Musa menuju Yosua. Kamu mungkin sudah cukup akrab dengan cerita tentang tokoh Musa. Tumbuh besar dengan kepercayaan diri sebagai seorang pangeran, melakukan sebuah tindakan gegabah yang berujung dengan pelarian, hidup sebagai seorang gembala domba selama empat puluh tahun, lalu di saat seluruh kepercayaan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin runtuh, Tuhan memanggilnya untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Luar biasa.

Oh, belum selesai. Setelah dengan susah payah memimpin bangsa se-tegar tengkuk Israel selama puluhan tahun di padang gurun, hanya karena satu kemarahannya yang juga sebenarnya dipicu oleh keluh kesah bangsa Israel, Tuhan mengatakan apa kepada Musa?

"Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka. - Bilangan 20:12"

Mungkin jika aku yang menjadi Musa waktu itu, aku akan membangkang dan tidak melakukan yang terbaik sampai akhir masa kepemimpinanku. Toh bukan aku yang ujung-ujungnya akan dikenang sebagai orang yang memimpin mereka masuk ke tanah perjanjian.

"Lho lho, tunggu sebentar. Apa-apaan ini, Tuhan? Jadi apa gunanya selama ini aku makan hati menghadapi orang-orang bebal ini jikalau pada akhirnya aku tidak bisa memasuki tanah perjanjian itu? Tiga kali empat puluh tahun, Tuhan. Tiga kali empat puluh tahun aku berproses hanya untuk ini? Segala jenis gejolak batin kuhadapi, belum lagi penghinaan karena aku mengambil seorang Kush menjadi istriku, hanya untuk ini? Ayolah Tuhan, segala sesuatu yang sudah kulakukan untuk-Mu agaknya tidak sebanding dengan satu kesalahanku itu."

Aku mencari-cari kalimat serupa yang mungkin dilontarkan Musa kepada Tuhan sebagai bentuk protes perihal keputusan Tuhan atasnya, tapi aku gagal menemukannya. Tidak ada satu kalimat pun di Alkitab yang menyatakan hal serupa. Sampai akhir hidupnya, Musa masih memberi teladan tentang sebuah pengabdian hidup dan kesetiaan kepada Tuhan. Alkitab bahkan mencatat bahwa di akhir kepemimpinannya, dia masih dengan setia menuliskan taurat Tuhan untuk bangsa Israel, memberi pesan kepada tiga suku yang telah mendapat tanah kediaman untuk tetap ikut berperang bersama suku lainnya.

Entah apa yang Musa rasakan waktu itu. Aku cukup yakin bahwa Musa pasti merasa sangat sedih. Empat puluh tahun di padang gurun tentulah bukan waktu yang singkat. Aku percaya bahwa Musa mengerahkan segala usaha terbaiknya dan merasakan banyak sekali gejolak emosi selama rentang waktu yang tidak sebentar itu. Namun lihat apa yang dia terima? Rasanya tidak ada. Bahkan mengijinkannya menapakkan kaki barang sejenak saja di tanah perjanjian itupun Tuhan tidak sudi.

Hanya satu saja yang kuimani; pengenalan Musa akan Tuhan selama puluhan tahun pastilah membuatnya tiba pada sebuah pemahaman bahwa rencana Tuhan untuk bangsa Israel tidak akan pernah berubah, sekalipun pemimpin mereka berganti. Jika bukan Musa, maka ada Yosua. Dan jika bukan Yosua sekalipun, akan ada orang lain lagi yang akan memimpin mereka. Musa atau Yosua hanyalah oknum, dan ketidakhadiran mereka tidak akan mengubah rancangan Allah yang semula. Kupikir, pemahaman inilah yang pada akhirnya memberi Musa keluasan hati untuk menerima keputusan Allah atas dirinya, melepaskan pengakuan yang seharusnya bisa diterimanya sebagai pemimpin yang tidak hanya membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, namun dengan sukses membawa mereka masuk ke tanah perjanjian.

Kisah Musa tidak serta merta membuat segala kesedihanku menguap, tetapi hari itu aku sadar, betapa besarnya pengakuan dari seorang manusia mengambil porsi dalam menentukan sukacitaku. Malam itu, sekali lagi Tuhan menantangku untuk menjawab pertanyaan ini:

Apakah kau mengasihi-Ku lebih dari segalanya?

Lalu aku teringat pada sebuah pujian yang kira-kira berisi demikian:

"🎶 'ku rela melepaskan segalanya karena Kau lebih dulu rela melepaskan segalanya untukku.."

Pada akhirnya, bekerja keras dan diakui sebagai orang yang kompeten memang menyenangkan, tapi ternyata sangat tidak sebanding dengan perasaan damai sejahtera yang melingkupi hati karena menikmati hadirat Tuhan. Kututup hari itu dengan ucapan syukur kepada Tuhan karena sekali lagi, Ia berbelas kasihan dan menyelamatkanku dari sebuah pengejaran akan kesia-siaan.

Apakah keinginan untuk diakui benar-benar sebuah hal yang tidak pantas untuk dirasakan? Aku pikir tidak. Allah sendiri ingin diakui sebagai satu-satunya Allah yang benar, Pemilik kedaulatan penuh atas semesta. Dia ingin agar segala ciptaan sujud menyembah kepada-Nya. Lantas, dimana letak perbedaannya? Allah tidak membiarkan identitas-Nya bergantung pada sedikit banyaknya pengakuan yang Ia terima dari manusia.

Benarlah merupakan sebuah kemalangan bagi kita untuk tumbuh di tengah-tengah dunia yang mengakui keberadaan kita hanya ketika kita melakukan sesuatu untuknya. Dunia menuntut kita untuk menjadi outstanding, dan wajar jika kita punya hasrat untuk selalu ada di puncak piramida. Setiap kali kita membuka social media, kita terpapar dengan pencapaian demi pencapaian yang orang lain dapatkan, entah itu pekerjaan, keuangan, percintaan, lalu kita pun bertanya kepada diri sendiri, "Aku kapan?"
Dalam versi yang lebih sederhana misalnya, "Mengapa foto miliknya selalu disukai oleh banyak orang di Instagram? Mengapa aku tidak?"

Beruntunglah kita karena cara kerja Tuhan tidak demikian. Bahkan sebelum kita pernah melakukan sesuatu untuk-Nya sekalipun, Ia tidak pernah menyangkali keberadaan kita. Dengan kesadaran sempurna Ia tahu kita ini debu, dengan kesadaran sempurna pula Ia mengasihi kita. Ia tidak pernah dan tidak akan mungkin menyangkali diri-Nya. Karena itu, kasih Tuhan itu tiada duanya. Allah yang baik itu mengenal kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Maka jika saat ini kita sedang ada di puncak, tengah, atau bagian paling bawah piramida sekalipun, selama itu kehendak Tuhan, itu pasti yang terbaik. Jadi, jangan sampai hal tersebut mencuri sukacita kita ya?

Kamu yang harus merantau demi menopang perekonomian keluarga, bekerja keras siang dan malam demi pendidikan adik yang ternyata malah tidak menghargainya dengan malas bersekolah, Tuhan melihat usahamu kok.

Kamu yang kerap kali bekerja di balik layar, memastikan orang lain bisa tampil prima dan baik di depan umum tanpa pernah mendapat sinar lampu sorot, Tuhan menyinarimu dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.

Kamu yang telah berpacaran dengan seorang pria selama bertahun-tahun, menemaninya keluar dari 'tanah perbudakan' tetapi tidak diizinkan Tuhan sampai ke 'tanah perjanjian', jangan sungkan melepaskannya ya! Tuhan yang mengasihi-Mu itu mengerti apa yang terbaik untukmu.

Kamu yang seringkali direndahkan karena belum juga menemukan pekerjaan menetap, jangan putus asa ya!

Kamu yang merasa diri kurang pintar, selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain dalam segala hal, jangan malas belajar ya!

Kamu yang tulisannya sering dicomot dan ditiru tanpa disertai credit, I can feel you!

Kamu yang sering membantu orang lain tanpa menerima ucapan terima kasih, Tuhan mengarahkan pandangan-Nya kepadamu lho.

Kamu yang merasa sudah memberikan yang terbaik, lelah dalam penantian namun tak kunjung menemui titik terang, sini aku peluk 🤗

Kamu yang membaca tulisan ini, yang sedang bergumul dengan kebutuhan akan sebuah pengakuan, jika dunia masih terlalu angkuh untuk memberimu apresiasi yang sepadan, ingatlah bahwa Tuhan kita yang baik melihat segala usahamu dan tidak akan tinggal diam atasnya. Semangat ya! :)

Biar kuberi satu mantra ajaib. Setiap kali engkau tersiksa dan terluka karena kebutuhan akan sebuah pengakuan, katakan ini:

Siapakah aku?
Aku adalah orang yang namanya tidak dikenal dunia tetapi dikenal oleh Pemilik dunia.


Keberadaanmu tidak ditentukan oleh latar belakang keluargamu, pendidikan terakhirmu, pekerjaanmu, penghasilan bulananmu, IPK-mu, pelayanan apa yang sedang kau kerjakan, berapa tempat yang pernah kau kunjungi, berapa bahasa asing yang kau kuasai, berapa buku yang pernah kau baca, ataupun berapa jurnal ilmiah yang pernah kau publikasikan.
Tidak, tidak.
Keberadaanmu nyata karena Aku, Pemilik dunia ini, mengakuimu sebagai milik-Ku, dan tidak ada satu iota pun yang sanggup memisahkanmu dari kasih-Ku.

Hanya, apakah kau mengasihi-Ku lebih dari segalanya?

Sebagai penutup, kuucapkan terima kasih karena sudah bertahan menjalani hari-hari di bumi di sepanjang tahun ini. Aku tahu itu tidak mudah. Kamu hebat!
Tahun yang baru akan segera datang. Selamat menggumulkan dengan sungguh-sungguh tentang apa yang akan menjadi resolusimu di tahun 2020. Doakan, minta perkenanan daripada Tuhan. Kiranya pertanyaan ini bisa menolongmu merenungkannya.

"Apakah yang Engkau kehendaki untuk kuperbuat bagi-Mu, ya Tuhan?"

Siapa lagi yang kumiliki di surga kalau bukan Engkau? Dan di bumi ini tidak ada yang lebih kurindukan daripada Engkau.
Kesehatanku mundur; semangatku patah, namun Allah tetap sama. Dialah kekuatan hatiku. Dialah milikku untuk selama-lamanya.
Tetapi orang-orang yang tidak mau menyembah Allah akan binasa karena Ia membinasakan orang-orang yang menyembah allah-allah yang lain.
Sedangkan aku akan berusaha sedapat-dapatnya untuk hidup dekat dengan Dia. Aku telah memilih Dia dan aku akan bercerita kepada semua orang tentang bagaimana Ia menyelamatkan aku dengan cara-cara yang mengagumkan.
- Mazmur 73:25-28 (FAYH)